
...Happy Reading...
.......❤.......
Di tempat lain, tepatnya di IGD rumah sakit yang sama dengan tempat Ayu di rawat, Radit masih menunggu pemeriksaan istri keduanya.
Sudah tiga puluh menit berlalu. Namun, pintu di depannya belum juga terbuka.
Seorang wanita paruh baya, berjalan dengan tergesa-gesa memasuki rumah sakit, setelah mendapat kabar dari sang anak.
Sari...
Ya, Ibu dari Radit itu, baru saja sampai di rumah sakit, setelah mendengar kabar tentang menantu kesayangannya.
"Apa yang terjadi dengan menantuku, Mala?!" tanyanya saat sudah berada di depan sang anak.
"Ibu," gumam Radit, mendongakkan kepalanya, menatap wajah khawatir sang ibu.
"Mala, sedang di periksa di dalam, Bu," jawab Radit, setelah berhasil mengendalikan dirinya.
"Sebenarnya apa yang terjadi, kenapa Mala bisa sampai jatuh?" tanya Sari, meminta penjelasan dari Radit.
"A-aku bertengkar dengannya, Bu," ucap Radit, menundukan kepalanya dengan penuh penyesalan.
"Kenapa kalian bisa bertengkar, kamu lupa kalau dia sedang mengandung anak kamu, Dit?!" ucapnya dengan penuh penekanan.
Dia tau bagaimana sikap anaknya, yang sama persis seperti sang suami yang mempunyai tempramen yang cukup tinggi.
"Maafkan aku, Bu. Aku hilang kendali," ucap Radit, mengusap kasar wajahnya.
"Apa semua ini karena, Ayu?" tanya Sari, penuh selidik.
"Tidak, Bu," geleng Radit cepat.
"Atau karena jabatan kamu yang di turunkan?" tebak Sari lagi.
Radit kembali menggeleng lemas.
Sari menatap prihatin kepada sang anak yang terlihat sangat menyesal dengan apa yang sudah terjadi kepada istri keduanya.
"Apa yang terjadi dengan anakku?" tanya dua orang paruh baya dengan napas memburu, mereka baru saja sampai di tempat itu.
"Mamah, Papah," Radit langsung berdiri dengan wajah terkejut, melihat kedua mertuanya berada di sana.
'Dari mana mereka tau?' gumamnya dalam hati.
"Dari awal aku sudah tidak setuju, kamu menikahi anakku, kamu memang tak pantas untuk anakku, menjaganya saja kamu tidak bisa!" sarkas sang ayah mertua.
Radit menundukan kepalanya dalam, menerima setiap cacian dari kedua mertuanya.
Entah siapa yang memberi tahu mereka, hingga keduanya tau kalau Mala di bawa ke rumah sakit.
Sejak awal, kedua orang tua Mala memang tidak merestui hubungannya dengan istri keduanya itu.
Namun, Mala yang sudah termakan oleh bujuk rayu Radit, tak menghiraukan larangan dari kedua orang tuanya.
Hingga akhirnya, Mala hamil di luar nikah, dan dengan terpaksa kedua orang tuanya pun merestui hubungan mereka.
"Keluarga dari pasien!" seruan dari seorang suster yang berdiri di depan pintu ruangan pemeriksaan Mala, mengalihkan kerumunan orang di sana.
"Saya suaminya, Sus,"
"Saya orang tuanya, Sus,"
Mereka berucap bersamaan dan bergegas menghampiri suster itu.
__ADS_1
"Bagaimana keadaan anak dan istri saya, Sus?" tanya Radit lagi.
"Pasien kehilangan banyak darah, kami membutuhkan donor darah, karena persediaan di rumah sakit sedang kosong," jelas perempuan berpakaian suster.
"Siapa di antara kalian yang memiliki golongan darah sama seperti pasien?" tanya suster itu lagi, mengedarkan pandangannya pada setiap orang di hadapannya.
"Saya! Golongan darah saya sama dengan anak saya," ujar wanita paruh baya yang merupakan ibu dari Mala.
"Baiklah, ibu bisa langsung ikut dengan saya, untuk di ambil darahnya," ucap suster tadi, sebelum melangkah menuju ruangan berbeda, di ikuti oleh ibu dari Mala.
Radit terlihat semakin cemas, memikirkan keadaan istri dan juga calon anaknya.
Sari mengusap punggung anaknya, mencoba memberikan kekuatan.
Sedangkan Ayah mertuanya menunggu sang ibu mertua yang sedang istirahat, setelah di ambil darah.
Beberapa saat kemudian, Radit sudah ada di sebuah ruang rawat rumah sakit.
Tangannya terus menggenggam jemari sang istri yang masih terasa dingin.
Kemala....
Wanita itu masih terbaring di atas brangkar, dengan keadaan tak sadarkan diri.
Selang oksigen dan selang infus terlihat menghiasi wajah juga lengannya.
Radit terpekur, melihat kondisi istri keduanya yang masih sangat lemah.
Pandangannya beralih pada perut sang istri, tangannya terulur, mengusap pelan tempat calon anaknya berada.
"Bertahanlah, Nak. Bertahanlah demi Papa dan Mama," gumamnya perlahan.
Matanya sudah memerah, hatinya penuh dengan rasa penyesalan, tak bisa membayangkan, bagaimana bila janin di dalam rahim sang istri tidak bisa di selamatkan.
Ingatannya kembali pada saat sang dokter menjelaskan tentang keadaan Mala saat ini dan resiko yang akan terjadi ke depannya.
Flash back ....
"Untung saja pasien segera di bawa ke rumah sakit, kalau tidak saya tidak tau apa yang akan terjadi," dokter wanita itu menjeda ucapannya, menggeleng miris mengingat kondisi pasiennya.
"Lalu bagaimana kondisi istri saya sekarang ,Dok? tanya Radit tidak sabar.
Menghela napas berat.
"Kondisinya masih sangat rentan. Kami memang berhasil menyelamatkan janin di dalam kandungannya, dan menghentikan pendarahan yang terjadi. Tapi, karena kejadian ini, kandungan istri Anda mengalami masalah ... bila dalam satu minggu ini, ada kontraksi atau pendarahan lagi, maka dengan terpaksa kami harus melakukan kuretase atau biasa di sebut kuret"
"Bila bayi yang ada di dalam kandungan istri Anda berhasil di lahirkan, ada kemungkinan akan mengalami kekurangan, entak fisik atau mental,"
"Maka dari itu, kami menyarankan untuk kuretase saja, sebelum semuanya terlambat,"
"Namun, itu semua hanya prediksi kami sebagai petugas medis, semua ketentuan tetap ada di tangan Yang Di Atas."
"Sebaiknya, anda berembuk dulu dengan istri anda, untuk mengambil keputusan,"
"Baik, Dok. Saya akan berbicara dulu dengan istri dan juga keluarga mengenai semua ini. Namun, saya sangat berharap, Dokter bisa menyelamatkan anak saya," ucap Radit penuh permohonan.
"Kami sebagai tenaga medis, hanya bisa berusaha. Tapi semua keputusan tetap berada di tangan Yang Maha Kuasa. Bantu dengan doa juga ya, Pak," ucap ramah dokter wanita tadi.
Flash back off ....
Radit menghela napasnya kasar, tubuhnya sudah sangat lelah, menghadapi setiap masalah yang terjadi hari ini.
Merebahkan kepalanya di pinggir brangkar sang istri, dengan tangan menggenggam lengan Mala, seakan takut sang istri pergi dari sisinya.
Tak lama kemudian dirinya sudah terlelap menuju kegelapan yang merenggut kesadarannya.
...❤...
__ADS_1
"Jangan bermain dengannya, dia itu anak gak bener, makannya ayah dan kakaknya ninggalin dia!"
"Iya, mungkin dia bukan anak kandung ayahnya, makannya gak di bawa sama ayahnya,"
"Ibumu itu wanita gak bener, makannya suka kerja sampai malam!"
"Kasian ya, kamu harus dewasa sebelum waktunya karena ibumu asik di luar sana!"
"Pasti ibunya sedang mencari lelaki lain di luar, makannya dia belum pulang,"
"Astagfirullah...!" Ayu membuka matanya dengan napas memburu.
Melihat jam yang terdapat di dinding rumah sakit.
"Jam tiga pagi," gumamnya pelan, sambil menormalkan napasnya kembali.
Entah mengapa mimpi buruk itu datang kembali, mungkinkah karena perkataan kasar yang ia dengar dari mulut sang ayah tadi malam?
Ayu mengusap sudut matanya yang terasa basah, beranjak dari tempat tidur, lalu berjalan perlahan menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu.
"Mau ke mana, Dek?" suara serak, khas orang baru saja bangun tidur, menghentikan langkah Ayu.
Menoleh ke arah sofa, tempat di mana sang kakak, Ansel sedang duduk sambil memandangnya dengan kening berkerut.
"Mau ke kamar mandi, Kakak tidur saja lagi," jawab Ayu, sudut bibirnya, membuat lengkungan samar, walau wajahnya kembali terlihat sayu.
Tadi malam, setelah mengantarkan Elena pulang, Ansel kembali lagi ke rumah sakit, dan menemaninya.
"Hati-hati," pesan Ansel.
"Eum," angguk Ayu.
Berbalik dengan satu tetes airmata jatuh, membasahi pipinya.
Dia sangat bersyukur, karena telah di pertemuan dengan sang kakak. Namun bila akibat kedatangannya membuat hubungan Ansel dan sang ayah menjadi renggang.
Mungkinkah, dirinya harus kembali mengalah, dan pergi dari kehidupan mereka?
Ayu termenung di dalam kamar mandi, kepalanya kembali pening, setelqh mengambil air wudhu ia duduk sejenak di atas kloset, berusaha mengurangi rasa pusing yang mendera.
Tok ... tok ... tok ....
"Dek!" seruan Ansel dari balik pintu membuat Ayu mengangkat kepalanya.
"Iya, Kak ... sebentar," Ayu beranjak berdiri, dengan berpegang pada dinding kamar mandi.
Cklek....
"Dek, kamu kenapa lama sekali di dalam?" tanya Ansek mengambil alih, tiang penyangga cairan infus.
Matanya memperhatikan wajah sang adik, yang kembali terlihat pucat.
"Aku tidak apa-apa, Kak," jawab Ayu.
Mengambil mukena di dalam nakas, lalu memakainya.
"Tunggu, Kakak ambil wudhu dulu," ucap Ansel, bergegas pergi ke kamar mandi.
Ayu hanya mengangguk sebagai jawaban.
Pagi itu, Ayu bersimpuh kembali dengan air mata yang kembali mengalir deras, mengiringi setiap doa yang ia panjatkan.
...🌿...
...🌿...
...Bersambung...
__ADS_1
Di tunggu like, komen, vote, juga hadiahnya ya...🤭🤭
Terima kasih kakak-kakak baik hati🙏🥰🥰