Berbagi Cinta : Antara Kita

Berbagi Cinta : Antara Kita
Bab.101 Malu


__ADS_3


...Happy Reading...


...❤...


Ayu tampak menutup mulutnya dengan kedua tangan, saat melihat penampakan kamar hotel tempatnya menginap tadi malam.


Matanya mengedar, meneliti setiap sudut keindahan kamar, yang terlihat berbeda dari sebelumnya.


Karpet merah bertabur bunga kelopak bunga mawar putih, tampak menyambut dirinya dari awal ia menginjakkan kakinya di depan pintu.


Juga beberapa rangkaian bunga dan juga lilin aroma terapi yang menambah suasana tampak romantis.


Tidak terlalu mencolok, terlihat sederhana, tetapi penuh kesan yang sangat spesial.


“Bagaimana, apa kamu suka?” Ezra bertanya dengan tangan memeluk posesif pinggang sang istri.


“Kenapa harus seperti ini? A—aku merasa tidak pantas,” ucap Ayu, menatap wajah lelaki yang kini telah resmi menjadi suaminya.


“Ssshh ... kamu pantas, kamu sangat pantas menerima semua ini.” Ezra langsung menggeleng, tidak menyetujui apa yang dikatakan oleh Ayu.


Ayu mengangguk, lalu mulai melangkah masuk ke dalam kamar itu lebih dalam lagi. Ezra tak melepaskan wanitanya itu sama sekali, tangannya terus berada di pinggang ramping sang istri.


Hingga saat Ayu duduk di depan meja rias, lelaki itu baru saja mau untuk melepaskan pelukannya.


“Aku mandi duluan ya!”


Ayu bisa melihat suaminya itu tengah melepaskan jasnya dari cermin. Ayu yang sedang membersihkan sisa make up beranjak berdiri.


“Eh, mau mandi bareng, hem?” Ezra menghampiri Ayu yang hampir saja membuka pintu kamar mandi.


“Bu—bukan, aku mau menyiapkan air,” sangkal Ayu cepat.


“Gak usah, kamu ribet begini, gimana mau nyiapin air, hem? Aku bisa sendiri kok.” Ezra melihat baju Ayu yang menjuntai dan cukup membuat wanita itu kesusahan untuk berjalan.


Ayu melihat gaun pernikahannya yang memang cukup lebar dan panjang, bila dia nekat untuk menyiapkan air untuk suaminya, bukan tidak mungkin kalau sebagian gaunnya akan ikut terkena basah.


“Sana, lebih baik kamu siap-siap aja buat membersihkan diri, sebentar lagi waktu zuhur habis,” ucap Ezra, dengan suara lembut, di iringi senyum dari bibirnya.


Ayu mengangguk, lalu kembali menuju kursi rias, Ezra tersenyum, melihat sikap Ayu yang terlihat sangat canggung.


Setelah semua make up sudah terhapus, Ayu beranjak menuju lemari, tempat bajunya berada, dan ternyata di sana juga sudah ada baju ganti untuk Ezra.


Memilih untuk menyiapkan baju suaminya terlebih dulu, Ayu memilih, kaos santai berwarna putih, yang dipadukan dengan celana rumahan berwarna cream. Tidak lupa pakaian dalamnya, ia sudah tidak canggung menyiapkan semua itu, karena itulah kesehariannya ketika masih menikah dengan Radit dulu.


Menaruh semuanya di atas tempat tidur, agar mudah untuk Ezra. Dalam hati, ia berharap cemas, semoga saja apa yang ia pilihkan juga disukai oleh suaminya.


Berbalik kembali untuk mengambil baju ganti, sekaligus peralatan Shalat untuk mereka berdua.


Namun, ia di buat terkejut dengan apa yang terdapat di sana. Semua bajunya tidak ada sama sekali, yang ada hanya berbagai macam pakaian yang sangat terbuka dan tidak pantas untuk di pakai menurutnya.

__ADS_1


“Baju siapa ini? Ke mana semua bajuku?” gumam Ayu sambil terus mencari baju atau kopernya. Tetapi, sampai suara pintu kamar mandi terbuka, ia sama sekali tak menemukan pakaian yang ia cari.


Ezra keluar dengan wajah yang sudah terlihat lebih segar, dengan hanya menggunakan handuk yang melilit tubuh bagian bawahnya. Salah satu tangannya tampak sedang menggosok rambut yang basah.


“Astagfirullah!” Ayu yang baru saja berbalik untuk menyapa suaminya, mengurungkan niatnya dan kembali membelakangi Ezra, saat melihat penampilan lelaki itu.


Detak jantungnya tiba-tiba saja terasa bertalu, saat bayangan dada bidang lelaki itu terlintas di matanya.


Dengan santainya Ezra melangkah mendekati Ayu, senyum di bibirnya bahkan bertambah lebar melihat sikap Ayu yang menurutnya begitu lucu.


Bukankah wanita itu, sebelumnya sudah pernah menikah, tetapi, kenapa sikapnya bagaikan seorang perawan yang belum pernah melihat tubuh lelaki saja.


Grep ....


Tubuh Ayu menegang, ketika merasakan tubuh atletis dan otot kekar suaminya di belakangnya.


“Kenapa menghindar, hem? Malu?” goda Ezra.


Pipi Ayu langsung memerah, mendengar pertanyaan Ezra. Menundukkan kepala, malu bukan main.


Walaupun ini adalah pernikahan keduanya, tetapi, Ezra adalah lelaki kedua yang ia lihat tubuhnya dalam keadaan setengah telanjang tentunya setelah Radit.


“A—aku ma—mau mandi dulu,” ucap Ayu terbata, menahan gugup.


Ezra terkekeh kecil, lalu sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan, menyamakan letak pipi mereka.


“Cium dulu, baru aku lepas.”


Ayu melebarkan matanya, kemudian ragu-ragu ia memberikan ciuman kilas di pipi sang suami.


“Lalu?” Ayu menautkan alisnya, dengan tangan mencoba melepas lengan kekar Ezra di perutnya. Tetapi, bukannya lepas, pelukan lelaki itu semakin erat.


Ini tidak baik untuknya, ia harus segera membebaskan diri dari suaminya itu.


Aroma maskulin yang menguar memenuhi penciumannya, membuat perasaannya semakin tma menentu.


“Aku maunya di sini.” tunjuk Ezra pada bibirnya.


“Ta—tapi ....”


“Mau lepas gak?” Ezra langsung memotong perkataan Ayu yang mau menolak keinginannya.


Cup


Ezra tersenyum puas, saat mendapatkan kecupan kilas dari sang istri.


Ayu langsung berlari ke kamar madi dan menutup pintunya dengan cukup keras, saat merasakan pelukan Ezra sedikit mengendur.


Brak ....


Tawa puas penuh kemenangan terdengar menggema, saat Ezra bisa sepuasnya mengerjai istrinya itu.

__ADS_1


“Suruh siapa kamu tadi mengacuhkanku dan terus bersama Naura, sekarang kamu gak bisa lari lagi dariku!” gumam Ezra, di sela tawanya.


Ya, setelah kedatangan Naura, Ayu terus saja menempel pada anak itu, sampai Ezra tidak bisa lagi meminta perhatian dari istrinya.


Menoleh pada tumpukan pakaian yang sudah disiapkan oleh Ayu di atas tempat tidur. Hatinya menghangat mendapat pelayanan pertama setelah sekian lama ia melakukan semuanya sendiri, semenjak kepergian mendiang mantan istrinya.


Sudah hampir satu jam Ayu berada di kamar mandi, tetapi, belum ada tanda-tanda wanita itu akan ke luar dari sana.


Ezra sudah mulai gelisah, menunggu istrinya itu, apa lagi waktu sudah mau masuk waktu asar, sedangkan mereka berdua belum melakukan Shalat zuhur.


“Ndi, kamu sudah belum mandinya, sebentar lagi masuk Ashar, kita belum Shalat zuhur.” Ezra berucap sambil mengetuk pintu kamar mandi.


Di dalam, Ayu  duduk di kloset dengan perasaan gusar, wanita itu menggigit bibir bawahnya, menahan perasaan bingung yang menghantuinya.


“I—iya, ini aku udah kok!” ucap Ayu terbata. Memegang kimono mandi yang sedikit terbuka di daerah dada.


Perlahan ia membuka pintu kamar mandi, menyembulkan kepalanya, menatap kikuk wajah Ezra, yang melihatnya dengan kening berkerut.


“A—aku lupa bawa baju ganti,” gumam Ayu hampir tak terdengar.


“Trus, kenapa? Kan ada kimono mandi?” tanya Ezra bagaikan tak tau apa yang kini membuat resah wanitanya.


“A—aku ....” Ayu menunduk kembali, melihat tubuhnya yang hanya tertutup sampai sebatas paha. Menutup matanya, mencoba mengumpulkan keberanian untuk keluar dari kamar mandi.


Dengan perlahan, ia membuka lebih lebar, pintu yang sejak tadi ia tahan. Melangkah ke luar dengan wajah menunduk malu.


Ezra melebarkan matanya, melihat penampilan wanita yang kini menjadi istrinya itu, kulit putih mulus,  yang selama ini tertutup, kini dapat ia lihat dan tak dapat dipungkiri bila semua itu menjadi miliknya.


Rambut berwarna hitam dengan gradasi coklat tua di bagian atasnya, terurai sampai sebatas pinggang, dengan air yang tampak masih menetes dari ujungnya.


“Aku sudah punya wudu!” ucap Ayu, saat melihat tangan Ezra terulur ingin menyentuhnya.


Ekhem ...


Ezra bedehem kikuk, lalu menarik kembali tangannya.


“Kamu, ganti baju dulu aja, aku ambil wudu dulu,” ucap Ezra sebelum masuk ke dalam kamar mandi.


Segera Ayu mengambil baju yang menurutnya, sedikit lebih layak  untuk dipakai dibanding yang lainnya.


Sebuah gaun tidur, berwarna hitam yang terlihat sedikit menerawang, dengan panjang sebatas paha, dan tali kecil di bahu, menjadi pilihannya.


Dan secepat kilat, ia tutupi pakaiannya dengan mukena, agar tak terlihat oleh Ezra. Beralih menyiapkan tempat untuk keduanya menunaikan kewajiban mereka sebagai seorang muslim.


Kini keduanya tengah beribadah untuk yang pertama kalinya sebagai seorang suami dan istri, mereka tampak khusyuk, berdoa, dan meminta untuk kelancaran dalam mengarungi bahtera rumah tangga yang baru saja mereka jejaki berdua.


Berharap semoga ikatan yang kini mengikat mereka berdua, bisa bertahan hingga akhir hayat yang memisahkan. Menjalani setiap susah dan senang dengan penuh cinta dan kebersamaan juga kasih sayang.


...🌿...


...🌿...

__ADS_1


...Bersambung...


Kita nikmati yuporia kebahagiaan Ayu dan Ezra dulu ya, nanti pasti ada saatnya aku bahas bagian dari masa lalu Ayu, termasuk Radit dan karma yang lainnya🙏🥰❤


__ADS_2