
...Happy Reading...
...❤...
Flashback di sekolah Naura
"Aku dengar sekarang ibu kamu sudah melahirkan ya?" tanya salah satu teman satu kelas Naura, saat mereka baru saja memasuki kelas.
"Iya, sekarang aku juga sudah punya adik. Sama seperti kamu," jawab Naura dengan penuh semangat.
Rasa bahagianya karena baru saja memiliki seorang adik, seperti keinginannya, membuat dia bercerita kepada temannya itu dengan penuh semangat.
"Wah, selamat ya, Ra." temannya itu pun ikut berbahagia.
"Halah, punya adik aja bangga. Kamu tau gak, kalau kamu sudah punya adik ... nanti perhatian ayah sama ibu kamu cuman buat adik kamu aja? Mereka gak akan lagi inget sama kamu," ujar salah satu anak yang lebih tua dari Naura. Dia adalah kakak kelas Naura yang kebetulan melintas saat mendengar percakapan Naura dan temannya.
"Papa sama Mama aku gak katak gitu," bantah Naura, tidak terima.
"Kamu bisa ngomong kayak gitu, karena belum ngerasain aja. Apa lagi aku dengan ibu kamu itu, adalah ibu tiri ya, wah pasti sebentar lagi, dia gak akan sayang lagi sama kamu, kan dia sudah punya anaknya sendiri." Anak laki-laki itu, terus mengejek Naura, dan memberikan kata-kata yang tidak pantas.
"Enggak, Mama aku bukan ibu tiri, dia Mama aku! Jangan bilang sembarangan ya!" Naura kembali membantah perkataan kurang ajar yang dilontarkan oleh kakak kelasnya itu.
"Hah, gak usah mimpi, semua orang juga udah tau kalau ibu kamu itu cuman ibu tiri."
Mata Naura sudah memerah menahan tangis, Naura merasa malu di depan para teman sekelasnya, karena perkataan anak laki-laki itu
Untung saja, pertengkaran itu terhenti, karena bel sekolah sudah berbunyi, menandakan sebentar lagi para guru akan masuk ke dalam kelas, mereka pun akhirnya langsung ke luar dari kelas Naura.
"Ra, sudah. Kamu gak usah peduli sama mereka. Mereka memang para anak-anak bandel, tayang suka gangguan para murid lain di sekolah ini," ujar teman Naura yang tadi bercerita dengannya.
"Kamu tau dari mana, mereka anak bandel?" tanya Naura.
"Kakak aku yang bilang. Mereka satu kelas sama kakak aku," ujar teman Naura itu.
Naura pun akhirnya mengangguk, dia berharap setelah ini para anak laki-laki itu tidak lagi mengganggunya.
Namun, ternyata semua itu tidak berjalan seperti yang dia inginkan. Pulang sekolah, para anak-anak itu kembali menggodanya.
Semenjak hari itu, Naura terus mendapatkan ejekan dari sekelompok anak laki-laki nakal itu.
Bahkan terkadang, ada ibu-ibu yang juga meledeknya. Seperti kali ini, Naura baru saja keluar dari kelas, dia bertemu dengan seorang ibu-ibu yang dia juga tak kenal itu siapa.
__ADS_1
"Eh, Naura baru saja mempunyai adik ya? Selamat ya," ujar salah satu ibu yang berkumpul di depan sekolah.
Naura tersenyum sambil mengangguk, sebagai jawaban. Membahas tentang adik kepada orang lain membuat dirinya sedikit takut, akan mendapatkan kata tidak mengenakan lagi.
"Apa benar, Bu?" tanya salah satu ibu yang lainnya.
"Selamat ya, Naura. Awal sih nanti kamu gak disayang lagi sama mama kamu," ujarnya lagi sambil tertawa.
"Eh, Bu, gak boleh ngomong gitu, kasihan kan Naura. Sudah punya ibu tiri nanti kalau semua itu benar terjadi bagaimana?"
Salah satu ibu-ibu yang berada di sana, ikut menimpali perkataan siang itu.
Naura menunduk, dia memilih untuk berjalan ke arah mobil Gino yang baru saja datang.
Di dalam hati, gadis kecil itu mulai resah, setiap perkataan tidak baik dari orang di sekitarnya, mulai masuk ke dalam alam bawah sadarnya, dia pun mulai mempertanyakan kasih sayang Ayu.
Ya, perkataan yang mungkin hanya dianggap sebagai suatu candaan biasa bagi sebagian orang itu, tanpa sadar bisa saja menjadi suatu masalah di dalam hubungan keluarga orang lain.
Pikiran seorang anak yang masih polos dan mudah untuk percaya, bisa saja menganggap itu semua adalah kebenaran, dan akan berdampak buruk bagi mental juga fsikisnya di kemudian hari.
Siapa yang tahu?
Terkadang perkataan yang kita ucapkan itu, dapat menyinggung dan memberikan trauma juga memengaruhi sisi pandang lain dari orang yang berbicara dengan kita atau bahkan yang kita bicarakan.
Flashback off
.
.
Keenan dan Riska berjalan menuju restoran, saat hari sudah menjelang siang.
Ya, sewaktu mandi, Keenan memang tak berbuat apa-apa pada Riska, mereka benar-benar hanya mandi bersama, tanpa ada kegiatan lainnya.
Namun, ternyata semua itu tak membuat Riska dapat bernapas lega, karena setelah menjalankan kewajibannya sebagai seorang muslim, suaminya itu langsung menyerangnya kembali.
Itu juga yang menjadi alasan Riska lebih memilih sarapan di luar restoran langsung, daripada di dalam kamar, walaupun sebenarnya badannya masih cukup lelah.
"Sayang, kenapa kita gak sarapan di kamar saja sih? Aku masih ngantuk," rengek Keenan, sambil terus berjalan di samping istrinya.
Riska melirik wajah lesu suaminya, dengan rambut yang sedikit berantakan.
'Enak saja dia bilang begitu. Kalau aku ada di kamar terus, bisa-bisa besok aku gak bisa jalan gara-gara ulah kamu, Bang'
__ADS_1
Ruska menggerutu dalam hati. Mengumpat Keenan yang seakan tak ada puasanya menikmati tubuhnya.
"Siapa suruh, Abang, gak tidur?" jawab Riska begitu mudah.
Keenan menatap wajah sang istri, dia menghembuskan napas kasar, sambil merangkul tubuh istrinya itu dari belakang, lalu menyandarkan dagunya di pundak Riska.
Berlagak lemas, bagaikan orang yang enak terlalu banyak minum, minuman keras.
"Abang! Malu ih, dilihat orang," ujar Riska, sambil mengedarkan pandangannya ke sekiranya.
Benar saja, di sana sudah ada beberapa orang yang tampak sedang memperhatikan mereka berdua.
"Gak mau. Biarin aja mereka melihat kita. Agar mereka tau kalau ini adalah istriku, jadi gak akan ada yang berani mendekati kamu, sayang," jawab Keenan, sambil terus melangkah, tanpa melepaskan pelukannya pada Riska.
"Tanpa, Abang, berbuat seperti ini juga, mereka sudah tau kalau aku itu istri, Abang. Gak lihat ini, hah?" Riska menunjuk salah satu sisi lehernya yang banyak bercak berwarna merah keunguan, yang disamarkan menggunakan fondation.
'Untung saja, kali ini aku bisa berkaca dulu, jadi gak malu seperti dulu' imbuhnya dalam hati, saat mengingat saat dirinya pergi ke butik dengan semua bercak merah di sekitar leher.
Keenan mengikuti arah telunjuk Riska, dia kemudian tersenyum senang, mendapati hasil karyanya, melukis tubuh sang istri.
"Tapi, itu kan ditutupi, sini biar aku hapus saja bedaknya, biar bisa terlihat lebih jelas," Keenan sudah mengangkat salah satu tangannya, bersiap untuk menghapus foundation yang menutupi bercak merah itu.
"Eh, gak boleh! Abang, mau buat aku malu?" Riska langsung menutup lehernya dengan kedua tangannya.
Keenan terkekeh, melihat wajah merah istrinya. Dia pun memberikan ciuman kilas di pipi sebelum melepaskan pelukannya.
Menjahili istrinya, memang selalu membuatnya bersemangat. Melihat wajah merah Riska yang menahan kesal ataupun tersipu, selalu membuatnya gemas, hingga menghilangkan rasa lelah dan malas di dalam tubuhnya.
"Iya-iya, aku gak hapus. Mana berani aku buat kamu malu, sayang. Bahkan tak ada sedikitpun niat seperti itu di dalam pikiranku," ujar Keenan, dia beralih mengenggam tangan Riska, dan berjalan seperti biasa.
"Beneran? Abang, gak bohong?" tanya Riska, memastikan.
"Benar dong, sayang. Mana mungkin aku mau mempermalukan istriku sendiri," jawab Keenan.
Riska tersenyum, dia memeluk lengan Keenan sekilas sebagai tanda bahwa dia bahagia mendapatkan jawaban seperti itu dari suaminya.
Begitu sampai di restoran, Keenan dan Riska memesan makanan untuk sarapan keduanya.
"Keenan, Riska, kalian juga ada di sini?"
...🌿...
...🌿...
__ADS_1
...Bersambung...