
...Happy Reading...
...❤...
Hari sudah hampir berganti, saat Keenan berjalan sempoyongan menuju apartemen miliknya dengan perasaan yang tak menentu. Dia tak bisa menerim perkataan dari perempuan yang ia tolong pagi tadi, semua itu terlalu mendadak dan mengejutkan.
Hatinya terasa sesak setiap kali mengingat semua itu, dirinya menyesal juga merasa sebagai lelaki tak berguna.
Bagaiman mungkin kekuasan keluarga dan kepintarannya seakan tak bisa menemukan kebenaran tentang Luna selama ini, kebenaran yang disembunyikan dengan begitu apik, hingga tak menemukan celah untuknya.
Bahkan seorang Ezra bisa tertipu oleh sandiwara keluarga itu, Keenan tertawa miris mengingat semua itu.
Mereka telah ditipu, ditipu oleh permintaan seseorang yang sedang meregang nyawa.
Tidak bisa, dia yidka bisa menerima semua itu, kenapa rasanya sangat menyakitkan, kenapa rasanya begitu menyesakkan, hanya karena mendengar semua kebenaran itu.
Dia ingin kecewa, dia ingin marah, dan melampiaskan semua itu. Akan tetapi, pada siapa? Pada dirinya sendiri, yang telah begitu bodoh, atau kepada Luna, seseorang sudah tidak bisa lagi dia gapai.
Bayangan percakapannya dengan perempuan yang tadi ia tolong di rumah sakit, terus terngiang di pikirannya.
Flashback
"Keenan?"
Keenan yang tadinya sudah tidak berharap banyak dan memilih menyerah untuk meminta penjelasan, kini mengangkat kepalnya, melihat perempuan itu. Perempuan yang amat ini tengah berjalan pelan menghampirinya.
Jantungnya berdetak lebih cepat saat permpuan itu semakin dekat dengannya, Keenan tak menagkihkan pandangannya dari wajah pucat dan satu itu.
"Kamu masih mengingatku?" tanya Keenan, seakan tak percaya.
"Kamu beneran, Keenan?" bukannya menjawab perempuan itu malah kembali bertanya.
"Ya, aku Keenan, apa kamu tidak mengenaliku lagi?" tanya Keenan, dia melihat setiap ekspresi wajah di depannya.
Perempuan itu menggeleng, bukan itu yang dia maksud.
"Bukan begitu, aku memng tidak mengenalmu," ujar perempuan itu.
__ADS_1
Keenan mengernyit mendengar perkataan perempuan di depannya, apa dia salah mengenali orang itu? Tidak mungkin, dia masih mengingat betul bagaiman rupa perempuan yang selama ini selalu mengisi hatinya.
Jelas sekali tidak terlalu banyak yang berubah dari perempuan itu, hanya saja dia terlihat lebih berisi dan juga bertambah dewasa, tentu itu bisa saja terjadi karena waktu yang sudah dilewatinya.
"Apa maksudmu?" tanya Keenan, dengan alis bergaut dalam.
Perempuan itu terdiam seperti sedang memikirkan sesuatu. Keenan tak mengalihkan pandangannya, dia sama sekali tak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh perempuan di depannya itu.
'Kalau memang dia bukan Luna, lalu kenapa dia tau namanya? Dan kenapa dia juga sangat mirip dengan Luna?' gumam hati Keenan.
"Aku Alana, bukan Alana," ujarnya ragu.
Keenan semakin tidak mengerti, yang dia tahu Luna tidak memiliki seorang kembaran, dia tidak pernah melihat atau bahkan mendengar tentang kembaran Luna.
"Alana?" gumam Keenan, mengulangi perkataan perempuan di depannya.
"Kamu tidak sedang menghindariku 'kan, Lun?" tanya Keenan.
"Kamu bukan ingin berdalih karena tidak mau menjelaskannya padaku?" desak Keenan lagi.
Perempuan yang mengaku sebagai Alana itu, menggelengkan kepala berulang kali, menolak pertanyaan yang menjurus pada tuduhan yang dilontarkan oleh Keenan.
"Lalu, bagaiman bisa kamu begitu mirip denga dia? Dan, kamu juga mengetahui namaku?" tanya Keenan.
"Aku mengetahui semua itu dari Luna, dia yang menceritakan semuanya tentang kamu juga tentang hubungan kalian berdua. Dia menceritakan saat-saat bersamamu secara rinci kepadaku, setiap hari, hingga aku merasa sudah mengenalmu, walau tanpa tau bagaiman wajah dan rupa dirimu." Alana memulai ceritanya, matanya menerawang kembali pada masa beberapa tahun lalu.
Keenan tampak tak beegeming dia menatap wajah Alana dengan begitu serius, pendengarannya menajam seakan ada yang ia lewatkan walau satu kata saja.
"Ya, satu yang dia tidak pernah membiarkan aku tahu tentang dirimu, yaitu wajah dan nama lengkapmu, agar aku tak bisa mencari keberadaan kamu. Dia tidak mau aku menceritakan tentang dirinya padamu, dia begitu memikirkan perasaanmu, hingga tak lagi mementingkan perasaanya sendiri."
Keenan bisa melihat mata itu kini tampak berkaca-kaca, dengan suara yang mulai parau, menahan tangis.
"Kami berdua kembar identik yang dipisahkan sejak bayi, karena suatu alasan. Aku dirawat oleh kakek dan nenekku, sedangkan dia dirawat oleh orang tua kita. Kami beru bertemu setelah aku nekat menyusulnya ke luar negri."
"Luar negeri?" Keenan merasa janggal dengan kata itu, karena yang dia tahu Luna tidak mempunyai rencana untuk pergi ke luar negeri.
"Iya, dia pergi ke luar negeri, untuk berobat. Satu minggu setelah kalian mengadakan perpisahan sekolah." Alana menatap mata Keenan dengan perasaan tak menentu, dia tidak tahu apanyanga skarang dilakukannya benar atau salah, hanya saja dia ingin memberi penjelasan kepada lelaki yang dicintai oleh saudara kembarnya.
"Berobat? Apa maksudmu? Dia tidak sakit, selama aku bersamanya dia tidak pernah terlihat sedang sakit, kecuali asma, " desak Keenan, meminta penjelasan.
__ADS_1
Alana tersenyum dengan satu bulir air mata lolos dari pelupuk.
"Itulah Aluna, dia sudah berteman dengan rasa sakitnya sejak kecil hingga dia tak pernah menganggap rasa sakit itu. Dia juga sukses mengelabuhi orang di sekitarnya dengan alasan 'asma'."
Keenan memicing mencoba mencerna perkataan Alana dari awal sampai akhir.
"Sebenarnya dia tidak pernah memiliki penyakit asma, itu hanya alasan untuk menutupi penyakit yang sesungguhnya. Dia memanfaatkan kelamahan yang sama anatara penyakit yang ia derita secara kasat mata."
"Lalu, sakit apa dia sebenarnya? Dan di mana dia sekarang?" tanya Keenan, tidak sabar.
Luna tersenyum, dia menatap Keenan dengan hati yang kagum. Walau sudah bertahun-tahun ditinggalkan oleh saudara kembarnya, dia masih melihat ada cinta di lelaki itu.
'Kamu tidak salah mencintai orang, Lun. Dia lelaki yang baik dan sangat setia padamu." gumam hati Alana.
"Dia sudah mengalami gagal jantung sejak lahir," ujar Alana.
Deg.
Keenan mematung mendengar perkataan yang dilontarkan oleh perempuan di depannya. Dia menggeleng pelan, menolak untuk percaya semua itu.
Terkekeh miris dengan mata mulai berkaca-kaca. Dia tidak bisa menerima semua itu, hati dan pikirannya bahkan terasa kosong, saking terkejutnya.
"Karena kami adalah kembar identik dan aku bisa merasakan apa yang diderita oleh Aluna, keluarga memutuskan untuk memisahkan kita, agar aku tidak ikut tersiksa. Akan tetapi, semua itu ternyata tidak terlalu berpengaruh, aku masih bisa merasakan apa yang dia rasakan walau jarak memisahkan kita, dan kita sama-sama tidak tau kalau kami mempunyai sudara kembar," jelas Alana, dengan air mata susah berurai.
"Dia tidak pernah meninggalkanmu, Keenan. Dia tidak pernah menghianatimu, dia hanya tidak ingin kamu melihat dirinya dalam keadaan menyedihkan, dia tidak mau kamu tau penderitaannya, Keenan," imbuh Alana lagi.
Keenan terhenyak, dia tak bisa menerima semua yang sudah dilakukan oleh Luna padanya.
"Bagaiman mungkin? Bagaimana mungkin dia bisa melakukan itu kepadaku? Dia masih meragukan cintaku? Kenapa dia tidak bisa mempercayaiku? Apa aku masih kurang membuktikan rasa cintaku padanya, hah?!" tanya Keenan, beruntun, dengan suara menekan dan tertahan.
"Tidak! Bahkan dia sangat mncintaimu, Keen. Cinta yang membuatnya melakukan semua itu ... cintamu juga yang membuat dia bisa bertahan sejauh itu. Kamu alasan untuk nya bertahan hidup, Keen!" Alana menggeleng, tak menerima semua perkataan Keenan.
"Lalu, kenapa dia tidak bisa membagi rasa sakitnya padaku? Kenapa dia tidak bisa memberiku kesempatan untuk menemaninya di dalam susah? Kenapa?!" tanya Keenan lagi, dia mensongakkan kepala, menahan air yang sudah mendesak di pelupuk mata.
...🌿...
...Di mana Aluna sekarang? Ayo coment👍...
...🌿...
__ADS_1
...Bersambung...