Berbagi Cinta : Antara Kita

Berbagi Cinta : Antara Kita
Bab.103 Kondisi Radit


__ADS_3


...Happy Reading...


...❤...


Di lantai bawah, lebih tepatnya di resto hotel, Keenan tampak tersenyum penuh maksud, saat mengingat rencananya dengan Nawang, untuk mengerjai sepasang pengantin baru itu.


Akh, sepertinya kurang tepat kalau disebut mengerjai, mungkin lebih tepatnya mereka tengah memberi kelancaran untuk Ezra dapat berbuka puasa setelah sekian lama.


Nawang bahkan sampai membawa Naura untuk pergi berlibur ke puncak selama beberapa hari, demi melancarkan rencana mereka.


Terkekeh geli, saat membayangkan apa yang sedang terjadi di dalam kamar kakaknya. Sibuk dengan pemikirannya sendiri, Keenan bahkan sampai tak menyadari kalau saat ini dirinya tengah menjadi bahan perhatian para tamu resto sore itu.


 


...........................


 


Suasana gembira yang diliputi penuh cinta yang kini sedang dirasakan Ayu, berbanding terbalik dengan apa yang kini sedang terjadi, di rumah orang tua Radit.


Sari sedang uring-uringan karena mendengar kabar pernikahan Ayu yang dilangsungkan di sebuah hotel mewah, dengan undangan terbatas dan penjagaan ketat.


Wanita paruh baya itu, baru mendapat pesan dari teman di grup arisannya, karena ada salah satu temannya yang diundang dan berkesempatan hadir, dalam pernikahan seorang anak pengusaha kaya yang berada di urutan sepuluh besar keluarga terkaya di negara ini.


Melihat berbagai foto kebahagiaan Ayu dan berbagai dekorasi pesta megah itu, membuat hatinya meradang. Dia tidak terima bila mantan menantunya yang telah ia buang, kini mendapatkan seseorang yang lebih segalanya dari anaknya.


“Dasar wanita murahan, pasti dia mendapatkan lelaki kaya karena memberikan tubuhnya lebih dulu!” umpat Sari, melempar ponsel pintarnya ke sembarang arah.


Menyandarkan tubuhnya, dengan tangan terkenal kuat, menahan desakan rasa iri dengki yang mulai membuat akal sehatnya menghilang.


“Wanita sepertimu tidak bisa merasakan kebahagiaan di atas penderitaan anakku!” geram Sari.


Brak ....


Sari memalingkan wajahnya, melihat ke arah pintu utama yang dibuka dengan keras, ia sudah pasti tahu siapa yang datang.


Menghembuskan napas kasar, saat melihat Radit kembali pulang dengan menggandeng wanita murahan ke dalam rumah.

__ADS_1


“Ya ampun, Radit! Sampai kapan kamu akan terus begini? Aku sudah pusing menghadapi semua kelakuanmu ini!” Sari menghampiri anaknya yang tampak setengah mabuk.


“Brisik ... Ibu bawel sekali sih! Ayo sayang kita ke kamar.” Radit menepiskan tangannya di udara, sebagai tanda tidak suka dengan perkataan Sari.


“Hah, dasar anak tidak berguna, bisanya hanya mabuk-mabukan dan main dengan para jal@ng!” teriak Sari.


Radit acuh, lelaki itu terus berjalan dengan dibantu wanita malam di sampingnya, menuju lantai dua, letak kamarnya berada.


“Kau tau, sekarang Ayu sudah menikah lagi dengan anak pengusaha kaya? Hahaha ... mantan istrimu itu sudah bahagia dengan kehidupannya, sedangkan kamu? Lihat dirimu sekarang, persis seperti lelaki bajingan!”


Teriakan Sari membuat Radit menghentikan langkahnya. Tangannya menepis lengan wanita di sampingnya, lalu berputar menatap ibunya putus asa.


Tersenyum getir ke arah Sari, lalu berbalik kembali, berjalan sempoyongan menuju kamarnya.


“Aku mau sendiri, kau boleh pergi,” tepis Radit pada tangan wanita malam yang akan membantunya kembali.


Wanita itu mendengus kasar, lalu berbalik menuju pintu keluar tanpa sepatah kata pun.


Ya, semenjak ia dipecat dari pekerjaannya dan ditinggalkan oleh Mala, Radit melampiaskan kekecewaannya pada minuman keras, hampir setiap malam dia pergi ke klub malam untuk menenggak air haram itu.


Hingga lama kelamaan dia mulai bermain perempuan, sering kali Radit membawa para wanita malam itu sampai ke rumahnya, mengabaikan omongan para tetangga yang mulai menghakimi perbuatannya.


Sari sudah pasrah untuk terus menasihati anak semata wayangnya itu, bahkan Pram sebagai ayahnya, kini tidak peduli lagi pada nasib Radit. Lelaki paruh baya itu, lebih memilih untuk menyibukkan diri dengan pekerjaannya di luar kota.


Semenjak masalah Radit dengan Ayu saat itu, Pram hanya dua kali pulang ke rumah, itu pun bertahan dua hari dan kembali memilih pergi ke luar kota.


Sari memijit pangkal hidungnya, mengingat nasib keluarganya yang sudah hancur, dia tak pernah menyangka jika satu kesalahan yang diperbuat anaknya kini berdampak sangat besar bagi keutuhan rumah tangganya.


Namun, sifat egois masih tetap menguasai akal sehat wanita paruh baya itu, dia masih menyalahkan Ayu atas semua yang terjadi pada keluarganya. Tanpa mau membuka mata atas kesalahan Radit dan dirinya sendiri.


Sedangkan Radit, lelaki itu tenggelam dalam penyesalan tak berujung kepada Ayu. Sudah beberapa kali ia mencoba menemui wanita itu, untuk meminta maaf. Tetapi, penjagaan di sekitar Ayu, selalu membuatnya tak bisa hanya sekedar bertegur sapa. Semua itu membuatnya menyerah dan memilih melampiaskan semua itu pada minuman hingga berujung pada para jal@ng.


Radit menutup pintu kamarnya kasar, berjalan menuju meja rias di sudut kamar, menatap pantulan tubuhnya di cermin.


Mata merah, tubuh kurus, pakaian berantakan, rambut sedikit gondrong, muka kusam dengan bulu yang mulai tumbuh di sekitar wajahnya, ditambah dengan lingkar mata hitam yang cukup tebal. Semua itu membuat penampilannya bagaikan seorang preman jalanan.


Brak  ....


Pyar ....

__ADS_1


Dengan sekuat tenaga, Radit menghantamkan kepalan tangannya, pada pantulan dirinya, hingga cermin itu retak dan meninggalkan beberapa pecahannya di tangan Radit.


Darah segar mulai mengucur dari luka tangannya, Radit seakan mati rasa, ia kembali meraih semua yang ada di atas meja rias, lalu menyapunya dengan tangan hingga semua barang itu berhambur memenuhi lantai kamarnya.


Radit menggila, ia meraih semua barang yang berada di dekatnya, lalu melemparnya kesegaran arah, kamar yang tadinya terlihat begitu rapi, kini berubah menjadi penuh dengan pecahan kaca dan berbagai benda berserakan.


Tangan dan kakinya kini telah terluka, tetesan darah hampir memenuhi seluruh lantai, tetapi, Radit seakan tak merasakan luka yang kasat mata.


Hatinya terasa panas, saat mendengar kabar kebahagiaan wanita yang telah ia sia-siakan. Rasa penyesalan di dalam dirinya semakin menjadi, ditambah pengaruh alkohol yang membuatnya tak bisa berpikir jernih.


“Radit, buka pintunya!” Sari yang mendengar suara gaduh dari kamar anaknya, berteriak dengan gusar.


“Radit, apa yang kamu lakukan? Sadar, buka pintunya!” dengan sekuat tenaga Sari menggedor pintu kamar anaknya.


Tak lagi terdengar suara gaduh, tapi, kini suasana berubah hening, ia juga tak mendengar suara sang anak.


Dengan panik ia memanggil penjaga gerbang di depan rumah, meminta bantuan untuk membuka pintu kamar Radit.


Dengan sigap, lelaki paruh baya yang telah bekerja cukup lama bersama keluarga Sari itu, menghampiri majikannya. Dengan berbagai alat ia mencoba membuka pintu kamar Radit.


Setelah setengah jam lebih berkutat dengan berbagai alat, akhirnya pintu kamar terbuka. Suasana gelap gulita, langsung menyapa, hanya ada cahaya remang dari lampu di luar yang menerangi kamar itu.


Penjaga gerbang, masuk terlebih dulu untuk mencari saklar lampu, mengingat kondisi kamar yang terlihat cukup berbahaya dengan banyaknya pecahan kaca.


Tak ....


Seketika kamar itu menjadi terang, Sari bisa melihat semua kekacauan yang terjadi di dalam kamar tersebut, tatapannya mengedar mencari keberadaan anaknya.


“Bu, Nak Radit ada di sini!” teriakan penjaga gerbang dari arah kamar mandi mengalihkan perhatian Sari.


“Astagfirullah, Radit!"


...🌿...


...🌿...


...Bersambung...


Nah, ada apa nih sama Radit ya🤔🤔

__ADS_1


__ADS_2