
...Happy Reading...
.......β€.......
"Aunty, Rara mau itu aja!" tunjuk Naura pada roti isi dengan toping selai coklat.
Ayu dengan cekatan menyiapkan semua menu sarapan pagi ini. Mulai dari nasi goreng, salad sayur dan roti isi.
Semua itu dia kerjakan berdua bersama Bi Een. Keduanya langsung akrab, karena memang Bi Een yang cerewet dan lucu, membuat Ayu merasa nyaman bersama mereka.
"Pak Ezra mau apa?" tanya Ayu, mengalihkan perhatiannya pada lelaki yang duduk di depannya.
"Aku, nasi goreng aja," jawab Ezra.
Sudah lelah dengan protesnya pada Ayu masalah panggilan. Akhirnya ia menyerah dan menerima saja.
Ayu mengambil piring di depan Ezra, kemudian mengisinya dengan nasi goreng buatan dirinya.
"Segini, cukup?" tanya Ayu.
Ezra mengangguk lalu menerima uluran piring dari Ayu.
Mereka bertiga akhirnya sarapan bersama, dengan di warnai celotehan khas anak kecil dari Naura.
Persis seperti sebuah keluarga kecil, dengan penuh kebahagiaan. Walaupun Ayu dan Ezra masih sangat terlihat kaku dan canggung.
Namun, semua itu malah terlihat sangat lucu dan menggemaskan bagi mereka yang melihatnya. Itu juga yang di rasakan oleh pasangan suami istri yang tak lain adalah Mang Surip dan Bi Een.
"Coba saja kalau Non Ayu, jadi istrinya Den Ezra ya, Pak" Bi Een tampak tersenyum sambil membayangkan kebahagiaan keluarga Ezra bila bersama dengan orang sebaik Ayu.
"Hus! Kamu itu, jangan sembarangan kalau ngomong, kalau ternyata Non Ayu, atau Den Ezra sudah ada calon sendiri gimana?" Mang Surip tampak mengibaskan tangannya di depan wajah.
"Tapi mereka keliatan sangat cocok, Pak. Non Ayu juga sepertinya baik dan sayang sekali sama Non Naura." Bi Een masih saja membicarakan majikannya.
"Iya, aku juga tau kalau Non Ayu, sangat baik dan tulus. Sebaiknya kita doakan saja yang terbaik buat mereka semua." ucap Mang Surip, menasihati istrinya itu.
"Iya, pak. Semoga saja Den Ezra bisa bersama dengan Non Ayu."
Mang Surip hanya bisa geleng kepala, dengan pendapat dari Bi Een yang terkesan memaksakan keinginannya.
Sudah terbiasa dengan sifat istrinya itu yang selalu antusias, bila melihat ada pasangan baru yang menurutnya sangat cocok.
Jangankan ada di dunia nyata seperti Ezra dan Ayu, bahkan bila sedang menonton televisi saja, istrinya itu bisa sampai teriak-teriak kalau sudah ada pasangan kesukaannya.
.
"Papah, aku mau jalan-jalan dulu sama Aunty sebelum pulang, boleh?" tanya Naura menggoyangkan lengan Ezra yang sedang duduk di sofa.
__ADS_1
"Jalan-jalan ke mana, sayang?" tanya Ezra, memandang Ayu yang baru saja datang dari arah dapur.
"Di sekitar sini aja, sepertinya pemandangannya bagus, sekalian mau cari warung untuk beli beberapa kebutuhan," jawab Ayu.
"Kenapa gak nyuruh Mang Surip atau Bi Een aja?" tanya Ezra.
"Sekalian jalan-jalan aja, ini juga di antar Bi Een kok," ucap Ayu.
"Gak usah minta di antar Bi Een kalau gitu, biar sama aku aja."
"Eh, gak usah!" tolak Ayu cepat.
"Gak usah banyak protes. Ayo, kita jalan sekarang?" tanya Ezra beranjak berdiri.
Ayu mengangguk.
"Asiik! Perginya sama Aunty dan Papah!" Naira langsung memeluk Ezra dengan senyum mengembang di wajahnya.
Berjalan ke luar rumah dengan Naura Berada di antara Ayu dan Ezra, bergandengan tangan, di iringi tawa riang yang keluar dari mulut mungil Naura.
*gambar hanya pemanis ya*
Suasana jalanan pedesaan yang terasa sejuk, dengan banyaknya pepohonan rindang di setiap sisinya.
Banyak juga orang-orang yang sedang hilir mudik, menuju tempat kerja mereka di ladang ataupun sawah.
Tak ada yang terlihat membawa ponsel atau permainan modern yang memiliki harga cukup mahal.
Di sini, semua mainnanya terlihat ramah lingkungan, mulai dari main mobil-mobilan yang terbuat dari kayu, lompat tali, layang dan banyak lagi.
Naura tampak ribut, banyak bertanya kepada Ayu maupun Ezra, tentang apa yang baru saat ini dia lihat.
Beberapa warga yang berpapasan dengannya juga saling menyapa dengan sangat ramah.
Walaupun di sini, Ayu sebagai seorang tamu. Tetapi ia merasa sangat nyaman, berada di desa ini.
Sekitar dua puluh menit berjalan, sambil sesekali berhenti karena Naura menemukan sesuatu yang menarik. Akhirnya mereka sampai, di salah satu warung yang terlihat cukup besar di kampung tersebut.
Setelah selesai membeli beberapa barang yang di butuhkan oleh Ayu, dan cemilan milik Naura, mereka kembali berjalan untuk pulang kembali ke vila.
"Aunty, itu ada apa, kok pada rame banget?" tanya Naura, menunjuk kerumunan warga di salah satu tempat yang cukup indah di sana.
"Gak tau, mungkin sedang ada acara di sana," jawab Ayu, ikut melihat arah pandangan Naura.
"Ayo, kita pulang, gak usah ngurusin urusan orang."
Ayu dan Naura langsung mengalihkan perhatiannya pada Ezra.
__ADS_1
"Itu hanya sebuah pemotretan," ucap Ezra lagi, ketika kedua perempuan itu, tampak tidak setuju dengan perkataannya.
"Ooh!"
Ayu dan Naura hanya ber oh ria, sambil berjalan berdua, mendahului Ezra.
Lelaki itu, menggelengkan kepalanya, gemas dengan tingkah kedua perempuan berbeda usia itu. Berjalan mengikuti kemanapun mereka pergi, dengan tangan memegang sayu kantong besar belanjaan.
"Dasar, permpuan," gumamnya tersenyum tipis.
Waktu sudah menunjukan hampir tengah hari, sedangkan mereka masih asik berjalan mengelilingi kampung.
Sepertinya tidak ada kata lelah dari keduanya, berjalan ke sana- ke mari dengan penuh canda tawa.
Tanpa mereka sadari, sepasang mata terlihat memperhatikan gerak-gerik mereka bertiga.
Memandang tajam, dengan aura permusuhan. Kedua tangannya terkepal kuat, tangannya terkepal kuat di samping.
"Brengsek!" umpatnya.
.
Setelah makan siang, Ezra dan Naura pamit untuk pulang ke kota lagi, meninggalkan Ayu di vila, bersama dengan Mang Surip dan Bi Een.
"Kamu gak mau ikut kembali?" tanya Ezra memastikan keputusan Ayu.
"Untuk saat ini aku mau di sini dulu, sampai aku siap kembali bertemu dengan Kak Ansel." jawab Ayu.
"Aku mohon, jangan bilang sama siapa pun kalau aku ada di sini. Aku janji akan kembali kalau aku sudah siap." Ayu menatap mata Ezra penuh permohonan.
Ezra mengangguk samar, "Baiklah, hubungi aku, jika kamu butuh bantuan atau siap untuk kembali," pesan Ezra.
"Iya, aku tau. Terimakasih ... maaf aku selalu saja merepotkan kamu," ucap Ayu.
"Aku tak pernah merasa di repotkan sama kamu, jadi jangan sungkan." Ezra kembali menatap lembut Ayu.
Ayu tersenyum lalu mengangguk.
Setelah memberikan banyak pesan kepada Mang Surip dan Bi Eem, juga drama perpisahan antara Ayu dan Naura.
Ezra dan Ayu akhirnya berhasil membujuk Naura untuk ikut pulang ke kota lagi.
...πΏ...
...πΏ...
...Bersambung...
Jangan lupa tinggalkan jejak ya kakak-kakak baik hatiπβπ₯βπΉββ€
__ADS_1
Terima kasih semuanya ππππ