Berbagi Cinta : Antara Kita

Berbagi Cinta : Antara Kita
Bab.275 Salahpaham


__ADS_3

...Happy Reading...


......................


Setelah melihat mobil polisi yang membawa istrinya itu pergi, Aryo masuk kembali ke dalam rumah. Dirinya harus tetap terlihat oleh anak-anaknya, agar mereka tidak kehilangan ibunya.


Aryo tersenyum samar, saat melihat kedua anaknya sudah sedang menuruni anak tangga ke bawah.


"Selamat pagi, Papah!" seru mereka, dengan wajah cerianya.


Senyum di wajah Aryo semakin melebar, walau di dalam hati, semakin ada terasa ada menusuk ke dalam jantungnya.


Mengingat, mungkin untuk beberapa waktu ke depan, anak-anaknya tidak akan bisa bertemu dengan ibunya.


"Selamat pagi, sayang. Heem, wangi sekali, anak-anaknya, Papah." Aryo berlutut di depan kedua anaknya.


"Ayo, kita sarapan dulu. Nanti Papah yang atau jalan ke sekolah," sambung Aryo lagi, sambil berdiri dan menggandeng tangan kedua anaknya itu.


Beberapa saat kemudian dia sudah berada di sekolah kedua anaknya, melambaikan tangan sebagai tanda semangat untuk kedua anak kecil itu, yang sedang berjalan semakin jauh darinya.


Setelah memastikan kedua anaknya masuk ke dalam sekolah, Aryo langsung masuk lagi ke dalam mobil, untuk menyusul sang istri ke kantor polisi.


Tidak menunggu waktu lama, dia sudah menghentikan mobilnya di area parkir sebuah kantor polisi, di mana istrinya berada.


Menatap bangunan di depannya dengan sorot mata sendu, dia menarik napas dalam lalu membuangnya kasar, mencoba meredakan rasa sesak di dalam dada.


Keluar dari dalam mobil, dia sempat termenung sesaat, sebelum melangkah menuju ke dalam bangunan itu.


Aryo berdiri dengan tubuh yang terasa kaku, begitu melihat sang istri yang masih dalam proses pemeriksaan oleh penyidik kepolisian.


Entah apa yang kini dia rasakan, Aryo sendiri tidak bisa menjabarkannya dengan jelas. Hanya saja rasa sakit dan tidak berdaya yang berada di posisi paling besar kini.


Cukup lama, dia menunggu hingga akhirnya, Alana keluar dari ruang penyelidikan.


Wajah kusut dan sembab, menjadi pemandangan pertama dari sang istri, kali ini. Hatinya yang sudah terluka, kini bertambah sakit, begitu melihat penampilan sang istri.


Alana yang melihat keberadaan suaminya, langsung berlari dan memeluknya begitu erat, dengan tangis yang kembali pecah.

__ADS_1


Pengacara yang sebelumnya sudah dihubungi oleh Aryo, untuk menemani istrinya pun menghampirinya.


"Honey, maafin aku. Aku gak mau dipenjara, honey. Tolong bebasin aku dari sini," lirih Alana di dalam pelukan Aryo.


Aryo menatap sang pengacara, memberikan kode mata, menanyakan kasus yang kini tengah menjerat istrinya.


Setelah mendapat jawaban, dari pengacaranya, Aryo mengurai pelukan istrinya, dia mengajak Alana untuk duduk di salah satu kursi yang ada di sana.


"Honey, sebenarnya apa yang kamu inginkan dengan semua ini? Kenapa kamu bisa melakukan semua itu kepada mereka?" tanya Aryo.


Kedua tangannya memegang pundak Alana cukup kencang, dia yang sejak tadi mencoba untuk mengubur semua rasa kecewanya, kini tidak lagi bisa mneahannya, saat berhadapan dengan istrinya.


Alana sedikit meringis, merasakan sakit di kedua pundaknya, dia menatap wajah sang suami yang juga tampak terlihat kacau.


"Honey," lirih Alana, menyadarkan suaminya dari perasaan yang hampir saja menguasai tubuhnya.


Aryo tersadar, dia pun melepaskan pundak istrinya, lalu mengusap wajahnya kasar, sambil memalingkan wajahnya dari Alana.


"Jawab pertanyaanku, Alana," ujar Aryo lagi, dengan suara yang terdengar berat.


Dia mencondongkan tubuhnya dengan siku yang bertumpu pada pahanya, jati-jarinya pun bertaut di bawah dagu, dengan kerutan halus di keningnya.


"Karena, aku sangat membenci Keenan dan keluarganya. Aku mau melihat dia merasakan, apa yang dulu dirasakan oleh Aluna," jawab Alana, dengan mata yang memerah.


Aryo menoleh melihat wajah istrinya, dia kemudian kembali menegakkan tubuhnya. Menggeleng samar dengan senyum mirisnya.


"Apa kamu tidak ingat padaku dan anak-anak, sebelum melakukan semua itu pada mereka? Bagimana nasib kami?" Aryo menjeda perkataannya, dengan pandangan yang jatuh.


"Terutama anak-anak," lirihnya, sambil menatap kembali istrinya, dengan sorot mata penuh luka.


"Apa kamu tidak pernah berpikir, bagaimana mereka menjalani hari-harinya tanpa kamu disampingnya?" tanya Aryo lagi.


Alana tersedu, air matanya bahkan kembali menganak sungai, saat mengingat wajah kedua anaknya.


"A–aku, aku tidak bermaksud begitu, honey. A–aku." Alana, menangkup wajahnya, menyembunyikan tangis yang kini pecah.


Dirinya benar-benar tidak menyangka semua ini bisa terjadi, semuanya hancur hanya karena sebuah dendam, yang sudah dia tanam di dalam hatinya beberapa tahun lalu, semenjak melihat saudara kembarnya tersiksa oleh rindu kepada Keenan, di akhir hidupnya.

__ADS_1


"Alana, mereka tidak salah sama sekali. Waktu itu, Aluna yang memang ingin meninggalkan Keenan."


Tiba-tiba, dari arah belakang mereka, datang kedua orang tua Alana dan Aluna. Mereka tampak berjalan menghampiri anak dan menantunya itu.


Sebelumnya, Aryo sudah menghubungi mereka dan menceritakan masalah yang sekarang sedang terjadi pada keluarganya.


Dia pun meminta tolong kepada kedua mertuanya, untuk menjelaskan semua yang terjadi kepada Aluna dan Keenan, beberapa tahun yang lalu.


Alana menoleh ke arah belakang, dia tampak terkejut dengan kedatangan kedua orang tuanya. Kemudian menatap penuh tanya pada suaminya.


"Mungkin mereka bisa membuat kamu mengerti dengan masalah ini," ujar Aryo, seakan tau apa yang ingin ditanyakan oleh istrinya.


Kedua orang tua Alana, kini duduk di samping anak perempuannya.


"Alana, waktu itu Keenan dan keluarganya mencari Aluna, bahkan kakaknya yang bernama Ezra, pernah datang ke rumah dan menanyakan langsung ke mana Aluna kepada kami," ujar ayahnya Alana, mengingat kembali kejadian saat itu.


"Bahkan semua keluarga Kita pun mereka datngai, demi mengetahui keberadaan Aluna saat itu. Tapi, karena Aluna tetap ingin menyembunyikan diri dari Keenan, kami terpaksa mngeluarkan kata-kata kasar bahkan menghina keluarga itu, agar mereka menyerah."


"Benar saja, setelah saat itu, pencarian Aluna berhenti. Mereka tidak lagi berusaha datang ke rumah, dan kami mendengar Keenan dibawa ke luar negri oleh kakaknya, dan meneruskan sekolah di sana."


Ayah Alana kini berlutut di depan anaknya, dia menatap wajah kacau anak perempuannya yang ternyata salah mengartikan kejadian beberapa tahun yang lalu, hingga mengakibatkan timbul rasa dendam di hatinya.


"Kamu salahpaham, Nak. Keenan dan keluarganya tidak pernah meninggalkan Aluna ataupun mengacuhkan Aluna, hanya karena penyakitnya," ujarnya, menatap sendu Alana.


Alana melebarkan matanya, menggeleng samar mendengarkan kenyataan yang terjadi pada saudara kembarnya. Ternyata selama ini dirinya sudah dibutakan dengan sebuah kebencian, dan dendam yang tidak berdasar sama sekali.


Kembali melihat suaminya, Alana memegang kedua tangan Aryo dengan sorot mata penuh penyesalan.


"Maafkan aku, honey. Aku benar-benar menyesal," lirih Alana, di sela isak tangisnya.


"Tolong pertemukan aku dengan mereka, aku mau meminta maaf pada mereka, kalau perlu aku mau bersujud di depan Keenan dan Riska, agar mereka mau memaafkan aku."


...🌿...


Nah, gimana ini sikap Keenan selanjutnya ya? Komen👍


...🌿...

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2