Berbagi Cinta : Antara Kita

Berbagi Cinta : Antara Kita
Bab.245 Arisan


__ADS_3

...Happy Reading...


...❤️...


Acara arisan pun kini berlangsung, sejak tadi pagi akhirnya Riska memilih untuk menjauhi Keenan. Dia benar-benar salah paham karena perkataan Nawang.


Saat ini Riska tengah bersiap di dalam kamar, untuk ikut menjamu para teman arisan sang ibu mertua.


Ya, benar yang diucapkan Keenan. Nawang tidak kan memanggil mereka berdua hanya untuk membantu saja, ternyata ada maksud terselubung di balik permintaan tolong mertuanya itu.


Sejak tadi pagi, Nawang sudah mencecar mereka berdua untuk mengadakan pesta pernikahan, dan beberapa saat yang lalu, tiba-tiba dia dipaksa untuk mengikuti acara arisan mertuanya itu.


Nawang bahkan sudah menyiapkan baju yang akan dipakai oleh Riska. Akan tetapi, dengan berat hati Riska menolaknya karena dia ingin memakai baju yang dipilihkan Keenan, saat di pusat perbelanjaan kemarin.


"Sayang, kamu masih marah sama aku?" tanya Keenan sambil memeluk Riska yang sednag duduk di depan meja rias dari belakang.


Dia juga akan bersiap, karena para suami juga akan datang untuk berkumpul bersama Garry dan dirinya.


Acara arisan yang kedua orang tuanya katakan itu, sudah seperti pesta kecil, yang mereka adakan untuk para teman dekat saja.


Biasanya para suami akan memiliki acara sendiri, seperti bermain golf atau menikmati hobi lainnya. Akan tetapi, untuk kali ini, mereka memutuskan untuk berkumpul di rumah, bersama dengan para istrinya.


"Enggak, siapa yang marah?" tanya Riska, melihat wajah suaminya yang mulai nakal dengan meciumi lehernya, dari pantulan kaca di depannya.


Keenan pun sedikit mengangkat kepalanya, dia ikut menatap wajah istrinya di cermin.


"Lalu kenapa sejak tadi kamu menghindari aku, hem?" tanya Keenan lagi.


Riska terdiam, dia kembali mengingat perkataan Nawang yang menjelaskan kepadanya, kalau tadi pagi dia hanya ingin dirinya dan Keenan untuk melaksanakan acara pesta pernikahan.


Namun, Nawang juga memperingatkannya, untuk berhati-hati dengan para wanita lain. Apalagi, saat ini Keenan sudah menjadi seorang wakil direktur utama, dan sebentar lagi bahkan akan menjadi pewaris perusahaan keluarga itu.


"Sayang?" panggil Keenan pelan, saat dia melihat istrinya malah melamun.


"Heh ... iya, Bang." Riska terperanjat oleh panggilan dari suaminya.


"Aku tanya tadi. Kenapa kamu malah melamun, sayang?" ujar Keenan.


"Dengar," ujarnya lagi, sambil sedikit mengangkat tubuhnya, lalu memutar kursi yang di duduki oleh istrinya untuk menghadap kepadanya.


Dia pun berlutut di depan Riska dengan kedua tangan mereka yang bertaut.


"Aku tidak akan pernah melakukan apa yang mama bilang, dia hanya menghasut kita agar kamu mau melaksanakan pesta pernikahan." Keenan sedikit menjeda perkataannya, dia menatap mata sang istri yang kini juga sedang menatapnya.

__ADS_1


"Aku tidak keberatan kalau kamu mau mengadakan pesta. Tapi, jangan sampai kamu terpaksa karena mama. Hati aku sudah penuh dengan nama kamu di dalamnya, lalu untuk apa aku mencari yang lain lagi, sayang." Keenan mencoba menjelaskan pada istrinya.


Riska menatap mata sang suami, dia tahu kalau Keenan laki-laki setia, itu terbukti dari kesetiaannya pada mantan kekasihnya itu.


Riska memutuskan tautan mata keduanya, memikirkan tentang mantan Keenan, membuatnya dia jadi teringat dengan Alana.


"Sayang, kamu percaya kan sama aku?" tanya Keenan lagi, dia yang mengira kalau Riska masih belum bisa mempercayainya.


Riska kembali beralih menatap wajah Keenan, tangannya terulur mengusap wajah khawatir suaminya.


"Aku percaya sama, Abang," ujarnya lirih.


Senyum di wajah Keenan, mengembang mendengar jawaban dari istrinya itu. Dia sudah sangat khawatir sejak dari pagi tadi, karena melihat Riska yang seperti sedang menghindarinya.


"Aku mencintaimu, sayang. Jangan pernah ragukan aku lagi ya. Aku gak tau apa yang akan terjadi, kalau kamu tidak ada di sampingku," ujar Keenan, memeluk istrinya itu erat.


Riska mengangguk, dia pun membalas pelukan sang suami dengan senyum di bibirnya.


Beberapa saat mereka tetapi di posisi yang sama, hingga suara ketukkan di pintu menyadarkan keduanya.


Riskapun langsung melepaskan pelukan suaminya.


"Aku buka pintu dulu," ujarnya, sambil berdiri canggung.


"Iya, Bi?" ujar Riska, saat ia membuka pintu.


Ternyata itu adalah, salah satu pelayan di rumah mertuanya.


"Nyonya dan Tuan sudah menunggu Nona dan Den Keenan di bawah," jawab pelayan itu.


"Oh iya, Bi. Sebentar lagi kita turun," ujar Riska, dengan senyum ramahnya.


Setelah itu, Riska masuk lagi ke kamar, dia melihat suaminya malah berbaring di atas tempat tidur.


"Abang, kok malah baringan sih? Papa sama mama udah nunggu di bawah," ujar Riska, sambil berjalan untuk membawa baju yang sudah disiapkan oleh kedua mertuanya.


"Aku nungguin kamu, sayang." Keenan bangun dan duduk di sisi ranjang.


Riska menaruh baju yang dia bawa di atas ranjang, dia samping sang suami.


"Ya sudah, ayo aku bantuin ganti baju," ujar Keenan.


Keenan tersenyum, dia pun membuka bajunya. Sedangkan Riska mulai membuka kancing kemeja milik Keenan.

__ADS_1


Sejak keduanya sudah menyatakan cinta satu sama lain, Keenan memang lebih manja dengan Riska. Dia selalu saja mencari kesempatan untuk bermanja pada istrinya.


Riska yang notabene adalah adalah anak pertama pun, tak merasa keberatan untuk melayani keinginan suaminya.


Beberapa saat kemudian keduanya kini sudah siap untuk keluar dari kamar.


"Bang, aku gugup banget," ujar Riska, begitu dia selesai.


"Gak apa, sayang. Ini cuma acara arisan biasa, yang datang juga paling yang sudah pernah datang ke acara kak Ezra.


"Sudah jangan terlalu dipikirkan, lagipula aku juga ada di sana," sambung Keenan lagi.


Riska menghirup napas dalam, lalu menghembuskannya perlahan sebelum akhirnya mengangguk dengan mata yang menatap wajah suaminya.


Keenan dan Riska akhirnya berjalan dengan tangan yang saling bertaut.


Ternyata di bawah sudah ada beberapa tamu yang datang, mereka semua berkumpul di taman samping yang menyatu langsung dengan kolam renang.


Keenan memindahkan tangannya pada pinggang, saat merasakan genggaman tangan Riska semakin erat dan gelisah.


Ya, walaupun sewaktu acara aqiqah dia sudah mengenal beberapa teman dan kolega bisnis kedua mertuanya.


Namun, dia masih saja merasa gugup saat dia kembali akan bertemu dengan kalangan elit itu.


"Nah, ini dia yang kita tunggu sejak tadi, akhirnya datang juga," ujar Nawang, saat melihat anak dan menantunya berjalan ke hadapan mereka semua.


"Selamat siang," sapa Keenan pada semua yang sudah ada di sana.


"Sini, sayang. Gabung sama Mama." Nawang langsung menarik Riska untuk duduk di sebelahnya.


Setelah itu pun Keena memilih pergi dan bergabung dengan Garry dan para laki-laki yang lain.


"Wah, sayang sekali ya. Sekarang Ezra dan Keenan sudah memiliki istri semua. Jadi gak ada kesempatan lagi untuk jadi menantu kita," gurau salah satu teman Nawang.


"Iya, Jeng. Alhamdulillah, mereka sudah menemukan cintanya masing-masing," ujar Nawang, sambil melihat Riska dengan senyum ramahnya.


Riska hanya tersenyum canggung, tanpa mau menimpali perkataan siapa pun.


Entahlah, rasanya dia semakin kecil, saat berada di tengah para teman-teman mertuanya itu.


...🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹...


...Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2