
...Happy Reading...
...❤...
Alvin mengedarkan pandangannya saat mobil yang ia tumpangi bersama bos barunya, mulai memasuki komplek perumahan elit.
Pikirannya kembali pada masa lalu, saat dirinya masih kecil hingga memasuki waktu remaja, dia juga pernah tinggal di perumahan komplek seperti ini, walau tak elit juga. Akan tetapi itu cukup mewah.
Tak berselang lama, mobil memasuki sebuah pagar besi yang menjulang tinggi, entah siapa yang membukanya, akan tetapi pagar itu bergerak sendiri.
Beberapa orang terlihat berdiri di depan pos satpam, menyambut kedatangan sang tuan. Alvin pun seketika tahu, kalau pagar itu pasti dikendalikan oleh sebuah remot yang dipegang salah satu diantara mereka.
Alvin mengalihkan pandangannya pada rumah yang kini terlihat jelas di depannya, dia juga dapat melihat seorang perempuan cantik sedang berdiri di ambang pintu, dengan seorang gadis kecil di sampingnya dan bayi di gendongannya.
Alvin tersenyum samar, dia mengingat kehangatan keluarganya yang dulu juga hampir sama dengan pemandangan kali ini.
Sang ibu yang selalu menyambut kedatangan ayahnya di depan pintu.
"Ayo."
Suara ajakan dari Ezra menyadarkannya dari lamuanan. Dia mendongakkan kepalanya sebelum keluar, meredam rasa panas yang ia rasakan pada matanya.
'Sial, kenapa aku jadi terbawa perasaan seperti ini?' kesal Alvin, merutuki dirinya sendiri.
Sampai di luar, dia melihat gadis kecil itu berlari sambil memanggil ayahnya, merencanakan tangan meminta digendong. Bibirnya tertarik ke atas saat melihat Ezra dengan sikap santainya dan senyum hangat menyambut kedatangan putrinya itu.
Dia tak bisa lagi menahan senyum lebarnya saat Ezra memperkenalkan dirinya pada gadis kecil itu, melambaikan tangan, sebagai tanda perkenalan, yang disambut baik oleh Naura.
'Namanya cantik, sama seperti orangnya' pujinya dalam hati.
Melihat sifat ceria Naura, membuatnya merasa terhibur.
Ya, dia memang menyukai anak kecil, semua tingkah laku polos mereka selalu bisa membuatnya tersenyum dan sedikit melupakan masalahnya.
"Hai, Om Alvin," ujar Naura, turun dari gendongan Ezra lalu menghampiri Alvin.
"Hai, gadis kecil. Perkenalkan Om, Alvin," sambut Alvin, berjongkok di hadapan Naura.
"Ya, aku sudah tau. Tadi Papa sudah bilang," jawab Naura dengan tingkah polos dan lucu, membuat Alvin terkekeh kecil.
Dia sedikit melirik Ezra dan Ayu, dari perlakuannya saja dia sudah bisa menebak kalau itu pasti istrinya.
"Oh, iya ya, Om lupa," ujar Alvin tersenyum lebar, sampai giginya terlihat semua.
"Ih, Om, masih muda udah pikun."
Alvin terkekeh kecil, mendengar ejekan gadis kecil yang merupakan anak dari bosnya itu.
Dia kemudian meneruskan langkahnya menghampiri Ezra.
Lelaki dewasa itu kemudian mengenalkannya pada perempuan berjilbab sederhana dengan bayi di dalam gendongannya.
"Sayang, ini Alvin, dia asisten baruku," ujar Ezra.
'Masya Allah, begitu indah ciptaan–Mu ini Ya Allah'
Alvin hampir saja terlarut dalam pesona senyuman istri dari bosnya sendiri. Untung saja dia langsung tersadar dan menormalkan lagi raut wajahnya.
Tersenyum tipis dan menganggukkan kepala samar.
'Ingat, Vin. Dia istri bos kamu' gimamnya dalam hati.
Setelah perkenalan singkat itu, mereka masuk ke dalam rumah bersama-sama, Alvin berjalan di belakang Ezra dan Ayu, sedangkan Naura sudah berlari ke dalam terlebih dahulu.
__ADS_1
Begitu kakinya menginjak ke dalam rumah, suasana mewah dngan berbagai pajangan yang memperindah seisi ruangan, membuat Alvin terpana.
'Wah, ini mah bukan rumah, tapi, istana. Mewah banget ya, aku belum pernah melihat rumah semewah ini sebelumnya' gumam hati Alvin, menatap takjub setiap pengaturan ruangan yang terlihat sangat apik dan begitu rapi.
"Duduk dulu, Vin. Aku ke atas dulu," ujar Ezra, sebelum melangkah pergi meninggalkan Alvin.
"Iya, Pak." Alvin mengangguk sopan.
'Lalu aku disuruh ngapain ikut ke sini? Malah ditinggal pergi,' bingung Alvin dalam hati.
Pehatiannya kemudian tertuju pada Naura, yang sedang bermain berbagai macam lego dengan salah satu pelayan di sana.
Dia pun kemudian beranjak, mendekati gadis kecil itu.
"Hai, Gadis kecil, sedang main apa?" tanya Alvin, ikut duduk di depan Naura.
"Hai, Om Al, aku lagi main susun lego. Om, mau ikutan?" tanya Naura, dengan tatapan polos yang selalu membuatnya gemas.
"Boleh. Gadis kecil, sedang buat apa?" tanya Alvin, mulai mengambil satu per satu lego yang berserakan di depannya.
"Aku lagi buat rumah, Om. Om Al, mau buat apa?" Naura tampak melihat, beberapa lego yang sudah mulai disusun oleh Alvin.
"Om, mau buat apa ya? Kalau, Gadis kecil, mau dibuatin apa sama, Om?" tanya Alvin.
"Om, mau buat untuk aku?" tanya Naura dengan penuh semangat.
"Mau dong. Memang, Gadis kecil mau dibuatkan apa?" tanya Alvin lagi.
Naura tampak berpikir dengan wajah dibuat serius, kedua manik mata hitam itu melihat ke atas sebelah kanan, dengan salah satu telunjuk tangannya ia ketukkan di atas dagu.
"Emh, bikin apa ya?" gumam Naura, lebih bertanya pada dirinya sendiri.
Alvin tak dapat lagi menahan kekehan kecil di karena melihat tingkah lucu gadis di depannya.
Naura tampak mengalihkan perhatiannya pada asisten baru ayahnya itu.
Alvin menghentikan kekehannya, dia pun mengusap tengkuknya, merasa canggung dan malu sendiri.
"Eh, gak apa-apa. Naura lucu sih, jadinya bikin Om gemes," jawab Alvin.
"Ah, aku mau dibuatin istana sama, Om Al, untuk aku sama dede Zain," ujar Naura, memberi keputusan.
"Istana? Bukannya, Gadis kecil, sudah membuat rumah?" tanya Alvin, merasa heran dengan permintaan Naura.
"Ya, gak apa-apa dong, anggap aja ini rumah untuk berlibur, seperti rumah papah yang ada di puncak. Nah, kalau istana yang dibuat sama, Om Al, buat aku dan dede Zain tinggal, kayak rumah mama sama papah di sini," jelas Naura dengan gaya polosnya.
'Ah iya, dia kan anak orang kaya, pasti dia sering pergi ke rumah Pak Ezra dan Bu Nindi yang lain. Ah, Alvin, kamu bodoh sekali sih'
Alvin merutuki dirinya sendiri, begitu menyadari pikirannya yang terlalu dangkal.
'Anak orang kaya memang beda' sambungnya lagi, menatap Naura dengan tatapan takjub.
"Gimana? Om Al, mau gak buatin aku istana?" tanya Naura, memastikan kesediaan Alvin.
"Mau dong. Gimana kalau kita buat sama-sama?" tanya Alvin.
"Ayo!" angguk Naura dengan penuh semangat.
Mereka berdua pun mulai menyusun setiap keping lego bersama, membentuk sebuah istana impian Naura.
"Assalamuaaikum!"
Suara salam dari sepasang suami istri yang baru saja memasuki rumah, mengalihkan perhatian Alvin dan Naura.
"Waalaikumsalam, Uncle, Aunty!"
__ADS_1
Seperti biasa, Naura langsung bangkit dan berlari menghampiri kedatangan pasangan itu, yang tak lain adalah Keenan dan Riska.
Mereka langsung pergi ke rumah Ezra dan Ayu, setelah Keenan lebih dulu mengantar Riska menutup butik.
Ya, sepertinya itu memang sudah menjadi kebiasaan gadis kecil itu, untuk menyambut setiap kedatangan para anggota keluarga besar Darmendra ke rumahnya.
Alvin pun ikut berdiri dan menghampiri adik dari bosnya itu.
"Pak, Kaanan," sapanya.
"Oh, Alvin, kamu sedang apa di sana? Pasti dikerjain sama Kak Ezra kan?" tanya Keenan sambil terkekeh..
Alvin mengernyit, dia sedikit bingung dengan pertanyaan Keenan.
'Apa maksudnya? Aku gak merasa dikerjai sama Pak Ezra?' gumam Alvin dalam hati.
Keenan yang melihat ekspresi bingung asisten baru dari Ezra itu, malah tertawa semakin lebar.
"Kamu di suruh Kak Ezra nunggu dia di sini kan? Sudah berapa lama?" tanya Keenan.
Alvin melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Tiga puluh menit lebih," jawab Alvin, karena terlalu asyik bermain dengan Naura dia jadi lupa waktu.
'Sudah lama juga, ternyata' gumam Alvin, terkejut dengan jawabannya sendiri.
"Nah itu kamu tau, hahaha ... mereka itu gak bakal turun dalam waktu sebentar, kalau sudah berdua. Maklum saja sih, namanya juga bucin," ujar Keenan, menjelaskan kebiasaan Ezra yang tidak bisa sebentar berada di dekat Ayu.
Alvin mengusap tengukknya dengan senyum canggung, dia merasa malu sendiri, karena ternayata sejak tadi dia sedang menunggu orang yang dimabuk cinta.
"Sudah tidak usah canggung seperti itu, nanti kamu juga harus terbiasa dengan kemesraan mereka yang kadang gak tau tempat. Iya kan, sayang?"
Keenan berkata sambil merangkul pinggang istrinya, dan meminta pembenaran atas perkataannya.
"Oh ya, Vin, ini Riska, istri aku. Sayang, ini Alvin, yang akan menggantikan aku menjadi asisten Kak Ezra," ujar Keenan memperkenalkan Alvin dan istrinya.
Keduanya pun berjabat tangan, tapi itu pun hanya sekilas, karena Keenan langsung memutus kontak fisik antara istrinya dan ALvin, bahkan saat tangan mereka baru saja menempel.
"Gak usah lama-lama!" sinis Keenan.
Riska tak menjawab, dia hanya mencebikkan mulutnya dan beralih pada Naura.
'Dia menertawakan Pak Ezra bucin, lah dia sendiri apa namanya? Astaga, mataku kenapa jadi ternoda begini?'
Alvin meracau dalam hati, melihat perilaku para bos barunya itu.
'Kayaknya aku memang harus bersiap untuk melihat pemandangan seperti ini kapan saja mereka mau?'
Kembali Alvin bergumam miris di dalam hati, meratapi nasib matanya yang masih suci itu.
Akh, sepertinya tidak suci sepenuhnya juga sih.
"Oh iya, tadi Kak Ezra menyuruhku untuk mengajarimu mobilnya, kita belajar sekarang saja. Bagimana?" tanya Keenan.
"Eggak boleh, aku sama Om Al lagi bikin istana, jadi gak boleh diganggu!" potong Naura langsung.
"Eh, Rara, main sama Aunty aja ya?" bujuk Riska.
"Gak mau, aku mau buat istana sama Om Al," tolak Naura.
"Eh, ada apa ini? Kenapa, Kak Rara?"
...🌿...
...🌿...
__ADS_1
...Bersambung...