Berbagi Cinta : Antara Kita

Berbagi Cinta : Antara Kita
Bab.98 Sah


__ADS_3


...Happy Reading...


...❤...


“Ndi, nindi!”


“Astagfirullah Hal Adzim!” teriak Ayu.


“Ndi, kamu itu kenapa sih? Tumben susah sekali di bangunin! Lihat tuh udah lewat waktu subuh ... makannya tadi malam aku bilang jangan begadang, begini kan jadinya!” cerocos Elena, setelah melihat adik iparnya itu membuka mata.


Ayu menatap linglung, sekelilingnya yang sudah ramai dengan orang-orang.


Larry, Ansel, Andrea, Ambu dan dua orang wanita asing, terlihat mengelilingi tempat tidurnya.


“Kamu kenapa, Ayu? Kenapa tidur bisa sambil nangis begitu, hem?” tanya Ambu, lembut.


Duduk di samping anak angkatnya yang masih terlihat belum bisa mencerna situasi.


“Ambu, E- Ezra gak kenapa-napa kan? Ezra-,” tanya Ayu terbata, dengan air mata kembali mengalir begitu saja, ingatan tentang kabar kecelakaan yang di alami oleh calon suaminya kembali terngiang.


“Ezra? Dia gak papa sayang, kenapa? Kamu mimpi ya?” Ambu terlihat mengusap lembut bekas air mata di pipi Ayu.


Ayu melihat sekitarnya, semua orang di sana seperti sedang menahan tawa, melihat kekonyolan dirinya.


Beralih melihat dirinya sendiri yang masih menggunakan baju tidur, dengan rambut tergerai tanpa hijap.


Menghembuskan napas lega, saat menyadari kalau semua itu hanyalah sebuah mimpi.


“Jadi Cuma mimpi?” ucapnya, mungkin bertanya pada dirinya sendiri.


“Ya ampun, anak ini! Sudah bikin heboh pagi-pagi karena pintunya di ketuk gak ngejawab, sampai Elena minta kunci cadangan, eh, ternyata di dalem, orangnya lagi nangis-nangis sambil tidur, gara-gara mimpiin calon suaminya!” gumam kesal Ansel.


Dirinya baru saja tidur, beberapa jam yang lalu, tapi harus terbangun lagi karena kehebohan istrinya yang mengira Ayu kenapa-napa.


Ayu menunduk malu, karena sudah membuat ribut di pagi buta, ingin sekali ia menghilang ke ujung dunia untuk sementara, sampai ingatan semua orang yang ada di sana sudah hilang.


“Sudah-sudah, ayo cepetan mandi, kita udah kesiangan banget ini. Kamu harus segera di make up!” Elena langsung membubarkan kerumunan dan menarik Ayu untuk segera masuk ke kamar mandi.


“Aduh, malunya aku! Kenapa juga bisa sampai mimpi kayak gitu sih?!” gerutu Ayu, menutup wajahnya dengan kedua tangan, di depan cermin wastafel.


“Nindi, cepetan!” terdengar kembali teriakan dari Elena di balik pintu.


“Iya-Iya, Kak. Ini aku mau mandi!” jawab Ayu.


“Sudahlah, El. Biarkan adik iparmu itu madi dulu, jangan kamu teriakin terus,” ucap Ambu, saat melihat Elena terus saja mondar-mandir di depan pintu kamar mandi.


“Aku kesel banget, Ambu. Dari kemarin aku udah ngomong, jangan capek-capek, jangan begadang, nanti kesiangan. Tapi, dia cuman bilang iya-iya aja. Nyatanya, sekarang malah beneran kesiangan!” ucap kesal Elena.


Wanita beranak satu itu, sudah terlanjur kesal kepada adik iparnya itu. Dia sudah di bikin khawatir karena MUA sudah datang sejak jam 4 pagi, tapi calon pengantin malah gak ada kabar.

__ADS_1


Dari mulai di gedor pintu kamarnya, sampai di telepon tetap saja tidak ada jawaban. Hingga akhirnya dia harus mencari keamanan hotel untuk meminta kunci cadangan.


Untung saja, hotel ini milik perusahaan keluarga Ezra, jadi tidak terlalu sulit ia mendapatkan kepercayaan dari para staf hotel.


Bayangkan saja, bagaimana paniknya dia, saat calon pengantin tiba-tiba menghilang begitu saja, sedangkan waktu pernikahan tinggal beberapa jam saja.


Wanita itu sampai membangunkan suami dan juga mertuanya, saking takut terjadi apa-apa pada adik iparnya itu.


Ternyata yang di cari malah masih tidur nyenyak, pake acara nangis lagi.


Benar-benar drama hari pernikahan yang membuatnya sangat kesal, ia merasa dikerjain secara tidak langsung oleh adik iparnya sendiri.


“Ya sudah, sekarang kan orangnya juga udah bangun, sini lebih baik kamu duduk dulu!” Ambu menepuk sofa di sampingnya.


Elena mengangguk, lalu duduk di samping Ambu, menunggu sang calon pengantin selesai mandi.


Di samping itu, para keluarga juga harus mulai bersiap-siap. Karena jam delapan pagi, acara akan segera di langsungkan.


Beberapa waktu kemudian, Ayu sudah siap untuk di rias, setelah sebelumnya melakukan kewajibannya sebagai seorang umat muslim.


Pukul tujuh tiga puluh pagi, rombongan mempelai lelaki sudah sampai di area hotel.


Persiapan pun sudah siap seutuhnya, Ayu yang masih dalam proses di rias tahap akhir, mulai merasakan jantungnya berdetak tak karuan.


Di lain tempat, tepatnya di taman bagian timur hotel, semua keluarga Darmendra tampak sudah berkumpul.


Setelah melakukan berbagai prosesi penyambutan Ezra di bimbing untuk segera duduk di tempat melakukan ijab kabul.


Ayu yang melakukan live streaming dari kamarnya, tampak menunggu dengan gugup, prosesi sakral yang sebentar lagi akan mengubah hidupnya.


Tepat pukul delapan pagi, Ezra melaksanakan ijab kabul dengan satu Tarakan napas, dan lantang tanpa hambatan sedikit pun.


Di sambut ucapan sah dari para saksi juga semua keluarga dan undangan yang hadir.


Puji syukur dan doa pun di ucapkan, kepada sang pencipta.


Air mata tak sanggup lagi terbendung dari manik indah Ayu. Kini dirinya telah resmi menjadi istri dari seorang lelaki beranak satu yang bernama, Ezra Farzan Darmendra.


“Ndi, selamat ya, sekarang kamu sudah menjadi seorang istri,” ucap Ansel, yang baru saja masuk di kamar Ayu.


Dia memang bertugas untuk menjemput adiknya itu, dan membawanya menemui lelaki yang sekarang telah sah menjadi suaminya.


Ayu langsung menghambur pada pelukan sang kakak, tangisnya pecah begitu saja.


Bukan lagi tangis kesedihan yang kini ia lakukan, melainkan adalah tangis kebahagiaan.


“Sshh ... sudah dong, masa pengantin nangis gini, nanti riasan kamu rusak gimana?” ucap Ansel, mengurai pelukannya kepada sang adik, kedua tangannya menangkup wajah sembab Ayu.


“Tuh kan, jadi rusak. Mba tolong benerin dulu make up adik saya,” ucapnya pada MUA yang masih ada di sana.


Tak menunggu lama, kini Ayu tampak sedang berjalan menuju tempat acara, dengan Ansel berada di sisinya.

__ADS_1



kira-kira posisi Ayu.


Gaun putih menjuntai indah, membalut tubuhnya, menambah cantik dan anggun tampilan pengantin perempuan hari itu.


Sambutan dari pembawa acara, mengalihkan perhatian dari seluruh orang yang ada di tempat pesta itu.


Tak terkecuali Ezra, lelaki itu mematung melihat anggunnya wanita yang kini berjalan ke arahnya, dengan senyum yang membuatnya semakin cantik.


Mata lelaki itu seakan tak bisa melihat yang lain, selain wanita yang baru saja resmi menyandang status sebagai istrinya itu.


Dadanya bergemuruh, menahan gejolak rasa bahagia yang membuncah memenuhi setiap rongga di dalam jantung juga hatinya.


Tanpa terasa bibirnya tertarik membentuk lengkungan ke atas, yang jarang sekali ia tampilkan.


“Waah ... Nek, Mama cantik banget!” puji riang Naura, saat melihat ibu sambungnya.


Gadis kecil bergaun putih itu, tampak riang gembira, menyambut hari pernikahan sang Ayah.



kita-kira gaun yang di pakai Naura.


Sampai di hadapan Ezra, Ayu bahkan tak mampu mengangkat wajahnya untuk, menatap mata berkaca-kaca milik lelaki yang tak lain adalah suaminya.


Ansel kembali pada tempat duduknya bersama dengan Elena di barisan terdepan tamu.


Penghulu terdengar menuntun Ayu untuk meraih tangan Ezra.


Perlahan, wanita itu meraih tangan Ezra, membawanya untuk menciumnya, sebagai bakti pertamanya setelah menjadi seorang istri.


Ezra meraih wajah Ayu, lalu membawanya untuk menatap matanya, menyelami manik indah istrinya.


Satu tetes bening berhasil lolos kembali, Ayu tak mampu menahan rasa yang membuncah di dalam dadanya.


Perlahan Ezra mendekatkan wajahnya, dan mencium kening Ayu, cukup lama.


Suara riuh tepuk tangan dari para undangan, menjadi hiburan tersendiri bagi kedua pengantin yang sedang menikmati rasa bahagianya.


...🌿...


...🌿...


...Bersambung...


Hayo kemarin siapa yang bilang prank atau mimpi🤭


Maafkeun, habisnya kalau gak di sport jantung pada sepi banget sih😁✌


Nah, sekarang udah lega kan, udah sah🥰

__ADS_1


__ADS_2