
...Happy Reading ...
...β€...
Tengah hari yang terik,dengan matahari yang bersinar penuh, walau awan kelabu mulai terlihat menyelimuti langit biru siang itu.
Ayu baru saja selesai menjalankan kewajibannya sebagai seorang muslim.
"Assalamualaikum ... Aunty!" seruan dua orang anak kecil yang sudah membuat hari-hari Ayu terasa lebih berwarna, membuat senyum di bibir yang masih terlihat sedikit pucat milik wanita yang duduk di atas brangkar rumah sakit, mengembang sempurna.
"Wa'alaikumsalam ..." jawab Ayu, mengalihkan pandangannya pada pintu masuk.
Pukul sepuluh nanti, Ansel harus meninggalkan sang adik karena ada panggilan darurat dari rumah sakit.
"Waah ... cantik dan gantengnya, Aunty, sudah pulang sekolah ya!" ujar wanita cantik dengan pakaian pasien rumah sakit.
"Iya, Aunty!" jawab keduanya menghampiri wanita yang mereka panggil Aunty itu.
"Bagaiman kabar kamu?" tanya Elena, ketika sudah berada di samping ranjang.
"Allhamdulillah, sudah lebih baik, Kak." jawab Ayu, tersenyum hangat pada kakak iparnya.
Beberapa saat kemudian seorang dokter permpuan dan suster datang, untuk melakukan pengecekan.
Setelah melakukan berbagai prosedur pemeriksaan dan memberikan resep obat yang harus di minum oleh Ayu, keduanya pamit kembali.
Elena yang memang berpropesi sebagai apoteker dan mempunyai beberapa gerai apotek, ikut mendengarkan penjelasan dari dokter yang memeriksa Ayu.
"Makan dulu ya?" Elena mengambil menu makanan yang baru saja di ajarkan oleh salah satu suster rumah sakit tersebut.
"Sini ... Tante El, biar Rara yang suapin Aunty," Naura mengulurkan tangannya meminta piring yang berada di tangan Elena.
Ayu, tersenyum melihat sikap lucu Naura.
"Bian juga mau suapin Aunty, Mommy!" rengek Bian.
"Biar Aunty pegang piringnya ya, nanti Naura dan Bian, gantian suapin Aunty," ujar Ayu, mengambil piring yang sudah berada di pangkuan Naura.
Saat ini, kedua anak itu sedang duduk di sebelah Ayu.
Siang itu, rasa sakit di hati Ayu, terasa sedikit di terobati, dengan sikap dari kedua anak yang tanpa terasa sudah masuk ke dalam hatinya.
Dua puluh menit kemudian, Ansel dan Ezra pun datang bersamaan.
Ikut bergabung di ruangan rawat wanita cantik itu, yang kini terasa ramai.
Ayu tersenyum hangat, melihat keceriaan di wajah orang-orang di ruangannya.
Ansel dan Ezra tampak sedang berbincang di sofa.
Sedangkan Naura dan Bian, bermain bersama di salah satu sudut ruangan di atas sebuah karpet bulu.
Dirinya sendiri, sedang di temani oleh Elena - sang kakak ipar, yang terus saja bercerita dan mengajaknya berbicara.
__ADS_1
Ayu sendiri merasa heran dengan wanita beranak satu itu, sepertinya, dalam dirinya tidak pernah kehabisan kata-kata, untuk berbicara dengan orang lain.
Sekitar pukul dua siang, Ansel, Elena dan Bian, pamit pulang lebih dulu, untuk mengganti baju, sekaligus membawa baju ganti untuk Ayu.
Karena menurut dokter, Ayu harus di rawat setidaknya satu malam lagi.
Sedangkan Ezra dan Naura masih tetap tinggal.
Naura sudah tertidur di samping Ayu, sedangkan Ezra duduk di sofa.
Tidak ada yang berinisiatif untuk memulai pembicaraan di antara kedua orang teesebut.
Ruang rawat tempat Ayu di rawat, berubah menjadi hening, seakan suara napas mereka saja akan terdengar.
Ayu, hanya sibuk dengan pikirannya mengenai hubungannya dengan sang kakak dan ayahnya, di tambah lagi, hari ini juga sidang kedua dengan jadwal mediasi berikutnya.
Namun, karena dirinya sakit, ia tidak bisa menghadiri menghadirinya.
Entah bagaimana situasi di sana, Ayu hanya bisa mempercayakan semuanya pada pengacara yang ia pilih untuk mengurus proses perceraiannya.
"Sudah lebih baik?" Ezra bertanya dengan nada yang terdengar kaku.
Ayu menoleh kepada lelaki yang berjalan menghampirinya.
Ezra mengelus kepala sang anak yang tampak pulas di samping Ayu, lalu duduk di kursi yang berada di samping ranjang rumah sakit Ayu.
"Allhamdulillah, sudah lebih baik," ucap Ayu.
"Terima kasih, kamu sudah memberikan kasih sayang kepada Naura ... maaf karena dia selalu membuat kamu kerepotan, dengan sifat manjanya," Ezra menatap lekat wajah cantik di hadapannya.
Ayu menundukkan kepalanya.
"Baguslah, kalau kamu juga senang," Ezra bernapas lega.
Ayu langsung mengangkat kepalanya.
"Hah?!"
"Tidak apa-apa, tidak usah di pikirkan," ucap Ezra.
Braak ....
Suara pintu yang terbuka dengan cukup keras, mengalihkan perhatian kedua orang berbeda jenis itu.
"Ay, kamu gak papa? Kenapa kamu enggak bilang sama aku kalau kami sakit?" Radit berjalan menghampiri Ayu, dengan wajah yang terlihat sangat khawatir.
Dia bahkan belum menyadari keberadaan Ezra dan Naura di sana.
"Aku baik .... Dari mana Abang tau, aku di sini?" tanya Ayu, ia tak mai menjawab pertanyaan yang dari lelaki yang masih berstatus sebagai suaminya.
"Kamu tak datang ke pengadilan, sekarang kamu bertanya dari mana aku tau? .... Harusnya aku yang bertanya padamu, kenapa kamu tidak mengabari aku?"
"Aku ini masih suami kamu, Ay! Kamu masih tanggung jawab aku," ujar Radit, dengan penuh penekanan.
Ezra hanya melihat drama rumah tangga di hadapannya, tanpa berniat untuk ikut campur.
__ADS_1
Ayu melirik pada Ezra, ia merasa tidak enak kepada lelaki yang merupakan sahabat dari sang kakak itu.
Radit yang baru menyadari ada orang lain di ruangan itu, mengalihkan pandangannya pada Ezra.
Menatap tajam dengan aura permusuhan yang lumayan membuat Ayu semakin canggung.
"Anda siapa? Kenapa Anda ada di sini?"
"Aku?" Ezra menunjuk dirinya sendiri, memastikan kalau pertanyaan yang di lontarkan oleh Radit adalah untuk dirinya.
"Ya, Anda, siapa lagi?!" sarkas Radit, menatap tajam lelaki lawan bicaranya.
"Aku, hanya melakukan perintah dari sahabatku, untuk menjaga adiknya, sekaligus menunggu anakku," jawab santai Ezra, membalas tatapan Radit lebih tajam lagi.
"Sahabat? ... Siapa?" Radit menautkan alisnya dalam.
"Dia, sahabatnya kakakku," jawab Ayu, yang menyela perkataan yang akan terlontar dari mulut Ezra.
"Sejak kapan kamu mempunyai kakak?" Radit beralih menatap Ayu.
"Bahkan kamu tidak tau, kalau istriku mempunyai seorang kakak? Masih pantas lelaki seperti dirimu di panggil seorang suami?" sindir Ezra tajam.
Nada bicaranya begitu santai, bahkan seperti sedang bermain-main, namun kalimatnya begitu menusuk jantung orang yang di tuju.
"Bukankah dulu aku pernah bilang, kalau aku masih mempunyai seorang kakak dan ayah? ... Sekarang aku sudah bertemu kembali dengan mereka." jawab Ayu.
Radit membolakan matanya, menatap terkejut kepada Ayu.
"Mengapa kamu tidak pernah bilang semua ini padaku, Ay?" Radit menatap kecewa pada wanita yang masih menjadi istri pertamanya.
"Bagaimana aku bisa bilang padamu, Bang? Kalau nomor teleponku saja kamu blokir!"
Radit menggeleng ribut, ia merasa tak pernah memblokir nomor sang istri.
Ezra tersenyum miring, dengan kepala menggeleng miris.
Dia merasa tak habis pikir, ternyata ada seorang lelaki sebodoh suami dari wanita yang ia sukai itu.
Dia bahkan tak menyadari kelicikan dari istri keduanya, hingga rela meninggalkan istri pertama yang begitu sempurna, demi istri kedua yang hanya bermodal tampang saja.
Radit memeriksa ponselnya, dan ternyata benar saja, nomor Ayu sudah di blokir dari daftar teleponnya.
'Ini pasti ulah Mala' batin Radit, mengepalkan tangannya.
...πΏ...
...πΏ...
...Bersambung...
Jangan lupa tinggalkan jejak ya kakak-kakak baik hati ...ππππ₯°π₯°
Kalau ada typo tolong ingatkan ya, sekarang kan sudah bisa komen di setiap paragraf, biar bisa saya revisi lagi...π€π€
Terima kasih semuanya, lope lope sekebon buat kalian semuaβ€β€β€β€β€β€
__ADS_1
Oiya, selamat tahun baru untuk kita semua, semoga di tahun yang baru, kita semua bisa lebih baik dan lebih maju lagi dari tahun-tahun sebelumnya...π€²π€²
...πππHAPPY NEW YEARπππ...