
...Happy Reading...
...❤...
Setelah kepergian Nawang dan Garry, Ezra menyuruh Ayu untuk istirahat. Dia tahu istrinya itu kurang tidur semalam karena menjaga Naura.
“Sayang, kamu istirahat aja, mumpung Naura juga tidur.”
Ayu mengangguk, sebetulnya tubuhnya sudah merasa begitu lelah, bahkan kepalanya sudah terasa pening sejak tadi, tetapi, dirinya merasa tidak enak bila harus tidur, sedangkan kedua mertuanya ada di sana.
Ezra memberikan bantal tambahan, Agar posisi Ayu tetap lebih tinggi dari Naura, juga lebih nyaman.
“Apa terasa lebih nyaman?” tanya Ezra, setelah ia melihat kepala Ayu merebah di atas bantal yang ia posisikan.
“Hem.” Ayu hanya menggumam sebagai jawaban, matanya langsung terpejam, ini terasa sangat nyaman.
Ezra duduk di sisi brankar sebelah istrinya itu, mengusap pelan puncak kepalanya. hingga napas Ayu terdengar lebih teratur dan terlelap. Seperti yang ia lakukan setiap malam, menjelang Ayu tidur.
Ayu menikmati rasa semua perhatian yang diberikan Ezra, ia selalu merasa nyaman saat suaminya itu mengelus puncak kepalanya, sambil sesekali mendaratkan ciuman di sana. Hatinya menghangat, ia merasa sangat dicintai oleh suaminya, setiap perlakuan lembut dan penuh perhatian dari Ezra juga selalu menambah rasa cintanya untuk sang suami.
Ezra tersenyum saat melihat istrinya sudah terlelap, dia berdiri kemudian memberikan kecupan singkat di kening dan bibirnya.
“Terima kasih, kamu sudah memberikan perhatian dan cintamu sepenuhnya untukku dan Naura, hingga dia dapat merasakan kasih sayang seorang ibu darimu. Aku mencintaimu ... sangat,” bisiknya, dengan bibir yang masih menempel di kening Ayu.
Seharian ini, dia disuguhi pemandangan yang membuat siapa pun mungkin tidak akan percaya kalau Ayu dan Naura adalah seorang anak dan ibu sambung, keduanya begitu dekat dan penuh kasih sayang.
Dirinya merasa begitu beruntung mendapatkan istri seperti Ayu, setiap harinya rasa itu bahkan tak pernah pudar dan semakin bertambah besar. Ayu bagaikan sebuah kebahagiaan dan nyawa dalam setiap langkahnya.
Ezra bahkan tak bisa memikirkan bagaimana kehidupannya dan juga Naura bila tanpa wanita itu, setelah selama hampir dua bulan ini keduanya begitu bergantung dengan Ayu.
Membetulkan selimut untuk kedua perempuan yang sangat dicintainya, Ezra berjalan menuju sofa dan membiarkan mereka tertidur lelah dalam posisi saling memeluk.
Kembali menyibukkan dirinya dengan berbagai pekerjaan di laptop, Ezra tehanyut oleh semua itu. Hingga suara ketukan pintu membuat membuatnya langsung mengalihkan pandangan.
“Kak.” Keenan menyapa begitu pintu terbuka sedikit.
Ezra bisa menebak, kalau adiknya itu langsung datang ke sini setelah dari kantor, itu sangat terlihat dari pakaian yang dikenakan.
“Masuklah,” ucap Ezra, tanpa beranjak dari tempat duduknya. Dia hanya meregangkan sedikit otot yang terasa kaku, lalu menutup laptopnya.
“Bagaimana kondisi Naura?” tanya Keenan, dia hanya melirik sekilas pada brankar, karena ada Ayu di sana.
“Lebih baik, panasnya sudah turun, tetapi dia masih belum mau dilepaskan oleh ibunya,” jelas Ezra, matanya kembali memandang ke arah brankar.
“Syukurlah kalau begitu, aku sangat terkejut tadi saat Kakak bilang Naura terkena DBD. Bukankah itu penyakit yang berbahaya?” ujar Keenan.
Ya, tadi pagi Ezra memang menelepon adiknya, untuk memberi kabar kalau dirinya tidak ke kantor karena Naura di rawat di rumah sakit.
“Hem, aku juga begitu ... apa lagi Nindi, dia bahkan bertanya berkali-kali pada dokter, untuk meyakinkan informasi tersebut. Beberapa lama dia sempat merenung dan mengira-ngira, di mana Naura digigit oleh nyamuk dan menyalahkan dirinya, karena merasa lalai dalam menjaga Naura.” Ezra bercerita dengan tatapan terus tertuju pada istrinya itu.
__ADS_1
Tadi pagi, ia bahkan harus meyakinkan dan meminta penjelasan detail dari dokter, untuk menenangkan perasaan istrinya itu.
Ditambah lagi penjelasan Dari Ansel saat berkunjung, sahabat sekaligus kakak iparnya itu bahkan menegaskan kalau tidak akan terjadi apa-apa pada Naura.
“Sampai segitunya?” tanya Keenan, menatap Ezra dengan alis bertaut.
“Hem,” angguk Ezra.
Kedua kakak beradik itu lanjut membicarakan tentang pekerjaan dan yang lainnya.
“Apa, Kakak, tidak berniat memberi tahu Kak Nindi atau Om Larry tentang kejahatan Arumi dan Melati?” tanya Keenan.
Ezra memandang adiknya dengan alis bertaut, ia merasa tidak pantas untuk membahas itu di sini, apa lagi ada Ayu. Dirinya takut istrinya akan terbangun nanti.
“Bukannya sebaiknya mereka tahu ,Kak? Biar Om Larry tidak merasa bersalah dengan kematian mereka.” tidak menghiraukan tatapan tajam Ezra, Keenan malah melanjutkan perkataannya.
Hufth
Ezra menghembuskan napas panjang, dia bingung mau menjawab apa, karena sebetulnya dirinya masih bimbang akan hal itu.
“Entahlah, aku takut mereka terlalu syok bila mengetahui kenyataannya.” Ezra memundurkan tubuhnya, bersandar pada sofa, dengan tatapan tak lepas dari atas brankar, tempat istri dan anaknya tengah tertidur.
“Tapi, Kak. Menurutku lebih baik Kakak beri tahu semua itu pada mereka. Jujur saja, aku merasa sangat tidak suka ketika Om Larry dan Ansel masih suka membahas dan mengenang orang-orang brengsek itu.”
“Bagaimana mungkin Om Larry dan Ansel masih bisa memikirkan orang munafik yang memanfaatkan mereka hanya untuk uang, lagi pula bukankah mereka tidak mempunyai hubungan darah. Melati kan anaknya Lucas bukan anaknya Om Larry. Ck,” geram Keenan, dia sampai berdecak di akhir kalimatnya.
“Lihatlah bahkan di rumah Om Larry masih banyak terpasang foto dua orang itu!” kesal Keenan.
Ezra mengangguk, jangankan Ayu, bahkan dirinya saja merasa tidak nyaman, bila harus berkunjung ke rumah Larry. Rasanya ingin sekali ia melempar dan membakar semua foto mereka, yang masih terpasang di rumah itu. Emosi dan kebenciannya selalu muncul kembali bila melihat wajah-wajah penuh tipu muslihat mereka.
“Kak mereka bukan hanya menggunakan Om Larry sebagai mesin penghasil uang, tetapi, kakak ingat kalau mereka bahkan berniat, untuk menjual Kak Nindi ke pelelangan dan menjadikannya budak s*k para lelaki biadab!” Alis Keenan semakin menukik tajam, memperlihatkan kalau dirinya juga marah dengan semua itu.
“Mereka itu bukan manusia, Kak. Tapi mereka iblis yang berpura-pura sebagai manusia. Aku bahkan curiga kalau kecelakaan Om Larry dan Tante Puspa, juga ada sangkut pautnya dengan mereka.”
“Oh, bahkan kecelakaan kedua orang tua Om Larry, apa mungkin itu juga rencana mereka?!” tebak Keenan, menggebu-gebu.
“Dasar keluarga mafia biadab, untung saja sekarang mereka sudah mati!”
Ezra menatap adiknya yang terengah, setelah mengeluarkan perkataan beruntun, dengan tempo yang cepat. Keenan saat ini bahkan seperti ibu-ibu komplek yang sedang membicarakan keburukan tetangganya.
Menghembuskan napas kasar, lalu kembali menatap Ayu yang terlihat masih tertidur lelap.
‘Syukurlah, setidaknya Nindi tidak mendengar perkataan dari mulut lemas Keenan’ gumamnya dalam hati.
“Sudahlah, biar nanti aku pikirkan lagi. Kamu ini sudah seperti mama, kalau sedang berkumpul dengan teman arisannya,” cibir Ezra, lelaki itu memijat pangkal hidungnya, memikirkan itu kembali membuat dirinya merasa sedikit pening.
“Tidak usah, kami sudah mendengar semuanya!” tiba-tiba terdengar pintu terbuka dan suara yang penuh emosi tertahan.
Keenan dan Ezra langsung mengalihkan pandangannya pada pintu masuk, di sana dua orang lelaki terlihat berdiri dengan wajah merah penuh amarah.
Ezra mengusap wajahnya kasar, dirinya benar-benar gusar saat melihat keberadaan Larry dan Ansel di sana.
__ADS_1
“Papa, Ansel, silakan masuk,” ucapnya, sambil berdiri.
“Tidak, lebih baik jangan membicarakan ini di sini, kita bicara di luar saja,” ucap Ansel, setelah melirik ke arah brankar.
Ezra dan Keenan mengangguk lalu memilih berjalan mengikuti Larry dan Ansel. Mereka memilih berbicara di kafe yang berada tepat di depan rumah sakit.
Seiring terdengar pintu ditutup Ayu membuka matanya, dengan setetes air berhasil keluar. Dia mendengar semuanya, sama seperti ketika Larry datang dan memaharahi Ansel sewaktu menjaganya dulu. Suara Keenan terdengar berisik mengganggu tidurnya, dia hampir saja membuka mata, saat otaknya tiba-tiba bisa mencerna apa yang dikatakan Keenan. Dirinya akhirnya memutuskan untuk tetapi menutup mata, dengan tangan mengepal kuat di bawah selimut.
Ayu tak pernah menyangka kalau Arumi begitu jahat kepadanya, bagaimana mungkin wanita itu berniat untuk menjualnya, sedangkan Arumi saja seorang wanita dan mempunyai anak perempuan.
Wanita itu melepas sedikit pelukan Naura padanya, berangsur duduk dengan bersandar di sisi brankar. Menghembuskan napas kasar mencoba meredam rasa sesak yang ada di dalam dirinya.
Rasanya semua itu begitu mengejutkan, walau di dalam hati ia juga tak menampik kalau Arumi dan Melati bukanlah orang yang baik.
Entah berapa lama dirinya duduk dengan mengatur napas, berusaha menenangkan diri, sesekali ia bahkan mendongakkan kepalanya agar air matanya tak terus keluar. Hingga suara kecil itu menyapa telinganya.
“Mama.”
Ayu langsung menghapus jejak air di wajahnya, dengan menampilkan senyum hangat, ia melihat Naura.
“Iya, sayang. Mama di sini,” jawabnya, salah satu tangannya masih mengusap lembut puncak kepala Naura.
“Aku mau pipis, tapi takut bangun,” ucapnya.
Ayu tersenyum lagi. “Sini biar Mama gendong,” tawar Ayu, beranjak turun dan merentangkan tangannya, bersiap untuk membawa Naura kedalaman pelukannya.
Namun, gadis kecil itu menggeleng. Ayu mengernyitkan keningnya, melihat penolakan dari Naura.
“Kenapa, sayang? Katanya mau pipis?” tanya Ayu, lembut.
“Rara mau di gendong sama Papa aja, nanti Mama berat kalau gendong Rara ke kamar mandi,” jawab Naura lirih.
Ayu menatap mata sayu anaknya, dia tak menyangka, perkataan penuh perhatian itu keluar dari mulut kecil anak sambungnya.
“Tidak apa, Mama masih kuat kok, kalau cuma gendong Naura ke kamar mandi.”
Naura kembali menggeleng, dia bisa melihat tubuh Ayu yang lemah, dan wajah pucat juga sedikit sembab, gadis kecil itu cukup tahu kalau ibunya sedang tidak baik-baik saja.
“Tolong panggilin papa aja ya, Mah,” ucap Naura lagi.
Akhirnya Ayu mengangguk, ia mengambil ponsel untuk menelepon suaminya.
“Assalamualaikum, Mas .....”
...🌿...
...🌿...
...Bersambung...
Nah kan, jadi gimana tuh, semuanya udah tau kebenaran tentang Arumi, Melati sama Abra kadabra, gara-gara mulut lemasnya kenan yang gak bisa berhenti ngomongin orang🤭😂😂
__ADS_1
Terima kasih atas semua dukungannya, lope-lope buat kalian semua😘❤❤❤