Berbagi Cinta : Antara Kita

Berbagi Cinta : Antara Kita
Bab.222 Penerbangan


__ADS_3


......Happy Reading ......


...❤...


Beberapa saat kemudian sepasang suami istri itu, sudah duduk di kabin VIP pesawat, penerbangan domestik.


Ya, mereka tidak akan pergi ke luar negeri, Keenan hanya memilih salah satu pulau yang masih berada di dalam negara Indonesia.


Pulau yang pasti sudah banyak dipilih untuk para pengantin baru berbulan madu, atau bahkan hanya berlibur saja.


Bali. Ya, pulau dengan adat istiadat yang masih dijaga dengan baik, dan keindahan yang sudah terkenal hingga ke luar negara, menjadi tujuan mereka untuk kali ini.


"Abang, beneran kita mau ke Bali?" tanya Riska, masih belum percaya dengan tujuan penerbangan pesawat yang ia tumpangi saat ini.


Keenan menoleh melihat istrinya yang tampak sangat bersemangat, dia kemudian mengangguk dengan senyum hangatnya.


"Duduk yang benar, sini aku bantu pasangin sabuk pengamannya," ujar Keenan, sambil sedikit memiringkan tubuhnya.


Riska menegakkan tubuhnya, membiarkan Keenan memasangkan sabuk miliknya, karena dia memang belum tahu bagaimana caranya.


"Nah, sudah." Keenan berucap setelah selesai memasangkan sabuk pengaman milik istrinya.


Riska mengangguk, dia sedikit tegang, mengingat ini adalah penerbangan untuk pertama kalinya Riska.


Keenan yang melihat wajah tegang istrinya, menggenggam tangan Riska untuk memberikan ketenangan.


"Kenapa sih, pake main rahasia-rahasiaan, padahal kan, Abang, tinggal jawab Bali aja?" gerutu Riska.


"Ya, mau buat kamu penasaran aja," jawab Keenan santai.


Riska menoleh pada Keenan, dia mencebikkan bibirnya, mengungkapkan rasa kesal yang ia miliki.


"Dasar nyebelin! Jahil!" cebik Riska.

__ADS_1


Keenan terkekeh kecil, dia kemudian merangkul istrinya itu dan memberikan ciuman hangat di kening.


"Karena, kamu kalau sedang ngambek itu, lucu. Ngegemesin," ujar Keenan.


"Tapi, aku gak suka!" Riska masih saja mengutarakan kekesalannya.


Semakin dekat waktu penerbangan pesawat, Riska semakin merasa gugup, Rasa takutnya membuat Riska menjadi lebih diam dari biasanya.


Keenan mengeratkan genggaman tangannya.


"Tenang, sayang. Tidak akan terjadi apa-apa, ada aku di sini," bisik Keenan, di telinga Riska.


Perempuan itu hanya mengangguk samar, sebagai jawaban. Riska memilih menutup matanya dan memanjatkan do'a sebanyak-banyaknya di dalam hati.


Tanpa sadar, Riska mencengkram tangan Keenan, saat pesawat yang ia tumpangi mulai lepas landas.


Keenan hanya bisa meringis dan membiarkan Riska menumpahkan rasa takutnya pada tangannya sendiri.


"Sayang, buka matanya, sekarang kita sudah berada di atas," ujar Keenan, setelah mereka sudah berada di ketinggian yang pas, hingga tak ada lagi guncangan.


"Bang, aku takut," ujar Riska, belum melepaskan cengkramannya di tangan Keenan.


"Sayang, kamu bisa lepas dulu tangan kamu gak? Sshhh ...." Keenan berdesis menahan rasa sakit di tangannya.


Riska melihat tangannya, dia terkejut sendiri dengan apa yang sekarang sedang dia lakukan pada keenan. Segera Riska melepaskan tangannya.


"Ya ampun, Bang ... maaf," ujar Riska, merasa sangat bersalah. Ia benar-benar tak sadar telah membuat tangan suaminya memerah.


'Ya ampun ternyata tenaga istriku kuat juga' keluh Keenan.


Riska mengangkat tangan suaminya itu dengan sangat hati-hati, dia meniupnya perlahan, mencoba meredam rasa sakit Keenan.


"Sudah, sayang. Aku sudah tidak apa-apa," ujar Keenan.


"Maaf ya, Bang. Karena aku tangan, Abang, jadi sakit kayak gini," ujar Riska dengan raut wajah dipenuhi rasa bersalah.

__ADS_1


"Iya, sayang. Abang, ngerti kok. Ini pasti penerbangan pertama kamu, ya?" tanya Keenan.


"Iya, Bang. Mana punya uang aku buat naik pesawat. Kalau punya uang, rasanya juga sayang banget, kalau harus digunakan untuk naik pesawat, atau jalan-jalan, mending aku tabung buat biaya sekolah Rio," cerita Riska.


'Ya ampun, begitu susahnya kehidupan istriku dulu?' tanya miris Keenan di dalam hati.


Beberapa saat mengudara, yang mereka lalui dengan bercerita, membuat Riska melupakan rasa takutnya.


Pesawat mendarat di bandara ngurahrai Bali. Keenan membawa Riska menuju ke salah satu hotel yang berada di daerah Nusa Dua.


Riska menikmati setiap suasana yang berada di luar mobil yang sedang mereka


tumpangi saat ini.


Sampai di lobi hotel bintang lima yang terletak dekat dengan bibir pantai, Riska melihat takjub setiap keindahan yang disuguhkan dengan sangat cantik di depan matanya.


"Wah, ini bagus banget, Bang. Semuanya indah," ujar Riska, mengedarkan pandangannya di sekitarnya.


"Semua ini, aku yang cari sendiri loh. Kamu suka?" tanya Keenan, yang langsung mendapatkan anggukkan kepala dari istrinya.


Keenan pun menghampiri resepsionis untuk melakukan berbagai macam syarat menginap di hotel itu, karena sebelumnya dia sudah memesan kamar terlebih dahulu.


Tak lama kemudian,keduanya kini sudah berada di dalam kamarnya yang menghadap langsung ke pantai.


Riska langsung membuka tirai penutup jendela, setelah mereka berdua masuk ke dalam kamar.


"Bagaimana? Apa kamu suka, sayang?" tanya Keenan, dia menghampiri Riska yang kini sedang menikmati suasana di depan jendela kaca, memeluk istrinya dari belakang dan menaruh dagunya di atas pundak Riska.


"Heem, aku suka, Bang. Terima kasih," ujar Riska, dengan senyum negembang di bibirnya.


Riska menyandarkan kepalanya di pundak Keenan, yang sedikit membungkuk, dia menikmati suasana sore menjelang malam dari dalam kamar hotel.


...🌿...


...🌿...

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2