Berbagi Cinta : Antara Kita

Berbagi Cinta : Antara Kita
Bab.238 Sekolah


__ADS_3


...Happy Reading...


...❤️...


"Cie, yang baru pulang bulan madu ... kayaknya makin nempel aja nih," ujar Wanda, dengan kerlingan salah satu matanya.


"Ck, apanya yang bulan madu? Aku itu cuman liburan aja. Lagian, mana ada yang bulan madu cuman tiga hari?" ujar Riska, menampik perkataan Wanda, walau pipinya yang bersemu, tak bisa membohongi kedua teman kerjanya itu.


"Sama aja, Ris. Liburan untuk pengantin baru itu, namanya, ya ... bulan madu," Sekar ikut menimpali.


"Ish, apa sih, Mbak? Gak ada tuh bulan madu, orang kita cuman jalan-jalan biasa," bantah Riska lagi.


"Penggantin baru dari mana juga? Kita kan udah nikah hampir dua bulan," sambung Riska masih saja menggerutu.


Wanda dan Sekar terkekeh, melihat wajah kesal bercampur malu Riska. Mereka pun akhirnya tak lagi menggoda teman kerja, yang sudah dianggap sebagai adik sendiri.


"Oh ya, ini oleh-oleh buat, Mba," ujar Riska sambil menyerahkan dua paper bag ke hadapan Sekar dan Wanda.


"Wah, makasih, Ris. Aku kira kamu lupa sama kita, karena terlalu menikmati suasana di sana." Sekar masih saja ingin menggoda Riska.


"Mana bisa aku ngelupain dua, Mba, aku yang paling cerewet ini," ujar Riska.


"Udah ah, kembali kerja. Nanti keburu datang pelanggan," sambung Riska.


Mereka pun akhirnya bubar dan bersiap untuk menyambut pelanggan yang datang.


.


.


Di tempat lain, Ayu dan Ezra bersiap untuk mengantar Naura ke sekolah.


Mereka berencana membicarakan ini dengan kepala sekolah, agar Naura bisa sekolah dengan lebih tenang dan fokus pada pelajaran.


"Sayang, sudah selesai?" tanya Ezra, saat melihat Ayu batu saja menutup sumber ASI bagi Zain.


"Sudah. Aku panggil Naura dulu," ujar Ayu, sambil menidurkan Zain di dalam box bayi.


"Kita ke luar bersama saja," ujar Ezra, sambil merengkuh pinggang istrinya.


Ayu mengangguk, mereka pun ke luar dari kamar Zain, menuju kamar Naura.

__ADS_1


"Papah, Mamah, aku udah siap!" seru Naura terlihat sangat senang.


Dia tahu kalau hari ini akan diantar ke sekolah oleh kedua orang tuanya. Semua itu membuat Naura merasakan kebahagiaan, setelah semenjak Ayu melahirkan Zain, dia terus diantar jemput oleh Gino.


"Sepertinya, anak Papah seneng banget pagi ini," ujar Ezra.


"Iya dong, kan mau diantar sama Mamah dan Papah," jawab Naura.


"Ya, sudah. Yuk kita ke bawah, nanti keburu siang." Ayu menengah percakapan ayah dan anak itu, karena waktu yang sudah semakin siang, sedangkan mereka belum sarapan.


Beberapa saat kemudian, mobil milik Ezra sudah berhenti di area parkir sekolah.


Tentu saja itu semua menjadi perhatian para orang tua dan staf guru yang berada di sekitarnya.


Mereka langsung mengalihkan perhatiannya pada kehadiran mobil yang terlihat asing tersebut.


Ezra keluar dari mobil terlebih dahulu, kemudian membukakan pintu untuk kedua perempuan kesayangannya itu.


Orang yang sudah tahu siapa itu Ezra, terlihat melebarkan matanya, saat melihat lelaki yang merupakan anak sulung keluarga Darmendra itu, datang ke sekolah anaknya.


Ya, walaupun sesekali ia mengantar Naura ke sekolah. Akan tetapi, dia hanya akan berhenti di luar gerbang, kemudian memperhatikan Naura dari sana.


Mereka pun berjalan beriringan dengan Naura menggendeng tangan Ayu dan Ezra berjalan di belakang keduanya.


"Iya, Mah. Dadah," ujar Naura, penuh semangat.


"Dah, sayang. Selamat belajar," balas Ayu, setelah mengecup kening Naura.


Ezra pun melakukan hal yang sama. Setelah mengantar Naura ke kelas, sepasang suami istri itu, kini sudah duduk di depan kepala sekolah.


"Sekiranya ada apa, Pak Ezra dan Bu Ayu, datang ke mari? Apa ada yang bisa saya bantu?" tanya kepala sekolah, setelah dia berbasa-basi sebentar.


"Tolong Anda lihat dulu video yang ada di sini," ujar Ezra, sambil mengulurkan sebuah flashdisk, tanpa mau menjawab pertanyaan kepala sekolah terlebih dahulu.


"Apa ini, Pak?" tanya kepala sekolah lagi, dengan kening berkerut.


Ezra tak menjawab, ya, aura dingin dan tak suka banyak bicara yang biasanya diambil alih oleh Keenan, kini harus digantikan Ayu. Karena Alvin pun tak ada di sana.


"Bisa, Bapak, lihat dulu saja. Nanti biar kami jelaskan setelah itu," ujar Ayu sopan.


Kepala sekolah itu pun akhirnya mau menonton isi di dalam flashdisk itu terlebih dahulu.


Beberapa menit kemudian, video itu berakhir, kini kepala sekolah itu melihat Ezra dan Ayu untuk meminta penjelasan.

__ADS_1


"Hari sabtu, asisten saya datang ke sekolah, untuk meminta memeriksa CCTV. Juga, meminta beberapa potongan video yang merekam jelas aksi anak-anak yang hampir melakukan perundungan untuk anak saya, Naura. Ada juga ibu-ibu yang berkata, seolah ingin memperkeruh suasana. Itu semua bisa Anda lihat sendiri di dalam video," jelas Ezra, panjang lebar.


"Maafkan kami, Pak Ezra. Kami terlalu lalai, hingga semua ini lolos dari pengawasan." Kepala sekolah langsung meminta maaf.


Ezra dan Ayu mengangguk samar bersamaan.


"Kami berjanji akan lebih baik dalam pengawasan anak-anak didik kami. Juga, memberikan sangsi pada anak yang nakal dan menegur para ibu-ibu," sambung kepala sekolah itu lagi.


Ezra adalah donatur terbesar, untuk yayasan yang menaungi sekolah itu dan beberapa sekolah lainnya, hingga kepala sekolah pun takut untuk berurusan dengannya.


"Tidak usah. Kalian hanya perlu awasi saja dan segera tegur bila kejadian itu terulang kembali. Kami juga meminta data dari anak dan ibu tersebut, apa bisa?" tanya Ezra, dengan mata menyorot tajam, seakan memberi tahu kalau dirinya tak mau dibantah.


"Bisa, Pak. Sebentar saya siapkan terlebih dahulu," ujar Ezra.


"Tidak perlu buru-buru, kami juga tidak bisa lama-lama berada di sini. Anda bisa mengirimkan semua itu lewat email kepada saya. Saya tunggu secepatnya," ujar Ezra, sambil membenarkan baju dan bersiap berdiri.


"Terima kasih atas waktunya, kami berdua permisi, Pak," sambung Ezra lagi sambil mengulurkan tangan dan bersalaman pada kepala sekolah.


Sepeninggal sepasang Ezra dan Ayu, kepala sekolah itu menjatuhkan tubuhnya pada kursi dengan helaan napas kasar.


"Astaga, siapa yang berani berurusan dengan keluarga itu di sekolahku," gumam kepala sekolah, merasa gusar.


Dia pun akhirnya menelepon staf yang bisa membantunya mencari tahu tentang orang-orang yang diminta data dirinya oleh Ezra.


Pagi itu, sekolah, terutama para staf dan guru dikejutkan oleh video yang dibawa oleh Ezra. Mereka yang jarang sekali memeriksa CCTV merasa terkejut melihat itu semua.


Sedangkan Ezra berjalan santai menyusuri lorong sekolah yang sudah terlihat sepi. Karena, para murid sudah masuk ke dalam kelas masing-masing.


Dalam diam, dia memperhatikan setiap titik CCTV yang berada di sana, sebelah bibirnya tertarik tipis membentuk garis melengkung samar.


"Hanya sebuah pajangan," ujarnya dengan suara pelan.


Ayu yang memang berjalan di samping Ezra menoleh sekilas pada suaminya.


"Memang biasanya begitu, bukan? Itu hanya akan dilihat dan diperiksa saat sudah ada kejadian, bukan sebagai pencegahan," jawab Ayu, seakan tau apa maksud dari perkataan suaminya.


Ezra mengeratkan pelukannya di pinggang Ayu, dia melihat istrinya yang seakan tengah menatap ke depan. Akan tetapi, ternyata dia juga memperhatikan, sekitarnya sama seperti dirinya.


Ezra tersenyum tipis. "Ya, kamu memang benar, sayabg. Itu ada hanya untuk alat bukti, bukan untuk pencegahan."


...🌿...


...🌿...

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2