Berbagi Cinta : Antara Kita

Berbagi Cinta : Antara Kita
Bab.243 Gak Bisa Jauh


__ADS_3

...Happy Reading...


...❤️...


Hari ini Riska berencana untuk berkunjung ke rumah ibunya, setelah pulang dari butik. Dia yang sekarang sudah jarang bertemu dengan ibu dan adiknya, tiba-tiba saja merasa rindu.


"Bang, nanti sore aku mau ke rumah Ibu dulu. Abang jemput di sana saja ya," ujar Riska, melalui telepon, saat suaminya menghubunginya tadi siang.


"Iya. Maaf ya, sayang. Aku gak bisa jemput kamu di butik," jawab Keenan, yang masih berkutat dengan berkas di mejanya.


"Gak apa-apa, Bang. Aku bisa kok ke rumah ibu sendiri. Abang, fokus bekerja saja. Aku tunggu di sana ya," ujar Riska.


"Hem, baiklah. Kalau begitu aku tutup teleponnya ya. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


Sambungan telepon pun terputus, Riska kembali bekerja seperti biasanya.


Hari pun berjalan terasa begitu cepat, kini butik sudah tutup dan semuanya bersiap untuk pulang.


"Ris, kamu gak bareng aja sama kita?" tanya Wanda dan Sekar yang berniat untuk pulang bersama.


Riska yang masih sibuk dengan beberapa laporan mendongakkan kepalanya, melihat kedua teman kerjanya.


"Gak usah, Mba. Aku masih ada pekerjaan lain," tolak Riska.


"Ya udah deh. Kami pulang duluan ya." pamit Sekar yang diangguki oleh Wanda.


"Iya, Mba. Hati-hati di jalan." Riska tersenyum pada kedua tean kerjanya itu.


Sepeninggal kedua temannya, Riska kembali berkutat dengan pekerjaan yang lumayan banyak.


.


Di tempat lain, Rio baru saja pulang dari rumah salah satu temannya. Saat melewati Clarissa boutique, dia melihat seseorang yang sedang mengawasi butik itu.


Rio menghentikan laju motornya di depan sebuah mini market, tidak jauh dari butik tempat kakaknya bekerja itu.


"Ada apa sih, Yo? Kok berenti di sini?" tanya teman yang berada di belakangnya.


"Itu tempat kerja kakak aku, sepertinya ada yang sedang mengawasi," ujar Rio, sambil membuka helm yang dia pakai.


"Hah! Mana?" tanya temannya itu, sambil mengikuti arah pandangan Rio.


"Tuh lihat, orang yang sedang berdiri di sana, sejak tadi dia terus melihat ke dalam butik," rio menunjuk seorang lelaki yang tengah berdiri di samping salah satu mobil yang terparkir di depan butik.


"Tapi, butik itu kan udah tutup. Mungkin itu cuman orang yang kebetulan lewat," ujar teman Rio, ikut menilai.


Rio termenung sebentar, entah kenapa perasaannya tidak enak dan tiba-tiba terpikir kakaknya, hingga tanpa sadar menghentikan motornya di sana.


'Apa mungkin itu hanya orang lewat?' gumamnya dalam hati, sambil melihat lelaki itu dan butik yang sudah tertutup bergantian.

__ADS_1


"Kita pulang saja, yuk. Udah sore banget nih!" ajak teman Rio.


Rio menatap temannya, lalu kembali melihat pintu butik dengan pandangan gusar.


"Sebentar, aku telepon kakakku dulu. Biasanya dia pulang trakhir." Rio masih merasa berat untuk meninggalkan tempat itu.


Dia pun mengambil ponselnya di dalam saku, mencoba menghubungi nomor Riska. DI saat itu, lelaki yang sedang mereka awasi menoleh ke arahnya.


Dua orang remaja itu pun menolehkan pandangannya ke mini market di depannya.


"Kamu masuk dulu ke sana, beli minum atau apa pun, biar dia gak curiga," ujar Rio pada temannya.


Temannya itu menengadahkan tangan depan Rio dengan senyum sumringahnya.


Rio yang tau maksud temannya itu, berdecak malas sambil mengambil uang pecahan dua puluh ribuan di dalam sakunya yang lain.


"Nah kalau ada ini kan aku jadi gak bosen nemenin kamu di sini," ujar teman Rio, sambil langsung mengambil uang di tangan Rio.


Rio hanya berdecak saat melihat temannya itu langsung melangkah cepat masuk ke dalam mini market itu.


Sepeninggal temannya, Rio kembali fokus pada ponsel di tangannya.


"Gak diangkat? Apa kakak udah pulang ya?" gumamnya, menatap layar ponsel yang masih menampilkan ID nama sang kakak.


Dia mencoba menelepon nomor Riska lagi. Akan tetapi, tetap tak mendapatkan jawaban.


"Gimana?" tanya temannya yang baru saja keluar dengan membawa dua botol minuman dan satu bungkus makanan ringan.


"Lagi di jala kali. Ya udahlah, kita pulang aja," ujar temannya sambil duduk di motor dan membuka minuman yang baru saja ia beli.


Rio pun mengambil botol minuman yang lain dan menenggaknya, dengan pikiran yang masih saja terasa kalut.


Menunggu beberapa saat, sebelum akhirnya Rio kembali memakai helmnya dan meninggalkan tempat itu.


.


Di dalam butik, Riska sedikit meregangkan tubuhnya, dengan hembusan napas kasar.


"Heuh, akhirnya selesai juga," ujar Riska.


Sedikit membereskan berkas di atas meja, agar terlihat lebih rapi.


"Eh, ponsel aku di mana ya?" tanya Riska pada diri sendiri, saat dia tak mendapati ponsel miliknya di atas meja.


Riska menyandarkan pungggungnya, dengan mata berkeliling, mencari keberadaan benda pipih itu.


Tangannya mencoba membuka laci, atau kertas yang masih ada di atas meja. Akan tetapi, dia masih tak dapat menemukan ponselnya.


Beberapa saat termenuung, mencoba mengingat terakhir kali dia menggunakannya.


"Oh ya, aku isi baterai di belakang kayaknya deh!" Riska langsung beranjak dari tepat duduknya dan berjalan menuju pantri, tempat dia biasa mengisi baterai ponsel.

__ADS_1


"Nah, ini dia! Ish, dasar pelupa!" rutuknya pada diri sendiri, sambil mengambil ponselnya di atas meja pantri.


Tanpa memeriksanya, ia memasukkan ponsel tadi ke dalam saku celananya.


Sebelum pulang, dia mengecek kembali setiap pintu dan jendela, memastikan tidak ada yang terlewat, menguncinya.


Riska juga, mencabut semua peralatan listrik yang tidak penting, untuk meminimalisir terjadinya konslet.


Setelah memastikan semuanya aman, dia pun mengambil tas dan sebuah paper bag yang sudah ia siapkan untuk dibawa ke rumah sang ibu.


Membuka sedikit pintu butik yang belum terkunci itu, sambil bersenandung kecil.


Di tangannya terdapat kunci pintu yang ia mainkan dengan cara memutarnya.


"Ternyata sudah senja. Gak terasa, lama juga aku di dalam," gumamnya, melihat langit yang tampak indah dengan semburat warna jingga.


Menaruh paper bag kemudian berbalik untuk mengunci pintu terlebih dahulu.


Seorang lelaki yang sejak tadi mengawasi butik, tampak ke luar dari dalam mobil dan melangkah menuju Riksa berada.


Riska pun berbalik sambil memasukan kunci butik ke dalam tas miliknya, hingga tanpa sadar seseorang sudah berdiri tepat di depannya.


Mata Riska melebar saat melihat seseorang yang ada di depannya. Akan tetapi, tak lama kemudian senyumnya pun terbit di wajahnya.


"Abang? Kok ada di sini? Katanya tadi pulang telat lagi?" tanya Riska.


Keenan tersenyum, melihat istrinya yang terkejut dengan kedatangannya.


"Gak tau, tiba-tiba kakiku mengarahkan aku ke sini. Sepertinya aku gak bisa jauh dari kamu lebih lama lagi," jawab Keenan dengan gaya jahilnya.


"Idih, gak usah sok puitis. Gak pantes! Biasanya juga, Abang, pulang malam," cebik Riska, matanya mengedar mencari mobil Keenan yang biasa dia pakai.


"Abang, gak bawa mobil?" tanya Riska.


"Itu," tunjuk Keenan, pada mobil berwarna hitam.


"Mobilku mogok. Terpaksa aku bawa mobil kantor," jelas Keenan.


Riska mengangguk-anggukkan kepalanya sambil berjalan menuju mobil.


"Pantes aja aku gak sadar, Abang, ada di sini. Mobilnya beda," ujar Riska.


Keenan mengambil paper bag yang tergeletak, lalu menyusul langkah istrinya.


Ya, karena terkejut dengan kedatangan Keenan, Riska melupakan paper bag yang dia bawa untuk ibu dan juga adiknya.


Akhirnya sepasang suami istri itu pun pergi dari butik bersama-sama.


...🌿...


...🌿...

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2