
...Happy Reading ...
...❤...
Ayu kembali ke butik dengan menahan amarah yang hampir saja meledak.
Sampai ke dalam kamar Ayu langsung menjatuhkan dirinya pada ranjang kecil tempatnya istirahat hampir seminggu ini.
Napas nya memburu dengan pikiran melayang pada kejadian beberapa waktu lalu.
Flash back...
Ayu mebolakan matanya melihat penampakan kamarnya yang sudah sangat berbeda dari terakhir kali ia tinggalkan.
"Sebenarnya sejak kapan mereka tinggal di sini?" gumam Ayu merangsek masuk dengan langkah terburu-buru.
Ayu langsung menuju ruang walk in closet, membuka setiap lemari yang berjejer di sana.
"Kemana barang-barang ku?" Ayu mengerutkan keningnya sambil mengacak-acak semua baju dan apa saja yang ada di dalam lemari.
Tak ada lagi satupun miliknya di sana.
Perhatian Ayu langsung teralihkan pada salah satu lemari yang mempunyai ruang rahasia.
Dengan kasar Ayu mengeluarkan semua baju wanita yang di yakini adalah milik Mala.
Hufth...
Ayu menghembuskan napas lega ketika mendapati barang peninggalan sang Ibu masih tersimpan rapi di dalam sana.
Ayu segera mengambil sebuah kotak berwarna merah itu, dan berjalan pergi meninggalkan kamar yang sudah berantakan akibat ulah dirinya.
"Di mana semua barang-barangku" tanya Ayu saat berpapasan dengan Radit dan Mala di ujung tangga.
"Kamar tamu" jawab Radit datar.
Ayu langsung melangkahkan kakinya menuju salah satu kamar di lantai dua.
Benar saja, semua barangnya memang ada di kamar itu.
Ayu hanya membawa baju dan beberapa berkas yang menurutnya penting, sedangkan yang lainnya Ayu tinggalkan begitu saja.
"Aku harap setelah ini, kalian tidak lagi mengganggu, kita jalani hidup kita masing-masing. Biarkan kisah kita menjadi masa lalu dan pelajaran. Untuk ke depannya aku akan menganggap tak pernah mengenal kalian, semoga kalian juga begitu" Ayu berucap kepada kedua orang yang berdiri di hadapan nya.
Tanpa mendengar jawaban Ayu langsung menarik koper di tangannya dan beranjak pergi dari rumah yang telah ia tinggali selama dua tahun ini.
Flash back off...
Ayu duduk di sisi ranjang, pandangannya tertuju pada kotak merah yang merupakan peninggalan sang Ibu.
Perlahan tangannya terulur, mengambil kotak itu. Tatapannya sendu, mengingat kembali wajah cantik wanita yang teramat sangat ia sayangi.
Kotak yang tak pernah Ayu buka, semenjak ia temukan di kamar Ibunya dulu.
Ayu mulai membuka nya dengan tangan bergetar dan mata yang sudah berkaca-kaca.
Sebuah Album foto kecil, buku catatan kecil, amplop surat yang sudah usang.
Tangan bergetar Ayu menyentuh semua barang yang ada di dalam kotak itu dengan tagapan nanar.
__ADS_1
"Ibu, Ayu kangen" lirihnya, mengambil album foto kecil.
Di halaman depan Ayu sudah bisa melihat sebuah foto keluarga bahagia.
Sepasang suami istri yang sedang tersenyum bahagia di sebuah taman bunga, Sang suami terlihat berdiri dengan menggendong seorang anak perempuan yang berusia kurang lebih enam tahun.
Sedangkan sang istri memeluk sayang anak lelaki mereka yang berumur empat tahun lebih tua dari anak perempuan itu.
Tangan Ayu terulur mengusap potret lapuk yang masih sangat terawat.
Airmatanya kembali menetes. Ayu mendongak berharap dapat menghentikan air yang terus mengalir dari manik indahnya.
Ia kembali menunduk dan membuka lembar lainnya.
Di sana terpampang foto dirinya yang sedang asyik bermain di dalam pangkuan sang Kakak.
Di sisi lainnya, terdapat foto dirinya yang sedang di tertawa bahagia di dalam gendongan sang Ayah.
Ayu terus melihat lembar demi lembar foto kenangan nya bersama seluruh keluarga di masa lalu.
Ayu terpaku pada lembar terakhir, di sana dia melihat foto dirinya bersama sang Ibu, beberapa hari sebelum kecelakaan itu terjadi.
Air mata itu kini semakin mengalir deras. Ayu menangis tergugu dengan isakan yang terdengar sangat memilukan.
Dengan tangan yang masih saja bergetar dan pandangan yang mengabur karena terhalang oleh genangan air mata, Ayu mengeluarkan foto itu dari tempatnya.
"Ibu, Ayu kangen, Ayu butuh Ibu" ucapnya memeluk erat kertas berisi gambar wanita yang menjadi kekuatan untuknya selama ini.
Wanita yang selalu berjuang, demi memberikan yang terbaik untuk kehidupannya.
Baru kali ini dia memberanikan diri untuk membuka kembali lembar kenangan masa lalu nya itu.
Mata Ayu memicing ketika melihat ternyata di balik foto itu ada sebuah tulisan tangan.
...Nindia, ***anak Ibu yang paling Ibu sayangi. Maafkan Ibu sayang......
...Jangan salahkan Ayah dan juga kakak lagi......
...Mereka tidak pernah salah.....
...Ini hanyalah tentang takdir yang tidak bisa menyatukan cinta di antara kami***......
Ayu menggeleng kuat dengan lelehan air yang semakin deras membasahi pipinya.
Apa ini, kenapa Ibunya menulis seperti ini?
Ayu tak mengerti. Apa sebenarnya yang terjadi pada kedua orang tuanya dulu, kalau memang mereka masih saling mencintai.
Dan perlakuan Ayah juga Kakaknya ketika bertemu.
Apakah itu tidak cukup untuk menjadi bukti kalau mereka berdua sudah melupakan dirinya.
Melupakan sang Ibu...
Kebahagiaan yang Ayu lihat kemarin sudah cukup, membuat Ayu yakin akan semua itu.
Ayu berusaha berpikir keras, menerka kejadian yang terjadi hampir dua puluh tahun lalu.
Tapi seberapapun dia berpikir, itu hanya membuat kepalanya terasa sakit, tanpa bisa menemukan titik terang itu.
Pandangannya beralih pada sebuah buku kecil berwarna biru langit.
__ADS_1
Warna kesukaan sang Ibu.
Dengan mengumpulkan keberanian dalam dirinya, Ayu mulai membuka lembar pertama buku itu.
Halaman pertama kembali ia bisa melihat potret keluarga kecil yang tampak sangat bahagia.
...Keluarga kecilku❤...
Sebuah tulisan tangan sang Ibu, menghiasi, di atas foto itu.
Membuka lembar kedua Ayu bisa melihat kembali foto sang Kakak saat masih bayi.
...Arsyl Ivander Ardinata......
...Buah hatiku bersama Mas Gerry......
...Pangeran penjaga dan kekutan untuk keluarga kita.....
Tulisan itu mengawali cerita tentang sang Kakak, sebanyak hampir dua lembar.
Catatan tentang tanggal lahir, dan hati-hari penting lainnya, seperti hari dan tanggal pertama kali sang Kakak bisa tengkurap, merangkak, makan sendiri dan selanjutnya.
Ayu beralih pada lembar berikutnya...
Di sana ada foto dirinya saat bayi...
...Ayunindia Clarissa Ardinata.... Putri pertama Dan bidadari dalam Keluarga kita......
"Hiks...hiks... Ibu" lirih Ayu tak kuasa menahan sakit.
...Nindia, putri Ibu, kamu tumbuh besar dengan segala kesakitan di dalam hatimu......
...Maafkan Ibu Nak, Ibu tak pernah memberikan kebahagiaan untuk hidupmu selama ini......
"Enggak Bu hiks... Ayu bahagia hiks... Ayu bahagia... bisa mempunyai Ibu hebat Hiks... dan hidup bersama dengan Ibu" Ayu menggeleng ribut, tidak setuju dengan apa yang di bacanya.
...Nak, Ibu tau Kamu sangat merindukan Ayah juga Kakak mu. Maafkan Ibu karena sudah memisahkan kalian....
"Ibu gak pernah misahin kita, mereka yang meninggalkan kita Bu" Ayu berucap kembali, seakan sedang berdebat dengan sang Ibu saat ini.
...Ibu tidak tau, apakah keputusan Ibu ini salah atau benar. Tapi hanya ini yang bisa Ibu lakukan saat itu sayang......
...Ibu harap, suatu hari nanti kamu akan mengerti dan memaafkan segala kesalahan Ibu......
"Ibu gak salah, ibu gak pernah salah" Ayu meraung, ia menutup wajahnya dengan kedua tangan.
Buku itu kini telah terjatuh, Ayu sudah tak kuat lagi membaca setiap pesan yang di tinggalkan mendiang sang Ibu.
Dia terlalu takut untuk kecewa lagi.
Dengan kasar Ayu mengambil buku itu dan album di atas ranjang, lalu memasukan nya pada kotak kembali da menaruhnya di bagian belakang lemari baju.
Berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Walau akhirnya yang terjadi adalah, dia kembali menangis di bawah guyuran air, berharap rasa sakit itu akan terbawa oleh aliran yang menerpa seluruh tubuhnya.
...🌿...
...🌿...
...Bersambung...
__ADS_1
...🙏😊🥰...