Berbagi Cinta : Antara Kita

Berbagi Cinta : Antara Kita
Bab.286 Mengatakannya


__ADS_3

...Happy Reading...


......................


"Ibu, mau ke pasar sekarang?" tanya Rio, sambil beranjak berdiri.


"Iya. Ibu berangkat naik ojek aja, kamu di sini aja temenin kakakmu," jawab Ibu.


"Eh, gak uusah, Bu. Aku gak apa-apa kok di rumah sendiri. Ibu ke pasar diantar sama Rio aja." Riska yang mendengar perkataan ibunya merasa tidak enak.


"Gak usah. Ibu udah pesan ojek langganan, paling sebentar lagi juga sampai di depan rumah," ujar Ibu.


"Kamu kalau gak diawasi suka seenaknya, nanti lupa lagi kalau kamu sedang hamil muda. Jadi sekarang Rio biar di sini aja temenin kamu," oceh Ibu.


"Ish, Ibu. Aku gak gitu lagi kok." Riska sedikit memelankan suaranya.


"Gak gitu lagi gimana? Tadi aja Kak Keenan sampe teriak karena, Kakak, yang jalannya kecepetan. Lupa?" Rio, mengingatkan kejadian saat Riska dan Keenan baru saja datang.


"Tuh, kan. Kamu itu masih aja ceroboh. Udah sekarang ibu ke pasar naik ojek aja. Kamu mau pesan apa, biar nanti ibu belikan?" ujar ibu memberi keputusan.


Terdengar di depan rumah sudah ada suara motor berhenti diiringi dengan kelakson yang berbunyi.


"Tuh, ojeknya juga udah datang," sambung Ibu lagi.


"Kalau ada aku titip es cendol yang suka mangkal di depan pasar itu ya, Bu," pinta Riska.


"Tunggu, aku ambil uangnya dulu," sambung Riska.


"Eh, gak usah. Ibu juga ada uang. Udah cuman itu aja, gak mau yang lain?" tanya Ibu.


"Iya, udah itu aja," angguk Riska.


"Ya udah, ibu berangkat sekarang, Assalamualaikum," pamit Ibu.


"Waalaikumsalam," jawab Riska dan Rio bersamaan.


Mereka pun bergantian mencium punggung tangan wanita yang telah melahirkannya itu.


Riska dan Rio pun mengantarkan ibu sampai ke teras, mereka melihat Ibu yang pergi dengan menggunakan ojek langganannya.


Riska sedikit menundukkan kepalanya sambil memegang tangan Rio, saat tukang ojek pengkolan itu tersenyum padanya.


Dian pun membalas senyum tukang ojek itu dengan anggukan kepala samar, senyum tipis pun berusaha dia paksakan.


Rio yang merasakan gelagat berbeda dari kakaknya mengerutkan keningnya samar.


Kenapa kakak kayak orang takut gitu? batin Rio.

__ADS_1


Mereka berdua pun masuk lagi ke rumah setelah melihat ibunya pergi.


Riska langsung berjalan menuju ke dapur, dia mengambil air lalu meminumnya sampai tandas.


Ya Tuhan, ternyata aku belum sepenuhnya lepas dari rasa trauma itu? Rasa takut itu kembali lagi saat Bang Ken tidak ada di sampingku.


Riska terduduk di kursi yang ada di sana dengan tubuh terasa lemas, bayangan perlakuan itu kembali teringat, hingga membuat kakinya terasa tidak bertenaga.


Rio yang menyusul Riska, menatap khawatir kakaknya dari pintu masuk dapur. Perlahan dia pun mulai melangkahkan kakinya mendekat.


"Kak?" panggil pelan Rio.


Riska terjingkat kaget, dia langsung menolehkan kepalanya ke arah suara. Seluruh tubuhnya langsung berrekasi dan tegang seketika saat mendengar suara laki-laki berbeda.


Menghembuskan napas kasar begitu melihat itu adalah adiknya sendiri.


"Hem," jawab Riska kembali melemaskan seluruh tubuhnya.


"Ada apa, Kak? Kakak kok kayak takut gitu?" tanya Rio, menelisik wajah Riska yang terlihat panik.


Riska menghembuskan napas kasar berulang kembali, sambil mencoba menghilangkan semua bayangan itu dan menenangkan diri.


"Aku gak apa-apa kok, Rio. Mungkin ini cuman bawaan bayi," ujar Riska, memberi alasan.


Rio tentu saja tidak memercayai begitu saja perkataan kakanya, dia menatap lama wajah Riska, hingga terlihat normal kembali.


"Udah ah, kakak mau ke kamar dulu," ujar Riska kemudian.


Begitu Riska masuk ke kamar, suara pesan masuk di ponselnya menyita perhatiannya.


Rio langsung membukanya, begitu melihat itu adalah pesan dari Keenan.


Kak Keenan: [Jangan tinggalin kakak kamu sendiri ya, nanti kalau ada kesempatan aku jelasin alasannya]


Kerutan di kening Rio semakin dalam, saat melihat isi pesan dari kakak iparnya itu. Dia melihat ke arah pintu kamar Riska sekilas, sebelum mulai mengetik balasan pesan untuk Keenan.


^^^Rio: [Memangnya Kak Riska kenapa, Kak? Tadi aku liat dia kayak takut sama tukang ojek langganan ibu]^^^


Keenan yang baru saja sampai di kantornya, sudah dibuat khawatir oleh balasan pesan dari adik iparnya itu.


Sudah aku duga, dia gak bakalan bilang sama Rio ataupun Ibu. Dasar keras kepala! batin Keenan frustrasi sendiri.


Kak Keenan: [Kamu, lagi sama kakak kamu gak?]


^^^Rio: [Enggak, Kak. Kak Riska baru aja masuk ke kamar]^^^


Kak Keenan: [Kita bisa telepon aja? Nanti aku ceritain semuanya]

__ADS_1


^^^Rio: [Sebentar, kak. Aku ke kuat dulu, kalau di sini takut masih kedengeran]^^^


Rio pun beranjak dari dapur dan ke luar dari rumah, dia memilih duduk di kursi yang berada di pelataran rumah.


^^^Rio: [Sudah, Kak]^^^


Tidak lama setelah mengirimkan pesan itu, ponselnya pun berdering dengan id nama kakak iparnya itu. Rio langsung menerima telepon itu.


"Kak Keenan, sebenarnya apa yang terjadi sama kak Riska?" tanya Rio langsung, begitu teleponnya tersambung.


"Begini, Rio. Sebelumnya aku mau minta maaf dulu, karena gak bisa menjaga kakak kamu," Keenan bersiap untuk menceritakan semuanya.


"Apa yang terjadi sebenarnya, Kak?" tanya Rio, kini merasakan takut di dalam hatinya.


"Satu minggu yang lalu, Riska sempat mengalami penculikan dan hampir saja mengalami tindakan pelecehan," jawab Keenan dengan penuh penyesalan.


Awalnya Keenan memang mau menceritakan ini semua pada Rio, sebelum berangkat ke kantor. Akan tetapi, karena Riska selalu berada di dekatnya, dia terpaksa menundanya.


"Ya Allah, kenapa semua itu bisa terjadi, Kak? Bukannya kakak sudah menyuruh seseorang untuk menjaga Kak Riska?" tanya Rio. Dia merasa kesal pada kakak iparnya itu.


"Terus, kenapa juga baru bilang sekarang? Kenapa gak bilang sama aku dan ibu tentang kejadian itu?"


Keenan bisa mendengar kalau nada suara Rio berubah menjadi ketus, dia pun sudah bisa menebak itu semua, mengingat umur Rio yang masih muda.


..."Bukannya aku gak mau mau ngabarin ibu sama kamu, Rio. Tapi, ini semua juga permintaan Riska, dia takut kesehatan ibu akan menurun kalau sampai kejadian itu sampai pada kalian."...


"Itu semua terjadi ketika aku sedang pergi ke luar kota. Penculik itu bisa memanifulasi orang-orang yang aku tugaskan untuk menjaga kakak kamu. Lagi pula penculik itu juga teman sekolah Riska,"


Keenan menceritakan kejadian yang terjadi pada Riska, walaupun itu hanya garis besarnya saja, tanpa menjelaskan keadaan Riska yang sangat memprihatinkan ketika ditemukan.


"Teman sekolah Kak Riska, siapa?" tanya Rio.


"Namanya Toni, dia terobsesi dengan Riska sejak sekolah, sampai akhirnya dia tau kalau Riska sudah menikah dan dia menjadi marah. Dia bersekongkol dengan musuh aku, dan mereka berdua merencanakan penculikan itu."


"Aku gak kenal sama orang itu, Kak. Mungkin dia memang bukan teman dekat Kak Riska. Terus sekarang di mana mereka? Apa mereka sudah ditangkap polisi?"


"Sudah, mereka sedang dalam proses hukum, kamu gak usah khawatir. Akibat kejadian itu, sekarang Riska mengalami trauma, dia mengalami gangguan kecemasan ketika ada laki-laki di sekitarnya."


"Makanya, aku mau minta tolong sama kamu untuk jagain Riska selama aku gak ada di sampingnya. Kamu cuman perlu memegang tangannya kalau ada laki-laki lain di sekitarnya, agar dia merasa tenang."


"Iya, Kak. Kalau gitu aku akan jaga kak Riska baik-baik," jawab Rio.


"Terima kasih, Rio. Aku mengandalkan kamu."


Setelah itu sambungan telepon diantara keduanya pun terputus, Rio kembali ke dalam rumah agar Riska tidak mencarinya.


...🌿...

__ADS_1


...🌿...


...Bersambung...


__ADS_2