Berbagi Cinta : Antara Kita

Berbagi Cinta : Antara Kita
Bab.99 Kaki lecet.


__ADS_3

 



...Happy Reading...


...❤...


Suasana bahagia itu begitu terasa nyata di hari pernikahan Ayu dan Ezra.


Baik keluarga maupun para undangan yang hadir tampak ikut bergembira, atas resminya hubungan kedua sejoli itu.


Kini kedua mempelai itu sedang sibuk menerima ucapan selamat dari para kerabat dekat yang hadir, setelah melewati berbagai acara sakral pernikahan.


Larry yang melihat Ayu tampak bahagia bersanding dengan Ezra, tak dapat menahan air matanya.


‘Semoga kebahagiaan ini tidak akan pernah pudar, Papa bahagia melihat kamu bisa bersanding dengan lelaki hebat seperti Ezra. Kamu memang pantas untuk bersanding dengan lelaki hebat sepertinya, Papa yakin, dia akan bisa melindungi kamu dan memberikan kebahagiaan untukmu, anakku. Maafkan Papah yang tidak pernah bisa menjadi orang tua yang baik untukmu,’ gumam hati Larry.


Mengusap mata yang terasa basah, karena rasa bahagia dan bersalah yang masih saja membebani hatinya.


‘Puspa, kamu senang sekarang, bisa melihat putrimu tersenyum bahagia dengan di kelilingi orang-orang yang sangat menyayanginya.  Maafkan aku, karena tidak bisa menjadi sosok ayah yang baik untuknya. Tapi, aku yakin, keputusan mempersatukan Nindi dan Ezra adalah yang terbaik untuk anak kita.’ Larry mengingat keberadaan mendiang mantan istrinya itu.


“Kakek!”


Panggilan dari Bian dan Naura, menyadarkan lamunan lelaki paruh baya itu.


Kedua anak itu tampak sibuk berlari ke sana ke mari, mencicipi setiap hidangan manis yang tersedia.


Di sisi lain, Ansel tampak menatap kebahagiaan adik perempuan dan juga sahabatnya dengan perasaan lega luar biasa.


“Akhirnya, Nindi bisa mendapatkan kebahagiaannya ya, Mas?” Elena berkata sambil menautkan tangannya pada Ansel.


Helaan napas lega terdengar mengiringi perkataan wanita itu.


Ansel menatap wajah bahagia Elena yang berdiri di sampingnya, lelaki itu tersenyum haru mengalihkan lagi pandangannya pada sepasang pengantin.


“Semoga saja, tidak ada lagi air mata dan kesedihan yang menimpanya. Aku yakin Ezra bisa mencintai dan menjaganya dengan caranya sendiri,” ucap Ansel, dengan pandangan tak pernah lepas pada Ayu.


Elena mengangguk, membenarkan perkataan suaminya.


“Sudah cukup selama ini Nindi menderita, semoga saja pernikahan ini menjadi awal kebahagiaan sejati untuknya,” imbuh Elena, mengingat kembali bagaimana perjuangan Ayu dalam menghadapi setiap masalah.


“Amiin, terima kasih kamu sudah mau mengurus semua acara ini. Aku tidak tau bagaimana jadinya hidupku tanpa adanya kamu di sampingku?” Ansel beralih menatap teduh wajah wanita yang sangat ia cintai itu.


“Keluargamu adalah keluargaku juga, Mas. Aku tulus melakukan semua itu, aku bahagia kalau kamu juga bahagia, Mas,” ucap Elena.

__ADS_1


“Ayo, kita ke sana, kita ucapkan selamat dulu sama mereka!” ajak Elena.


Ansel mengangguk, lalu melangkah mengikuti istrinya memasuki antrean menuju pelaminan.


Walaupun ini hanya pesta sederhana, tetapi, ternyata yang datang lumayan banyak juga.


Beberapa saat mengantre, kini sudah tiba giliran Ansel dan Elena yang mengucapkan selamat pada kedua mempelai.


Mata Ayu sudah berkaca-kaca sejak melihat Ansel dan Elena. Saking sibuknya melayani tamu, dia bahkan belum sempat bertemu sapa dengan kakak dan kakak iparnya, setelah acara ijab kabul tadi.


Elena tersenyum, tangannya melebar, bersiap memberikan pelukan untuk adik iparnya itu.


Grep


Ayu langsung menghambur, masuk ke dalam pelukan kakak iparnya, air mata pun kini sudah menetes kembali, membasahi wajahnya.


“Selamat ya, Ndi. Semoga menjadi keluarga SaMaWa, langgeng sampai akhir hayat, Amiin,” ucap Elena, masih dalam posisi memeluk Ayu.


Ayu mengangguk.


“Terima kasih, Kak. Terima kasih untuk semuanya yang udah kakak lakuin buat aku,” ucap Ayu dengan isak tangis mengiringi.


Sedangkan Ansel langsung memeluk kilas Ezra.


“Gue bakal berusaha memberikan yang terbaik untuk Nindi,” jawab Ezra, menepuk punggung Ansel pelan.


Karena melihat antrean yang masih panjang, Ansel dan Elena pamit untuk kembali bergabung bersama keluarga yang lain.


Acara terus berlangsung sampai jam sebelas siang, baru Ayu dan Ezra bisa sedikit bersantai.


“Capek ya?” tanya Ezra, saat mereka baru saja bisa duduk dengan leluasa.


Karena tamu yang seakan berlomba untuk mengucapkan selamat kepada mereka berdua, Ayu dan Ezra bahkan belum sempat mengobrol sebagai suami dan istri.


Ayu menganggukkan kepala, dia lumayan merasa lelah karena harus berdiri selama beberapa jam. Apa lagi dengan menggunakan sepatu high heels yang lumayan menyiksa kakinya.


“Maaf ya, semua ini Mama yang mengatur.” Ezra meringis, merasa bersalah karena tamu yang datang ternyata lumayan banyak.


Semua ini memang pekerjaan Nawang yang tidak bisa memilih mana tamu yang penting dan tidak, wanita itu menganggap bahwa semua kepalanya itu penting. Sampai akhirnya undangan pun tak terkendali.


“Gak papa, ini paling cuman butuh istirahat bentar kok,” jawab Ayu.


“Coba sini aku liat dulu.” Ezra berjongkok di depan Ayu.


“Eh, gak usah ... gak usah!” Ayu langsung menjauhkan kakinya dari hadapan Ezra.

__ADS_1


“Jangan membantah, aku cuman mau lihat, takutnya kaki kamu lecet.” Ezra menarik halus kaki Ayu, membawanya bertumpu pada kakinya, kemudian perlahan membuka sepatu yang di pakai oleh istrinya.


Ayu menundukkan kepalanya, walau matanya mengedar menatap para keluarga yang terlihat sedang memperhatikan mereka berdua. Dia merasa tidak enak karena terus menjadi bahan perhatian. Apa lagi semua yang di lakukan oleh Ezra, akan terkesan tidak sopan untuknya.


Masa baru saja menikah, dia sudah membiarkan suaminya menyentuh kakinya seperti ini.


“Aku gak enak, nanti apa kata orang. Udah ya, aku gak papa kok!” Ayu hendak menarik kembali kakinya. Tetapi Ezra kembali menahannya.


“Biarkan saja, ngapain juga mikirin kata orang. Tuh kan beneran kaki kamu lecet,” ucap Ezra, dengan tatapan masih meneliti kaki Ayu.


“Buka dulu aja sepatunya ya, kan ketutup sama baju kakinya,” sambung Ezra lagi, kali ini dengan sedikit menengadah menatap mata Ayu.


Ayu mengangguk kikuk, berusaha mengalihkan pandangannya dari wajah sang suami.


Ezra terkekeh lucu, melihat Ayu yang masih tampak malu-malu kepadanya.


Mengembalikan kaki istrinya pada tempatnya, Ezra menegakkan tubuhnya, matanya mengedar mencari seseorang. Lelaki itu langsung mengangkat tangannya, saat melihat orang yang ia cari.


“Ada apa, Kak?” tanya Keenan, saat baru saja sampai di depan Ezra.


“Tolong ambilkan salep buat luka dalam kotak P3K, di mobil dan sandal untuk istriku,” titah Ezra.


Tanpa bertanya lagi, Keenan mengangguk, lalu langsung berjalan keluar area pesta.


Tak menunggu waktu lama, Keenan sudah terlihat kembali, dengan benda pesanan sang kakak.


“Terima kasih,” ucap Ezra.


Setelah melihat adiknya itu pergi, Ezra langsung berjongkok kembali, untuk mengobati kaki Ayu.


“Eh, aku bisa sendiri, sini biar aku obati sendiri aja.” Ayu kembali menahan tangan Ezra yang ingin mengoleskan salep pada kakinya.


“Aku bilang jangan membantah, kamu ini, keras kepala sekali!” ucap Ezra, menatap Ayu dengan alis bertaut.


“Maaf,” Ayu terlihat gugup, di tatap begitu oleh lelaki di depannya.


Ezra menggeleng geli, melihat sikap Ayu yang menurutnya begitu lucu, apa lagi dengan pipi yang selalu menampilkan warna merah. Semua itu membuatnya gemas, ia seperti menikah dengan gadis polos saja, padahal status keduanya sudah pernah menjalani pernikahan sebelumnya.


...🌿...


...🌿...


...Bersambung...


Mau nanya nih, kira-kira panggilan Ayu ke Ezra dan sebaliknya apa ya, yang kira-kira cocok gitu🤔

__ADS_1


__ADS_2