
...❤...
...Happy Reading...
Pyar ....
Ayu menatap nanar gelas jus yang hampir saja mengenai bajunya.
Kini gelas itu sudah hancur tak berbentuk di lantai, tempat di hadapannya.
“Ups, maaf.”
Seorang lelaki yang tak lain adalah Keenan berkata jenaka, dengan ekspresi muka di buat terkejut.
“Kak Nindi tidak apa-apa?” tanyanya, beralih ke samping Ayu yang masih berdiri mematung.
Pandangan wanita itu menatap seorang wanita yang kini telah berdiri dengan kesal di depannya.
Kemala
Ya, wanita itu yang kini menatapnya dengan penuh kebencian.
“Ma-mala?” gumam Ayu, perlahan.
“Iya, ini aku. Akhirnya kita bertemu lagi, setelah selama ini kamu sangat susah untuk aku temui. Heh, segitu takutnya kamu bertemu denganku, sampai menugaskan penjaga di sekitarmu?!” sinis Mala.
Ayu mengerutkan kening dalam, bingung dengan apa yang di bicarakan oleh mantan sahabat dan juga madunya itu.
“Apa maksud kamu?” tanyanya.
“Halah, gak usah sok polos deh! Dasar wanita munafik!” cibir wanita itu, jari telunjuknya mengarah tepat ke wajah Ayu.
“Heh, jaga bicaramu ... perempuan murahan!”
Keenan langsung menyambar perkataan kotor dari Mala.
Tadi awalnya ia hanya ingin memanggil Ayu untuk segera bergabung, Tetapi, dia malah meliahat sesuatu yang mencurigakan dari salah satu pengunjung dan memutuskan apa yang akan dia lakukan.
Benar saja, ternyata orang yang ia curigai berniat buruk kepada calon kakak iparnya itu.
“Siapa kamu, jangan ikut campur dengan urusan kita!”
“Siapa aku, kamu gak perlu tau. Aku tak sudi memperkenalkan diriku kepada wanita kotor sepertimu.”
Nada suaranya tidak tinggi, mungkin hanya akan terdengar oleh mereka bertiga saja. Tetapi, mulut berbisa milik Keenan berhasil melukai harga diri lawannya.
Wajah Mala kini sudah merah padam, dengan tangan yang mengepal kuat. Hatinya panas, melihat Ayu bersama dengan seorang lelaki yang melindunginya.
“Jadi sekarang kamu berhubungan dengan anak kecil?” ucap remeh Mala, beralih menatap Ayu.
Wanita itu mengingat panggilan yang Keenan pakai untuk Ayu.
Padahal tubuh lelaki itu tidak menunjukkan kalau dia lebih muda dari Ayu.
Tubuh atletis dengan tinggi di atas rata, membuatnya terlihat seumuran bahkan lebih tua di bandingkan dengan Ayu.
“Apa, kamu bilang apa tadi? Anak kecil?! Wah, ternyata bukan hanya wajahmu saja yang jelek ya, matamu juga rabun!”
__ADS_1
Keenan terkekeh geli, dengan tatapan hina pada wanita di hadapannya.
Lelaki itu tampak bersemangat menimpali setiap perkataan dari Mala, sampai Ayu tak mempunyai kesempatan untuk bicara.
“Sayang, ada apa ini? Kenapa lama sekali?”
Ezra yang baru bergabung, langsung mendekati Ayu. Matanya melirik sekilas wanita yang kini tengah beradu mulut dengan adiknya.
Mala melotot tajam mendengar panggilan Ezra pada Ayu.
“Gak papa,” geleng Ayu.
“Ayo, kasihan keluarga kita sudah menunggu. Dia biar Keenan saja yang mengurusnya,” ucap Ezra lembut.
Ujung matanya melihat adiknya yang langsung mengangguk.
Ayu mengangguk dan langsung pergi bersama Ezra, tanpa mengatakan apa pun pada Mala.
‘Bukannya itu lelaki yang ada di kampung waktu itu?’ gumam Mala dalam hati, mengingat ketika ia melihat Ayu dan Ezra sewaktu pemotretan.
Arah pandangannya terus mengikuti ke mana Ayu dan Ezra pergi.
“Mau apa lagi kamu di sini? Sana pergi, dan jangan lagi mengganggu kakak iparku, atau aku tidak akan segan-segan melaporkanmu ke kantor polisi atas perbuatan tidak menyenangkan!” ancam Keenan sebelum pergi meninggalkan Kemala dengan kemarahannya.
Baru beberapa langkah berjalan, lelaki itu menghentikan langkahnya.
“oh ya, dia tidak pernah menempatkan penjaga, yang melakukan itu semua adalah lelaki yang sangat mencintainya lah, yang melakukannya."
Mengerinyai tajam, dengan tatapan hina sebelum berbalik dan pergi begitu saja.
Wanita dengan pakaian seksi dan make-up tebal itu, menggeram marah dengan pikiran penuh tanya.
...........................
Di sisi lain, Ezra bertanya pada Ayu saat sedang berjalan ke area belakang.
“Mau apa lagi dia menemui kamu?” tanya Ezra dengan kening berkerut dalam.
“Aku gak tau, sudahlah biarkan saja ... paling cuman kebetulan saja,” jawab Ayu acuh.
“Kamu ini ... jangan anggap remeh wanita tidak tau malu seperti dia, ingat kalau dia berusaha menemui kamu lagi ... kamu harus segera menghubungiku!” ucap Ezra.
Alis lelaki itu bertaut dalam, tanda tidak mau di bantah.
Ayu mengangguk patuh, dirinya sudah mempercayakan hidupnya kepada lelaki itu, setelah ia memutuskan menerima pinangannya beberapa hari yang lalu.
Entah mengapa, dirinya begitu mudah percaya kepada calon suaminya itu.
Sikap tegas dan perlindungannya selama ini, tidak bisa ia ragukan lagi.
Perjuangan lelaki itu, dalam menjaganya, di saat belum ada hubungan apa pun antara mereka, tidak bisa ia acuhkan begitu saja.
Sampai di sebuah gazebo di bagian belakang resto, Ayu bisa melihat di sana telah berkumpul ayah dan juga kakaknya, bersama kedua orang tua Ezra.
“Nah, akhirnya calon pengantin kita sampai juga!” Nawang tampak sangat bersemangat menyambut kedatangan sepasang kekasih itu.
__ADS_1
Ayu tersenyum malu, pipinya tampak merona mendengar perkataan calon ibu mertuanya.
Sedangkan Ezra bersikap biasa saja, dalam hati ia merasa gemas dengan tingkah malu-malu sang kekasih.
“Sepertinya sekarang kita sudah bisa membicarakan inti dari pertemuan kita saat ini.” Gerry memulai pembicaraan di antara mereka setelah Ayu dan Ezra duduk di tempatnya masing-masing.
“Pak Larry, maafkan kami ... kalau ini terasa begitu terburu-buru ingin menghalalkan hubungan kedua anak kita,” ucap Gerry.
“Ah, tidak-tidak. Saya sangat senang bila kalian mau mempercepat pernikahan, itu memang sudah sepantasnya. Bukankah mereka sudah waktunya untuk menikah kembali, lalu apa lagi yang harus kita tunggu?!” ucap Larry menanggapi perkataan calon besannya.
Semua orang di tempat itu tampak tersenyum lega, mendengar ucapan dari ayahnya Ayu.
Awalnya mereka sempat was-was, takut Larry keberatan atas rencana mereka. Karena, ada Melati yang pasti tidak akan setuju, dengan rencana pernikahan ini.
Begitu juga dengan Ayu, wanita itu mengembangkan senyumnya.
“Alhamdulillah ... Kalau semuanya sudah setuju, berarti sekarang kita tinggal mencari hari baiknya. Aku harap di dalam waktu dekat ini, kita semua bisa meluangkan waktu untuk acara pernikahan anak kita,” ucap Garry.
Pembicaraan pun terus berlanjut, hingga sekitar pukul dua siang, akhirnya mereka semua menemui kesepakatan bersama.
Setelah terlebih dahulu terhalang makan siang dan shalat dzuhur.
“Mulai sekarang kita harus mulai menyiapkan acara pernikahan kalian, Mama harap kita semua dapat bekerja sama dengan baik agar semuanya berjalan dengan lancar,” ucap Nawang setelah Larry dan Ansel sudah pergi terlebih dahulu.
Kini di sana hanya tinggal Ayu, Ezra, Gerry dan Nawang. Mereka melanjutkan pembicaraan mengenai konsep acara dan segala pernak-pernik pernikahan lainnya.
Ayu menginginkan pernikahan sederhana tanpa pesta, hanya ijab kabul yang dihadiri oleh kerabat dekat saja.
Mengenai tempat ia menyerahkan keputusan kepada Ezra.
Tentu saja itu semua di sambut baik oleh semua orang yang ada di sana.
Walaupun awalnya Nawang tidak setuju dengan usul dari Ayu. Wanita paruh baya itu ingin pernikahan yang megah, dengan di hadiri banyak teman dan kolega bisnis dari suami dan juga anaknya.
Dia takut bila pernikahan anaknya tidak di umumkan, maka nanti ada wanita yang ingin mendekati Ezra. Mengingat Ezra sudah terlalu lama menduda.
Selama ini saja, banyak wanita yang sering menawarkan diri untuk menjadi ibu sambung Naura
Begitu juga dengan para kolega bisnis suaminya dan teman-temannya, mereka juga banyak yang menawarkan anak atau cucunya untuk menikah dengan Ezra.
Namun ternyata Ezra yang merasa sudah tidak pantas bila menikah dengan pesta besar-besaran, begitu juga Ayu, mengalahkan keinginan Nawang.
Walau bagaimana pun Ezra dan Ayulah yang akan menikah dan menjalin rumah tangga, maka dari itu, semua keputusan tetap berada di tangan mereka berdua.
“Besok kita ketemu di butik aja ya, Mama akan suruh pihak WO untuk datang ke sana,” ucap Nawang saat mereka sudah berada di tempat parkir resto.
Ayu mengangguk menyetujui, karena besok ia ada cukup banyak janji dengan para pelanggannya.
Seperti biasa, Ayu akan di antar pulang bersama dengan Ezra dan Naura.
...🌿...
...🌿...
...Bersambung...
__ADS_1