
...Happy Reading...
...β€...
Satu jam perjalanan membelah kemacetan yang di hiasi perbincangan kedua manusia berbeda jenis itu, akhirnya mobil milik Ezra berhasil terparkir mulus di halaman Butik Ayu.
Entah kemana Ezra yang terkenal dingin dan kejam itu menghilang.
Karena yang sekarang Ayu lihat adalah sosok Ezra yang hangat, walau masih terlihat sedikit kaku.
"Terima kasih Pak" ucap Ayu sambil melepas sabuk pengaman.
"Hm.." Ezra hanya berdehem sebagai jawaban.
Ayu melirik sekilas wajah masam Ezra, tapi kembali bersikap acuh dan keluar dari mobil.
Ayu memang tak mau mengubah panggilan itu untuk Ezra, sebagai pembatas antara keduanya.
Ayu masih tidak mau terlalu dekat dengan lawan jenisnya kembali.
Perceraian kedua orang tua dan dirinya sendiri menjadi trauma tersendiri untuknya.
Ayu merasa takut untuk kembali mempercayakan dirinya pada orang lain.
Sekarang Ayu hanya ingin menikmati kesendirian nya itu, tanpa ada niat untuk memulai hidup bersama seseorang kembali.
Baginya, hidup sendiri terasa lebih menyenangkan, di bandingkan harus terikat dengan status bersama seseorang.
Ayu berbalik saat telah ada di dekat pintu masuk, ia melihat mobil Ezra yang sudah pergi kembali.
Menghela napas lelah. Ayu tak mau ada sesuatu di antara mereka, maka dari itu ia menciptakan pembatas, walau tak secara langsung.
Apa lagi bila mengingat hubungan keluarga Ezra dan keluarga Ayahnya.
Itu membuat Ayu merasa harus mulai menjauhi keluarga itu.
Ayu tak mau mereka tau identitas nya.
Untuk saat ini Ayu hanya ingin menata hati dari awal lagi dan menjalani hidup seperti orang pada umumnya.
"Ris, kapan klien yang mau memesan gaun pengantin datang?" tanya Ayu saat sudah berada di dalam butik.
"Kalau tepat waktu seharusnya setengah jam lagi Mba" jawab Riska melihat jadwal Ayu di dalam sebuah buku agenda.
"Baiklah, kamu siapkan semua baju untuk contoh" perintah Ayu.
"Iya Mba" angguk Riska.
Ayu berjalan menuju tanah kerjanya, Menjatuhkan tubuhnya Pada sofa dengan lemas.
Pandangannya menerawang jauh. Entah kemana pikirannya saat ini.
.
.
Hari sudah menjelang malam, Ayu bersiap untuk segera pulang ke rumahnya.
Rencananya besok siang Ayu akan segera pindah ke rumah baru yang minggu lalu sudah Ayu beli.
Dan malam ini dia akan mengemas barang yang harus ia bawa esok hari.
Seperti biasa, Ayu akan menunggu semua pegawai nya pulang lebih dulu.
Setelah semuanya sudah pergi, barulah Ayu beranjak meninggalkan butik.
__ADS_1
Pukul sembilan malam Ayu baru sampai di depan gerbang.
Dia mengerinyitkan keningnya melihat mobil Radit terparkir di halaman rumah.
Betapa kaget nya dia saat kunci yang di pegang olehnya kini tak lagi bisa membuka pintu rumah.
Alisnya bertaut memastikan kunci yang ia keluarkan itu tidak salah.
"Kok gak bisa masuk sih?" gumam Ayu bertanya pada dirinya sendiri.
Ceklek......
Tiba-tiba pintu terbuka dari dalam.
Ayu membulatkan matanya melihat orang yang berdiri di depannya.
" Mala..." gumam Ayu pelan.
" Ayu, ayo masuk" ucap Mala tersenyum hangat pada Ayu.
Ayu menurut dengan wajah linglung, pikirannya masih belum bisa mencerna apa yang sedang terjadi pada dirinya sekarang.
Ayu melihat semua isi ruangan di rumahnya, memastikan kalau dia tak salah memasuki rumah.
"Benar ini memang ruamahku, semuanya masih sama" gumam Ayu dalam hati, mengedarkan pandangannya.
Foto pernikahannya sudah tidak ada di tempatnya.
Ayu menaikkan salah satu alisnya, melihat Mala dengan isyarat mata bertanya.
Mala yang tau maksud dari Ayu, tersenyum lalu duduk di salah satu sofa.
"Pernikahan kamu dan Mas Radit kan sebentar lagi akan berakhir, jadi aku membantu membersihkan kenangan di antara kalian berdua" ucap Mala santai.
Ayu masih diam, dia berdiri, bersidekap dada, memandang Mala dengan tatapan tajam menusuk.
"Ada siapa, sayang?!" suara lembut dengan intonasi sedikit berteriak dari arah tangga itu, mengalihkan perhatian Ayu.
Ayu melihat Radit turun dengan baju santai, sepertinya dia baru saja selesai mandi.
"Kenapa kalian ada di sini?" tajam Ayu, menatap Radit dengan mata memerah.
Radit tampak terkejut saat melihat Ayu sudah berada di rumah ini.
Dengan terburu-buru dia berjalan menghampiri kedua wanita yang masih menjadi istrinya itu.
"Ayu, kenapa kamu ada di sini?" bukannya menjawab, Radit malah bertanya kembali pada Ayu.
"Ini memang rumahku, apa tidak pantas pemilik rumah berada di rumahnya sendiri?!" Ayu memandang Radit dan Mala bergantian.
"Seharusnya aku yang bertanya, sedang apa kalian berada di sini?" sinis Ayu.
"Kita sudah akan bercerai, jadi apa aku salah membawa Mala ke sini? Lagi pula, rumah iniβΆ rumahku juga" bantah Radit.
"Terserah kamu, mau membawa siapapun ke rumah ini. Tapi setidaknya tunggu sampai aku pindah dulu" tekan Ayu dalam setiap kalimat yang ia ucapkan.
"Aku berada di sini karena mengira kau sudah pindah dari sini, bukankah kamu sudah hampir seminggu tidak pulang ke rumah ini?"
Ayu tersenyum miring, melihat Radit dan Mala bergantian.
Alasan yang sangat bagus, hingga membuat Ayu tak habis pikir dengan isi otak kedua orang di depan nya itu.
"Aku tidak pulang bukan berarti aku sudah pindah. Lagi pula pembagian harta juga belum di putuskan, jadi otomatis rumah ini masih hak milik istri sah dong"
"Percaya diri sekali kalian, akan mendapatkan rumah ini, sedangkan kita membelinya dengan cara patungan. Ingat masih ada uangku di dalam rumah ini" ucap Ayu dingin.
"Jangan harap kamu akan mendapatkan rumah ini. ini adalah aset milikku dan akan seterusnya begitu. Tapi aku akan berbaik hati untuk memberikan dirimu apartemen sebagai kenang-kenangan karna pernah menjadi istriku"
__ADS_1
"Hahaha.... kamu lupa, kalau apartemen dan rumah ini kita beli dengan uang bersama, bahkan sepertinya uang aku lebih besar di bandingkan dengan uang kamu" Sarkas Ayu dengan tawa meremehkan.
"Harga dari apartemen itu hanya tujuh puluh persen dari rumah ini, belum lagi kalau di hitung dengan segala perabot yang aku beli sendiri, apartemen itu jauh dari kata sebanding" debat Ayu dengan nada suara yang mulai naik.
"Tadinya aku mau menginap di sini sambil mempersiapkan keperluan untuk pindah besok..." Ayu menjeda kalimatnya sambil membagikan pandangannya pada seluruh isi rumah tersebut.
"Tapi sekarang aku sudah berubah pikiran, sepertinya Aku harus menyumbangkan semua barang di sini untuk orang yang lebih membutuhkan" tajam Ayu melirik Mala.
"Apa maksud kamu hah?!" Mala langsung berdiri dengan wajah yang sudah memerah.
Sedangkan Radit mengepalkan tangannya penuh amarah.
Ayu tersenyum miring, melihat reaksi kedua orang di hadapan nya itu.
"Ternyata masih punya perasaan?!" tanya Ayu dengan nada jenaka.
Radit maju dengan tangan yang bersiap ingin menampar wajah Ayu. Tapi sayang, sebelum tangan itu menyentuh kulit halus istri pertamanya itu.
Ayu sudah memegang tangan Radit dengan kuat dan sedikit memutar nya, hingga lelaki yang masih ber status suaminya itu meringis menahan sakit.
Wajah kedua orang berbeda jenis di depan Ayu itu sangat terlihat terkejut dengan apa yang terjadi.
Ayu tersenyum jahat lalu melepaskan tangan Radit dengan sedikit mendorong nya sampai lelaki itu sedikit terhuyung ke belakang.
Setelah itu Ayu langsung berjalan menaiki tangga, menuju kamarnya berada.
"Kamu gak papa Mas?" tanya Mala melihat Radit cemas.
"Aku tidak papa" jawab Radit dengan mata terus mengikuti langkah Ayu.
"Sejak kapan dia mempunyai ilmu bela diri?" tanya Radit lebih kepada dirinya sendiri .
"Sejak lama, memangnya kamu gak tau?" Mala menjawab pertanyaan Radit.
Radit langsung menatap Mala dengan kening yang berkerut.
Lelaki itu menggeleng.
"Selama ini dia tidak pernah berbicara kalau bisa bela diri" ucap Radit.
"Dia bahkan sering ikut mengajar di padepokan tempatnya berlatih" jelas Mala yang membuat Radit langsung mebolakan matanya.
"Jadi selama ini Ayu tak selemah apa yang aku kira?" batin Radut berkecamuk.
"Jadi selam ini Ayu tak pernah bercerita semua itu pada Mas Radit" Benak Mala bertanya-tanya.
Kedua suami istri itu malah asik dengan pikirannya masing-masing.
...πΏ...
...πΏ...
...Bersambung...
Sambil nunggu aku ngetik bab baru lagi, boleh baca karya baru dari sodara sekaligus senior aku kak Nazwa talita yang berjudul Dia Juga Suamiku.
Cerita ini berkolaborasi dengan beberapa author hebat lainnya loh.
Pasti seru dan bikin kalian ketagihan buat baca ceritanya...
jangan lupa Favorit, like, komen, vote dan hadiahnya ya...
Terima kasih kakak-kakak baik hati...
Sayang kalian semua...ππππ₯°π
__ADS_1