
...Happy Reading...
......................
“Bagaimana, apa kamu sudah ingat siapa aku?” tanyanya, mencondongkan diri untuk lebih dekat dengan Riska.
Riska kembali memicingkan mata, berusaha mengingat orang yang kini berada di depannya. Hingga beberapa saat kemudian dia melebarkan matanya, begitu mengingat seseorang yang mirip dengan laki-laki itu.
“Sudah ingat kan?” tanya laki-laki itu lagi, dengan senyum miring di wajahnya.
“Toni?” jawab Riska sedikit tidak yakin.
Ya, dulu Toni adalah sosok laki-laki pendiam dan kutu buku, dengan berat badan yang sedikit berlebih juga kaca mata tebal yang menjadi ciri khasnya.
Laki-laki itu, memang tidak terlihat menonjol di antara siswa yang lain. Sebaliknya, dia bahkan terlihat selalu menyendiri dan tidak mempunyai teman, juga selalu jadi bahan bulying para siswa nakal di sekolah.
Tomi terlihat terkekeh sambil kembali menegakkan tubuhnya. Duduk di sisi ranjang tepat di depan Riska berada, dia menatap penuh puja pada wanita di depannya.
“Kamu masih ingat padaku? Benar kan, kamu juga pasti masih mengingat aku,” ujar laki-laki yang ternyata bernama Toni.
Dia mengelus pipi Riska dengan gerakan pelan, senyum lebar pun tampak mengembang hingga bibirnya terlihat membuat garis lengkung ke atas.
Riska mengkerutkan tubuhnya, tangannya pun mengepal erat di belakang punggung, menahan rasa takut dan hina yang bercampur aduk menjadi satu.
Memalingkan wajah, mencoba menjauhkan diri dari jangkauan lengan Toni. Keningnya pun berkerut dalam, dia tidak pernah menyangka kalau salah satu teman sekolahnya ada yang menyimpan rasa padanya. Apa lagi, selama ini dia tidak terlalu dekat dengan laki-laki bernama Toni itu.
Dia hanya beberapa kali bertemu, itu pun di saat keduanya sedang mengikuti acara sekolah.
“Kenapa? Kenapa kamu menjauh, hem? Aku sangat mencintaimu, Riska. Tapi, kenapa kamu tidak pernah mau melihatku?” tanya Toni dengan wajah sendu.
“Kita tidak sedekat itu. Lagi pula aku juga tidak mencintai kamu, Toni. Sadarlah, aku sudah mempunyai suami,” ujar Riska, berusaha menyadarkan salah satu teman sekolahnya itu.
“Stop! Jangan bicara itu lagi. Aku tidak peduli dengan suami kamu. Dia telah merebut kamu dariku ... kamu adalah milikku, Riska. Dan, selamanya akan tetap jadi milikku.” Toni menekan telunjuknya di bibir Riska.
__ADS_1
Seklera mata yang sudah berwarna merah, dengan bola mata yang bergetar, dan ekspresi wajah yang terus berubah, membuat Riska semakin takut kepada laki-laki di depannya.
Riska terus berpikir, untuk membuat Toni melepaskannya. Hingga ingatannya tentang sikap Toni yang dulu selalu berbuat baik, memberinya sebuah ide.
“T–Toni, aku mohon lepaskan aku. Aku harus segera pulang, kasihan ibu dan adikku, mereka pasti sudah panik karena aku tidak pulang,” ujar Riska, mencoba bernegosiasi dengan laki-laki di depannya.
Ya Allah, semoga dia masih baik seperti dulu gumam Riska dalam hati.
Dia berharap, dengan menggunakan adik dan ibunya sebagai alasan, akan dapat membuat Toni bisa melepaskannya.
“Jangan berbohong, Riska! Aku tau kamu sudah tidak tinggal dengan adik dan ibumu. Suami kamu juga sedang berada di luar kota, jadi tidak akan ada yang tau kalau kamu sudah ada bersamaku sejak kemarin.” Toni sedikit meninggikan suaranya.
Riska tersenyum samar, dia berusaha menengarkan hatinya, untuk melawan Toni. Walau, rasa takut dan terkejut dengan sikap Tomi yang berbeda jauh ketika masih sekolah dulu, sedikit membuatnya gentar.
Dia yakin kalau saat ini, laki-laki di depannya itu tidak dalam keadaan berakal sehat. Entah itu pengaruh, alkohol atau obat-obatan terlarang, bahkan mungkin memang pikirannya yang sudah tidak sehat lagi.
“Kamu salah, Toni. Suamiku pasti sudah tau kalau aku tidak pulang ke rumah. Sebentar lagi, pasti dia akan datang ke sini dan membawaku kembali! Dia juga pasti tidak akan mengampuni kamu!"
“Diam! Diam!” teriak Toni, sambil mencengkeram kembali dagu Riska.
Riska melebarkan matanya, dengan jantung yang terasa berdegup lebih cepat, saat mendengar perkataan Toni. Dia tidak menyangka laki-laki di depannya itu bisa berkata kasar, bahkan berencana untuk membunuh Keenan.
Menggeleng cepat, dengan rasa gelisah yang semakin menguasai hatinya.
Kini Riska juga merasa takut, jika nanti Keenan dan Ezra akan berada di dalam masalah, jika sampai menemukan dirinya dan datang ke tempatnya berada.
“Jangan mimpi! Kamu tidak akan bisa membunuh suamiku!” Riska ikut berteriak, dia menahan rasa panas di pipi yang tertekan oleh ujung jari Toni.
“Sadarlah, Tomi. Aku tidak pernah mencintai kamu! Sikap kamu yang seperti ini, bahkan semakin membuat aku jijik kepadamu!" Manik mata keduanya kini bersitatap, saling mengadu keteguhan hati satu sama lain.
Riska bisa melihat, betapa kini Toni semakin terbakar amarah, karena kata-katanya yang sengaja memporfokasi emosinya.
"Sampai kapan pun kamu tidak akan bisa mendapatkan aku, karena hatiku sudah aku berikan seutuhnya untuk suamiku,” sambung Riska, sedikit memelankan suaranya, saat rasa sakit di pipinya semakin terasa.
__ADS_1
“Benarkah? Ternyata sikap keras kamu masih sama sampai sekarang ya, hahaha! Sudah di dalam keadaan seperti ini, kamu masih bisa berkata seperti itu," ujar Toni sambil semakin mendekatkan wajahnya, hingga kini jarak di antara keduanya semakin terkikis.
Genggaman tangan Riska semakin kencang, dia menahan napas, saat wajah keduanya hanya berjarak beberapa sentimeter lagi.
"Tapi, entah kenapa, aku selaku suka padamu? Sikap kamu yang keras kepala itu, malah semakin menambah kecantikan kamu.”
Tomi menghela napas pelan dengan senyum miring dan tatapan menyusuri tubuh Riska, penuh minat.
“Kamu sebenarnya tau tidak kondisi kamu saat ini, hah? Aku bahkan bisa melakukan apa pun yang aku mau padamu saat ini."
Melepaskan dengan kasar cengkeraman di dagu Riska, hingga wajahnya menoleh cepat ke samping, dan tubuhnya terhubung ke samping.
Riska menggigit bibirnya, menahan rasa sakit di dagu dan pipi, yang sudah pasti sekarang terdapat lebam di sana. Siku tangannya, dia gunakan sebagai tumpuan agar dirinya tidak jatuh berbaring di atas ranjang.
Tomi naik ke atas ranjang, dia bertumpu pada lutut di depan Riska, dengan sedikit mencondongkan tubuhnya, hingga kini berada di atas tubuh Riska.
Punggung jari telunjuk Toni, kini beralih menyusuri pundak dan tangan Riska, dengan gerakan halus dan perlahan. Tatapan penuh minat dengan kilat hawa napsu di mata Toni, membuat Riska semakin merasa terhina.
Ingin rasanya, dia mendorong tubuh Toni dan melawan setiap perlakuan semena-mena laki-laki di atasnya. Walau semua itu hanya ada di dalam angan, karena tangan dan kakinya tak bisa bergerak sama sekali.
Perasaan kotor di tubuhnya, membuat desakkan air di pelupuk mata, mulai mengaburkan pandangan Riska, bersiap untuk tumpah, bila sekali saja Riska menutup kelopaknya.
Dalam hati, dia mengumpat dan memberikan sumpah serapah pada Tomi, yang seakan sedang menjatuhkan dan menginjak-injak harga dirinya.
Bayangan wajah Keenan yang melintas di ingatan membuatnya merasa semakin tak pantas untuk laki-laki sempurna seperti suaminya.
Kini tubuhnya sudah kotor, dia sudah terjamah oleh laki-laki lain yang sama sekali tidak berhak melakukannya.
Tomi semakin mendekatkan tubuhnya pada Riska, membuat wanita itu memjamkan mata erat dengan teks air mata yang tidak dapat lagi dia tahan.
Tubuhnya mengkerut semakin erat, terus mencoba menjauh dari sikap kurang ajar Toni, di dalam hati dia berdoa agar Tuhan menyelamatkannya.
...🌿...
__ADS_1
...🌿...
...Bersambung...