
...Happy Reading...
...❤️...
Pulang dari rumah Ayu dan Ezra, sepasang suami istri itu ini tengah menikmati malam di dalam sebuah pusat perbelanjaan.
"Kenapa kita harus ke sini dulu?" tanya Riska, sambil berjalan masuk ke dalam sebuah toko pakaian wanita.
"Aku mau belikan kamu sesuatu, sayang," jawab Keenan, dengan wajah sumringahnya.
"Apa? Baju aku masih banyak, ngapain juga kita beli lagi," ujar Riska, mencoba menebak.
"Bukannya besok kamu mau bantuin Mama di rumah, jadi kamu harus punya baju buat dipakai besok," ujar Keenan sambil melambaikan tangannya, pada salah satu pelayan toko itu.
"Tapi, Bang. Baju yang ada di apartemen juga masih layak. Aku kan cuma bantuin Mama, bukan mau ikut arisan." Riska masih mencoba menolak untuk membeli baju baru.
"Selamat datang di toko kami. Ada yang bisa saya bantu, Pak?" tanya pegawai yang kini sudah berada di depan keduanya.
"Keluarkan model terbaru yang kalian punya," ujar Keenan pada pegawai tadi.
"Baik, Pak. Mohon ditunggu sebentar," ujarnya sebelum berlalu dari hadapan Keenan dan juga Riska.
"Abang." Riska menggoyangkan tangan Keenan pelan.
"Sudah, kamu diam saja, biar aku yang pilih. Kira-kira mana yang cocok buat kamu pakai besok," ujar Keenan merangkul pundak istrinya dan mengajaknya duduk di kursi tunggu.
"Kamu ini, memang masih belum tau Mama. Dia itu gak bakalan minta tolong sama kamu, kalau enggak ada maunya. Pelayan di rumahnya bahkan bisa mengerjakan apa saja yang dia mau tanpa dia harus turun tangan sendiri," jelas Keenan.
Riska terdiam sebentar, dia membenarkan perkataan Keenan, tentang para pelayan di rumah mertuanya yang memang sudah tak bisa diragukan lagi.
Namun, dia masih saja berpikir kalau ibu mertuanya itu, mungkin hanya ingin lebih dekat dengan dirinya. Maka dari itu, dia mengajak dirinya untuk menyiapkan acara arisan bersama-sama.
Tak lama menunggu, pegawai toko datang kembali, bersama beberapa orang temannya yang tampak membawa berbagai macam pakaian.
"Ini semua adalah koleksi terbaru kami, Pak," ujar pelayan tadi, sambil memperlihatkan beberapa baju yang menggantung di sampingnya.
Keenan berdiri dan mulai memilih beberapa baju yang sesuai dengan gaya berpakaian Riska.
"Ayo, kita coba ini semua," ujarnya sambil mengulurkan tangannya, membantu Riska untuk berdiri.
Dengan helaan napas kasar, dan gerakan malas, Riska mengikuti kemauan suaminya itu.
__ADS_1
"Kamu coba yang ini dulu," ujar Keenan, sambil menyerahkan baju yang harus dicoba istrinya.
Riska tak menjawab, dia hanya mengambil baju di tangan Keenan, lalu berlalu masuk ke dalam ruang pas.
Beberapa saat kemudian, Riska sudah keluar dengan baju yang tadi dipilihkan oleh suaminya.
"Bagaimana?" tanyanya, sambil memperlihatkan baju yang ia pakai.
Keenan menggeleng lalu memilihkan baju yang lain untuk dicoba oleh istrinya.
Riska kembali menerimanya dan masuk ke dalam kamar pas. Namun, saat ia keluar, Keenan juga tidak suka dan kembali menyuruhnya mencoba yang lainnya lagi.
Untuk yang kesekian kalinya, kini Riska sudah menampilkan raut wajah yang sangat kesal. Dia berdiri di depan Keenan dengan mata menatap tajam suaminya itu.
Namun, sepertinya Keenan tak melihat semua itu, dia masih saja memperhatikan seluruh penampilan istrinya sejenak, seperti seorang juri yang sedang memberi penilaian.
"Cukup bagus." Keenan menaruh telunjuknya di dagu, bagaikan sedang berpikir keras, sambil mengangguk-anggukkan kepala samar.
"Tapi, coba kamu pakai yang ini dulu. Kayaknya ini lebih cocok buat kamu deh," ujarnya sambil memberikan baju yang harus dicoba lagi oleh istrinya.
Riska pun akhirnya menerima lagi baju dari Keenan dan kembali masuk ke dalam ruang pas. Walau di dalam hati dia sudah merasa sangat kesal.
Beberapa kali hal itu kembali berulang, hingga membuat Riska kesal. Saat Keenan mengulurkan baju untuk ia coba lagi, Riska memilih diam dan tak mau menerimanya.
"Abang saja sana yang coba, aku gak mau lagi!" Riska berucap kesal lalu memilih untuk masuk lagi dan memakai bajunya kembali.
Riska keluar dan langsung pergi tanpa menghiraukan keberadaan suaminya.
"Eh, sayang. Kok malah ngambek sih." Keenan mencoba menghentikan langkah Riska, akan tetapi perkataan dari pegawai toko membuat langkahnya terhenti.
"Jadi mau beli yang mana, Pak?"
Keenan berbalik sekilas sambil mengambil dompetnya, dia pun lmengeluarkan salah satu kartu yang ada di sana.
"Aku ambil semuanya!" Keenan memberikan kartu itu pada pegawai itu, lalu berjalan cepat keluar dari toko, untuk mencari keberadaan istrinya itu.
"Aduh, kemana dia!" ujar Keenan, sambil mengedarkan pandangannya, mencari keberadaan istrinya.
Tidan menemukan keberadaan istrinya di sekirar toko, Keenan langsung mengambil ponsel, mencoba menghubungi ponsel sang istri.
Tak menunggu lama, ternyata Riska langsung mengangkat teleponnya.
__ADS_1
"Halo, sayang. Kamu di mana? Maafin aku ya, kalau aku buat kamu kesal," ujar Keenan, langsung memcecar Riska dengan permintaan maaf.
"Aku baru saja keluar dari toilet. Abang tunggu saja di toko itu," jawab Riska dari seberang telepon sana.
Keenan menghembuskan napas lega, saat mendengar nada suara istrinya, tidak lagi terdengar kesal.
"Oh, aku kira kamu ke mana. ternyata kamu ke toilet," ujar Keenan, sambil kembali ke toko itu dan dan menunggu Riska di depan.
"Iya, maaf. Aku tadi udah kebelet banget ... lagian, aku mau ngomong aja, Abang, suruh ganti baju terus. Kan aku jadi kesel," jelas Riska, sambil berjalan menuju ke arah Keenan berada.
"Maafin aku ya, sayang," lemas Keenan.
Sambungan telepon pun terus berlangsung, entah kenapa Keenan seakan tak mau menutup telepon itu, dia terus mengajak istrinya bicara, hingga akhirnya dia melihat sendiri keberadaan wanita yang dicintainya itu.
Beberapa saat kemudian Keenan sudah bisa melihat keberadaan istrinya itu. Akan tetapi, perhatiannya kini sedikit teralihkan, pada seseorang lelaki yang tampak berjalan di belakang istrinya.
Matanya kini melebar, saat melihat dengan jelas wajah laki-laki itu. Keenan langsung mematikan sambungan teleponnya demi memperhatikan lebih jelas laki-laki itu.
"Dia?!" gumamnya dengan wajah yang semakin waspada.
Ya, itu adalah laki-laki yang beberapa hari lalu, Keenan lihat sedang memperhatikan butik.
"Sial!" umpat Keenan, sambil berjalan cepat untuk menghampiri istrinya.
Fokus perhatiannya kini terbagi, antara sang istri dan lelaki yang terlihat mulai semakin mendekat pada istrinya.
Langkah Keenan semakin cepat. Dia seakan sedang berlomba untuk sampai terlebih dahulu dibandingkan dengan laki-laki itu.
"Sayang," sapanya, sambil merangkul tubuh sang istri, tepat sebelum laki-laki itu hampir saja menyentuh Riska.
"Loh, Abang, kok ada di sini?" tanya Riska, sambil melihat wajah suaminya.
Sejak tadi, dia memang belum menyadari keberadaan suaminya.
"Iya, sayang. Aku nyariin kamu tadi, lain kali kalau kamu mau ke mana-mana, bilang sama kau dulu ya. Aku khawatir banget sama kamu, sayang," jawab Keenan, dia mempererat pelukan di pinggang Riska. Walau matanya mengedar mencari keberadaan laki-laki itu yang tiba-tiba saja menghilang.
Salah satu tangan yang menjuntai di samping tubuhnya, mengepal erat, merasa geram, karena lagi-lagi dia kehilangan jejak laki-laki itu.
...🌿...
...🌿...
__ADS_1
...^^^Bersambung^^^...