
...Happy Reading...
...❤...
Abra Ruzik, ya Ezra bisa mengenal lelaki tua itu. Ayah dari Arumi yang memilih pulang ke negara kelahirannya bersama Melati setelah mendiang istrinya meninggal, sekitar lima tahun yang lalu.
Lelaki yang dikabarkan tengah sakit itu, nyatanya masih dalam keadaan sehat dan bugar dengan aura angkuh menyelimuti seluruh tubuhnya.
Menyuruh seorang lelaki yang terlihat lebih muda di belakangnya, untuk mendekat kepada Ezra dan memeriksa keadaan Arumi.
“Stop!” cegah Ezra, setelah salah satu anak buah Abra berada di jarak yang bisa melihat kedalaman mobilnya, tetapi juga tidak terlalu dekat dan membahayakan dirinya.
Membuka pintu mobil bagian belakang, untuk memperlihatkan kedua orang itu yang ternyata sudah sadar, tetapi, masih dalam keadaan lemah dan terikat.
“Daddy, tolong aku!” teriak Arumi, dari dalam mobil.
“Bagaimana, apa kamu sudah percaya kalau mereka dalam keadaan baik-baik saja?” tanya Ezra, kembali menutup pintu mobil dan menguncinya.
Lelaki yang diperintahkan untuk melihat Arumi pun, melaporkan apa yang ia lihat di dalam mobil pada Abra.
“Tidak bisa, aku mau mereka keluar dulu dari mobil, agar aku bisa melihatnya secara langsung!” tolak Abra.
“Aku tidak mau, bagaimanapun di sini aku hanya sendiri dengan tanpa senjata, sedangkan kalian? Bukan hanya jumlah yang tidak seimbang, tapi, kalian juga membawa senjata lengkap!” debat Ezra, masih berusaha bernegosiasi.
“Hahaha ... aku tidak bodoh anak muda. Kau mematikan ponsel dan membuangnya, lalu meninggalkan mobilmu di mall, sehingga kami tidak bisa melacak keberadaanmu. Apa aku masih pantas percaya padamu, hah?” Abra tertawa mengejek kepada Ezra.
Ezra tersenyum miring mendengar perkataan Abra, ia sudah menyangkanya, kalau saat dia pergi ke apartemen Keenan, pasti di sana sudah ada anak buah Abra yang memasang alat pelacak di mobilnya, juga nomor teleponnya. Makanya, Ezra langsung memutar otak agar ia bisa terhindar dari semua itu.
“Hem, baiklah. Aku akan membawa Arumi ke luar, tetapi tidak dengan Lucas!” tegasnya.
“Oke, aku setuju!” angguk Abra. Setelah beberapa saat ia berdiam diri.
Ezra langsung membuka mobil dan membawa Arumi ke luar, ia kembali menutup dan mengunci mobilnya.
Sedangkan di tempat tak jauh dari sana, Max dan para anak buahnya bersiap siaga, bila sampai ada yang berniat curang.
“Daddy!” teriak Arumi, saat sudah keluar dari dalam mobil, ia berusaha melepaskan diri dari Ezra, namun ternyata cekalan satu tangan Ezra saja tidak bisa ia kalahkan.
Abra tampak memperhatikan dari ujung kaki sampai ujung rambut Arumi, meneliti kondisi anak satu-satunya yang ia miliki.
Baju kebesaran entah milik siapa, rambut acak-acakan dan sedikit basah, juga wajah pucatnya, menambah lusuh penampilan Arumi saat ini.
“Kau baik-baik saja, sayang?” tanya Abra dengan raut wajah penuh penyesalan.
“Cepatlah, kau sudah terlalu lama mengulur waktu!” Ezra langsung memotong perkataan Arumi yang baru saja membuka mulutnya.
Abra tampak mengangguk-anggukkan kepalanya, kemudian beralih menatap anak buahnya yang berada di kedua sisi Keenan.
“Kau, antarkan Keenan padanya,” ujarnya kemudian.
Perlahan Keenan pun di bawa pada Ezra dan mereka langsung mendorongnya saat jaraknya sudah dekat.
Ezra pun mulai melepaskan Arumi dan memberikannya pada anak buah dari Abra.
Arumi langsung berlari menuju pada Abra, sedangkan Keenan, hanya tinggal selangkah lagi mencapai keberadaan Ezra.
Namun, Ezra yang sensitif dengan keadaan, merasakan ada pergerakan berbahaya dari mereka, hingga ujung matanya melihat sebuah senjata api sudah mengarah pada keberadaan Keenan.
“Jika aku tak bisa memiliki salah satu dari kalian, maka aku juga tidak mengizinkan orang lain memiliki kalian berdua!” desis orang itu, dengan tatapan tajam penuh dendam, sebelum menarik pelatuk senjata di tangannya.
“Ken, awas!” dengan sekuat tenaga Ezra berusaha melindungi adiknya, ia membawa Keenan bergeser, sejauh mungkin.
Kejadian yang begitu cepat itu tak di sadari oleh orang-orang yang berada di sana, termasuk Max. Karena orang itu berada di sisi lain dari tempat mereka melakukan penukaran.
Saat itu pula Max dan anak buahnya keluar dari persembunyian, dan kembali menyerang Abra dan para anak buahnya.
Baku tembak pun tak bisa terhindarkan, Ezra membawa Keenan bersembunyi, karena dirinya memang tak membawa senjata.
“Kamu baik-baik saja?” tanyanya dengan napas terengah-engah.
Kini mereka bersembunyi di balik sebuah rumpun yang cukup lebat.
“Yah, aku baik-baik saja,” jawab Keenan. Menarik napas panjang untuk mengembalikan detak jantung juga napas yang sepertinya sempat berhenti.
__ADS_1
Namun, ternyata semua itu tak bisa bertahan lama, Keenan kembali membelalakkan matanya, saat melihat darah yang mengucur di kemeja kakaknya.
“Kak?” panggilnya, melihat kondisi Ezra saat ini. Dirinya semakin dibuat terkejut dengan adanya dua luka tembakan di sisi perut dan juga pundaknya.
“Aku baik-baik saja.” Ezra memberikan senyum tipis, walau wajahnya sudah mulai memucat.
Ya di malam yang cukup gelap, Keenan bisa melihat kondisi Ezra dengan bantuan cahaya bulan.
“Kita harus segera pergi dari sini, Kak. Ayo ... Kakak, pasti tahu di mana letak mobil Max. Kita ke sana sekarang!”
Dengan nada panik bercampur khawatir, Keenan membawa Ezra menyelinap di balik pertarungan antara kubu Max dan Abra.
Sesekali mereka bahkan harus menunduk atau berguling agar tak terkena tembakan nyasar dari pertarungan itu.
Hingga beberapa saat kemudian, Ezra berhasil mengarahkan mereka menuju tempat mobil Max dan anak buahnya. Untung saja ada satu orang yang berjaga di sana, hingga mereka bisa langsung masuk ke dalam salah satu mobil itu tanpa pusing mencari kunci atau lain sebagainya.
Keenan bahkan sudah lupa dengan luka di tubuhnya akibat menjadi samsak hidup para anak buah Abra. Saat ini yang menjadi fokusnya adalah keadaan Ezra. Kakaknya itu terlihat semakin melemah, dia bahkan terus mencengkeram luka di sisi perutnya, untuk mempertahankan kesadaran.
“Kakak bawa ponsel?” tanya Keenan di sela dirinya menyetir mobil.
Ezra mengangguk lalu menunjuk di saku celananya.
Mengambilnya dengan segera, Keenan langsung menuliskan nomor telepon Ansel untuk segera datang ke rumah Ezra, karena kondisi darurat.
Ya, karena itu adalah luka tembak, Keenan memutuskan untuk membawa Ezra ke rumahnya di banding ke rumah sakit, ia terlalu malas kalau harus menjawab pertanyaan terlebih dahulu, apa lagi bila ada yang sampai melapor polisi, itu akan semakin membuat rumit keadaan.
Hingga beberapa saat kemudian dia sudah sampai di rumah Ezra, bersamaan dengan mobil Agra dan beberapa staf yang menemaninya.
Awalnya ia mengira seluruh penghuni rumah sudah tertidur karena malam terlihat sudah larut. Tetapi, ternyata semua dugaannya salah, saat ia melihat kakak iparnya itu telah berdiri dengan wajah terkejut. Ketika dirinya baru saja masuk ke dalam rumah.
“Astagfirullah ... kalian kenapa?” suaranya terdengar bergetar dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
Membantu Keenan memapah Ezra ke dalam, masuk ke kamar tamu lalu di susul oleh kedatangan Ansel.
Keenan langsung keluar, ia begitu merasa bersalah atas apa yang terjadi pada kakaknya saat ini. Kalau bukan karena dirinya yang memisahkan diri, mungkin semua itu tidak akan terjadi.
Baru saja ia menutup pintu kamar, suara dering ponsel Ezra yang tadi ia gunakan untuk menelepon Ansel terdengar.
“Halo,” sapanya, ia tahu itu nomor Max.
Keenan terdiam, sepertinya mendengarkan perkataan dari Max.
Kembali diam dan hanya mengangguk sesekali.
“Baiklah, aku tunggu,” ucapnya, sebelum panggilan berakhir.
Keenan bahkan lupa untuk menanyakan kondisi di sana saat ini. Berjalan dengan langkah gontai menuju sofa yang ada di ruang tamu, lalu duduk di sana.
Para pekerja langsung memberikannya air putih, tanpa berani bertanya apa yang terjadi.
Beberapa saat menunggu, ia mendengar satu mobil datang, ia langsung berdiri dan menghampiri orang yang datang.
“Segera berikan obat penawar ini untuknya, sebelum racunnya menyebar!” ucap lelaki itu yang tak lain adalah Max.
Dengan segera Keenan masuk kembali ke kamar dan memberikan penawar itu pada Ansel. Ada raut wajah terkejut saat Keenan berkata itu adalah penawar, karena memang Ansel belum berkata apa-apa.
Namun, ia tak memberikan penjelasan, ia lebih memilih untuk langsung kembali ke luar.
“Bagaimana nasib mereka sekarang?”
Melihat keadaan Max yang biasa saja, tanpa ada luka sedikit pun. Keenan sudah dapat menebak, kalau pertarungan tadi dimenangkan oleh Max.
“Maaf aku tidak bisa menyelamatkan mereka dari maut. Kau tahu sendiri, bagaimana cara kerja kami,” ucap Max, walaupun ada kata maaf, tetapi, tidak ada raut wajah menyesal sama sekali.
Keenan hanya mengangguk, mungkin memang harus begini hukuman yang mereka dapatkan.
“Lalu, dari mana kamu tahu jenis racun di peluru itu?” tanya Keenan lagi.
“Aku mengetahuinya dari senjata yang di temukan bersama gadis penembak itu,” ucap Max, dia memang langsung menargetkan penembak Ezra sebagai sasaran, ketika menyerang.
Keenan kembali mengangguk, walau keningnya sedikit bertaut, saat menyadari Max menyebutkan seorang gadis. Dirinya memang tidak sempat melihat penembak itu, karena Ezra langsung menariknya menjauh.
“Gadis?” tanya Keenan.
“Hem, dia adalah anak dari Arumi dan Lucas yang bernama Melati, dia dilatih dan disiapkan, untuk meneruskan organisasi mafia Abra,” jelas Max, ia memang sudah mengetahui semuanya dari anak buahnya sore tadi, begitu juga Ezra.
“Apa, Melati?” gumam Keenan, yang masih didengar oleh Max.
__ADS_1
“Ya, Melati adalah anak Lucas, bukan Larry. Mereka sengaja merencanakan itu, agar Larry terikat dan tidak bisa meninggalkan Arumi, supaya bisa memanfaatkannya sebagai sumber penghasilan dan penambah kekayaan.”
Penjelasan Max kali ini, benar-benar membuat Keenan terkejut, ia tak pernah menyangka kalau permasalahan keluarga Ansel dan Ayu itu begitu rumit, hingga berurusan dengan mafia. Untung saja kakaknya memiliki teman yang juga berada di dunia seperti itu. Dia tidak bisa membayangkan bila mereka tak mendapat dukungan dari Black Eagle.
Setelah berbincang beberapa saat, Max memilih untuk pergi dan kembali ke markasnya.
Keenan pun mulai diberi pengobatan oleh para rekan kerja Ansel, setelah masa kritis Ezra terlewati.
“Ken?”
Tepukan di pundak dengan suara panggilan di dekatnya, menyadarkan lamunan panjang Keenan. Ayu, wanita itu melihat dengan kening berkerut halus.
“Kamu melamun?” tanyanya.
“Ah, tidak. Aku hanya sedang memikirkan Kakak saja?” kilah Keenan.
“Sudah makan siang?”
“Sebentar lagi, aku masih senang menikmati suasana di sini,” jawabnya.
Ayu mengangguk. “Baiklah, jangan terlalu lama, ini sudah lewat waktu makan siang,” nasihat Ayu, sebelum pergi meninggalkan adik iparnya itu.
Keenan hanya mengangguk, tanpa menjawab, pandangannya beranjak mengikuti punggung kakak iparnya yang mulai menjauh.
Sampai sekarang dirinya dan Ezra belum memberikan penjelasan pada kakak iparnya itu. Tetapi, sepertinya dia tidak lagi menuntut seperti pagi.
Ayu mengambil kembali melangkah menuju kamar tamu di mana Ezra berada, dengan satu pelayan mengikutinya, dengan membawa nampan berisi makan siang mereka berdua.
Begitu pintu kamar terbuka, ia langsung mendapati senyuman teduh Ezra menyambutnya.
“Makan dulu ya mas, biar aku suapin,” ucap Ayu, setelah ia duduk di samping suaminya.
“Hem, tapi kamu juga harus makan,” ucap Ezra.
“Iya, lihat aku menyiapkan makanan ini untuk kita berdua,” jawab Ayu, memperlihatkan piring yang berisi lumayan banyak makanan.
Ia menyodorkan sendok berisi makanan di depan mulut Ezra, tapi Ezra menggeleng.
Ayu mengernyit, pandangannya seolah bertanya, apa yang salah. Ezra tersenyum lalu mendorong sendok itu ke depan mulut istrinya.
“Kamu dulu, baru aku,” ucapnya, lembut.
Wajah Ayu langsung merona, dengan perlahan ia membuka mulutnya dan menerima suapan pertama itu.
Kembali menyendok nasi dan lauk, lalu menyodorkannya di depan mulut Ezra, yang langsung diterima.
“Hem, sepertinya ini lebih enak dari biasanya, apa karena ada bekas bibir kamu di sini, ya?” komentar Ezra yang bercampur dengan godaan, di sela mengunyah makanan.
“Apa sih, Mas? Lagi sakit gini, masih bisa gombal,” gerutu Ayu, sambil mengulum senyumnya.
“Aku gak gombal, aku hanya sedang mengungkapkan perasaanku. Itu semua alami dan datang dari lubuk hatiku, tanpa bisa aku tahan saat bersamamu, sayang,” jawab Ezra. Sebelah tangannya mengusap wajah Ayu lembut.
Ayu tersenyum, ia selalu saja tidak bisa menahan senyumnya setiap kali mendapatkan kata-kata manis dari suaminya. Ezra begitu pandai mengambil alih hatinya, dan membuatnya luluh, tanpa harus berbuat banyak.
Siang itu, mereka makan dengan piring dan sendok yang sama, di selingi berbagai rayuan manis Ezra.
Suasana begitu hangat dan romantis, walau saat ini mereka hanya menghabiskan waktu di dalam kamar.
Hingga menjelang sore hari Ansel datang untuk memeriksa kembali Ezra dan Keenan.
Ezra memilih untuk kembali ke kamarnya, dan beristirahat di sana, setelah Ansel melepas infus dari tubuhnya. Kondisinya yang berangsur membaik, dengan begitu cepat. Membuat Ansel hanya meninggalkan beberapa pesan untuk merawat luka Ezra pada Ayu dan beberapa larangan selama lukanya belum mengering.
Lelaki yang berprofesi sebagai dokter itu, kembali meninggalkan rumah Ezra setelah semua tugasnya selesai.
...🌿...
...🌿...
...Bersambung...
Wah bab ini sepertinya bab terpanjang deh, hanya tinggal beberapa kata lagi sampai dua ribu kata, semoga kalian puas ya🤭🥰
Oh ya, maaf ya kalau Flash back nya terlalu panjang, sebenarnya sebelum nulis Flash back aku juga sedikit ragu karena memang cukup panjang. Tapi, daripada jadi tidak jelas kejadiannya, aku lebih memilih menulis panjang saja🙏😁
Terima kasih juga sama kalian yang selalu mendukung aku lewat apapun itu, terutama komentar positif, itu semua sangat berarti dan aku jadikan untuk penyemangat dalam menulis dan meneruskan cerita ini. pokoknya lope lope sekebon buat kalian semua😘😘❤❤
__ADS_1