Berbagi Cinta : Antara Kita

Berbagi Cinta : Antara Kita
Bab.224 Jalan-jalan


__ADS_3


...Happy Reading...


...❤...


Makan malam yang dipenuhi suasana baru itu, berlangsung dengan sedikit berbeda dari biasanya.


Riska yang biasanya cerewet, kini terlihat lebih banyak diam. Rasa canggung kini lebih mendominasi hatinya, hingga dia seakan kehabisan kata untuk diucapkan pada sang suami.


Keenan yang melihat itu menjadi bingung, dia mengira kalau Riska tidak suka menjadi bahan perhatian para tamu di sana.


"Sayang, maaf ya ... aku gak bermaksud bikin kamu gak nyaman seperti ini," ujar Keenan, di selam makannya.


Riska menatap sekilas wajah sang suami, dia merasa belum mengerti dengan maksud Keenan.


"Tidak nyaman gimana?" Riska malah bertanya ulang.


"Ya, minta maaf, karena sudah membuat kamu gak nyaman makan di sini. Kalau kamu mau, kita boleh kok pindah ke restoran lai, atau kembali ke hotel," ujar Keenan, memberi saran.


Riska mengernyit, dia masih saja bingung.


"Aku gak merasa begitu. Restoran ini cukup nyaman untuk aku, lagian suasananya juga bagus, aku suka, makanannya juga enak, apa yang kurang?" jawab Riska, sekaligus bertanya pada Keenan.


Keenan menatap wajah Riska begitu dalam, meneliti setiap perubahan wajah istrinya itu.


"Aku kira kamu gak nyaman, karena sejak tadi para pengunjung lain pada lngelihat kita terus," ujar Keenan.


"Eh, aku gak gitu kok. Aku malah senang bisa berada di sini," jawab Riska.


'Lalu karena apa, dia berubah jadi pendiem gini?' tanya Keenan alam hati.


Keenan tersenyum, menanggapi perkataan Riska.


"Oh gitu ya? Jadi kamu kalau lagi senang itu jadi diem gini ya?" tanya Keenan, penuh tanda tanya.


"Hah? Eum–enggak kok, aku ... kita kan lagi makan, masa aku harus ngomong terus, gak enak sama orang-orang di sini," dalih Riska.


Keenan menganguk-anggukkan kepalanya, dia pun menyetujui saja, perkataan Riska yang sebenarnya hanya sebuah alasan.


Keenan kembali menyuapkan menu makan malamnya ke dalam mulut, dia kemudian mempunyai ide untuk mencairkan suasana kaku di antara keduanya.


Keenan pun mengambil kembali makanannya memakai sendok, lalu menyodorkannya di depan Riska.


"Cobain deh, ini enak loh," ujar Keenan kemudian.

__ADS_1


Riska lebih dulu melihat suaminya, matanya seakan bertanya, kemudian membuka mulut, setelah mendapatkan anggukkan kepala samar dari Keenan.


"Gimana? Enak kan?" tanya Keenan, melihat Riska yang mulai mengunyah makanannya.


"Enak banget, Bang," angguk Riska. Akan tetapi, kemudian dia meringis, mengira berapa uang yang harus dikeluarkan oleh Keenan, hanya untuk makan malam mereka kali ini.


"Tapi, ini semua pasti malah banget ya, Bang?" tanya Riska.


Keenan menggeleng, dia tersenyum dengan ekspresi gemas di wajahnya.


'Bisa gak sih, dia gak perhitungan dan irit seperti ini?' gumam hati Keenan.


'Untung saja, pas ketemu Aryo, dia lagi kesel dan fokus bermanja denganku, jadi dia tidak tau berapa uang yang haus aku keluaran di sana'


Keenan, mengingat uang yang harus ia keluarkan untuk makan siang dengan Alana beberapa hari lalu.


"Enggak kok, walaupun kamu mau makan di sini, selama ada di Bali. Aku juga masih bisa bayarin kamu, tanpa harus memikirkan kehidupan kita kedepannya. Bahkan kamu masih bisa belanja oleh-oleh, sesuka kamu," jelas Keenan panjang lebar.


Riska mencebikkan bibirnya, mendengar kesombongan Keenan, saat dirinya menanyakan tentang uang, atau harga suatu barang dan makanan yang suaminya itu beli.


"Iya-iya, kau tau uang, Abang, banyak. Kalau kata anak muda jaman sekarang itu. 'Uang, Abang, gak ber–seri'. Iya kan?" ujar kesal Riska, yang malah membuat Keenan tergelak.


"Ish, kok malah ketawa sih? Ga jelas banget?" ujar Riska lagi.


"Ya, itu kan sebutan anak muda jaman sekarang, untuk orang kaya seperti, Abang, yang uangnya udah gak terhitung," jelas Riska.


Keenan menagngguk-anggukan kepalanya, sambil berusaha menghentikan rasa geli di dalam perutnya, hingga membuat dia tak bisa menghentikan tawanya.


"Ya ... ya, itu terserah kamu deh. Memang dari mana kamu dapat kata-kata itu, sayang?" tanya Keenan lagi.


"Aku tau dari aplikasi video pendek," jawab Riska.


Keenan mengernyit, mendengar jawaban istrinya, dia menatap Riska tak percaya.


"Kamu menonton yang seperti itu juga? Kapan? Aku gak pernah lihat, kamu skrol aplikasi video pendek selama ini." Keenan bertanya dengan wajah serius.


Ya, memang selama bersama Keenan, Riska jarang sekali terlihat memegang ponselnya, bahkan hampir tidak pernah, begitu juga bilasednag bersama para keluarganya.


"Ya, cuman buat hiburan aja sih, Bang. Lagian aku gak ikutan kok, cuman seneng nonton aja. Aku juga nonton pas ada waktu senggang aja," jelas Riska.


"Aku kira kamu gak suka nonton video seperti itu. Bengkel Kak Ezra juga menggunakan video pendek itu, untuk promosi bengkel baru. Biasanya itu di luar kota. Kebetulan ada staf khusus yang mengurus semua itu," jelas Keenan.


"Oh ya? Coba, Mbak Nindi jga pake aplikasi itu untuk promosi butik, pasti akan tambah rame, ya?" tanya Riska.


"Memang selama ini, kalian kekurangan pelanggan, hem?" tanya Keenan.

__ADS_1


Riska tersneyum lebar sampai semua gigi bagian depannya terlihat, dia kemudian menggeleng.


"Heheh, gak juga sih. KIta bahkan suka kebanjiran pesanan, kalau sedang ada yang memesan baju untuk satu keluarga lengkap, atau bahkan seragam untuk acara seperti pertunangan dan pernikahan," ujar Riska.


"Itu kamu sudah bisa menjawabnya sendiri, sayang. Kalian sudah tidak perlu lagi, melakukan promosi seperti itu. Apa lagi, sekarang Kak Nindi baru saja melahirkan, aku yakin Kak Ezra tidak akan membiarkan istriya bekerja terlalu banyak."


Keenan menjelaskan dengan sabar. Riska pun akhirnya mengangguk, dia mengerti apa yang utama di dalam hidup bosnya itu, setelah menikah dengan Ezra.


"Sudahlah, buka mulutnya lagi," ujar Keenan, sambil kembali menyodorkan makanan miliknya pada Riska.


"Aku udah kenyang, Bang," ujar Riska.


"Apanya yang sudah kenyang? Kamu bahkan belum menghabiskan makanan milikmu, sayang," tanya Keenan.


"Kamu harus makan yang banyak, agar bisa lebih kuat lagi," imbuh Keenan lagi.


Riska yang masih bingung dengan perkataan suaminya, menatap Keenan dengan kening berkerut.


"Untuk apa? Memang kita mau ke mana? Ini kan sudah malam," tanya Riska dengan wajah polosnya.


'Astaga aku lupa kalau istriku masih polos' gumam Keenan dalam hati.


"Itu semua karena kita akan berjalan-jalan dan menikmati malam panjang, nanti," jawab Keenan, berharap istrinya itu mengerti.


"Jalan-jalan? Ke mana, malam-malam seperti ini?" tanya Riska lagi malah semakin penasaran.


Keenan kembali menyuapkan makanan pada mulut istri polosnya itu.


'Aduh, gimana ini, aku jadi terjebak dalam perkataanku sendiri?' keluh Keenan, dalam hati.


"Ya, pokoknya, kamu menurut dia ikuti saja aku. Nanti juga kamu tau sendiri, sayang," jawab Keenan, sedikit frustasi, untuk menjelaskan hal itu di depan umum.


"Oh ... Abang mau main rahasia-rahasiaan lagi ya, sama aku?" tanya Riska.


"Ya, karena sebenarnya ini adalah sebuah kejutan," ujar Keenan, tersenyum hambar di wajahnya.


"Oke, karena aku sedang bahagia, jadi malam ini aku akan menurut dan mengikuti keinginan, Abang," ujar Riska, yang membuat Keenan kembali tersenyum cerah.


Makan malam pun selesai dengan perbincangan ringan antar sepasang suami istri itu.


...🌿...


...🌿...


...Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2