Berbagi Cinta : Antara Kita

Berbagi Cinta : Antara Kita
Bab.178 Kejahilan Keenan


__ADS_3


...Happy Reading...


...❤...


Riska akhirnya memutuskan untuk berjalan menuju ruang kerja Keenan, dia berdiri di depan pintu bersiap untuk mengetukanya.


Ceklek.


Pintu terbuka lebih dulu, menampilkan Keenan yang berdiri di depan Riska. Riska yang terkejut menatap Keenan dengan tangan yang masih menggantung di depan wajah suaminya itu.


Khem!


Keenan berdehem untuk menyadarkan Riska, yang masih menatapnya dengan mata tak berkedip. Dia merasa tidak nyaman saat melihat wajah polos istrinya itu.


'Buat apa dia berdiri di depan pintu?' guamam Keenan dalam hati.


Riska yang baru saja tersadar, langsung menurunkan tangannya dengan wajah panik bercampur malu.


'Kenapa harus barengan sih, kan aku malu' Riska merutuki perbuatannya sendiri.


"Ada apa?" tanya Keenan, dia masih mengendalikan detak jantungnya yang berdebar lebih cepat.


"Heuh? A–aku mau nawarin kopi atau minuman lain," ujar Riska.


"Oh, bagaimana kalau minuman dingin saja, aku haus?" ujar Keenan.


"Ya sudah, aku bawakan dulu ya," Riska hendak berbalik untuk mengambil minuman yang diinginkan oleh Keenan, ke dapur.


"Mau ke mana?" Keean mencekal tangan Riska, dia menariknya sekaligus, hingga sekarang tubuh istrinya itu menubruk dada bidangnya.


"Hk," Riska menekan dada Keenan, saat dia tertarik oleh hentakkan lengan suaminya itu.


"A–aku mau mengambil air minum untuk, Abang," gugup Riska.


"Sepertinya aku berubah pikiran, aku sudah tidak mau lagi minuman dingin," ujar Keenan, lengannya kini sudah berada di pinggang Riska.


"Lalu, Abang, mau apa?" tanya Riska dia mulai waspada, walaupun dirinya juga tidak mengetahui maksud dari perkataan Keenan baru saja.


"Aku sepertinya lebih tertarik dengan susu," ujar Keenan, saat tubuh mereka bertabrakan.


"Ya udah nanti aku bikinin!" balas Riska cepat. Akan tetapi, kemudian Riska terdiam dengan alis bertaut.


"Abang, bukannya gak suka susu?" tanya Riska, bingung.

__ADS_1


Keenan tersenyum tipis melihat lagi-lagi istrinya masuk ke dalam perangkap kejahilannya, dia mengalihkan pandangannya pada daerah dada Riska, agar istrinya itu mengerti maksud permintaannya.


Riska membolakan matanya dia langsung melepaskan tangan di dada Keenan lalu menangkupkannya di dada dirinya sendiri, di saat bersamaan Keenan juga menarik tubuh Riska, hingga akhirnya mereka menempel dengan sempurna.


Dengan jahilnya Keenan menurunkan kepalanya, hingga kini bibir keduanya menempel satu sama lain. Akibat gerakan yang terlalu tiba-tiba itu, Riska mematung beberapa saat hingga tak lama dia langsung memalingkan wajahnya, melepas pangutan bibir mereka.


"Abaang! Dasar nyebelin, tukang copet, pencuri!" Riska langsung mencoba berontak dari pelukan Keenan, dia memukul kecil di daerah dada, karena tangannya yang tertekuk.


'Astaga, kenapa selalu buat aku terkejut dan jadi malu begini sih!' geram Riska dalam hati. Detak jantungnya langsung naik dengan cepat hingga rasanya dia takut Keenan akan ikut mendengarnya.


Tak ada rasa sakit karena pukulan dari istrinya itu, Keenan terkekeh mendapati wajah merah Riska. Ada rasa bahagia yang tersembunyi setiap kali dia berhasil menjahili istrinya yang polos itu.


"Sshhh, tega sekali suami sendiri di bilang copet sama pencuri," ujar Keenan sambil semakin mengeratkan pelukannya, Riska yang sudah tak bisa bergerak akhirnya menyerah, dia menyandarkan kepalanya di dada bidang sang suami.


"Siapa suruh suka nyamber bibir aku gak bilang-bilang, kayak copet. Terus kalau malam suka curi ciuman aku juga," gumam Riska, dia menutup matanya menikmati debaran jantung Keenan yang ternyata seirama dengan dirinya.


Dia tak pernah menyangka kalau jantung Keenan juga bertalu seperti dirinya saat ini.


Keenan mengerutkan keningnya saat mendengar gumaman Riska. "Jadi kamu tau?"


Riska yang bergumam tanpa sadar langsung mengangkat kepalanya, dia melihat Keenan dengan alis bertaut.


"Tau apa?" tanyanya seperti orang tak tau apa-apa.


Riska membolakan matanya, dia menutup mulutnya dengan kedua tangan. 'Ish, ini mulut kenapa harus kelepasan segala sih?'


"E–enggak, s–siapa bilang?" tanya Riska gugup.


"Tadi kamu yang bilang sendiri," desak Keenan..


"E–enggak, aku gak bilang gitu." Riska berdalih, dia mengalihkan pandangannya dari wajah sang suami.


Keenan menyunggingkan senyum miring, saat melihat gurat kebohongan di wajah sang istri. 'Jadi selama ini dia tau kalau aku suka mencuri ciumannya? Dan dia tidak menolak?'


"Ya, baiklah ... terserah kamu saja," ujar Keenan, dia meraih belakang kepala istrinya dan mendorongnya agar menempel kembali ke dadanya. Lelaki itu juga menaruh dagunya di atas puncak kepala Riska setelah memberi ciuman kilas di sana.


Riska tak menolak, untuk beberapa saat mereka berdua masih berada dalam posisi yang sama.


.


Hari beranjak malam, keduanya memutuskan untuk menonton televisi bersama setelah menyelesaikan makan malamnya.


Riska duduk di sofa dengan posisi bersandar pada Keenan, yang memeluknya erat. Riska sebenarnya merasa aneh karena sejak kejadian itu, suaminya tampak tidak segan lagi melakukan kontak fisik padanya.


Dia terlihat lebih menempel padanya, tak seperti biasanya. Ada rasa senang di sudut hatinya saat mendapati perlakuan Keenan yang semakin hari semakin seperti seorang suami yang sesungguhnya. Meskipun dia tak menampik kalau ada rasa resah dan bingung yang mengiringi di belakangnya. Dia masih bingung dengan perasaan Keenan yang sesungguhnya.

__ADS_1


Walaupun kini hubungan mereka telah jauh lebih baik dari pertama kali. Akan tetapi, itu tak menghilangkan rasa takut di dalam hatinya.


Tak ada kata romantis yang terlontar, atau pujian yang membuat hatinya berbunga-bunga. Akan tetapi, sikap Keenan yang jahil dan sering kali mencuri kesempatan untuk dekat dengannya, membuat rasa canggung di antara mereka menghilang secara perlahan.


"Abang," panggil Riska, doa mendongak demi melihat wajah suaminya.


"Heem?" Keenan hanya bergumam sebagai jawaban, dia menurunkan pandangannya sekilas lalu mengusap puncak kepala Riska sambil kembali melihat televisi di depannya.


"Aku bosan," keluh Riska, dia yang terbiasa ke sana ke mari, sekarang merasa seperti terkurung, padahal ini baru sehari dia berada di apartemen, tanpa keluar.


"Bosan?" Keenan mengulang perkataan Riska.


"Heem," jawab Riska.


"Terus mau ke mana? Ini sudah malam," ujar Keenan. Sebenarnya belum terlalu malam, karena jam masih menunjukan pukul delapan malam.


"Gimana kalau kita, jalan-jalan ke luar?" Riska memberi saran.


"Kamu mau ke Mall?" tanya Keenan dengan alis bertaut.


Riska menggeleng. "Aku cuma mau jalan-jalan. Biasanya aku kalau jenuh suka minta di bonceng sama Rio untuk keliling."


"Kamu mau naik motor?" tanya Keenan.


"Kalau, Abang, mau boncengin aku," jawab Riska, menyerahkan keputusannya pada Keenan.


Keenan tampak terdiam, dia menimbang lebih dulu, sebelum memutuskan.


"Baiklah, ayo kita bersiap lebih dulu," ujar Keenan. Riska langsung menegakkan tubuhnya, melihat penuh wajah Keenan.


"Beneran? Abang, mau boncengin aku?!" tanya Riska yang langsung diangguki oleh Keenan.


"Sana, kamu ganti baju dulu, dan pakai jaket biar gak dingin," ujar Keenan.


"Siap, Bos!" ujar Riska, langsung berdiri dengan gaya hormat bendera, sebelum akhirnya berlari menuju kamar.


Keenan terkekeh geli, melihat sikap ceria dan polos Riska yang selalu bisa membuatnya tersenyum. Dia mengambil ponsel dan menghubungi salah satu anak buahnya.


"Ambilkan motorku di rumah, bawa ke apartemen secepatnya," perintah Keenan, dia langsung mematikan sambungan teleponnya begitu mendengar jawaban dari orang di seberang sana. Beranjak berdiri untuk menyusul Riska ke kamar dan mengganti baju.


...🌿...


...🌿...


...Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2