
...Happy Reading...
...❤...
"Keen, kamu kenapa? Sepertinya kamu kurang sehat, ya? Sebaiknya kamu istirahat ... ayo, aku bantu," ujar Nella yang melihat wajah Keenan semakin merah dengan bulir keringat di keningnya. Dia mengulurkan tengannya hendak membantu Keenan berdiri.
"Tidak usah! Aku tidak butuh bantuanmu!" Keenan menepis tangan Nella dengan kasar, hingga tangan itu menjauh dari tubuhnya.
"Ayolah, Keen. Aku hanya mau membantu," debat Nella, dia masih belum menyerah untuk mendekati Keenan.
"Tidak usah aku bilang! Aku gak sudi di sentuh oleh perempuan murahan sepertimu!" geram Keenan, kembali menepis tangan Nella. Dia melihat ke arah pintu keluar, mencari keberadaan Riska yang belum juga kembali.
'Kenapa dia lama sekali sih?' gumamnya dalam hati.
"Apa maaksudmu, Keen? Tega sekali kamu bilang seperti itu sama aku." Nella, menampilkan wajah sedih dengan mata berkaca-kaca mencoba menarik simpati lelaki di depannya itu.
"Seorang perempuan yang rela memperontonkan tubuhnya pada khalayak umum dan menggoda lelaki neristri sampai mencampur obat perangsang pada munuman demi mendapatkan apa yang dia inginkan. Apa perempuan itu tidak pantas disebut wanita murahan?" desis Keenan, menatap tajam Nella dengan mata merahnya.
Nella tersentak dia tidak menyangka kalau Keenan bisa tau rencananya. "Sial! Kenapa dia bisa tau?"
"Tidak, Keen. Aku tidak mungkin melakukan itu padamu, Keen," bantah Nella.
Keenan tak menjawab, dia sudah muak menghadapi perempuan di depannya. Kini dia bermaksud untukmenelepon Riska. Akan tetapi, baru saja sia mengeluarkan ponselnya, Riska sudah meneleponnya terlebih dahulu.
.
Di toilet khusus perempuan, Riska baru saja menyelesaikan urusannya, dia keluar dari salah satu bilik di sana.
Klek.
Riska mencoba membuka pintu toilet yang terasa begitu keras, keningnya mengerut dengan pikiran bertanya-tanya, sedangkan tangannya terus berusaha memutar handle pintu.
"Kenapa keras sekali, apa mungkin pintu ini terkunci?" ujar Riska sambil terus mencoba membuka pintu.
Brak ... brak ... brak ....
"Apa ada orang di luar?! Tolong, aku terkunci di dalam!" teriak Riska, sambil menggedor pintu.
Dia terus mencoba mencari bantuan dengan berteriak dari dalam toilet itu. Sedangkan di luar, terlihat seorang perempuan yang tadi bersama dengan Nella berdiri di depan pintu, dia tersenyum puas mendengar teriakan Riska dari dalam.
Perempuan itu menempelkan tulisan 'TOILET RUSAK!' di depan pintu, lalu melangkah pergi meninggalkan tempat itu.
"Ah, iya! Kenapa aku bisa lupa dengan ponselku? Dasar Riska-Riska, kamu itu gimana sih?" ujarnya merutuki dirinya sendiri, sambil mencari ponselnya di dalam tas kecil.
"Hahh, untung aja aku gak lupa bawa." Riska menangkupkan ponselnya di dada dan menciumnya berkali-kali, sebelum mencari kotak nama sang suami.
Riska langsung mencoba menghubungi Keenan dengan harapan cepat di angkat.
Tidak perlu menunggu lama, dia sudah bisa mendengar suara Keenan.
"Kamu di mana, kenapa lama sekali?!" Riska mengernyit mendengar suara Keenan yang terdengar berbeda dan sedikit membentak.
"Aku terkunci di toilet. Aban, bisa tolong aku ke sini gak?" tanya Riska dengan suara yang terdengar ragu, dia mengira kalau Keenan marah kepadanya.
__ADS_1
"Hah, kenapa bisa begitu? Dasar ceroboh! Tunggu aku di sana!" ujar Keenan sebelum mematikan sambungan teleponnya secara sepihak. Dia berusaha menegakkan tubuh dan melangkah tergesa menuju pintu keluar.
"Keen, tunggu!" Nella masih terus berusaha menahan Keenan, dia nekat merangkul tangan Keenan yang sudah berdiri.
Brak!
Semua perhatian para tamu kini teralihkan pada Nella yang terjatuh duduk karena dorongan keras Keenan.
"Jangan kurang ajar kamu, Nela! Aku sama sekali tertarik dengan tubuh kotormu itu! Kau tau, di matakau seorang perempuan yang berani menawarkan tubuhnya dan menjatuhkan harga dirinya sendiri pada seorang lelaki, sama saja dengan seorang j*lang!" murka Keenan dengan telunjuk menujuk pada wajah penuh air mata palsu Nella.
"Aku peringatan padamu, jangan lagi berada di sekitarku, karena kalau sampai itu terjadi ... aku tidak akan menjamin keluargamu masih baik-baik saja!" tambahnya, sebelum akhirnya pergi meninggalkan pesta yang sedang gaduh karena ulahnya.
Nella menangis meraung di dalam pelukan ibunya, sedangkan Satriyo terlihat pucat mendengar ancaman dari Keeenan. Sedangkan para tamu berbisik membicarakan nasib keluarga Satriyo kedepannya, setelah mendapat ancaman dari salah satu pewaris keluarga Darmendra itu.
Ada juga yang bertanya-tanya, perbuatan apa yang telah dilakukan oleh Nella, hingga membuat Keenan begitu murka seperti tadi. Mengingat selama ini baik Keenan maupun Ezra terkenal dengan sikap tenangnya.
Setelah berhasil keluar dari ballroom hotel, Keenan berjalan menuju toilet perempuan dengan langkah lebarnya.
"Riska!" panggilnya,setelah sampai di depan pintu toilet yang dia yakini ada istrinya di dalam.
Riska yang sedang menyandar di dinding toilet, langsung menegahmpiri pintu, saat mendengar suara Keenan.
"Bang! Aku di sisni!" jawab Riska, sambil memukul pintu sebagai tanda untuk Keenan.
"Kamu menjauh, aku akan dobrak pintunya," ujar Keenan sambil menempelkan tubuhnya di pintu.
"Iya, Bang," jawab Riska, dia menjauh dari pintu toilet itu.
Keenan berusaha menegakkan tubuhnya, bersiap untuk menerjang pintu toilet itu.
BRAK!
BRAK!
Kedua kali pintu sudah lumayan bergoyang, akan tetapi masih belum terbuka. Tubuh bagian samping Keenan terutama pundak dan tangan yang membentur pintu, sudah berdenyut sakit.
BRAK!
Akhirnya pintu toilet itu terbuka dengan Keenan yang terhuyung ke dalam menubruk tubuh Riska.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Keenan, dia memegang pundak Riska, sedikit bertumpu karena tubuhnya yang sudah mulai oleng.
"Abang, gak apa-apa?" bukannya menjawab pertanyaan Keenan, Riska malah bertanya balik pada suaminya.
Dia bisa merasakan tubuh bergetar Keenan, dengan mata dan wajah yang merah, napasnya pun terdengar berat.
"Ayo, kita pergi dari sekarang!" Keenan langsung menarik lengan Riska, membawanya menuju ke luar hotel lewat pintu samping.
Riska terdiam, dia hanya menatap punggung lebar Keenan yang ada di depannya, ia bisa melihat sesekali langkah lelaki itu tampak goyah.
'Kayanknya aku gak cium bau alkohol di mulutnya. Tapi, kenapa sekarang dia seperti orang mabuk begitu?' Riska bertanya-tanya dalam hati.
"Kamu bisa menyetir?" tanya Keenan setelah mereka sampai di samping mobil miliknya.
"B–bisa ... Tapi bukan mobil seperti ini," jawab Riska ragu. Dia memang bisa menyetir mobil biasa, karena dia suka membawa mobil milik Ayu. Akan tetapi, dia ragu untuk mobil milik Keenan yang ini.
__ADS_1
"Itu gampang nanti aku jelaskan sambil jalan, ayo cepat masuk!" ujar Keenan sambil mengendurkan dasi dan membuka satu kancing kemejanya.
Riska mengangguk, dia akhirnya masuk ke dalam mobil. Hatinya begitu khawatir kepada suaminya, walau ada sudut lain yang bertanya, apa sebenarnya yang terjadi di dalam pesta sejak dia meninggalkan Keenan.
Sampai di dalam mobil, Keenan berusaha menjelaskan cara mengemudi mobil sport miliknya itu, tubuhnya menggeliat menahan hawa panas yang semakin menyiksa.
Setelah cukup pahaam, Riska mulai mengemudikan mobil milik Keenan itu keluar dari area hotel mewah itu. Di sepanjang jalan, Keenan terus menggeliatkan tubunya, bahkan sekarang, jas yang dipakai sudah terlempar entah kemana, dengan seluruh kancing kemeja terbuka.
Geraman tertahan terdengar berulang kali, membuat Riska semakin khawatir dengan kondisi Keenan.Dia terus menoleh melihat keadaan Keenan di sela terus menyetir.
"Bagaimana ini, sebenarnya apa yang terjadi, Bang? Aku bawa Abang ke rumah sakit saja, ya?" ujar Riska, dengan nada panik.
"Tidak ... jangan. Bawa aku ke apartemen saja," geleng Keenan menolak saran Riska.
"Tapi, Abang–"
"Telepon Kak Ezra saja," ujar Keenan, kesadaraannya sudah mulai meredup, dia berusah menahan hasrat yang semakin menggebu. Berdua dengan Riska di dalam mobil membuat jiwa lelakinya yang sudah terangsang semakin buas, dia ingin sekali merekam gadis itu sekarang juga.
Namun, akal sehatnya yang hanya tinggal sedikit lagi itu, masih bisa mengendalikan diri dan menahan keinginannya yang semakin kuat dan menyiksa dirinya sendiri.
Riska mencoba mengambil ponselnya di salam tas, dia lansung menghubungi kontak nomor kakak iparnya itu.
Lama menunggu, tak juga ada jawaban. Riska terus berusaha, hingga akhirnya ada jawaban dari sana.
"Bang, bisa ke apartemen sekarang gak, Bang Ken, sakit ... aku gak tau kenpa?" tanya Riska dengan nada suara panik.
"Maksud kamu gimana, Ris? Bukannya kalian sedang menghadiri pesta Tuan Satriyo? Aku sama Ayu sedang ada di puncak, kami baru saja sampai," jawab Ezra.
Tadi sore, sang ibu hamil tiba-tiba meminta Ezra untuk ke vila yang berada di puncak, Ayu bahkan sampai menangis karena Ezra tadinya menolak dan menyuruh Ayu menunggu sampai besok pagi.
Hingga akhirnya Ezra menyerah dan kalah, karena melihat Ayu yang sudah berurai air mata, apa lagi Naurra yang saat itu masuk ke kamarnya juga melihat ibu sambungnya itu meneteskan air mata.
Kedua perempuan kesayangannya itu, bersekongkol untuk mendiamkannya bila tidak mengabulkan keinginan Ayu.
Keenan langsung merebut ponsel Riska, saat istrinya bingung mau menjelaskan apa pada Ezra.
"Kak, sepertinya ada yang mencampurkan obat di minumanku, aku butuh penawarnya!" jelas Keenan dengan napas memburu.
"Astaga, Ken! Kenapa bisa begitu? Aku sudah pesan kepadamu hati-hati bila sedang dalam pesta seperti itu!" Ezra terdengar masih tenang, walau tangannya mengepal kuat.
"Nanti aku jelaskan, aku mohon tolong aku dulu, aku sudah tidak tahan!" mohon Keenan.
"Ken, penawarnya ada di sampingmu, itu akan lebih bak dari obat apa pun."
"Tapi, Kak–"
"Berikan ponselnya pada Riska, biar aku yang bicara padanya. Kalian sudah halal, sudah sepantasnya melakukan semua itu," perintah Ezra.
...🌿...
Gimana nih, reaksi Riska kalau Ezra memintanya mengobati Keenan🤭
...🌿...
...Bersambung...
__ADS_1