
...Happy Reading......
...🌿...
Ayu berjalan menuju kamar mandi di ujung ruangan, ia harus segera menyegarkan diri dan menenangkan hatinya.
Berdiri di depan wastafel, kemudian membasuh wajahnya dengan sedikit kasar.
" Aku harus kuat, jangan ada lagi air mata untuk orang itu " ucap Ayu, memandang pantulan dirinya di cermin.
Ia mengingat setiap jejak penghinaan yang telah di lakukan oleh Radit.
Sedikit mendongak untuk melihat luka di bawah dagunya yang tergores cukup panjang.
Sssh....
Desis Ayu, merasakan perih ketika ia membasuh luka nya dengan sedikit air.
Beberapa saat kemudian Ayu sudah bersimpuh di atas sajadahnya dengan tangan menengadah di sertai air yang berlinang dari kedua mata indahnya.
Ayu mengadu, berserah diri, dan mencurahkan segala keluh kesahnya pada Tuhan Nya.
Punggung rapuh itu terlihat bergetar dengan isakan kecil yang terdengar menyayat hati.
Bila saja ada yang mendengar suara itu, mungkin dia akan ikut menangis.
Tak ada yang tau, bagaimana hancur nya dirinya saat ini.
Ayu begitu rapat menyembunyikan setiap kesedihannya. Tapi semua benteng yang ia bentuk selalu saja ambruk, ketika dirinya sedang berhadapan dengan Zat Yang MahaKuasa.
Sekitar tiga puluh menit Ayu berkeluh kesah dan menumpahkan kesedihannya, ia kemudian berjalan menuju ranjang, matanya melihat bingkai yang ada di atas nakas, tepat berada di samping tempat tidur.
Disana terdapat foto pernikahannya bersama Radit, dua tahun lalu.
Duduk di pinggir ranjang, tangannya terulur mengambil bingkai foto itu, menatapnya dengan tatapan sendu.
" Ibu, ternyata aku tidak bisa mempertahankan rumah tanggaku. Kenapa sangat sulit menemukan orang yang tulus menyayangi kita Bu ?"
Ayu tak pernah menyangka, nasib rumah tangganya dengan Radit akan sama seperti kedua orang tuanya.
" Sekarang aku merasakan sakit yang dulu Ibu rasakan "
Ayu menutup matanya, menghirup nafas dalam. Hingga memenuhi seluruh ruang paru-parunya.
Matanya mencari bayangan wajah mendiang sang Ibu.
Tersenyum samar ketika ia mendapatkan ingatannya kembali, terlintas senyum yang selalu terlihat tulus juga menenangkan hati.
" Ndi, kamu harus jadi wanita yang kuat, hidup itu penuh dengan kejutan, kita harus selalu dalam keadaan siap untuk menerima segala ujian dan tantangan yang telah tuhan kirimkan pada kita "
" Ndi, hidup adalah perjuangan. Lelah ? Ibu tau, pasti Ndi lelah... Berhenti sejenak dan menangislah bila itu bisa mengurangi sedikit rasa lelah yang sekarang kamu rasakan "
" Setelah itu, jangan lupa kembali bangkit, tersenyum menghadapi hari yang indah di depanmu "
" Ibu akan selalu ada di dekat mu. Di sini, dalam hati kamu, Ndi "
" Ibu..." Ayu terbangun dengan nafas tak beraturan.
Menghela nafas lelah, mengedarkan pandangannya pada seluruh sudut ruangan.
" Ternyata hanya mimpi " Ayu tersenyum kecut dengan mata berkaca-kaca.
__ADS_1
Dia sangat merindukan sang Ibu saat ini, dan kenapa mimpi itu seakan nyata.
" Ibu, Ndi kangen.." gumam Ayu menyeka ujung matanya yang terasa basah.
Ayu melihat jam weker di atas nakas, sudah menunjukan pukul tujuh malam.
" Ternyata aku tertidur " ucap Ayu.
Dia memakai kerudungnya kembali dan mengambil tas di meja kerjanya yang sudah kembali seperti biasa. Ayu beranjak berjalan ke luar.
" Mba, aku baru saja mau panggil " kaget Riska saat Ayu membuka pintu.
" Ada apa Ris ?" tanya Ayu, kondisinya sudah seperti biasa lagi. Tak ada jejak kesedihan di wajahnya.
" Kita mau ijin tutup butik Mba " jawab Riska.
" Oh, ya udah tutup aja, Mba juga mau ke luar "
Ayu berjalan beriringan dengan Riska.
Beberapa saat kemudian Ayu sudah berada di sebuah restoran sederhana, tapi sangat ramai.
Ayu mendapat tempat duduk di sudut, sehingga dirinya tak terlalu terlihat oleh pengunjung lainnya.
Ayu memilih mengeluarkan buku catatan untuk sekedar membuat sketsa, sambil menunggu makanannya datang.
" Permisi, boleh kami ikut duduk ? Kebetulan semua kursi sudah penuh "
Suara lembut seseorang langsung mengalihkan pandangan Ayu dari buku catatannya.
" Iya..." Ayu mendongakan kepalanya melihat orang yang menyapa dirinya.
Seketika tubuh Ayu langsung menegang, saat melihat seseorang yang berdiri di depannya.
Mata Ayu tiba-tiba saja berembun.
" Boleh kami duduk di sini Nak, kebetulan semua meja sudah penuh "
Ayu melihat sekelilingnya, memang benar apa yang di ucapkan ibu di hadapannya.
" Silahkan " angguk Ayu, menahan suaranya yang sedikit bergetar.
Sekuat tenaga Ayu mencoba untuk menahan air mata yang sudah hampir tumpah.
.
.
Di waktu dan tempat berbeda, Radit baru saja memarkirkan mobil nya di garasi rumah. Perasaannya kalut saat ini, ia di selimuti rasa bersalah kepada Ayu.
Ingatannya kembali pada kejadian tadi pagi, saat ia sarapan bersama istri dan Ibunya, dan kemudian Sang Ibu bercerita tentang apa yang di lihatnya tadi malam bersama menantunya.
Karena terlalu di kuasai amarah ketika Mala dan Ibunya menunjukan foto Ayu, yang sedang berjalan keluar restoran dengan lelaki lain, dan kemudian di teruskan mengobrol di dekat mobil.
Radit marah, dia cemburu, hingga mengakibatkan tidak konsentrasi dalam bekerja.
Gara-gara selalu terbayang kebersamaan Ayu dengan lelaki yang sudah beberapa kali ia lihat berada di sekitar wanita yang masih dalam status menjadi istrinya itu.
Semua pekerjaannya jadi terbengkalai, hingga ia mendapat teguran dari atasan.
Radit sudah tak sabar hingga ia ijin pulang kantor lebih dulu, dengan alasan sedang tidak enak badan, demi untuk segera bertemu dengan Ayu.
Tapi sekarang apa yang ia lakukan pada Ayu, membuat suasana semakin memanas.
__ADS_1
Ayu semakin membenci dirinya...
Ahk...!
Radit memukul setir mobil sambil berteriak, menyalurkan emosi yang terasa menyesakkan dada.
Menyesal...
Radit sangat menyesal dengan perbuatannya kepada Ayu, dia tidak bisa mengontrol dirinya sendiri untuk berbicara baik-baik pada Ayu.
" Si*l... Si*l... Sia*l...! " umpatnya pada diri sendiri.
Radit menyandarkan punggungnya, kepalanya mendongak dengan mata terpejam, kedua tangannya mengepal kuat hingga membuat urat-urat di sana terlihat menonjol.
Tok...tok...tok...
" Mas, kamu gak papa ?"
Mala yang sejak tadi memperhatikan mobil suaminya itu dari dalam rumah, akhirnya memilih menghampiri dan mengetuk pintu mobil Radit.
Radit terperanjat kaget ketika suara sang istri masuk ke dalam gendang telinganya. Dia langsung membuka kaca di sampingnya.
" Kamu kenapa mas, kok tumben pulang cepet ?" tanya Mala sedikit khawatir dengan keadaan sang suami saat ini yang terlihat berantakan.
" Aku gak papa " Radit segera turun dan merangkul pundak Mala, mengajak nya untuk masuk ke dalam rumah bersama.
" Kamu gimana di rumah sayang, anakku nakal gak ?" Radit mengelus perut buncit Mala penuh perhatian.
" Enggak kok, dia baik " Mala tersenyum bahagia, mendapat perhatian dari sang suami.
Walaupun dia sedikit curiga, tidak biasanya Radit pulang lebih cepat, apa lagi dengan keadaan yang terlihat sangat berantakan dan banyak pikiran.
" Apa mungkin Mas Radit habis marah-marah sama Ayu ya ?" pikir Mala, mengingat obrolan nya tadi pagi dengan Radit dan sang Ibu mertua.
Mala tersenyum miring, membayangkan Ayu yang sedang di marah oleh Radit.
Sampai di kamar Radit langsung menjatuhkan badannya di atas sofa.
" Kok malah tiduran sih Mas, mandi dulu "
" Nanti saja "
Radit mengabaikan seruan sang istri, ia malah menutup mata dengan salah satu tangan ia taruh di atas keningnya
Mala memilih keluar dan membiarkan suaminya untuk beristirahat.
Dia berpikir, mungkin saja sang suami sedang merasa lelah dengan pekerjaannya.
Ketika mendengar pintu di tutup Radit kembali membuka matanya, tangannya yang tadi di atas sekarang ia jadikan bantal.
Pandangannya menerawang, melihat langit-langit rumahnya yang berwarna putih bersih.
" Harus bagaimana lagi aku meminta maaf dan ampunan kepadamu Ay ? Aku sadar, aku sudah banyak menyakiti hatimu. Tapi sampai saat ini aku masih sangat mencintai kamu Ay " gumam Radit penuh penyesalan.
...🌿...
...🌿...
...🌿...
Sambil nunggu aku up lagi, boleh coba mampir ke karya receh terbaru aku yang berjudul : Mafia Story, kembalinya anak tak berguna.
jangan lupa tinggalkan jejak, like, komen, vote dan hadiahnya.
__ADS_1
Terima kasih para kakak-kakak yang baik hati 🙏😊😘