Berbagi Cinta : Antara Kita

Berbagi Cinta : Antara Kita
Bab.180 Menolong


__ADS_3


...Happy Reading...


...❤...


Keenan menghentikan mobilnya di depan butik milik kakak iparnya, semenjak menikah, Keenan selalu menyempatkan diri untuk mengantar dan menjemput Riska dari butik. Walau tak setiap hari dia bisa melakukan itu, mengingat jadwal kerjanya yang padat


"Terima kasih," ujar Riska sambil menyiapkan barang-barangnya sebelum turun dari mobil.


Riska mengulurkan tangannya, Keenan langsung menyambut dan membiarkan istrinya itu menciumnya. Satu perbuatan kecil yang selalu merasa damai dan berkewajiban untuk melindungi Riska, sejak pertama kali terjadi setelah masa ijab kabulnya dulu.


Perlakuan yang selalu mengingatkannya kalau dia sudah memiliki istri yang harus ia jaga perasaannya dan dia usahakan untuk tuliskan namanya di dalam hati.


Keenan meraup wajah Riska, memberikan kecupan di kening dan bibirnya sekilas.


"Selamat bekerja, istriku. Hubungi aku bila terjadi apa-apa, ya?" ujar Keenan sambil mengacak sedikit rambut di puncak kepala istrinya.


Riska terdiam sebentar, mendengar ucapan yang baru sekali ini dia dengar, menatap wajah Keenan dengan perasaan berbeda.


'Istriku?' gumamnya dalam hati.


Khem.


Riska berdehem untuk menghilangkan rasa canggung di dalam dirinya sendiri.


"Heem! Abang, hati-hati di jalan," ujar Riksa. Tangannya meraih handle pintu lalu membukanya, dia keluar setelah mendapat anggukan dari suaminya itu.


Riska berdiri di luar sampai mobil Keenan sudah tak lagi terlihat, menyatu kembali dengan kemacetan jalanan di pagi hari.


Sekar dan Wanda yang memang sudah menunggunya, untuk membuka butik menghampiri Riska.


"Udah hilang tuh mobilnya, udah jangan di liatin terus," canda Sekar.


Riska mengalihkan pandangannya pada dua orang teman kerjanya yang sedang menahan tawa.


"Nikah udah sebulan, serasa masih pengantin baru, ya? Aduh iri aku deh sama kamu," imbuh Wanda, sambil terkikik geli.


Mereka berusaha memang sudah tau kalau Riska dan Keenan sudah menikah karena satu insiden yang sempat viral sebulan yang lalu. Akan tetapi, mereka tidak pernah ada yang mengungkit hal itu, dan itu semua terjadi tentu saja karena Ayu sudah memperingatkan mereka terlebih dahulu.


"Apa sih, Mba. Yuk, cepetan kita masuk," ajak Riska dengan pipi yang merona.


Umur Riska memang paling muda di antara mereka, Wanda seumuran dengan Ayu, dia juga sudah menikah dan mempunyai anak. Sedangkan Sekar, dua tahun lebih tua dari Riska, dia juga sudah menikah dan sekarang tengah mengandung empat bulan.

__ADS_1


Riska mengambil kunci butik yang Ayu titipan padanya, membuka beberpa kunci yang terpasang di pintu. Mulai dari tralis besi dan diakhiri dengan pintu kaca.


Masuk ke dalam butik, untuk memulai aktivitasnya setiap hari sejak beberapa tahun terakhir.


Butik yang telah banyak menolongnya, mulai dari sekolah adiknya hingga kesehatan sang ibu. Butik yang juga membawanya dalam pertemuan dengan Keenan dan kejadian yang membuatnya menjalani status sebagai seorang istri saat ini.


Tanpa dia sadari, begitu banyak kenangan yang tertinggal di sini, membawa hidupnya yang dulu serba kekurangan, kini terasa lebih baik.


.


Di tempat lain, Keenan masih mengendarai mobilnya, menuju kantor utama Ezan Auto Designs, saat tiba-tiba ia melihat mobil yang tampak oleng hingga hampir saja menyerempet body mobilnya, bila saja dia tak sigap menghindar. Tak lama setelah itu, terliaht kecelakaan tunggal terjadi tepat di depan mobilnya.


Mobil itu terlihat menabrak trotoar dan terbalik saking kerasnya benturan. Suasana jalan memang sedikit lengan, karena hari sudah mulai siang.


"Astagfirullah, dia mau cari mati apa? Berkendara ugal-ugalan begitu," gerutu Keenan, sambil menginjak rem dengan sekuat tenaga untuk menghindari tabrakan di depannya.


Dia melihat asap mengepul dari body mobil itu, para warga dan pengendara pun banyak yang berhenti untuk melihat kecelakaan itu, hingga akhirnya dia terjebak di dalam kerumunan.


"Akh, sial!" maki Keenan, memukul stir mobilnya sebagai pelampiasan.


Dia akhirnya memutuskan ke luar karena melihat para warga tidak ada yang berani menolong korban, mereka malah asik berbincang dan mengabadikan kecelakaan itu menggunakan kamera ponsel masing-masing.


"Cepat hubungi polisi dan ambulans!," ujar Keenan begitu dia bisa menerobos kerumunan.


"To–tolong," suara lirih dari kursi belakang mengalihkan perhatian Keenan. Matanya melebar saat melihat seseorang itu.


Seorang perempuan muda dengan luka cukup parah sedang mendekap dua orang sepasang anak kembar yang sudah tak sadarkan diri.


"To–tolong anak saya," ujar perempuan itu lagi.


"Luna?" gumam Keenan. Dia mengerjap menyadarkan diri sendiri, lalu menegakkan tubuhnya, mengedarkan pandangannya mencari seseorang yang bisa membantunya.


"Kamu, tolong bantu saya membuka pintu mobil, ada empat orang yang butuh segera di selamatkan di dalam," ujar Keenan menunjuk satu orang pria dewasa yang terlihat kekar.


Lelaki itu mengangguk, lalu maju kedepan menghampiri Keenan.


"Sudah ada yang menelepon ambulans dan polisi?" tanyanya lagi, pada semua orang yang da di sana.


Tak ada yang menjawab, mereka malah saling sikut dengan bisik-bisik yang sangat tidak penting menurut Keenan.


"Kamu, hubungi ambulans dan polisi sekarang juga," tubuhnya pada seorang lelaki dengan pakaian rapi.


"Saya, tidak tahu nomornya," tolak lelaki itu.

__ADS_1


Keenan menghembuskan napas kasar, dengan pikiran tak mengerti, bagaimana warga bahkan tidak mengetahui nomor panggilan darurat negaranya sendiri.


"Satu-satu Nol untuk polisi dan Satu-satu delapan untuk ambulans, siapa saja yang masih mempunyai hati tolong hubungi nomor itu segera!" teriaknya dengan wajah yang memerah.


Seorang wanita dengan pakaian sederhana maju ke depan Keenan.


"Biar saya saja," ujarnya.


Keenan mengangguk dengan senyum tipis mengiringi.


"Terima kasih," ujarnya sebelum berbalik dan mencoba membuka pintu.


Beberapa orang lelaki kini mulai ikut membantu Keenan dalam melakukan evakuasi mandiri, demi menyelamatkan korban secepatnya.


Sepuluh menit kemudian semua korban berakhir dikeluarkan dari mobil, bersamaan dengan ambulans yang datang dan juga polisi.


"Luna, kamu bisa bertahan, tolong tetap berusaha sadar," ujar Keenan, begitu dia mengeluarkan perempuan itu dan memindahkannya pada brankar ambulans.


Dia kemudian mengangkat salah satu anak yang sudah tak sadarkan diri dan membawanya menuju mobil yang sama.


"Pak saya titip mobil saya," ujar Keenan pada salah satu polisi sebelum ia masuk ke dalam ambulans yang membawa kedua anak itu.


Beberapa saat kemudian semua ambulans yang membawa korban kecelakaan itu akhirnya sampai di rumah sakit.


Keenan turun dan langsung mengikuti masuk ke dalam unit gawat darurat di dalam rumah sakit itu. Dia menunggu di depan ruangan keempat orang itu diperiksa, hatinya gundah dia khawatir.


Bayangan tentang masa lalunya kini berputar lagi di kepalanya, mengusik pikiran dan ketenangan hati yang baru saja ia dapatkan bersama Riska.


'Tolong anak saya,' perkataan perempuan yang diyakini sebagai Luna itu terus terngiang di kepalanya.


"Anak? Jadi benar dia sudah bahagia dengan lelaki lain? Dia meninggalkan aku karena lelaki lain?" gumamnya, meremas rambutnya prustasi.


Kemeja berwarna biru langit itu terlihat sudah berlumur darah, dengan tiga kancing bagian atasnya terbuka. Wajahnya kusut dengan gurat halus di kening yang tak pernah hilang.


"Tuan, apa Anda keluarga korban? Kami membutuhkan seseorang untuk bertanggung jawab dan menyelesaikan administrasi," ujar seorang perawat di depan Keenan.


...🌿...


Nah ... nah ... gimana nih Keenan? Siapa perempuan yang ditolong Keenan, apa benar Luna atau orang lain? ... Ayo komen🤭


...🌿...


...Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2