Berbagi Cinta : Antara Kita

Berbagi Cinta : Antara Kita
Bab.118 Sakit


__ADS_3


...Happy Reading...


...❤...


Dini hari, Ayu sudah dikejutkan dengan badan Naura yang tiba-tiba saja panas, padahal tadi malam anak angkatnya itu masih baik-baik saja.


Dengan segera wanita itu mengambil handuk dan air di wadah kecil, untuk mengompres Naura.


Awalnya dia hanya mau melihat Naura sebelum melakukan Shalat malam, tetapi, semua itu malah membuatnya terkejut, saat mendapatkan tubuh anaknya menggigil dengan wajah pucat.


“Astagfirullah, kamu kenapa, sayang?” lirih Ayu, sambil mengecek suhu tubuh Naura. Terlihat sekali kekhawatiran di wajah cantik itu.


Saking sibuknya dan terlalu fokus mengurus Naura, Ayu bahkan tidak sadar kalau sudah beberapa jam meninggalkan kamar, hingga kini azan subuh telah berkumandang.


Di kamarnya, Ezra baru saja menggeliat mencoba mengumpulkan kesadarannya, salah satu tangannya menyentuh bagian sisi lain dari tempat tidurnya, yang bisanya ditempati oleh Ayu.


Matanya mengernyit saat merasakan tidak ada tubuh istrinya di sana, bahkan tempat itu telah terasa dingin, sepertinya Ayu sudah meninggalkannya lama.


“Sayang!” panggilnya mengedarkan pandangannya pada seluruh sudut kamar, tetapi tak ada istrinya di sana.


“Sayang, apa kamu di dalam?” Ezra mengetuk pintu kamar mandi, walaupun tak ada suara gemercik air.


Tak ada jawaban, Ezra membukanya perlahan, matanya kembali mengedar mencari keberadaan Ayu.


“Kosong? Ke mana dia?” gumamnya, sambil berjalan menuju pintu.


“Bi, Nindi di mana ya?” tanyanya pada Bi Yati yang kebetulan melintas di depan kamarnya.


“Ibu di kamar Non Naura, Pak. Ini saya mau mengantarkan peralatan solat ke sana,” jawab Bi Yati, sambil menunjukkan lipatan mukena di tangannya.


Ezra mengangguk samar, di pikirannya mungkin Ayu dan Naura mau shalat bersama di kamar anaknya.


“Sini, Bi. Biar aku aja yang antarkan.” Ezra mengulurkan tangannya, meminta mukena di tangan Bi Yati.


“Ini, Pak. Kalau gitu saya kembali ke bawah.” Bi yati menyerahkan mukena itu pada Ezra, lalu pamit kembali ke lantai bawah, untuk kembali mengerjakan tugasnya.


Ezra mengangguk, lalu meneruskan langkahnya menuju kamar Naura yang hanya berjarak oleh ruang kerjanya, sama seperti di rumah orang tuanya.


“Sayang, kamu di sini? Aku nyariin kamu, eh taunya di sini,” ucap Ezra sambil berjalan masuk.


Keningnya mengerut halus saat melihat tatapan sendu Ayu.


“Mas,” lirih Ayu, melihat kedatangan Ezra membuatnya tak mampu menahan rasa bersalahnya.


Ya, dia menyalahkan dirinya dari sakit yang di derita oleh Naura.


“Ada apa, sayang?” tanya Ezra, dirinya merangkul tubuh istrinya.


“Naura badannya panas dari semalam, aku gak tahu kenapa, udah aku kompres tapi gak turun-turun,” jelas Ayu, dengan suara serak seperti menahan tangis.


“Panas? Coba aku liat dulu,” ucapnya melepas tangannya dari tubuh Ayu, lalu duduk di samping Naura, menempelkan punggung tangannya pada kening dan leher anaknya.

__ADS_1


“Mas, kita ke rumah sakit aja yuk, atau panggil Kak Ansel?” ucap Ayu, dia baru saja ingat semua itu, karena terlalu panik, dia bahkan sampai lupa apa yang harus dilakukan.


Ezra mengangguk, dia juga merasa khawatir karena panas Naura cukup tinggi.


“Sekarang kita shalat dulu aja, nanti setelah itu baru ke rumah sakit.”


Ayu mengangguk, menyetujui.


Ezra langsung pergi lagi ke kamarnya untuk bersiap melaksanakan solat, sedangkan Ayu menyiapkan tempat untuk dirinya dan sang suami.


Beberapa saat kemudian, Ezra sudah melajukan mobilnya keluar dari gerbang rumah mewah itu.


Ayu duduk di belakang dengan paha dijadikan bantalan untuk Naura, sedangkan Ezra mengemudi di depan.


Tak lama, hanya sekitar lima menit, mereka sudah tiba di rumah sakit terdekat.


Ezra langsung menggendong Naura menuju ruang UGD, sedangkan Ayu mengurus administrasi.


Sepasang suami istri itu bekerja sama dengan baik, sehingga Naura bisa diberikan pertolongan pertama dan langsung mendapatkan ruang perawatan.


“Bagaimana keadaan Naura, Mas?” tanya Ayu, setelah menyelesaikan urusan administrasi.


Dirinya melihat lengan kecil itu sudah tertancap jarum infus, dengan Ezra yang terus mengelus kepala anaknya.


“Dokter menyarankan untuk tes darah, karena panasnya terlalu tinggi,” jawabnya.


Ayu mengangguk lemah, dia tidak tega melihat wajah yang selalu tersenyum ceria itu kini berubah pucat, juga dengan jarum infus di lengan mungilnya.


Beberapa saat kemudian, Naura sudah dipindahkan ke ruang rawat inap, hasil tes darahnya menunjukkan kalau dia terkena demam berdarah, tetapi, masih dalam tahap gejala.


Bahkan Naura juga tidak pernah di ajak ke tempat-tempat kumuh, entah di mana Naura digigit oleh nyamuk pembawa penyakit itu.


Ayu menunggu Dan mengurus Naura dengan begitu telaten juga sabar. Ezra langsung menelepon Bi Yati, untuk mengantarkan baju ganti mereka ke rumah sakit, sekaligus membawa sarapan.


Hari sudah beranjak siang, saat Naura mulai mengerjapkan matanya, dengan diiringi rengekan kecil dari bibir pucatnya.


“Sshh, ini Mama, sayang ... mana yang sakit, sayang?” lirih Ayu sambil mengusap kening hingga puncak kepala Naura.


Perlahan mata itu terbuka dengan air yang berkumpul di pelupuk, hidungnya memerah, tampaknya sebentar lagi anak itu akan segera menangis.


“Mama, pusing, semuanya goyang-goyang,” rengeknya, kedua tangannya terulur ke depan Ayu, meminta digendong.


“Sshh, sabar ya, sayang. Sebentar lagi juga sembuh, Naura kan anak Mama yang kuat, sini biar Mama gendong,” Ayu langsung berdiri menggendongnya seperti anak koala, lalu dia duduk di brangkar yang tadi sebelumnya menjadi tempat tidur Naura.


Dengan hati-hati, Ayu memposisikan Naura untuk berbaring menyamping di pangkuannya, agar terasa lebih nyaman. Tetapi, ternyata Naura menolak, anak itu merasa lebih nyaman berada di dalam pelukan ibu sambungnya.


“Aku mau kayak gini, Mah,” lirih Naura, menyelusupkan wajahnya di bawah dagu Ayu. Kedua tangannya memeluk erat pinggang ibu sambungnya.


“Hem, baiklah. Tapi, ini jangan terlalu erat, nanti tangannya sakit,” Ayu mengelus tangan Naura yang ada jarum infusnya. Perlahan anak itu melemas dan perlahan melepaskan pelukannya.


Ezra tersenyum lembut menatap interaksi kedua perempuan di depannya.


Hari ini dirinya tidak akan berangkat ke kantor, dia akan fokus membantu Ayu mengurus Naura di rumah sakit.

__ADS_1


Siang hari Nawang dan Garry datang dengan wajah khawatir.


Mereka melihat Ayu yang sudah kelelahan karena seharian ini Naura tidak mau lepas dari gendongannya. Bahkan gadis kecil itu akan bangun jika Ayu hanya bergeser sedikit saja dari tubuhnya.


“Sayang, sama Nenek dulu yuk, kasihan Mama sudah capek,” rayu Nawang, tidak lama setelah dirinya datang.


Naura menggeleng dengan tangan terus melingkar di tubuh Ayu, saat ini posisi Ayu tengah berbaring miring dengan satu tangan memeluk anak sambungnya.


Nawang menghembuskan napasnya panjang, pandangannya nanar menatap wajah cucu dan menantunya.


“Dari kapan Naura panas, Ndi?” tanya Nawang, tangannya mengusap rambut cucunya lembut.


“Sepertinya sejak tadi malam, Ma. Soalnya pas aku ngajak dia tidur belum panas. Aku juga baru tahu jam dua malam, waktu aku ngecek dia di kamar,” jelas Ayu.


Nawang mengangguk-anggukan kepalanya, pandangannya meneliti wajah menantunya yang tampak sayu dan sedikit pucat.


Hatinya memang bahagia melihat perhatian yang begitu tulus dari Ayu untuk cucunya, tetapi, dia juga merasa kasihan saat melihat Ayu yang sampai tak memikirkan kesehatannya demi menjaga Naura.


“Zra, kamu gantian dong sama Nindi, kasian tuh istrimu sampai pucat gitu mukanya,” ucapnya beralih kepada Ezra yang sedang berbincang dengan Garry di sofa.


“Kalau Naura mau, dari tadi juga udah Ezra gantiin, Ma,” jawab Ezra.


Sejak tadi dia sudah membujuk anaknya itu untuk bergantian memeluknya, tetapi Naura selalu menolak, gadis kecil itu seperti mendapat ketenangan yang berbeda dari Ayu. Hingga tidak mau digantikan dengan dirinya sendiri yang notabene adalah ayah kandungnya.


“Kamu udah makan, Ndi?” tanya Nawang, beralih lagi pada menantunya.


“Sudah, Ma. Tadi sambil nyuapin


Naura makan,” jawab Ayu. Hatinya begitu terharu mendapatkan perhatian kecil yang diberikan oleh mertuanya. Perhatian seorang ibu kepada anaknya yang sudah lama tidak pernah ia rasakan.


“Makasih, Ma?” ucap Ayu, senyuman terlihat di wajahnya, walau matanya tampak berkaca-kaca.


“Kok makasih, kenapa?” Nawang mengernyitkan keningnya.


“Terima kasih karena Mama sudah mau menerima aku,” jelas Ayu, sekuat tenaga ia mencoba menahan air mata di matanya, walau satu tetes itu berhasil lolos juga.


Dalam hati ia kesal dengan dirinya sendiri yang entah kenapa susah sekali dikendalikan.


‘Kenapa aku jadi melow gini sih?’ rutuknya.


“Orang tua waras mana yang rela melepaskan wanita tulus sepertimu, Ndi. Hanya orang-orang yang sudah tidak memiliki akal sehat atau buta yang tidak bisa melihat ketulusan di diri kamu, sayang.” Nawang memegang tangan menantunya yang berada di punggung Naura.


“Bukan kamu yang harusnya berterima kasih, tapi, kami. Kami yang harusnya berterima kasih karena kamu mau menerima Ezra dan Naura juga sudah mengurus mereka dengan sangat baik dan tulus,” sambungnya lagi.


Siang itu Nawang dan Garry memutuskan untuk tinggal di rumah sakit untuk menemani Ayu dan Ezra, walaupun mereka juga tidak bisa membantu Ayu dalam merawat Naura.


Kedua orang tua Ezra itu pamit pulang setelah setelah hari mulai beranjak sore, karena akan ada acara malam nanti dengan rekan bisnis mereka.


...🌿...


...🌿...


...Bersambung...

__ADS_1


Maaf hari ini terlambat up, entah kenapa proses review nya lebih lama dari yang biasa, bahkan aku gak tahu ini nanti lolos jam berapa🙏🥺


__ADS_2