Berbagi Cinta : Antara Kita

Berbagi Cinta : Antara Kita
Bab.179 Jalan Malam


__ADS_3


...Happy Reading...


...❤...


Keenan dan Riska sudha siap dengan jaket mereka masing-masing, dengan tema hitam dan putih.


"Yuk," ajak Keenan, menggandeg lengan Riska.


"Sebentar, aku ambil tas dulu," ujar Riska sambil melepas tangan Keenan dan mengambil tas kecil di atas meja.


"Abang, kita foto dulu yuk," ajak Riska, sambil memakai tas kecilnya.


"Buat apa sih? Ayo, berangkat, nanti keburu malam," ujar Keenan tak memperdulikan Riska.


Riska tak patah semangat, dia menarik tangan Keenan dan membawanya di depan cermin. Keenan yang awalnya malas, kini tersenyum ketika sebuah ide melintas di pikirannya.


Dia berdiri di belakang Riska yang sedang memosisikan ponsel miliknya di depan kaca, ia melingkarkan tangannya di pinggang istrinya.


Ckrek!


Satu jepretan kamera berhasil menangkap gambar keduanya, Keenan tersenyum saat Riska tak protes dengan posisi tangannya saat ini.


Ckrek!


Jepretan ke dua, Keenan mencuri ciuman di pipi istrinya itu.


"Abang!" Riska menoleh denhan sedikit mendongakkan kepala sambil merengut kesal, lagi-lagi suaminya itu mencuri ciumannya. Akan tetapi, matanya kini melebar dengan ponsel yang hampir saja jatuh dari tangan saat Keenan malah menyambar bibirnya.


Keenan meraih tangan Riska yang hampir menjatuhkan ponsel yang digenggamnya akibat terkejut, dia menyalakan kamera dengan bibir masih tertaut.


Ckrek!


Satu foto dengan posisi intim itu berhasil tersimpan di memori ponsel Riska dan mungkin di memori kedua orang itu sendiri.


Riska menutup matanya, saat Keenan mulai bermain di sana, menghisap lembut dan menerobos masuk. tangannya meremas jaketnya sendiri, menahan gelanyar aneh yang perlahan mulai timbul kembali.



Keenan melepas tautan bibir keduanya, setelah merasakan Riska sudah kehabisan napas. Dia tersenyum sambil mengusap bibir istrinya itu yang terlihat sedikit bengkak karena ulahnya.


Mengalihkan pandangan pada ponsel di tangan mereka berdua, dia tersenyum puas mendapati foto yang ia ambil barusan.


"Nah, begini baru benar," ujar Keenan tanpa rasa bersalah. Keenan mengirimkan beberapa foto yang baru saja di ambil ke nomor miliknya.


"Abang ngapain?" tanya Riska hendak mengambil ponsel di tangan Keenan. Akan tetapi, dengan sigap suaminya langsung mengangkat tinggi tangannya hingga tak tergapai oleh Riska.


"Sebentar, aku belum selesai," ujar Keenan. Dia baru mengembalikan ponsel Riska setelah dia berhasil mengirimkan foto mereka berdua yang baru saja di ambil.


Riska masih saja memajukan bibirnya, menahan kesal karena suaminya itu kembali memanfaatkan kesempatan dan mencuri ciumannya, bahkan ini lebih lama dan bukan sekedar kecupan seperti biasnaya.


"Yuk, katanya mau jalan-jalan," ajak Keenan, menarik tangan Riska untuk segera melangkah ke luar kamar.

__ADS_1


"Perasaan tadi aku yang mau ... tapi, kenapa sekarang, Abang, yang semangat?" gerutu Riska di sela langkahnya.


Keenan berhenti dia berbalik untuk melihat wajah Riska yang masih merengut. "Kenapa itu bubur masih dimajukan begitu? Mau aku cium lagi?"


Riska langsung menutup mulutnya menggunakan satu tangan sambil menggelengkan kepala.


Keenan tersenyum, lalu mengacak sedikit rambut di puncak kepala Riska.


"Kalau gitu senyum dulu," goda Keenan.


Riska tak menjawaab, dia malah melangkah mendahului Keenan dengan pipi merahnya. Keenan menggelengkan kepala, lalu ikut melangkah mengikuti istrinya dengan tangan yang masih saling menggenggam.


Sampai di basement apartemen, seorang lelaki tampak yang berdiri di samping sebuah motor trail berwarana hitam terprkir.



"Terima kasih," ujar Keenan sambil menerima dua buah helm dari tangan lelaki itu. Dia memakainya lebih dulu dan menaruh satu helm lagi di atas jok motor.


"Ini motor siapa, Bang?" tanya Riska.


"Ini motor aku, memang jarang aku pakai sih," jawab Keenan.


Lelaki itu mengambil helm di atas motor, lalu memasangkannya di kepala istrinya. Riska tak menolak, dia membiarkan Keenan melakukan apa yang dia mau.


Klik!


Suara kunci helm terdengar, Keenan memukul kecil helm di kepala Riska hingga istrinya itu memekik kaget.


"Apanya yang sakit?" tanya Keenan sambil naik ke atas motor.


"Kepalanya lah, masa helmnya," gerutu Rsika.


"Oh, aku kira helmnya, soalnya 'kan helmnya yang kamu elus," ujar Keenan dengan kekehan kecil di mulutnya.


Riska meringis, mengingat kebodohannyaa sendiri. "Iya juga, ya?"


"Sudah, ayo naik," Keenan mengulurkan tangan kirinya membantu Riska untuk segera naik ke atas motor.


Riska meraih tangan Keenan, lalu naik dengan tangan satunya lagi memegang pundak suaminya.


"Kita ke mana sekarang?" tanya Keenan, begitu mereka sudah siap berada di atas motor.


"Kemana aja, terserah, Abang," jawab Riska.


Keenan mulai menarik pedal gas, melajukan motor keluar dari area basement dan menyatu dengan keramaian jalan raya.


Keenan mengambil tangan Riska yaang memegang jaketnya lalu melingkarkannya di perut. "Aku bukan ojek."


Rsika yaang sepeeti mendengarr Keenan berbicaar taapi tidak jelas, memajukan wajahnya.


"Hah! Apa, Bang?!" teriaknya, tepat di dekat telinga Keenaan.


"Aku bukan ojek, kamu jangan pegangan di jaket!" Keenan sedikit meninggikan suaranya.

__ADS_1


"Hah! Apanya yang robek, Bang?!" tanya Riska lagi, masih tak mendengar jelas perkataan suaminya.


Keenan mengehembuskan napas kasar, dia kira selama ini rumor di luar yang bilang 'Perempuan kalau sudah naik motor suka tiba-tiba jadi agak tuli' itu salah. Akan tetapi, sepertinya semua itu memang benar adanya, dan sekarang dia sedang menghalanginya sendiri.


"Ojek jadi robek?" gumam Keenan menggerutu sendiri.


Riska tersenyum dia menyandarkan kepalanya di punggung Keenan, mengeratkan pelukan sambil menikmati malam yang terasa semakin dingin.


Sekitar tiga puluh menit berkendara, Keenan menghentikan motornya di salah satu kedai kopi pinggir jalan.


"Kita istirahat dulu ya," ujar Keenan sambil melepas helmnya.


Riska melepaskan pelukannya, dia melihat sekitarnya yang tampak masih ramai. Turun dari motor dan berdiri di samping suaminya.


Keenan membantu Riska membuka helmnya, lalu menyimpannya di atas motor, dia mengambil tangan Riska untuk membawanya ke dalam.


Riska mengikuti langkah Keenan, dia melihat ada beberapa orang yang sedang duduk dan bercengkerama bersama teman-temannya.


Keenan duduk di atas kursi panjang yang terbuat dari kayu, tepat di depan penjual kedai kopi itu. Riska ikut duduk di samping suaminya.


"Bang, bubur kacang hijau, gak pake ketan, satu, sama wedang jahe, satu," ujar Keenan memesan minuman untuknya lebih dulu.


"Kamu mau apa, Ris?" tanya Keenan, beralih pada Riska.


Riska melihat lebih dulu menu yang tertulis di dinding kedai itu, lengkap dengan harganya.


Dia setempat tidak menyangka kalau Keenan akan membawanya ke tempat seperti ini.


"Aku susu jahe aja," jawab Rsika.


"Bang tambah susu jahe satu, sama rebusan, komplit," ujar Keenan.


Riska mengerutkan kening, dengan pesanan kedua dari Keenan. "Aku 'kan gak pesen?"


"Gak papa, itu buaat temen aja, siapa tau kamu mau. Enak loh, ada macam-macam, dari mulai umbi-umbian sampai kacang tanah dan kedelai juga ada," jelas Keenan.


Riska tak menjaawab, dia lebih memilih untuk mengedarkan pandangannya ke sekitar kedai itu, terlihat sederhana. Akan tetapi, cukup ramai pembeli, tidak heran juga, karena di sana menyajikan minuman hangat dan kudapan khas yang cukup pas untuk di santap malam hari.


"Aku gak nyangka, Abang, tau tempat seperti ini," ujar Riska.


"Ini tempat yang biasa aku dan Kak Ezra datangi setelah main atau sedang ingin menikmati malam," jawab Keenan.


Riska mengaangguk-anggukkan kepalanya, tempat ini memang cukup bagus untuk orang yaang sedang ingin nongkrong bareng teman-teman, dengan bajet yang minim.


Kalau saja dia tak mengalaminya sendiri, mungkin Riska tidak akan percaya seseorang seperti Ezra dan Keenan yaang bergelimang harta bisa jajan dan makan di tempat seperti ini.


Malam itu, Riska menemukan sosok lain lagi di diri sang suami. Mereka berdua menikmati malam dengan berbincang berteman minuman hangat dan sehat. Hingga hampir tengah malam, keduanya baru memutuskan kembali ke apartemen.


...🌿...


...🌿...


...Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2