
...Happy Reading...
...❤...
Ansel baru saja masuk ke dalam rumah, dengan Bian yang berlari terlebih dahulu. Sama seperti Naura, bian juga merajuk. Karena, tidak mau pulang dan mau menemui Ayu lebih dulu sebelum pulang.
Pikirannya yang sudah kacau sejak perdebatannya dengan Ayu semakin bertambah dengan rengekan dari anaknya.
"Kamu kenapa Mas?" tanya Elena yang melihat Bian datang dengan menekuk wajahnya dan sekarang suaminya malah terlihat lebih mengenaskan lagi.
Ansel menjatuhkan tubuhnya Pada sofa panjang di ruang keluarga itu.
Menyandarkan punggungnya dengan mata tertutup rapat.
Raut wajahnya tampak sangat lelah, di tambah rambut yang berantakan, kancing kemejapun sudah terlepas beberapa.
Itu semua sudah jelas menjadi gambaran kalau suaminya itu sedang tidak baik-baik saja.
Elena berjalan menuju dapur untuk mengambilkan air minum agar suaminya merasa lebih tenang.
"Ini, minum dulu" Mala menyodorkan gelas berisi air putih di hadapan Ansel.
Ansel membuka matanya, menatap wajah sang istri yang sedang tersenyum, seakan menguatkan dirinya.
Menegakkan tubuhnya sambil meraih gelas di tangan wanita yang telah menemaninya selama hampir sepuluh tahun, dari semenjak pacaran, ketika dia sedang menempuh pendidikan di luar negri.
Ansel menghabiskan air itu dalam sekali teguk. Menahan sesak di dada hingga tenggorokannya terus saja terasa kering.
"Sudah makan?" tanya Elena, duduk di sebelah suaminya.
Ansel menggeleng.
"Mau cerita sekarang, atau mau istirahat dulu hm?" tanya Elena lagi, dengan penuh kelembutan, memandang wajah kusut suaminya.
"Aku bersih-bersih dulu saja"
"Ya udah aku siapin airnya dulu ya"
Elena beranjak menuju kamar, setelah mendapatkan anggukan dari Ansel.
Satu jam kemudian mereka sudah berada di dalam kamar, Ansel sudah menceritakan semuanya pada sang istri.
Elena terkejut mendengar semua penuturan dari suaminya.
Dia memang mengetahui kalau Ansel mempunyai seorang adik perempuan selain Melati, dia juga tau kalau, suaminya itu selalu berusaha mencari sang adik beberapa tahun ini.
Tapi dia tak pernah menyangka kalau adik yang selama ini di cari oleh suaminya adalah Ayu.
Wanita yang berada dekat dengan mereka, bahkan Bian sudah sangat menyayangi wanita itu, tanpa tau kalau di antara mereka terkait hubungan darah.
"Jadi orang yang selama ini kamu cari, Ayu?" tanya Elena memastikan.
Ansel menganggukan kepalanya dengan tatapan sendu.
"Lalu bagaiman dengan Ibumu?" Elena memandang penuh wajah sang suami.
Ansel menggeleng lemah.
"Kata Ayu, Ibu sudah meninggal," lemah Ansel.
Elena dapat melihat genangan air di mata sang suami. Suaranya pun terdengar sendu dan sedikit bergetar. Wajahnya penuh dengan penyesalan.
"Kamu harus bersabar menghadapi Ayu, dia pasti sangat terpukul dengan semua kejadian ini"
__ADS_1
"Berikan dia waktu untuk berdamai dengan semua ini" ucap Elena
"Aku takut, aku takut dia tidak akan percaya padaku El" raut cemas itu terlihat jelas di wajah tampan suaminya.
"Nanti kita jelaskan baik-baik padanya ya. Aku yakin, Ayu orang yang baik, pasti,dia mau mendengar semua penjelasan dari kamu, Mas"
Elena mengusap punggung sang suami, punggung yang selalu terlihat kokoh itu kini bergetar menahan tangis, Karena, penyesalan yang sangat mendalam.
"Sekarang lebih baik, Mas istirahat dulu, besok kamu ada praktek kan?"
Ansel merebahkan dirinya, mencoba memejamkan mata dengan perasaan yang kacau balau.
Hari ini menjadi hari yang telah lama dia tunggu, hari di mana dia bertemu dengan sang adik.
Tapi semua sikap Ayu, seolah mematahkan semua harapannya.
Harapan untuk bersama kembali dengan putri kecilnya, bidadari hatinya yang sampai sekarang tak pernah ada yang bisa menggantikan posisi Ayu di hatinya.
Begitu spesial sosok Ayu bagi dirinya, hingga sampai saat ini, Ansel masih bisa mengingat setiap kebersamaannya dengan sang adik.
...❤...
Pagi ini, Ayu sudah seperti biasa kembali, tak ada lagi raut kesedihan di wajahnya, jejak tangispun sudah menghilang, berganti dengan wajah segar dengan riasan yang sangat cocok di wajah cantiknya.
Semua jejak kesedihan itu ia tutup oleh make-Up yang sudah Ayu poles sejak sehabis subuh tadi.
Riska yang baru saja keluar dari kamar tamu, di saat Ayu sedang menikmati teh Chamomile hangat di taman dalam rumah.
"Selamat pagi Mba" sapa Riska menghampiri wanita yang sedang bersantai di atas bangku permanen yang ada di sana.
"Salam dulu Ris, kita seorang muslimah" tegur Ayu, menaruh cangkir yang ia pegang di sampingnya.
"Hehehe... maaf Mba, lupa" cengir Resti menggaruk kepala yang tidak gatal.
Pagi ini Ayu habiskan dengan berbincang soal butik bersama dengan Riska.
Dia tau, itu adalah masalah yang sensitif bagi wanita di hadapannya itu.
Sedangkan Ayu, wanita itu hanya berusaha terlihat baik. Walau, dalam hatinya, luka itu masih sangat terasa menyakitkan.
Dendam...?
Ayu tak punya dendam pada mereka, tetapi, ini hanya sebuah kekecewaan yang sudah teramat dalam.
Semua itu, membuat Ayu tanpa sadar membentuk tembok pembatas bagi setiap orang dari masa lalunya.
Benci...?
Ayu juga tak menyimpan benci, tetapi, dia masih manusia biasa, yang pasti menyimpan kemarahan atas sakit yang ia rasakan.
Lalu apa yang sekarang Ayu lakukan dan rasakan kepada ayah dan kakaknya itu?...
Entahlah dia sendiri tak tau, yang dia tau dirinya hanya takut, takut untuk kembali kecewa.
Takut untuk kembali menorehkan luka baru di dalam hatinya.
Takut bila nanti dirinya hilang kendali.
Lemah...?
Biarkan orang menyebutnya lemah. Karena inilah dirinya, dia hanya berusaha untuk kuat dengan harapan kebahagiaan di suatu hari nanti.
Menggantungkan semua hidupnya pada Yang Maha Kuasa.
Entah sampai kapan cobaan ini akan berakhir? Ayu juga tidak tau.
__ADS_1
Ayu hanya berharap, akan mendapatkan kebahagiaan untuk dirinya, suatu hari nanti.
....
Pukul tujuh pagi, Ayu dan Riska pergi ke butik bersama-sama. Butuh waktu sekitar lima belas menit untuk menempuh jarak antara rumah Ayu dan butik.
Sampai di butik Ayu kembali di kagetkan oleh keberadaan tiga orang yang menyambutnya dengan senyum secerah mentari pagi ini.
" Aunty...!"
Ayu menghembuskan napasnya, lalu beranjak keluar dari dalam mobil.
Tersenyum lembut seperti biasa, walau matanya masih memancarkan kesedihan.
"Naura, Bian?" berjongkok di hadapan kedua bocah kecil yang langsung masuk ke dalam pelukannya.
"Aunty kemarin kemana, Rara sama Bian cariin tapi gak ada?"
Naura bertanya dengan posisi masih dalam pelukan hangat Ayu.
"Aunty ada urusan di luar sayang, Naura dan Bian, kenapa gak sekolah hm?"
Ayu merenggangkan pelukannya, melihat wajah lucu, dua anak yang sudah mewarnai harinya beberapa bulan ini.
"Mereka ngambek sama Papa dan Daddynya karena gak ketemu kamu dulu kemarin. Jadi, aku ajak ke sini dulu sebelum ke sekolah" Elena menjelaskan.
Ayu berdiri, melihat wajah cantik seorang wanita yang ternyata adalah kakak iparnya sendiri.
"Mba-"
"Eh.. jangan panggil Mba, panggil Kakak saja ya" Elena memotong perkataan Ayu.
Ayu menelan saliva dengan susah payah, tenggorokannya tiba-tiba saja terasa kering.
" Terima kasih.." Ayu seperti ragu untuk meneruskan ucapannya.
Elena memandang Ayu penuh harap.
"K-kak"
Senyum ibu dari Bian itu mengembang, saat mendengar ucapan yang keluar dari mulut bergetar Ayu.
" Terima kasih..." Elena menghambur memeluk adik iparnya.
Tubuh Ayu menegang, otaknya belum bisa mencerna apa yang kini sedang terjadi pada dirinya.
Kedua tangannya meremas sisi gamis yang di pakainya. Jantung Ayu tiba-tiba saja berdetak lebih cepat. Ada rasa asing yang menjalar di relung hatinya. Rasa hangat yang sudah lama tidak ia rasakan.
Satu tetes air mata kembali terjatuh membasahi pipinya. Pelukan ini terasa sangat nyaman dan tulus.
...🌿...
...🌿...
...Bersambung...
Sambil nunggu aku nulis bab selanjutnya, boleh baca karya kak Mbu'na banafsha yang berjudul : Arjuna mencari cinta..
Ceritanya bagus, di tambah udah tamat, yang punya waktu luang panjang, bisa baca maraton.
Jangan lupa tinggalkan jejak like, komen, vote dan hadiahnya ya...
Eh.. jangan lupa bintang lima jangan sampai ketinggalan🤭
Terima kasih kakak-kakak baik hati...🙏😊🥰❤
__ADS_1