
...Happy Reading...
...❤...
Sampai di hotel, Keenan langsung mengantar Riska ke dalam kamar. Dirinya sedikit khawatir, saat melihat wajah pucat istrinya.
"Aku mau mandi dulu," ujar Riska, begitu mereka sampai di kamar.
Keenan mengangguk, dia pun mengantar istrinya ke kamar mandi.
"Mau aku temenin?" tanya Keenan kemudian.
"Gak usah, aku bisa sendiri." Riska menggeleng.
"Baiklah. Hati-hati," pesan Keenan, sebelum dia keluar dari kamar mandi.
Riska mengangguk. Perasaan syok karena kejadian tadi, sudah mulai memudar.
Setelah memastikan istrinya masih ke dalam, Keenan menelepon seseorang melalui ponselnya.
Keenan berjalan menuju sofa, duduk dengan menghadap ke arah kamar mandi, melihat pintu yang kini masih tertutup.
Menghubungi layanan kamar melalui telepon yang ada di sana, untuk memesan makan siang yang tertunda.
Beberapa saat kemudian, Riska tampak keluar, dengan menggunakan jubah mandi.
Keenan berdiri, dia menghampiri istrinya.
"Mau aku bantu?" tanya Keenan.
"Gak usah. Udah, aku gak apa-apa kok. Abang gak usah khawatir berlebihan kayak gitu," ujar Riska, dia pun mengambil baju ganti lalu hendak berbalik menuju kamar mandi.
"Mau ke mana?" tanya Keenan, mencekal lengan istrinya.
Riska menoleh, dia menunjukkan baju yang masih ia pegang di tangannya.
"Ganti baju," jawab Riska.
"Kenapa harus ke kamar mandi, di sini saja. Kan aku sudah lihat semuanya, buat apa kamu malu lagi sama aku," ujar Keenan, dia mulai menggoda istrinya, mencoba mengalihkan perhatian Riska dari kejadian tadi.
"Apa sih, Bang. Gak mau, aku mau ganti baju di kamar mandi," jawab Riska, sambil melepaskan tangan Keenan dan kemudian berjalan cepat menuju kamar mandi.
"Sayang, ganti baju di sini saja!" Nada suara Keenan sedikit lebih kencang. Karena Riska sudah hampir sampai ke kamar mandi.
Brak!
Riska menutup pintu dengan cukup kencang.
"Abang! Gak usah mesum!" teriak Riska dari dalam kamar mandi.
Keenan terkekeh, dia cukup puas melihat rona di pipi istrinya sudah kembali, juga cerwetnya.
Suara ketukkan di pintu, menghentikan tawanya. Keenan berjalan menuju pintu masuk.
__ADS_1
Ternyata karyawan hotel yang mengantarkan makan siang, untuk mereka berdua sudah datang.
Dia pun membiarkan mereka masuk, dan menata makan siangnya di meja.
"Terima kasih," ujarnya, yang dibalas anggukkan kepala dan senyum ramah dari para karyawannya itu.
Dia kembali duduk di sofa, menunggu istrinya keluar dari kamar mandi. Dia mengeluarkan ponselnya dan menelepon manajer hotel.
"Tolong urus kejadian tadi, dan cari tahu apa itu disengaja atau hanya sebuah kecelakaan biasa," ujar Keenan, begitu tersambung pada orang yang dituju.
"Baik, Pak."
"Kabari saya, kalau ada sesuatu yang janggal. Dan berikan kompensasi untuk pegawai yang terluka tadi," perintah Keenan lagi.
Dia pun langsung menutup teleponnya setelah mendengar pintu kamar terbuka.
"Sayang, sini duduk ... kita makan siang dulu," ujar Keenan menepuk sofa di sampingnya.
Riska mengangguk, dia pun menghampiri suaminya.
"Telepon dari siapa?" tanya Riska, begitu duduk di samping sang suami.
"Oh, aku ada kenalan di sini, tadi dia menyuruh aku mampir ke rumahnya. Tapi, aku tidak bisa, kan nanti sore kita akan pulang," jawab Keenan, memilih untuk tak memberi tahu istrinya.
Beberapa saat kemudian, keduanya sudah mulai makan siangnya yang sedikit terlambat, karena kejadian mengejutkan itu.
"Maaf ya, kita malah makan siang di hotel lagi," ujar Keenan.
Ada rasa bersalah di dalam hatinya, karena lagi-lagi, rencana mereka harus batal, dan kembali ke hotel.
Keenan pun membalas senyum istrinya, mengusap pelan puncak kepala Riska.
"Terima kasih, kamu sudah mau mengerti aku," ujar Keenan.
"Bang, aku gak apa-apa, lagipula liburan di hotel dengan pemandangan pantai yang indah, juga bukan sesuatu yang buruk," jawab Riska.
"Maafkan aku juga. Karena aku merajuk, kemarin kita tidak jadi jalan-jalan deh." Riska menatap suaminya sekilas, lalu menundukkan kepalanya, merasa bersalah.
"Tidak apa, kita bisa ke sini lagi, kapan-kapan. Iya kan?" Keenan mengangkat daku istrinya, menuntun mata mereka agar bertemu.
Riska mengangguk samar, dengan senyum tipisnya.
Cup.
Keenan memberikan sedikit kecupan di bibir Riska, sebelum dia melepaskannya.
Riska tak menolak ataupun mengoceh seperti biasa, dia hanya ikut tersenyum dengan wajah yang semakin tersipu.
Mereka pun akhirnya memulai makan siangnya, setelah sedikit canda mewarnai hari mereka.
Sore harinya, Keenan dan Riska sudah berada di bandara, dengan satu koper di tangan masing-masing.
Ya, Riska juga cukup terkejut, saat tahu kalau suaminya ternyata sudah menyiapkan oleh-oleh untuk dibawa pulang, dan mengemasnya dalam satu koper berbeda.
.
__ADS_1
.
Di tempat lain, seorang wanita merasa puas, karena sudah mengacaukan bulan madu sepasang suami istri.
Dia berada di sebuah restoran, bersama seorang lelaki di depannya. Mengetik sesuatu di layar ponselnya, lalu memperlihatkannya pada lelaki tersebut.
"Sisanya sudah aku trasfer, pergilah dari tempat ini, dan pastikan tidak ada yang tau tentang rencana kita," ujarnya kemudian.
Lelaki itu tersenyum senang, dia menyandarkan tubuhnya pada kursi, menatap wanita di depannya dengan wajah puas.
"Anda bisa mempercayai saya. Baiklah, kalau tidak ada lagi yang perlu Anda bicarakan, saya permisi," ujar lelaki itu, sambil berdiri lalu mengulurkan tanagnnya.
"Senang bekerja sama dengan Anda, Nyonya Alana."
Alana tersenyum dan menyambut tangan lelaki di samingnya.
"Aku sudah membayarmu mahal. Jadi, kalau sampai kamu tertangkap, jangan sampai kamu sebut namaku," ujar Alana, sebagai kata terakhirnya.
"Anda, bisa mempercayai saya, Nyonya Alana."
Alana tersenyum dengan kinerja orang bayarannya itu. Walaupun ia cukup kecewa karena salah satu dari targetnya, tidak ada yang terluka sama sekali.
Namun, melihat acara liburan sepasang suami istri itu hancur, sudah membuat dirinya cukup puas untuk kali ini.
Sepeninggal orang bayarannya itu, Alana tersenyum miring.
"Aku pastikan, kamu tidak akan pernah mendapatkan kebahagiaan selama hidupmu, Keenan!" gumamnya, dengan tangan mengepal kuat.
Matanya menyorot kuat, menatap penuh kebencian dan amarah yang terpendam.
Alana sudah bertekad untuk membuat Keenan tidak hidup tenang.
Tidak lama kemudian, terlihat seseorang lelaki berjalan menghampirinya degan wajah sumringah.
"Maaf menunggu lama ya, honey? Aku ada sedikit urusan tadi," ujar Aryo yang langsung duduk di depan istrinya itu.
Mereka memang sudah berjanji bertemu di restoran itu, untuk makan malam bersama, setelah Aryo selesai dengan pekerjaannya.
"Gak apa-apa, honey. AKu juga baru datang kok," jawab Alisya.
Mereka berdua pun akhirnya makan malam bersama, selayaknya pasang suami istri pada umumnya.
"Bagaimana jalan-jalannya? Kamu suka?" tanya Aryo.
Alana tampak sedikit muram.
"Ya, aku suka. Andaikan kita bisa membawa anak-anak, pasti akan lebih menyenangkan lagi," jawab Alana.
"Ya, kapan-kapan kita ke sini bawa anak-anak, kalau tujuan kita memang untuk berlibur, ya." Aryo berusaha menenangkan istrinya.
Alana mengangguk samar, dia pun melanjutkan makan malam, sebelum besok pagi harus kembali ke ibu kota.
...🌿...
...🌿...
__ADS_1
...Bersambung...