Berbagi Cinta : Antara Kita

Berbagi Cinta : Antara Kita
Bab.51 Kesal


__ADS_3


...Happy Reading...


.......❤.......


Hari terus berganti, tiga hari berlalu begitu saja, tanpa terasa.


Ayu sudah merasa lebih baik dari sebelumnya.


Selama tiga hari ini, Ansel dan Elena selalu menjenguknya, tak lupa juga Ezra dan Naura yang sesekali datang.


Pagi ini Ayu sudah bersiap untuk pergi kembali ke butik.


Sudah banyak pekerjaan yang terbengkalai karena kesehatannya, dan peraturan dari Ansel yang tidak membolehkan dirinya bekerja sebelum benar-benar pulih.


Keberadaan Mang Ujang dan Bi Yati juga sangat membantu dirinya dalam mengurus rumah.


''Bi, aku pergi dulu ke butik,'' pamit ayu sebelum keluar dari rumah.


''Iya, Non ... hati di jalan,'' jawab Bi Yati, berjalan mengikuti majikan barunya itu ke sampai ke teras rumah.


Wanita paruh baya itu, merasa senang bekerja dengan sosok majikan yang sangat baik seperti Ayu.


Walau pun baru beberapa hari dirinya mengenal Ayu, namun dapat terlihat jelas, kalau Ayu adalah sosok wanita yang baik dan juga tulus.


Ayu hendak membuka pintu mobil, saat tiba-tiba ada sebuah mobil berhenti di depan rumah.


''Siapa itu, Bi?'' tanya Ayu mendongakan wajahnya melihat ke arah gerbang.


Di sana, Mang Ujang berjalan menghampiri mobil yang pasti mereka berdua sudah tau pasti siapa pemiliknya.


"Kayaknya itu Den Ezra, Non," jawab Bi Yati, melihat mobil yang terparkir.


Tidak lama kemudian, Ezra keluar dari mobil dan menghampiri Ayu.


"Biar aku antar kamu ke butik," ucap Ezra tiba-tiba, setelah mengucapkan salam.


"Tidak mau! Biasanya aku juga pergi sendiri," tolak Ayu tanpa basa-basi.


"Tidak bisa! Ansel sudah menitipkan kamu kepadaku," debat Ezra tidak mau kalah.


Melihat kedua majikan mereka sedang berdebat, Mang Ujang dan Bi Yati memilih pergi dengan senyum tersembunyi, dan kembali mengerjakan pekerjaan yang belum selesai.


"Memangnya aku barang, pake di titipkan segala?" cebik Ayu, dengan wajah di tekuk.


"Mungkin," ucap acuh Ezra mengedikkan kedua bahunya.


Ayu melotot tajam pada lelaki di sampingnya itu.


Ezra malah tersenyum, melihat wajah kesal Ayu.


"Ayo! Atau kamu mau telepon kakakmu dulu, untuk memastikan?" tanya Ezra bersidekap dada.


Ayu menghela napas kasar, melirik Ezra dengan tajam.


Ezra tak peduli, ia mengangkat salah satu alisnya dan melangkah lebih dekat pada Ayu.

__ADS_1


Ayu melangkah mundur dengan penuh waspada.


"Baiklah, aku ikut dengan kamu," ucap Ayu, bergegas menuju keluar rumah, tempat mobil Ezra parkir, dengan berjalan sambil menghentakkan kakinya, kesal.


Ezra tersenyum sambil menggeleng geli, melihat sikap wanita yang ia sukai itu, yang menurutnya sangat lucu.


Berjalan menyusul Ayu yang sudah berdiri di samping mobilnya.


Bip ... bip ...


Ezra membuka kunci mobilnya, Ayu langsung masuk dan duduk dengan muka masih saja terlihat kesal, di ikuti Ezra di sisi pengemudi.


"Ayo, jalan!" ucap Ayu, dengan kekesalan yang sudah memuncak.


Ezra tak menjawab, namun dia mendekatkan badannya kepada Ayu, hingga wanita itu, mundur semakin merapat pada pintu.


Ayu menahan napas, dengan debar jantung yang semakin cepat, kepalanya menunduk dalam, seakan tak ingin bertemu tatap dengan lelaki di dekatnya itu.


"Bagaimana aku bisa jalan, kalau kamu belum memasang sabuk pengaman, hem?" tanya Ezra dengan menaikkan salah satu alisnya.


Senyum menggoda terukir di wajah tampannya.


Klik...


Ezra kembali menjauhkan tubuhnya dan memasang sabuk pengaman pada dirinya sendiri.


Ayu menghembuskan napasnya yang terasa sesak.


Ezra tersenyum samar, ketika melihat semburat warna merah, dari pipi sang wanita.


Sepanjang perjalanan, tak ada yang bersuara lagi, mereka berdua hanya berteman dengan keheningan, bersama pikirannya masing-masing.


Ezra fokus pada jalanan di depannya, sedangkan Ayu, masih saja sibuk menetralkan detak jantungnya.


Beberapa saat kemudian, mobil yang di kendarai Ezra sudah sampai di parkiran Clarissa boutique.


"Terima kasih," ucap Ayu, bergegas keluar dari mobil.


Ezra hanya mengangguk, namun matanya terus memperhatikan setiap langkah dari adik sahabatnya itu.


Setelah memastikan, kalau Ayu sudah sampai, Ezra kembali mengemudikan mobil miliknya menuju tempatnya bekerja.


...❤...


Di tempat dan waktu yang berbeda, Radit dan Mala sedang berembuk bersama kedua belah keluarga untuk meminta pendapat, tentang kehamilan Mala.


Setelah pagi tadi, dia dam Mala tidak mendapat kesepakatan dari perbincangan mereka.


Radit menginginkan, agar Mala mempertahankan kehamilannya.


Namun, Mala mau untuk melakukan kuretase karena takut bayi yang di kandungnya akan terlahir tidak sempurna.


Radit pun akhirnya membawa Mala untuk bertemu dengan dokter yang menanganinya untuk menjelaskan, apa saja yang akan terjadi bila istri keduanya itu melakukan kuretase.


"Yang harus kalian tahu, bahwa setelah melakukan kuretase, rahim Ibu Kemala, harus istirahat dulu, untuk melakukan penyembuhan, jadi saya sarankan Ibu Mala, untuk melakukan KB terlebih dahulu, sampai rahim Ibu benar-benar pulih," jelas sang dokter wanita dengan sangat hati-hati, mengingat masalah seperti ini adalah sebuah permasalahan yang rentan untuk membuat pasien maupun keluarganya merasa tersinggung.


Mala mendengarkan dengan seksama, apa saja yang di katakan oleh dokter paruh baya itu.

__ADS_1


Terkadang dia juga memberikan pertanyaan, ketika ada sesuatu yang menurutnya salah, atau belum di mengerti.


Hingga akhirnya, di sinilah mereka sekarang, bersama seluruh keluarga yang masih ada.


Perselisihan pendapat itu, terjadi lagi, di ruangan rawat Kemala.


Namun, karena Radit kalah suara, jadi mereka memutuskan untuk melakukan kuretase.


Radit tak berkata apa pun. Namun, dia langsung pergi dengan langkah lebarnya.


Meninggalkan sang istri dan seluruh keluarga yang hadir.


Radit menghentikan langkahnya di taman rumah sakit, duduk di salah satu kursi taman yang terbuat dari besi, di cat dengan warna yang berbeda, sehingga terlihat lebih cantik.


Tangannya mengepal, menahan emosi yang memuncak, dia kecewa dengan keputusan istri dan keluarganya.


Lelaki itu, sudah terlanjur mencintai dan berharap besar pada kehamilan Mala.


Namun semua itu, harus tertunda kembali karena semua ini.


Hatinya mengumpat, menyalahkan dirinya sendiri, hingga terlintas di pikirannya tentang istri pertamanya yang juga di rawat di rumah sakit yang sama.


Seharian ini dirinya terlalu sibuk mengurus Mala, hingga dirinya lupa dengan istri pertamanya yang juga sedang sakit.


Hatinya kembali mendidih ketika mengingat, kedekatan Ayu dan lelaki lain, selain dirinya.


Dengan cepat, bangkit kembali, lalu berjalan menuju ke ruangan rawat Ayu.


Betapa kagetnya dia, saat melihat ruangan rawat Ayu, sudah kosong, tidak ada lagi penghuni di dalamnya.


Berjalan keluar kembali, untuk bertanya pada suster yang berjaga.


"Ibu Ayu, sudah pulang sejak tadi pagi, Pak," jawaban yang dia dengar dari seorang perempuan dengan memakai baju perawat rumah sakit, membuat dirinya mematung.


Lagi-lagi dirinya harus terlambat dan melupakan istri pertamanya, karena istri keduanya.


"Brengs*k!" umpat Radit mengepalkan tangannya.


...🌿...


...🌿...


...Bersambung...


Sambil nunggu aku up lagi, boleh baca novel karya kak EuRo40 yang berjudul BERBAGI CINTA: DIA JUGA SUAMIKU.


Yang bikin aku kaget dan penasaran sama cerita ini, karena pelkornya sama-sama bernama Mala.


Nah yang belum puas ngehujat si Mala di sini, bisa lah melipir ke sana🤭


Ceritanya seru kok, bikin kita nagih ... nagih minta up mulu maksudnya🤣🤣


Jangan lupa tinggalkan jejak ya...


Terima kasih kakak-kakak baik hati🥰🥰


__ADS_1


__ADS_2