
...Happy Reading...
...❤...
"Bagaimana tentang orang yang telah mengirimkan video Nindi padaku, apa kamus udah menemukan orangnya?" tanya Ezra, setelah mereka berdua sudah menyelesaikan pekerjaan di bengkel.
"Sudah, menurutku dia tidak perlu terlalu dikhawatirkan, hanya salah atu orang tua murid di tempat Naura sekolah. Mungkin dia hanya mencoba perhatianmu, Kak?" jelas Keenan.
Alis Ezra bertaut saat mendengar penjelasan dari adiknya. "Siapa? Kalau dia berani mengirimkan video itu tanpa ada penjelasan, jelas sekali kalau dia berniat untuk membuat rumah tanggaku retak atau mungkin hancur. Kalau saja waktu itu aku tidak bisa menahan amarah, aku tidak tau apa yang akan terjadi saat ini!" ujar Ezra menahan geram.
Keenan tampak terdiam sebentar lalu kembali melihat ke arah kakanya. menghembuskan napas kasar, sebelum menjawab pertanyaan Ezra.
"Namanya Eni, dia adalah janda beranak satu yang ditinggalkan menikah lagi oleh suaminya, mereka berpisah karena Eni tidak mau ikut suaminya pindah ke luar negeri. Sepertinya dia memang sudah menyukai Kakak sejak lama, makanya dia selalu mencari masalah pada Kak Nindi, termasuk mengirimkan video itu ada Kakak. Selebihnya, tidak ada lagi yang mencurigakan dari wanita itu, sepertinya ini murni rasa iri karena dia tidak bisa mendapatkan Kakak," jelas Keenan panjang lebar.
Ezra mengangguk-anggukkan kepalanya, menanggapi setiap penjelasan yang dilakukan oleh adiknya itu. Akan tetapi kemudian pikirannya terganggu oleh satu kata yang menurutnya sedikit janggal.
"Selalu? Apa maksud dari kata selalu itu? Apa selama ini Nindi sudah mendapat gangguan dari dia? Begitu maksudmu?" tanya Ezra dengan mata yang menajam.
"Ya, aku menemukan dia beberapa kali membuat isu di sekolah Naura, dia juga sering bergosip atau menyindir Kak Nindi jika mereka sedang menunggu anak-anak keluar dari kelas. Jangan bilang kalau Kak Nindi tidak pernah berbicara hal ini pada kakak?" tanya Keenan.
Ezra mengangguk, istrinya itu tak pernah mengeluh apa pun selama ini, kecuali kondisi tubuhnya yang terkadang lemah saat menjalani kehamilan pertamanya. Dia tak pernah menyangka kalau Ayu menyembunyikan hal itu darinya. Mendengar semua itu membuat Ezra semakin mantap untuk pulang saat ini juga.
"Aku serahkan semua urusan di sini padamu, sepertinya aku harus pulang saat ini juga," ujar Ezra, sambil mulai membereskan berkas yang akan dia bawa ke Jakarta.
Keenan kembali mendesah malas, walau akhirnya kepalanya mengangguk samar. Bukan tanpa alasan dia tak mau ditinggal di kota itu, tetapi, semua pekerjaan tanpa ada sang kakak di sisinya akan terasa berat. Dia malas bila harus berhubungan dengan orang baru, berbeda bila ada Ezra di sisinya. Dia merasa ada sosok yang akan dapat menutupi kesalahannya.
"Kamu bisa pulang kalau sudah mendapatkan kejelasan tentang siapa yang sudah merampok bengkel kita, dengan atau tanpa bantuan polisi," ujar Ezra yang mengetahui apa yang adiknya itu pikirkan.
"Aku akan menambahkan orang yang akan membantumu dalam misi ini," imbuhnya lagi.
"Heem ... baik, Kak."
Keenan hanya menjawab dengan gumaman kecil dari mulutnya, memilih untuk ikut bersiap untuk ikut sang kakak kembali ke hotel.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian, Ezra sudah berkendara menuju kota tempat keluarganya tinggal dan menunggu kedatangannya.
Sekitar tiga jam lebih perjalanannya, dia akhirnya sampai di rumah. Akan tetapi semua pikirannya buyar saat mendapati rumah dalam keadaan kososng, hanya ada beberapa pelayan yang sedang berkutat dengan tugas masing-masng.
"Bi, Nindi dan Naura ke mana?" tanyanya pada Bi Yati.
"Ibu sana Non Naura di ajak keluar sama Bu Nawang sejak tadi siang, Pak," jawab Bi Yati.
Ezra kemudian mengingat perbincangan yang ia dengar dari ponsel Ayu saat meneleponnya tadi pagi. Dia langsung mengambil ponsel dan menghubungi Gio yang sudah pasti sedang berada bersama para perempuan itu.
"Gino, kalian sedang berada di mana sekarang?" tanya Ezra sambil masuk kembali ke dalam mobilnya.
Gino yang baru saja selesai menaruh barang belanjaan di dalam bagasi mobil, terkejut oleh dering ponselnya sendiri. Dengan cepat ia langsung mengangkat telepon yang tak lain dari bos besarnya itu.
"Kami sedang berada di Mall, Pak," jawab Gino.
"Share lokasi sekarang juga, aku menyusul ke sana!" perintah Ezra dari sebrang teepon.
"Baik, Pak." Gino langsung melakukan perintah Ezra begitu panggilan terputus.
Beberapa saat kemudian dia sudah bisa melihat Era yang berjalan menuju tempatnya dan tiga orang perempuan itu berada.
"Mah, itu Papah!" pekik Naura begitu menyadari kehadiran Ezra di sana. Tanpa mendengar jawaban Ayu, gadis kecil itu langsung turun dari kursi lalu berlari menyambut kedatangan sang ayah.
"Eh, sayang ... jangan lari!" Ayu ikut berdiri dan hendak menyusul anak sambungnya itu. Akan tetapi, tangannya langsung ditahan oleh Nawang.
Ayu mengalihkan pandangannya pada ibu mertuanya, lalu duduk kembali dengan pandangan menatap sosok yang kini sudah menggendong Naura dan berjalan menghampirinya.
"Tidak apa-apa, itu ada papanya, kamu gak usah terlalu khawatir begitu," nasihat Nawang, walau dia senang dengan kasih sayang tulus Ayu, hanya saja sikap Ayu yang terkadang lupa akan dirinya sendiri, membuat dia merasa khawatir pada menantunya itu.
"Uh, anak Papa sudah semakin berat sekarang," ujar Ezra begitu menarik Naura pada gendongannya.
"Iya dong, Rara kan sudah besar, sudah mau jadi kakak," bangga gadis kecil itu di dalam gendongan nyaman sang ayah.
"Oh iya, Naura sudah besar ya. Tentunya jadi anak baik dan salehah juga dong, sama kayak mamanya," ujar Ezra menambahkan. Dia memberikan cubitan kecil di pipi anaknya, juga mencium gemas seluruh wajah imut itu.
__ADS_1
Tanpa mereka sadar, keduanya kini telah menjadi perhatian semu pengunjung restoran itu, sejak Naura berteriak dan berlari menyambut kedatangan Ezra.
Banyak bisik-bisik yang memuji sepasang ayah dan anak itu, terutama para perempuan yang asik memuji dan memuja sosok Ezra yang begitu tampan juga terlihat sangat menyayangi anaknya.
Banyak dia antara mereka yang menyebut Ezra sebagai Hot Daddy, dengan mata berbinar penuh puja dan puji. Tentu saja semua itu tak luput dari pendengaran Ayu dan Ezra sediri, begitu juga Nawang.
"Selalu begini kalau anak itu sudah menebar pesonanya di depan umum, astaga, awas saja nanti di rumah!" geram Nawang.
Padahal sejak tadi Ezra tak melakukan apa pun, dia hanya tersenyum pada anaknya, tanpa peduli dengan orang di sekitarnya.
Ayu merasakan cemburu, saat melihat dan mendengar sendiri para perempuan itu memuji sang suami dengan erang-terangan, walau semua itu ia sembunyikan dengan sikap acuh dan tentunya senyum teduh yang selalu jadi andalannya saat menyambut sang suami.
Ezra menurunkan Naura di kursi, lalu beralih mencium tangan Nawang, berakhir dengan mengecup kening istrinya yang membuat pekikkan tertahan terdengar dari para perempuan yang sejak tadi memperhatiknnya.
"Ma, ini di tempat umum!" protes Ayu,merasa tidak nyaman.
"Biarkan saja, biar mereka tau kalau aku sudah ada pemiliknya. Iya kan, Mah?" Ezra berkat acuh sambil menggeser tempat duduknya di dekat sang istri. Mengambil air minum Ayu lalu meneguknya sampai habis setengah.
"Iya, benar itu, Ndi. Suamimu itu harus dijaga kalau sedang berada di tempat umum seperti ini, biar mata jelalatan para perempuan itu langsung merem dan gak bisa berharap!" jawabNawang, memberi dukungan pada anaknya.
Ayu mencium tangan Ezra, setelah suaminya itu selesai minum, ada perasaan senang juga dalam hatinya saat tadi Ezra berani mengakuinya di depan umum seperti ini. Apa lagi ketika para perempuan yang sejak tadi menatap Ezra penuh minat, langsung canggung dan kini hanya terlihat mencuri pandang saja.
Mungkin benar apa yang dikatakan oleh mertuanya, kalau dia harus bersikap mesra pada Ezra bila sedang di luar seperti ini, untuk mengusir mata liar yang menjadikan suaminya sebagai pemuas hayalan mereka.
Makanan datang beberapa saat kemudian, AYu akhirnya menuruti perkataan Nawang, dia tak lagi menolak perlakuan mesra suaminya. Tentu itu mala membuat Ezra bertambah senag, dia bisa melupakan kerinduannya pada sang istri walau kini mereka sedang di area umum.
Biarkanlah para jomblo semakin merana melihat kemesraan pasangan suami istri yang sedang melawan para calon pelakor atau pebinor dan segala hama lain yang berniat masuk dalam rumah tangga keduanya.
Nawang hanya bisa tersenyum senang melihat rumah tangga anaknya yang terlihat begitu bahagia. Biarkanlah untuk malam ini, dia dan Naura menjadi nyamuk di tengah kemesraan dua sejoli itu.
...🌿...
Hayo Papa Ezra dan Mama Ayu, lawan semua hama bahkan sebelum mereka datang, biar langgeng terus🤭🤭
...🌿...
__ADS_1
...Bersambung...