
...Happy Reading...
......................
"Ibu mau ke mana?" tanya Riska, setelah mereka menyelesaikan makna siang bersama.
"Ibu mau ke warung, ini ada langganan yang mau beli bahan kue," jawab Ibu sambil memperlihatkan ponsel miliknya.
Ya, memang kalau Ibu sedang tidak membuka warungnya, terkadang dia mendapat pesanan lewat aplikasi chat.
"Aku ikut ya, Bu," ujar Riska.
Sebenarnya selama ini dia sudah merasa bosan karena terus terkurung di dalam apartemen. Akan tetapi, Riska juga takut untuk ke luar dan bertemu dengan orang baru.
"Kak." Rio memperingatkan kakaknya.
"Kamu ikut sama aku," jawab Riska, sedikit memaksa pada adiknya.
"Tentu boleh. Mau bareng atau nanti aja nyusul?" tanya ibu.
"Nanti aja, Bu, bareng sama Rio." Rio langsung menjawab pertanyaan ibunya.
Riksa pun mengangguk membenarkan perkataan Rio, saat adiknya itu menatapnya tajam.
Ibu pun langsung melanjutkan langkahnya menuju ke luar rumah, setelah menyetujui perkataan anak-anaknya.
"Ada apa sih?" tanya Riska, membalas tatapan Rio kesal.
"Kakak, yakin mau ke warung? Nanti kalau ada laki-laki yang beli gimana?" tanya Rio, merasa khawatir.
"Kan ada kamu di sampingku," jawab Riska.
"Tapi, aku bukan Kak Keenan, yang bisa menengakan Kak Riska dengan cepat. kalau nanti Ibu curiga gimana?" tanya Rio.
"Aku akan mencoba mengendalikan pikiranku. Aku mau sembuh, Rio ... aku mau mengalahkan rasa takut itu," ujar Riska.
Rio pun menatap prihatin kakaknya, dia merasa ragu untuk mengizinkan Riska ikut ke warung. Akan tetapi, dia juga tidak tega melihat wajah murung wanita hamil itu.
Menarik napa dalam lalu membuangnya perlahan, sebelum menjawab permohonan Riska.
"Oke, aku ikut, Kakak, ke warung. Tapi, Kakak, janji hanya akan melihat aku, jangan perdulikan laki-laki lain yang datang. Kalau, Kakak, udah gak sanggup, bilang sama aku. KIta langsung pulang, oke?" ujar Rio.
Riska mengangguk menyetujui setiap syarat yang diberikan oleh adiknya.
"Ya udah, yuk," ujar Rio lagi.
Akhirnya mereka berdua pun berjalan menuju warung Ibu, yang berada di depan rumah.
__ADS_1
Ibu sedang membuka warungnya, saat Riska dan Rio datang. Keduanya pun langsung membantu Ibu.
"Emang mau buka, Bu? Tanggung loh, ini udah siang," tanya Rio, sambil membantu mengeluarkan barang dagangan yang harus ditaruh di depan.
"Lumayan, Rio. Buka sampe sore aja," jawab Ibu, sambil menggantungkan jajanan anak-anak.
Riska mengangguk-angkuk kepalanya mendengarkan perbincangan antara ibu dan adiknya.
Beberapa saat kemudian warung pun sudah selesai dibereskan, kini Riska, Rio, dan Ibu, tengah duduk bersama di depan.
"Assalamualaikum. Bu, aku mau ngambil pesanan."
Seorang wanita yang tampak masih remaja datang ke warung. Otomatis, suara orang lain itu mengalihkan perhatian ketiga orang itu.
"Waalaikumsalam," jawab ketiganya bersamaan, sambil menoleh ke arah suara.
"Eh, Tiara. Sebentar, Ibu, ambil dulu," ujar Ibu sambil beranjak berdiri.
Riska memperhatikan gadis remaja itu, yang tampak tersenyum sambil mencuri pandang pada Rio.
"Kak Rio, juga ada di sini," sapa gadis yang bernama Tiara itu.
Dia tampak melihat Riska dengan tatapan penuh tanya.
"Iya," jawab Rio singkat.
"Ini pesanannya, Tiara." Ibu mengulurkan kantong plastik berwarna merah, berisi bahan-bahan kue.
"Berapa, Bu?" tanya Tiara.
Ibu pun menyebutkan jumlah belanjaan yang ibunya Riska pesan lewat ponsel tadi.
Tiara pun menyerahkan uangnya, setelah itu pamit pergi dari sana.
Tawa Riska pecah, begitu melihat Tiara sudah jauh dari pandangannya. Dia menyenggol lengan Rio dengan gaya menggoda.
"Siapa tuh? Baru pendekatan apa udah jadian?" tanya Riska di sela tawanya.
"Gak nyangka aku, ternyata kamu bisa dingin juga di depan cewe," sambung Riska lagi.
"Apaan sih, Kak. Itu anak tetangga yang baru beberapa bulan ini pindah. Ibunya penjual kue online, kayaknya masih ngeritis, makannya belanja di sini," jawab Rio.
"Tapi, kayaknya dia suka sama kamu, deh. Lihat aja tadi, dia curi-curi pandang sama kamu. pake liatin aku juga lagi," ujar Riska, masih senang menggoda adiknya.
"Idih, apaan sih, Kak. Emang kakak siapa, Daddy corbuzier, yang bisa baca pikiran orang?" Rio berdecak kesal mendengar ocehan tidak jelas Riska, yang menurutnya sama sekali tidak penting.
Ya, sama seperti Riska dulu, yang tidak memikirkan tentang percintaann. Begitu juga Rio saat ini, remaja yang mulai beranjak dewasa itu, lebih memilih fokus belajar dan membantu ibunya.
__ADS_1
Rio sama sekali tidak memikirkan tentang percintaan dan perempuan. Dia hanya ingin terus belajar dan mendapatkan pekerjaan yang layak, agar bisa membuat ibunya hidup nyaman.
Walaupun sekarang Keenan banyak membantu keluarganya dalam segi pinansial. Semua itu tidak membuat Rio serta merta merasa puas dan berleha-leha.
Adik dari Riska itu, malah menjadikan kakak iparnya sebagai contoh dan motivasi untuknya terus belajar dan meraih kesuksesannya sendiri, suatu hari nanti.
"Dih, emang yang bisa baca pikiran Daddy corbuzier doang? Lagian, kita tuh gak perlu bisa baca pikiran kalau cuman buat lihat perasaan seseorang," jelas Riska.
"Ya, terserah, Kakak, saja lah. lagi pula aku juga belum kepikiran sama begituan," ujar acuh Rio.
Riska tersenyum mendengar perkataan adiknya. Dia sama sekali tidak melarang, bila memang Rio ingin memulai bertualang dalam masalah cinta.
Namu, dia juga merasa senang, jika adiknya itu lebih memilih untuk fokus pada tujuan hidupnya dulu. Mengingat mereka bukanlah dari keluarga terpandang.
Riska lebih mendukung kalau Rio lebih memilih untuk memantaskan diri lebih dulu, sebelum menjalin hubungan dengan seorang perempuan.
"Beneran nih, belum punyagebetan?" tanya Riska, dengan senyum jahilnya.
"Beneran, Kak. Kalau gak percaya, tanya aja sama temen-temen aku," jawab Rio.
"Awas ya kalau kamu bohong, aku laporin sama Bang Ken nanti!" Riska menunjuk wajah adiknya.
"Pokoknya kalau kamu ada cewek, haus kenalin sama aku dulu!" sambung Riska lagi.
Rio menatap Riska dengan mata penuh tanya.
"Mau ngapain?" tanya Rio tajam.
"Aku mau ospek dulu, sebelum kamu pacaran," jawab Riska seadanya.
"Idih, emang sekolah apa, pake di ospek segala," decak Rio.
"Yehh, aku kan kakak kamu, jadi suka-suka aku dong mau ngapain. Atau nanti aku gak kasih restu," ujar Riska.
Rio tidak mau lagi menjawab perkataan Riska yang sudah teralu jauh, menurutnya. Dia hanya menarik napas dalam lalu menghembuskannya.
Ternyata menghadapi wanita itu tidaklah gampang, telinganya bahkan sudah merasa panas, akibat Riska yang terus saja mengoceh gak jelas.
Dalam hari, Riska senang melihat gaya acuh adiknya, dia juga tau apa yang menjadi tujuan Rio saat ini.
lagi pula menurutnya, suatu hubungan itu juga butuh modal yang tidak sedikit, apa lagi Rio adalah seorang laki-laki. Walaupun gadis itu tidak meminta. Akan tetapi, sebagai seorang laki-laki, tentu setiap mereka bertemu atau ada acara, harus Rio yang mengeluarkan uang.
Riska tidak mau kalau sampai adiknya menjadi laki-laki yang tidak tau diri dan menerima uang dari seorang perempuan, apalagi status mereka masih sebatas pacaran cinta monyet.
...🌿...
...🌿...
__ADS_1
...Bersambung ...