
...Happy Reading...
...❤...
Riska langsung mengganti bajunya dengan baju cadangan yang ada di butik. Dia memilih atasan yang berbahan rajut dengan berkerah turtleneck agar dapat menutupi tanda merah yang dibuat oleh Keenan tadi pagi.
"Ck ... gara-gara Abang, aku jadi malu begini. Pasti dia sengaja ngalangin aku ngaca, biar gak bisa liat semua ini. Dasar suami ngeselin!" ujar Riska, terus menggerutu sambil mengganti baju.
Tadi pagi, setelah mereka berdua melakukan kegiatan yang menguras tenaga dan mengharuskan Riska mandi lagi, Keenan selalu menghalangi Riska untuk berkaca.
"Sekarang aku tau, kenapa dia begitu. Awas aja kamu, Bang!" geram Riska.
Istri dari Keenan itu, kini tengah berusaha menyamarkan warna merah di lehernya menggunakan Fondation.
Flashback
"Terima kasih, sayang," ujar Keenan sesaat setelah ia menyemburkan benih di dalam rahim sang istri,
Keenan menjatukan tubuhnya di samping Riska, mengatur napas yang masih memburu dengan keringat yang mengucur deras.
Riska memejamkan matanya beberapa saat, sambil menarik selimut untuk menutupi tubuh polosnya, napasnya pun masih memburu, menghirup oksigen sebangak-banyaknya, untuk memenuhi rongga paru-paru.
Setelah semuanya selesai, kini Riska mulai beranjak dengan menarik selimut, dia harus segera mandi kembali karena waktu terus beranjak siang.
Melihat semua itu, Keenan langsung berdiri dan menggendong Riska ala bridal style dan membawanya ke kamar mandi.
"Abang! Turunin aku ... aku mau mandi!" Riska berontak, meminta untuk di turunkan dari gendongan Keenan.
"Biar lebih cepat kita mandi bareng saja," ujar Keenan, sambil terus melangkah menuju ke kamar mandi.
"Gak mau! Aku mau mandi sendiri, turunin aku, Bang." Riska tetap tak mau mengalah.
"Menurut atau kamu mau aku makan lagi, hem?" ujar Keenan dengan seringai menyeramkan yang kembali ditunjukkannya.
Riska bergidik ngeri, dia menggeleng kepala dan memilih untuk diam di dalam gendongan sang suami.
'Emang gak cape apa? Kita kan baru selesai, sekarang dia udah ngacem mau ngelakuin itu lagi. Aku aja masih capek banget rasanya'
Riska menggerutu dalam hati, sedikit tidak percaya dengan ancaman dari Keenan. Akan tetapi, daripada dia harus menanggung akibat perkataan Keenan, untuk saat ini dia memilih diam dan menurut saja.
Waktu yang semakin siang, ditambah dia juga belum mempersiapkan untuk rapat bersama pelanggan hari ini, membuat Riska memilih untuk tidak berdebat dengan Keenan.
"Good girl," ujar puas Keenan.
Setelah sampai di dalam kamar mandi, Keenan langsung menurunkan istrinya di bawah shower dan menyalakan keran, hingga air langsung menguyur tubuh polos keduanya.
__ADS_1
Dalam hati, Keenan berusaha mati-matian untuk menahan gejolak keinginan mengulang kembali percintaan mereka.
Inti tubuh bagian bawahnya, bahkan sudah mulai bereaksi, saat tubuh polos Riska terpampang jelas di depan mata.
Kulit Riska yang terlihat berkilau dan begitu menggoda setelah terkena air, semakin membuatnya kalang kabut oleh rencananya sendiri.
Keenan mendorong tubuh Riska pada dinding kaca, mendesak dengan gerakan panas dan menggoda, memulai aksi untuk kembali merayu tubuh istrinya itu. Dia sudah tak bisa lagi menahan semua rasa itu.
"Abang, mau apa? Katanya tadi kita cuma akan mandi saja," tanya Riska. Dia menekan pundak Keenan, agar tidak terus mendekat.
"Kamu begitu menggoda, Riska. Aku bahkan tak bisa menahan tubuhku untuk tak meminta lebih padamu," ujar Keenan dengan tangan kini sudah berada di gundukan kembar milik Riska.
"Tapi, ini sudah siang, Bang. Nanti aku terlambat ke butik." Riska masih mencoba untuk menolak keinginan Keenan.
"Cuma sebentar, aku janji." Keenan menatap Riska dengan wajah memohon. Saat ini, tubuh bagian bawahnya sudah menagih ingin dipertemukan dengan pawangnya.
Riska menatap Keenan dengan perasaan yang campur aduk.
'Ya ampun, kenapa wajahnya gitu sih? Kata orang kalau istri nolak suaminya itu dosa besar ... tapi, ini kan baru selesai, masa dia udah mau lagi?' gumam Riska dalam hati.
Keenan terus merayu tubuh Riska tanpa henti, berusaha meluluhkan pertahanan istrinya, agar mau menuruti keinginannya.
Bebebrapa saat berpikir dengan tangan Keenan yang tidak bisa diam, akhirnya Riska mengangguk, menyetujui keinginan suaminya.
"Janji, hanya sebentar," ujar Riska memastikan.
Keenan mengangguk sumringah, dia mengarahkan tangan Riska pada senjata andalannya, menuntunnya untuk menggenggam dan bergerak naik turun di sana, hingga memberikan rasa nikmat untuknya.
Jari tangan dan lidahnya terus bergerak aktif pada tempat terpilih di tubuh Riska.
Guyuran air shawer yang terus mengalir, menambahkan sensasi tersendiri, hingga membuat keduanya sama-sama terbakar api gairah.
Percintaan itu pun, kini terulang untuk yang kedua kalinya di kamar mandi. Sekitar empat puluh menit kemudian, keduanya baru saja kelura dari kamar mandi dengan wajah yang terlihat lebih segar.
Dering ponsel Riska di atas nakas, menyadarkan keduanya kalau waktu sudah semakin siang. Riska langsung menerima telepon yang ternyata dari Winda.
"Ya, Mba. Maaf aku sepertinya terlambat, ini aku sudah di jalan kok!" ujar Riska tanpa memberi jeda di perkataannya.
Riska langsung memutuskan sambungan teleponnya, lalu menyusul Keenan yang sudah berada di walk in closet untuk brganti baju.
"Puas, udah bikin aku terlambat, hah?" tanya Riska, dengan wajah judesnya.
"Puas banget, kamu memang terbaik," jawab Keenan, dengan maksud yang berbeda.
"Ck! Bukan itu yang aku maksud, Abang," geram Riska sambil memilih baju untuknya dan Keenan.
Lelaki yang tengah mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil itu tampak terkekeh dengan kekesalan istrinya.
__ADS_1
"Terus apa dong?" tanya Keenan lagi, sambil menaruh handuk kecil itu di keranjang cucian.Kemudian mengambil handuk yang baru dari dalam lemari khusus.
Beralih mendekat pada Riska dan mengambil handuk yang masih meilit di kepala istrinya.
"Abang, nanti lantainya basah karena tetesan air dari rambut aku," protes Riska saat Keenan sudah berhasil mengambil handuk di kepalanya.
"Diam saja, biar aku bantu untuk mengeringkannya," ujar Keenan, sambil menggosok rambut Riska dengan handuk yang baru.
Riska akhirnya diam, membiarkan Keenan terus mengikuti setiap pergerakannya yang sedang memilih baju.
Dia kemudian mengambil kemeja berwarna navi dengan garis vertical halus berwarna putih. Berbalik dan mengangkatnya di depan tubuh Keenan.
"Yang ini, gimana?" tanya Riska, melihat sekilas wajah sang suaminya.
"Yang mana saja, asal itu pilihan kamu, aku akan memakainya," jawab Keenan.
"Modus!" desis Riska sambil kembali berbalik sambil membuka hanger dan menggantungkannya lagi.
"Modus buat nyenengin istri itu dihalalkan tau," ujar Keenan tepat di depan telinga Riska.
Saat ini Riska masih memakai jubah mandi, sedangkan Keenan memakai handuk yang melilit di bagian pinggang hingga lututnya.
Riska kemudian mengambil kaus dalam yang berwarna putih untuk Keenan lalu memakaikannya, kemudian dilanjutkan dengan Kemeja.
Setelah semuanya keperluan Keenan selesai, kini Riska beralih untuk memilih bajunya sendiri, sedangakan Keenan membantu membantu Riska menyiapkan bebrapa barang yang harus dibawa ke butik.
Riska hendak menuju meja rias, saat Keenan tiba-tiba menariknya keluar dan berjalan menuju ke luar.
"Abang, aku belum siap-siap," protes Riska.
"Kamu udah cantik kok. Yuk berangkat sekarang," ujar Keenan.
"Tapi, Bang–"
"Udah, percaya sama aku. Kamu udah cantik." Keenan memoting perkataan Riska dan terus membawanya berjalan ke luar kamar.
Kini keduanya sudah siap dan berjalan tergesa menuju mobil Keenan untuk segera berangkat ke tempat kerja masing-masing.
Flashback off
...🌿...
Wah, Keenan udah mulai pinter ngerayu ya🤭
Setiap satu komen, akan mendapat satu kupon undian ya🙏❤
Eits, tapi, ❤jangan spam komen ya🤭
__ADS_1
...🌿...
...Bersambung...