
...Happy Reading...
...❤...
Satu jam berselang, Ayu mulai membuka matanya, di liatnya dua orang perempuan berbeda usia sedang duduk di sampingnya.
"Ayu, kamu udah sadar?" wanita paruh baya itu berkata dengan sedikit panik.
Ayu bangkit dan duduk di ujung ranjang.
"Hati-hati" ucap Wanita paruh baya yang tak lain adalah Andrea atau Rea.
"Kenapa?" satu kata yang keluar dari mulut Rea sudah mewakili segala pertanyaan yang ada di benaknya.
"Ambu ke luar dulu ya" pamit wanita tua, ibu dari Rea.
Ayu dan Rea hanya mengangguk menanggapi.
Ayu perlahan menceritakan apa saja yang terjadi padanya selama hampir dua bulan ini.
Dari mulai perselingkuhan suaminya dan pertemuannya dengan anak kecil yang ternyata tanpa disadari nya menghubungkan dirinya dengan sang Ayah.
Rea hanya mendengarkan sambil memperhatikan setiap gerakan yang di buat secara tidak sadar oleh Ayu.
Tubuh Ayu bergetar, matanya tak fokus dengan air mata yang terus mengalir.
Suaranya pun terdengar sendu, walau Ayu terlihat jelas sedang menahan emosi nya saat ini.
"Sudah ?" tanya Rea, setelah Ayu tak lagi bercerita.
Ayu mengangguk.
"Sekarang apa yang Ayu inginkan? Apa yang akan membuat Ayu merasa lebih tenang?" tanya Rea lagi.
Ayu diam, dia seperti sedang memikirkan sesuatu.
Selama hampir satu jam Ayu berada di kamar itu bersama dengan Rea.
Tak ada yang berani mengganggu mereka berdua, semua keluarga Rea tau masalah Ayu.
Di sini Ayu sudah di anggap seperti anak sendiri oleh Ambu dan Abah dari Rea, hanya saja Ayu yang masih saja belum bisa terlalu terbuka pada keluarga ke duanya itu.
Tapi, mereka tak ada yang merasa keberatan dengan semua itu. Ambu dan Abah menganggap itu sebagai sifat Ayu karena masa lalu yang ia lewati.
Terlalu banyak di sakiti oleh orang asing, membuat Ayu merasa sulit untuk percaya lagi, bahkan hanya untuk berbicara dan terbuka pada orang di dekatnya.
Maka dari itu, Rea sangat berperan penting dalam kesehatan Ayu selama ini.
.
.
Di tempat lain, seorang lelaki yang baru saja sampai di rumah kedua orang tuanya, langsung di sambut oleh adik sekaligus asisten pribadinya.
"Bagaimana?" tanya nya.
"Aku sudah mendapatkan informasinya Kak."
__ADS_1
"Kirimkan padaku sekarang juga," ucapnya datar.
"Baik" angguk sang asisten sambil kembali menuju kamarnya.
Lelaki itu langsung masuk ke kamar pribadinya, duduk bersandar di sebuah sofa besar.
Pandangannya tertuju pada bingkai besar yang tergantung di depannya.
Bingkai sebuah foto dirinya bersama seorang wanita dengan berbalut baju pengantin berwarna putih bersih.
Tersenyum penuh kebahagiaan dengan taburan kelopak bunga mawar. Sangat indah, walau pernikahan itu tak berjalan lama.
"Dira, kamu bahagia kan di sana?" tanya lelaki itu dengan mata menatap sendu.
"Maafkan aku, karna sepertinya sekarang aku sudah menemukan sosok yang pantas untuk menjadi ibu bagi anak kita,"
"Aku berjanji tak akan pernah ada orang yang bisa menggantikan dirimu di hatiku, namun kau sudah mendapatkan satu sisi hatiku sebagai kenangan indah." Lelaki itu berucap lirih sambil memegang salah satu dadanya tempat jantungnya berdetak.
.
.
Ayu berdiri di salah satu sisi lapangan, tempat untuk berlatih bela diri.
Bajunya sudah basah oleh keringat, namun itu tak menjadi halangan untuk Ayu terus melatih bela dirinya.
Ayu menggunakan itu untuk melampiaskan amarah dan kesedihan yang ada di dalam hatinya.
Satu jam sudah Ayu berlatih dengan di tonton oleh banyaknya murid di sana.
Rumah Ambu dan Abah adalah suatu padepokan bela diri yang cukup terkenal di daerah itu.
"Sudah Ayu, sekarang kamu istirahat dulu" Abah menghampiri anak angkat nya itu.
"Terima kasih Abah" ucap Ayu kemudian membungkukkan badannya sebelum melangkah pergi dari sana.
Ayu adalah salah satu senior di sana yang sudah sering membantu mengajar di padepokan.
Maka dari itu semua murid di sana sudah tidak asing lagi dengan keberadaan Ayu.
Ayu berjalan menuju ke belakang padepokan, di sana masih menjadi lahan perkebunan dan sawah milik Abah.
Ayu duduk bersandar di bawah salah satu pohon yang langsung menghadap ke sawah.
Ayu menutup matanya, menikmati angin sejuk yang menerpa tubuhnya.
Berteman langit yang mulai berwarna jingga, dan kacau burung yang terdengar merdu.
"Senang banget sih kamu di sini?"
Suara seseorang membuat Ayu langsung membuka matanya.
" Bang Galang...!" Ayu langsung menegakkan tubuhnya.
Matanya mengerejap lucu, melihat seseorang yang sudah lama tak ia temui, kini ada di sebelah nya.
Lelaki yang di sebut Galang oleh Ayu itu tersenyum hangat pada Ayu.
"Abang kapan pulang?" tanya Ayu menoleh sekilas pada lelaki di sampingnya, lalu kembali memandang lurus.
__ADS_1
"Belum lama, baru tiga hari" jawab Galang dengan pandangan tak lepas dari wajah Ayu.
"Oh, gitu ya, udah pergi gak pamit, terus sekarang pulang juga gak ngabarin aku?" cecear Ayu dengan wajah di buat kesal.
" Hahaha... Kamu ini masih aja kayak anak kecil " gelak Galang merasa gemas dengan ekspresi Ayu saat ini.
"Abang, kerudung aku rusak" cebik Ayu saat lelaki itu mengacak puncak kepalanya.
Galang hanya terkikik geli.
Dua tahun tak bertemu dengan gadis kecilnya, ternyata tak mengubah apapun di antara mereka.
Ayu masih saja bersikap seperti anak kecil dengan tingkah-tingkah lucu nya.
Galang mengepalkan kedua tangannya ketika mengingat cerita dari sang Kakak, Rea.
Tak pernah menyangka kalau Ayu akan di sakiti oleh lelaki yang telah di pilih untuk menjadi pendamping hidupnya sendiri.
Galang tau, bagaimana Ayu berjuang dari kenangan buruk masa lalu nya akibat perpisahan kedua orang tuanya.
Dan tadi ia bisa melihat Ayu begitu terpuruk kembali.
Selama dua tahun ini Galang pergi ke luar negri untuk meneruskan Study nya dan satu alasan lainnya yang hanya dirinya dan Rea yang tau.
"Gimana kabar Kakak sekarang?" tanya Ayu.
"Aku baik, kamu sendiri gimana?"
"Baik, aku baik kok" ucap Ayu.
Hufth...
Hembusan napas itu terdengar sangat berat, hingga membuat Ayu menoleh kan wajahnya, memandang Galang dengan alis bertaut.
"Gak usah sok baik-baik aja, kalau kenyataannya tidak" Galang melirik sekilas Ayu dan kembali menatap lurus.
"Kalau udah tau ngapain nanya lagi," dengus Ayu memajukan bibirnya.
"Bilang sama Abang, mau di apakah bajing*n itu, biar nanti Abang kasih pelajaran dia" Galang menggeser posisi duduk nya menghadap ke Ayu.
Ayu menggeleng, "Tidak usah Bang, Ayu sudah terima semuanya" ucap Ayu menatap kembali wajah tampan di depannya.
Galang mengangguk pasrah.
"Baiklah, terserah padamu saja, tapi kalau ada apa-apa kamu harus bilang sama Abang ya, ingat sekarang Abang selalu ada di sini bersama kamu "
"Iya Bang, aku tau" ucap Ayu.
Mereka duduk bersama sambil berbincang, hingga Adzan magrib berkumandang.
Ayu memutuskan untuk menginap di sana dan akan pulang ke esok harinya.
...🌿...
...🌿...
...🌿...
...Bersambung...
__ADS_1
...🙏😊🥰...