
...Happy Reading...
...❤...
Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, Ayu baru saja masuk ke dalam kamarnya setelah menidurkan Naura.
Anak itu terus saja merengek menanyakan papanya, setelah tadi siang mereka tidak bisa bertemu dengan Ezra di kantor, bahkan Ayu dan Naura sampai pulang setelah melaksanakan shalat magrib, di ruangan Ezra, itu pun dengan berbagai bujukan dari Ayu.
.................
Hufth ....
Menghela napas berat, Ayu memandang lampu taman di Belakang rumah, dengan tatapan hampa. Sampai semalam ini, ponsel Ezra belum bisa dihubungi, bahkan pesannya dari pagi tadi belum dilihat sama sekali.
Sejak dua hari yang lalu, Ezra tak pulang ke rumah. Ia hanya memberi kabar kalau ada pekerjaan mendadak di luar kota, itu pun hanya melalui sebuah pesan.
Keenan juga sama, adik iparnya itu tidak bisa di hubungi dan menghilang begitu saja, tanpa ada kabar terlebih dahulu.
Mau bertanya pada kedua mertuanya, mereka juga sedang pergi ke luar negri karena ada acara di sana.
Angin malam yang dingin seakan tak dirasakan olehnya, pikirannya terus berkelana, menebak apa yang sebenarnya terjadi. Tetapi ia sama sekali tak menemukan jawaban walaupun sudah satu jam lebih ia berdiri di sana.
Rasa takut kehilangan dan trauma dikhianati mulai muncul kembali, mengusik ketenangan hatinya. Tiba-tiba saja ia teringat pada ruang kerja suaminya, mungkin saja di sana ia bisa menemukan sesuatu yang membuatnya tenang.
Beranjak menuju salah satu pintu di salah satu sudut kamar yang terhubung langsung menuju ruang kerja Ezra.
“Kenapa dikunci?” gumam Ayu saat berusaha membuka pintu.
Alisnya bertaut hingga, menimbulkan kerutan halus di sekitar keningnya. Baru kali ini dia mendapati ruang kerja suaminya dikunci.
“Ada apa sebenarnya, Mas? Kenapa kamu tidak ada kabar?” ucap gusar Ayu, memilih duduk di sofa untuk menunggu kedatangan suaminya.
Hampir setiap malam selama kurang lebih seminggu ini, Ayu selalu menghabiskan waktunya untuk menunggu kedatangan Ezra.
Ingatannya kembali pada pembicaraannya bersama sang suami beberapa hari yang lalu, saat Ezra baru pulang dengan keadaan wajah lelah.
“Sibuk sekali ya, Mas?” tanyanya sambil membantu Ezra melepaskan kencing baju kemejanya .
“Iya, banyak sekali klien yang meminta semuanya aku handle sendiri.”
Ayu mengangguk dengan senyum manis yang selalu ia berikan pada suaminya itu.
"Jangan terlalu lelah, Mas. Kamu juga harus memperhatikan kesehatanmu," ucapnya sambil menaruh baju Ezra di keranjang pakaian kotor.
"Iya, sayang. Terima kasih sudah mau merawatku dan Naura. Maaf karena beberapa hari ini aku gak ada waktu buat kamu," ucapnya memeluk istrinya dengan penuh kelembutan.
Ayu membenamkan wajahnya di dada bidang milik suaminya, menutup mata, menikmati detak jantung dan aroma tubuh yang selalu membuatnya tenang.
“Sepertinya Naura sudah sangat merindukanmu, Mas. Dia terus menanyakan ke mana papanya? Berikan sedikit waktu untuk menemuinya sebentar saja? Kasihan dia, Mas.”
Ezra tersenyum, mengusap puncak kepala istrinya dengan penuh kelembutan.
__ADS_1
“Iya, nanti aku pasti menemuinya,” jawabnya sambil memberikan kecupan di kening Ayu, sebelum beranjak menuju kamar mandi.
Wanita itu hanya bisa menghembuskan napas pasrah, melihat punggung lebar suaminya yang perlahan menghilang di balik pintu kamar mandi.
Tak pernah terbersit sedikit pun rasa curiga dalam hatinya pada lelaki yang kini menjadi suaminya. Hanya pandangan iba ketika mengingat betapa kerasnya Ezra bekerja untuknya dan Naura, hingga waktu istirahat saja semakin berkurang.
Ayu beranjak menuju meja kecil di dekat jendela, tempatnya biasa menggambar desain atau membuat sketsa baju pesanan para pelanggannya.
Terkadang ia berpikir, apa memang seperti ini gaya hidup Ezra selama ini. Dia hanya sibuk bekerja hingga tidak ada waktu untuk orang rumah, bahkan anaknya sendiri.
Memilih untuk menorehkan kembali pensilnya di kertas putih, sambil menunggu kedatangan suaminya.
Waktu sudah menunjukkan pukul setengah satu malam, saat Ayu mendengar beberapa mobil masuk ke dalam halaman rumahnya.
Beranjak menuju ke depan jendela untuk melihat siapa yang datang. Ia menajamkan matanya saat melihat Ezra keluar dengan dipapah oleh Keenan. Juga beberapa orang lelaki yang langsung mengikutinya di belakang.
Menyambar kerudung terusan yang ada di atas sofa dan memakainya. Dengan perasaan khawatir Ayu langsung berlari keluar kamar, menuruni tangga dengan tergesa-gesa, tanpa memikirkan keselamatan dirinya sendiri.
Tubuhnya mematung saat melihat Ezra masuk dengan darah di perut dan pundaknya, Keenan pun tampak sedang tidak baik-baik saja, ada beberapa lebam bekas pukulan di wajahnya.
“Astagfirullah, ini kalian kenapa?” merengkuh sebelah tubuh Ezra lalu membantunya berjalan menuju ke kamar tamu yang berada di lantai satu.
Merebahkannya dengan sangat hati-hati. Keenan tampak kembali keluar, sedangkan beberapa orang pria yang dipimpin oleh Ansel langsung melakukan tugasnya.
“Kakak,” gumam Ayu, saat baru menyadari keberadaan Ansel di antara mereka.
“Tenangkan dirimu, Dek. Ezra pasti baik-baik saja,” ucapnya, mengusap puncak kepala adiknya.
Sedangkan para dokter yang lain, tampak mulai membuka baju yang dipakai oleh Ezra.
Darah pun mengalir deras, sampai memenuhi bajunya. Mata Ayu sudah berkaca-kaca, menatap kondisi suaminya yang sangat mengenaskan. Bahkan terlihat sekali kalau kesadaran Ezra mulai menurun.
Tangan lelaki itu terus menggenggam erat tangan Ayu, seakan tak membiarkan wanita itu jauh dari pandangannya.
Sesekali terdengar suara desisan dari mulut Ezra, keningnya terlihat berkerut dalam, menahan rasa sakit yang menyerang seluruh tubuhnya.
Seketika, suasana sepi rumah itu berganti dengan riuh dan sibuk, para pelayan ikut terkejut akan kedatangan Ezra, dalam kondisi yang tidak baik-baik saja.
Beberapa saat kemudian satu mobil lagi datang dengan seorang bertubuh tegap berjalan tergesa masuk ke dalam rumah.
Keenan langsung menghampiri orang itu yang tak lain adalah Max, salah satu anak buah Agra. Lelaki itu menyerahkan botol kecil pada Keenan.
“Segera berikan obat penawar ini untuknya sebelum racunnya menyebar,” ucapnya.
Keenan mengangguk lalu langsung masuk ke dalam dan memberikan botol itu pada Ansel.
Selama hampir dua jam Ansel bekerja keras untuk mengeluarkan peluru di perut dan pundak sahabatnya, juga menangani racun yang terkandung di dalam peluru yang hampir menyebar ke dalam pembuluh darah.
Hingga menjelang subuh, barulah mereka bisa bernapas lega, saat sudah memastikan kalau semua racunnya telah ternetralisir dengan baik dan tidak lagi berbahaya.
Ayu terus berada di samping suaminya, bahkan ia tak mengidahkan perintah dari Ansel untuk beristirahat. Kondisi Ezra yang masih dalam keadaan tak sadarkan diri, membuat Ayu takut untuk meninggalkan lelaki itu.
‘Sebenarnya apa yang terjadi padamu, Mas?’ gumam Ayu dalam hati. Pertanyaan itu kini terus berputar di dalam otaknya, walau ia sendiri tak berani untuk bertanya.
__ADS_1
Apa lagi Keenan juga sedang beristirahat di kamar sebelah, setelah mendapatkan penanganan di beberapa bagian tubuhnya yang terkena pukulan benda tumpul dan beberapa sayatan benda tajam.
Ansel juga masih berada di ruang keluarga, memilih berbicara dengan anak buah Ezra, tentang apa yang sudah terjadi pada sahabat sekaligus adik iparnya itu.
Ayu terus menatap wajah pucat suaminya, sesekali terlihat bulir bening yang lolos dari mata indahnya. Tetapi Ayu tak membiarkan itu terlihat oleh orang lain, ia langsung menghapus setiap air yang jatuh dari pelupuk mata. Tangannya masih digenggam erat oleh lelaki itu, hingga dia tidak bisa beranjak ke mana pun.
Suara azan subuh menyadarkannya, mencoba melepaskan genggaman tangan Ezra, agar ia bisa meminta tolong salah satu pelayan untuk mengambilkannya peralatan Shalat.
“Sebentar ya, Mas,” gumamnya sebelum beranjak dari sisi Ezra dan berjalan menuju pintu keluar.
Matanya mengedar mencari keberadaan salah satu pelayan di rumahnya.
“Bi Yati, tolong ambilkan peralatan shalat di kamar,” ucapnya.
“Baik, Bu,” jawab Bi Yati, sebelum berlalu menuju kamar majikannya.
Beberapa saat kemudian Bi Yati sudah datang kembali.
“Bi, tolong siapkan Naura untuk sekolah ya. Ohya, jangan sampai dia tahu kondisi papanya ya, Bi,” ucap Ayu lagi.
Bi Yati mengangguk, ia merasa iba melihat wajah Ayu yang tampak sedikit pucat. Mungkin karena terlalu terkejut dengan kejadian ini, di tambah beberapa hari ini wanita itu juga sering telat makan, karena menunggu kedatangan suaminya.
Ayu memilih melakukan kewajibannya sebagai seorang muslim di dalam kamar tempat Ezra berada. Air matanya mengalir begitu saja saat tangannya menengadah memohon pada sang maha kuasa untuk kesembuhan suami dan kebahagiaan keluarga kecilnya.
Memilih untuk menggigit bibir bawahnya, agar isakan yang keluar tak terdengar oleh Ezra. Ia takut kalau suaminya itu terbangun dan mendengar tangisannya.
Berjalan menuju ranjang suaminya, dengan tatapan nanar. Mengambil tangan Ezra dan menciumnya lama, setelahnya ia juga memberikan kecupan di kening sang suami, memejamkan matanya hingga tak terasa air matanya jatuh ke wajah Ezra.
Ezra mengerjapkan matanya, berusaha meredam rasa pening yang membuat matanya terasa berat untuk di buka.
Tersenyum kecil ketika melihat Ayu yang menatapnya dengan wajah sembab dan mata merah.
“Mas, kamu udah bangun? Sebentar ya, aku panggil Kak Ansel dulu!” ucap Ayu, hendak beranjak untuk berdiri.
Namun, tangannya lebih dulu di cekal oleh Ezra, memintanya untuk tetap duduk di samping suaminya itu.
“Kenapa? Apa ada yang, Mas, inginkan?” tanya Ayu, kembali duduk di samping suaminya.
“Aku baik-baik saja. Kamu jangan khawatir,” ucap Ezra. Lelaki itu tahu kalau Ayu sangat mengkhawatirkan dirinya, itu terlihat sekali dari wajah sayu sang istri.
Ayu tersenyum lalu mengangguk. “Iya, aku tahu. Mas, pasti akan baik-baik aja demi aku dan Naura,” jawab Ayu.
“Aku panggil Kak Ansel dulu ya, biar Mas di periksa,” ucapnya lagi.
Ezra mengangguk lemah, Ayu tersenyum lalu melepas tangannya dari genggaman Ezra.
Ketika berbalik air matanya pun jatuh tak terbendung, melihat suaminya yang berusaha membuatnya tidak khawatir dengan keadaan dia saat ini.
...🌿...
...🌿...
...Bersambung...
__ADS_1
Hai-hai semuanya, kemana aja nih? Kok perasaan sepi banget ya🤔🤔