
...Happy Reading...
...❤...
Pagi ini Ayu tengah disibukan dengan rengekan Naura yang tidak mau diantar ke sekolah oleh supir. Anak itu terus merengek untuk diantar langsung oleh Ayu.
“Baiklah, tunggu sebentar ya, Mama siap-siap dulu.” Ayu mengusap puncak kepala Naura, sebelum beranjak dari meja makan.
“Ibu, sebaiknya di antar super saja, saya khawatir kalau Ibu menyertir sendiri,” ucap Bi Ani saat mereka berjalan menuju pintu depan.
“Iya, saya di antar sopir kok, Bi.” Ayu menepuk pundak Bi Ani dengan senyum hangat di wajah pucatnya.
Dirinya merasa sedikit pening di kepala, mungkin karena semalam ia sama sekali tidak tidur. Ditambah malam-malam sebelumnya ia juga selalu tidur larut malam karena menunggu Ezra.
“Mama, Papa kapan pulang sih? Kok lama banget kerjanya?” tanya Naura, saat mereka dalam perjalanan menuju sekolah.
“Mungkin beberapa hari lagi papa pulang, tunggu sebentar lagi ya, sayang,” jawab Alisya, mengusap pipi anak asuhnya.
Sampai di sekolah, ia langsung masuk ke kelas dengan menggandeng tangan Naura.
“Rara, baik-baik di sekolah ya, dengerin kata Ibu guru,” pesan Ayu, berjongkok di depan Naura sambil merapikan rambut yang sedikit menutupi keningnya.
“Iya, Ma,” angguk Naura.
“Anak pintar, kalau begitu Mama pulang dulu ya, sayang.” Ayu memberikan kecupan di kening dan pipi Naura.
“Iya, Ma. Dadah!” Naura melambaikan kedua tangannya.
Ayu pun berjalan kembali menuju mobilnya terparkir.
“Pake sopir ya sekarang, sudah berlagak seperti nyonya besar aja, padahal baru beberapa minggu menikah!” ucap sinis Bu Eni saat Ayu lewat kerumunan para ibu-ibu.
“Hus, gak boleh bilang gitu, Bu. Mungkin Bu Ayu ada keperluan lain, makannya pakai sopir,” debat Bu Ami.
“Mari ibu-ibu semua, saya pamit duluan,” ucap Ayu sebelum masuk ke dalam mobilnya.
Seperti biasa, ia hanya akan berpura-pura tidak mendengar ocehan ibu-ibu yang tidak suka padanya.
Apa lagi dia pernah mendengar kalau Bu Eni adalah seorang janda yang ditinggalkan suaminya sejak anaknya masih berusia dua tahun.
Lagi pula ia sudah terbiasa mendengar omongan miring tentang dirinya, sejak ia masih kecil. Jadi itu semua bukan masalah besar untuknya.
Di perjalanan pulang, ternyata jalanan cukup ramai hingga ia harus terjebak macet di beberapa tempat.
Menyandarkan punggungnya, ia memilih untuk melihat keluar jendela, dengan pikiran terus tertuju pada sang suami.
Tadi sewaktu ia meninggalkannya, Ezra sedang diperiksa oleh Ansel. Sedangkan Keenan belum bangun.
Sekitar tiga puluh menit kemudian Ayu baru sampai di kediamannya, ia langsung turun dengan sedikit terburu-buru, berjalan menuju kamar di mana suaminya berada.
“Bi, apa Kak Ansel masih ada?” tanya Ayu sambil terus berjalan, saat melihat wanita paruh baya itu.
“Den Ansel sudah pergi, Bu. Katanya ada urusan di rumah sakit, tapi nanti sore akan kembali ke sini lagi,” jelas Bi Yati.
Ayu mengangguk. “Apa Keenan sudah bangun?” tanya Ayu lagi, ia baru mengingat keberadaan adik iparnya.
__ADS_1
“Sudah, sekarang sedang sarapan di meja makan.”
“Baiklah, terima kasih, Bi.” Ayu berucap setelah sampai di depan pintu kamar tamu.
Membuka pintu dengan sangat perlahan, Ayu bisa melihat Kalau Ezra sudah tertidur kembali.
Matanya tampak berkaca-kaca saat mengingat pertanyaan Naura tadi pagi.
“Cepat sembuh, Mas. Kasihan Naura, dia sangat merindukan papanya,” gumam Ayu.
Duduk di samping Ezra, mengambil tangan suaminya dan menciumnya lama.
“Apa cuman Naura yang merindukanku?” Suara lirih namun bernada menggoda itu membuat Ayu mengangkat wajahnya.
“Maaf, aku mengganggu tidur kamu ya?” tanya Ayu.
Ezra tersenyum, ia berusaha bangun dan menyandar di kepala ranjang.
Ayu dengan sigap membantu suaminya dan mengganjal punggungnya menggunakan bantal agar Ezra dapat bersandar dengan nyaman.
Tersenyum teduh, menatap mata indah yang tampak memancarkan kekhawatiran milik istrinya.
“Tidak sama sekali, ini memang sudah waktunya aku bangun. Lihatlah matahari bahkan sudah mulai tinggi,” ucap Ezra, menunjuk jendela yang sudah terang.
“Lagi pula, mana bisa aku tertidur lebih lama dan melewatkan wajah cantik istriku ini, hem.” Ezra membelai wajah Ayu yang tampak sedikit pucat.
"Wajah kamu pucat, apa kamu sakit?"
Ayu mengeleng dengan senyuman haru di wajahnya, berusaha menahan air mata yang mulai mendesak keluar, melihat suaminya yang tampak lemah.
"Qku gak papa," jawab Ayu singkat.
“Kemarilah.” Ezra menepuk tempat di sampingnya, agar Ayu duduk di sana.
Ayu mengangguk lalu berpindah untuk duduk di samping suaminya, Ezra langsung menyambar pinggang ramping istrinya, mengikis jarak di antara mereka.
Ayu membenamkan wajahnya di dada bidang suaminya, menyembunyikan air mata yang sudah terlanjur menetes.
Ezra mengangkat wajah istrinya, menghapus jejak air mata yang masih terlihat di ujung mata.
"Kenapa menangis, hem? Aku tidak apa-apa, sebentar lagi suamimu ini akan sembuh dan bersiaplah untuk itu, karena aku tidak akan melepaskanmu," ucap Ezra dengan terkekeh kecil mengiringi perkataannya.
"Apa sih, Mas?! Lagi sakit masih bisa mikirin yang lain!" gerutu Ayu, mengerucutkan bibirnya.
Walau satu tangannya tidak bisa digerakkan karena bekas tembakan di pundak dan juga jarum infus, tapi tak menghalanginya untuk bisa memberikan godaan pada sang istri.
“Apa yang sebenarnya terjadi, Mas? Kenapa kamu bisa sampai seperti ini?” tanya Ayu, yang membuat Ezra langsung menghentikan aktivitasnya.
“Itu hanya sebuah kecelakaan, kemarin malam mobilku dicegat oleh sekelompok begal,” ucap Ezra, dengan wajah dibuat setenang mungkin.
Ayu menautkan alisnya, wajahnya meneliti tubuh suaminya.
“Begal menggunakan senjata api?” tanyanya menyelidiki.
Yang dia tahu, kalau begal itu kebanyakan menggunakan senjata tajam bukan senjata api.
“Sudahlah tidak usah dibahas lagi, kepalaku pusing kalau mengingat kejadian semalam,” dalih Ezra, mengalihkan pembicaraan.
Ayu mengangguk. “Maaf aku tidak bermaksud membuat, Mas, sakit,” ucap Ayu dengan wajah dipenuhi rasa bersalah.
“Tidak sama sekali, sayang.” Ezra tersenyum sambil kembali mengelus wajah cantik istrinya.
“Mas, sarapan dulu ya, biar aku ambilkan,” ucap Ayu, ia hendak berdiri.
__ADS_1
“Aku belum lapar, nanti saja. Saat ini aku hanya ingin bersama denganmu saja.”
“Jangan begitu, Mas. Tunggu sebentar saja nanti aku akan kembali ya.” Ayu melepas tangan suaminya, untuk mengambil sarapan terlebih dahulu.
“Ken, kamu sudah lebih baik?” tanya Ayu saat melihat adik iparnya tengah duduk di ruang keluarga.
Ayu tampak memperhatikan seluruh tubuh Keenan. Tampak lebam di wajahnya sudah lumayan memutar hanya menyisakan warna biru di ujung bibir yang pecah, dan beberapa perban di tangan untuk menutupi luka sayatan.
“Alhamdulillah, aku sudah merasa lebih baik,” jawab Keenan.
“Baguslah, karena aku butuh penjelasan darimu,” tajam Ayu yang membuat Keenan terperanjat.
‘Astaga, apa yang harus aku katakan pada Nindi?’ gumamnya dalam hati.
“I-iya,” jawab Keenan terbata.
Ayu melanjutkan langkahnya menuju dapur, setelah membuat adik iparnya dilanda kebingungan.
Ayu menyiapkan sarapan untuk Ezra, berupa bubur yang ia buat sendiri pagi tadi, dan air putih di atas nampan.
Sampai di kamar, ia melihat Ezra sedang berbicara dengan Keenan. Kedua kakak beradik itu tampak langsung menghentikan pembicaraan mereka saat Ayu masuk ke dalam.
“Jangan ganggu kakakmu dulu, dia masih harus banyak istirahat,” ucap Ayu, menaruh nampan di atas meja, lalu mengambil mangkuk berisi bubur.
“Aku tidak mengganggu kakakku, aku hanya menjenguknya. Apa tidak boleh?” cebik Keenan.
“Tidak boleh, kalau kalian berniat untuk berbohong padaku,” ucap Ayu acuh. Sambil menyodorkan satu sendok bubur ke depan mulut suaminya.
“Ayo buka dulu mulutnya,” sambungnya, setelah melihat Ezra malah sibuk berkomunikasi lewat tatapan mata dengan adiknya.
Ayu tahu kalau tadi pagi Ezra berbohong padanya, tentang kejadian tadi malam. Sekarang Keenan juga sepertinya akan berbohong bila dia bertanya.
“Kalian tahu kan, aku tidak suka dibohongi.” Ayu berucap lagi.
Wajahnya terlihat tenang, namun perkataannya berhasil membuat kedua lelaki di dekatnya tertohok.
Kedua kakak beradik itu menelan salivanya dengan susah payah, saat melihat wajah tegas Ayu. Mereka mengakui kalau Ayu memang termasuk wanita yang pandai dan sensitif dengan sekitarnya, walau itu semua masih jauh di bawah Ezra.
Namun, itu cukup menyulitkan mereka ketika akan berdalih dan memberikan kebohongan pada wanita itu.
“Sayang, kamu tega banget sih. Suami lagi sakit malah di tuduh bohong,” melas Ezra, berusaha meluluhkan hati istrinya.
Ayu hanya menghela napas panjang, tanpa berkata apa pun. Saat ini kepalanya terasa sangat berat, ditambah dengan kelakuan suami dan adik iparnya yang menyembunyikan sesuatu darinya. Itu semua membuat beban tersendiri untuknya. Tetapi, sepertinya kedua lelaki itu sangat sulit untuk berbicara jujur kepadanya tentang kejadian semalam.
Promo dulu ya semuanya, jangan lupa mampir di karya keren milik teman literasi aku, ceritanya seru loh, bikin kita nagih buat baca🥰
Judul: PURA-PURA MISKIN
Author: Momoy Dandelion
Blurb:
Pura-pura menjadi orang miskin malah mempertemukan Ruby dengan seorang pemuda kaya yang angkuh dan sombong bernama Melvin.
Lelaki itu tersenyum sinis seakan merendahkan, "Heran kampus bisa menerima mahasiswa jorok seperti ini. Miskin lagi. Ini kampus atau yayasan sosial. Mekanisme yang aneh."
"Hahaha.... Kata-katamu kejam sekali, Vin. Kasihan dia masih baru di sini. Nanti kena mental."
Belum tahu saja mereka kalau orang yang sedang dihina juga anak seorang pengusaha besar.
...🌿...
...🌿...
__ADS_1
...Bersambung...