Berbagi Cinta : Antara Kita

Berbagi Cinta : Antara Kita
Bab.135 Pengajian


__ADS_3

 


 



...Happy Reading...


...❤...


Hari yang ditunggu-tunggu kini telah tiba, sejak pagi tadi, Ayu sudah disiapkan untuk acara empat bulanan kehamilannya, semua keluarga juga sudah berkumpul di ruang bawah, menyambut beberapa tamu yang sudah mulai hadir.


“Sayang, kamu cantik banget hari ini.” Ezra memeluk Ayu dari belakang, menatap wajah istrinya dari pantulan cermin rias di depannya.


Ayu tersenyum, dia menatap wajah suaminya, dengan wajah bersemu. “Terima kasih, Mas,” ucapnya kemudian.


“Sudah siap? Kita ke bawah sekarang?” tanya Ezra, masih dalam posisi yang sama.


Ayu mengangguk, sebagai jawaban, hatinya sudah berdebar tak karuan, mengingat pesta ini adalah pertama kalinya setelah ia menikah dengan Ezra.


Ezra  beralih ke samping Ayu, mengulurkan tangan membantu istrinya untuk berdiri, lalu berjalan bersama ke luar dari kamar, menuju ke lantai bawah, tepatnya di taman belakang, yang menjadi tempat acara hari ini.


Ayu mengeratkan pegangan tangannya pada Ezra, saat melihat keramaian yang bersiap menyambut kedatangannya. Ezra mengusap pelan punggung tangan sang istri yang melingkar di lengannya.


“Tenang, sayang. Aku di sini selalu ada bersamamu,” bisik Ezra di sela langkahnya.


Ayu hanya tersenyum tipis sambil mengangguk samar, masih berusaha mengendalikan rasa gugup di dalam dirinya.


Melihat kedatangan anak dan menantunya, Nawang yang sedang berbincang dengan beberapa tamu undangan, memilih untuk memisahkan diri dan menghampiri keduanya.


“Kalian akhirnya datang juga, ayo sini ... kita sapa para tamu undangan,” ujar Nawang, langsung membawa Ayu bersamanya.


Pesta yang bertema santai, tanpa adanya pelaminan atau tempat khusus untuk Ayu dan Ezra itu, tampak ramai oleh para tamu undangan yang datang.


Ezra dan Ayu berkeliling, untuk menyapa para tamu yang hadir, keduanya tampak tersenyum bahagia, Ayu juga mulai bisa berbaur dengan kehidupan suami dan mertuanya yang harus serba mewah dan berkelas. Ya, itu adalah risiko menikah dengan seorang yang mempunyai kedudukan seperti keluarga Darmendra.


Ezra dengan antusias mengenalkan Ayu pada beberapa teman juga rekan kerjanya yang sudah menikah terlebih dahulu, bahkan banyak di antara mereka yang membawa serta anak-anaknya, hingga Naura, banyak mendapatkan teman.


“Wah, aku tak menyangka ternyata kamu bisa menemukan wanita lembut seperti itu?” ujar Gio yang sedang berkumpul bersama Ezra dan teman-teman mereka lainnya.


Pandangan mereka tertuju pada Ayu yang sedang menyuapi Naura makan kue, di salah satu meja, bersama dengan istri dari para teman-teman Ezra, salah satunya Elena dan Alisya.


“Ya, tentunya dengan perjuangan yang tidak mudah,” Agra yang juga sedang berada di sana ikut menimpali.

__ADS_1


“Iyakah? Bagaimana bisa, kamu tau perjuangannya?” tanya Gio yang merasa penasaran.


Agra hanya mengangkat bahu acuh, tanpa mau menjawab pertanyaan temannya itu.


Gio menetap kesal wajah tak bersalah Agra, setelah membuatnya penasaran. Sekarang ini dia sedang membutuhkan motivasi, tidakkah para temannya itu mengerti keadaannya.


“Bagaimana denganmu? Kapan kamu akan berhenti mempermainkan wanita dan mencari pendamping hidup?” Ezra mengalihkan pembicaraan mereka.


Menurutnya, semua perjuangannya untuk mendapatkan seorang Ayunindia, biarkan dia menyimpannya sebagai kenangan, bukan untuk diceritakan pada orang lain. Biarkanlah orang melihat keluarganya yang sekarang, tanpa mencari tahu prosesnya.


“Aku? Tentu saja sebentar lagi akan menyusul kalian semua.” Dengan penuh percaya diri Gio berbicara.


“Benarkan?” Ansel yang juga berada di sana, ikut bergabung.


Gio tampak terdiam beberapa saat, seakan tidak yakin pada dirinya sendiri. “Ya, semoga saja,” jawabnya.


Pesta yang berjalan cukup lama itu, kini sudah berlalu, Ayu memilih beristirahat di kamarnya, sebelum nanti malam akan diadakan pengajian dan santunan anak yatim.


Sebagian besar tamu sudah pulang, kali ini hanya menyisakan keluarga dekat yang akan ikut dalam cara. Para orang tua, sedang asyik bercengkerama di ruang keluarga, sedangkan yang muda lebih memilih berkumpul di teras samping.


Sedangkan Ezra memilih untuk menemani istrinya istirahat, sekaligus membantu mengganti pakaian untuk acara selanjutnya.


Hari ini semua orang begitu sibuk, dengan bagiannya masing-masing.


Ezra yang enak duduk di sofa, mengalihkan pandangannya pada sang istri. “Aku mau menemani kamu saja,” jawabnya, sambil beranjak mengambil haduk.


“Aku juga mau mandi dulu, rasanya sudah gak enak,” ujarnya lagi.


Ayu hanya melihat suaminya yang berjalan menuju kamar mandi. Kemudian beranjak menuju lemari untuk membawa baju miliknya dan milik Ezra yang sudah disiapkan sebelumnya.


Setelah shalat magrib para tamu pengajian datang, mulai dari para tetangga dan rombongan grup pengajian yang ada di sekitar komplek perumahan itu. Ada juga beberapa rombongan anak yatim yang didatangkan dari beberapa panti asuhan dan yayasan.


Ayu, Ezra dan semua keluarga inti sudah bersiap menyambut tamu.


Larry dan Garry sebagai orang tua inti dari Ayu dan Ezra  berdiri paling depan, ditambah dengan Nawang, lalu Ansel dan Elena juga Keenan, terakhir baru Ayu dan Ezra, sebagai orang yang mempunyai acara.


Pukul tujuh malam, acara pengajian dan santunan anak yatim digelar, begitu banyak yang hadir, hingga tempat yang mereka sediakan terasa penuh sesak.


Satu per satu susunan acara sudah terlaksana, kini semuanya ditutup dengan pembagian santunan untuk para anak yatim dan juga piatu, serta souvenir kepada para undangan yang satu per satu berpamitan untuk pulang.


“Hah, akhirnya acaranya selesai juga,” Keenan yang baru saja datang dan bergabung dengan semua orang di ruang keluarga, menjatuhkan tubuhnya ke atas sofa.


Hati ini memang cukup melelahkan untuk semua orang yang terlibat dalam rangkaian acara.

__ADS_1


Para pasangan muda yang masih berada di sana, terlihat mengalihkan pandangannya pada adik dari Ezra itu.


“Habis ngapain sih kamu, Keen? Kayaknya capek banget,” tanya Ansel.


“Bantuin Bi Yati dan Mang Ujang bersin di belakang, sekalian nyiapin minum sama makan buat yang kerja,” jawab Keenan.


Ya, di bagian belakang rumah, tempat pengajian dan pesta tadi siang, kini banyak para pekerja yang sedang membereskan meja, kursi dan dekorasi.


“Rajin banget, tumben!” cibir Ezra.


“Ye ... memang aku rajin, Kakak aja yang gak tau,” jawab Keenan. Ia mengambil minuman entah milik siapa dari atas meja, lalu menenggaknya.


“Eh,” Ayu tanpa sadar mau mencegah Keenan, tetapi, ternyata sudah terlambat karena Keenan sudah menenggak habis minuman itu.


“Hehe, ini punya Kakak ya ... maaf, aku haus,” ujar Keenan sambil menaruh lagi gelas yang sudah kosong.


“Hei, itu kan minum aku,” seorang gadis yang baru saja datang ke sana.


Keenan tampak menoleh ke arah suara, dia terkejut saat melihat seseorang yang kini tengah duduk tepat di depannya.


“Hah, ini milikmu? Astaga, kenapa kalian tidak bilang kalau ini miliknya!” Keenan berkata dengan ekspresi kesal tidak terkira, dia bahkan bergaya seperti sedang berusaha menguatkan minuman yang telah diminumnya dengan menepuk dadanya.


“Siapa juga yang asal ambil minuman orang,” jawab acuh Ezra.


“Ya, aku kira kalau itu milik Kakak,” elak Keenan.


“Sudahlah, lagi pula itu kan sudah habis,” lerai Ayu.


Gadis yang duduk di depan Keenan hanya bisa mencebik kesal, sambil mengumpat dalam hati. Bila saja mereka sedang berdua, pasti sudah dia maki habis-habisan lelaki yang telah mengambil jatah minumnya.


Sedangkan yang lain hanya mengulum senyum, melihat tatapan penuh permusuhan yang dilihat dari dua orang yang berstatus lajang itu.


...🌿...


Selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankan, tetap semangat🥰❤❤


...🌿...


...Bersambung...


 


 

__ADS_1


__ADS_2