Berbagi Cinta : Antara Kita

Berbagi Cinta : Antara Kita
Bab.297 Lupa jadi masalah


__ADS_3

...Happy Reading...


......................


"Lah, ke mana mereka?" tanya Ezra yang baru saja menyadari kalau istrinya sudah tidak ada di sampingnya, begitu juga dengan ibu dan anak-anaknya.


Keenan dan Garry pun ikut terkejut melihat pasangan mereka sudah tidak ada di samping mereka.


Ketiganya kini menatap Alvin yang baru saja datang.


Semoga aku tidak akan jadi pelampiasan kekesalan para bucin akut itu. Alvin memelas dalam hati.


Dia menatap bergantian wajah para bosnya, yang menatap selidik padanya.


"Ke mana istriku?" tanya Ezra.


"Istriku juga ke mana?" sambung Keenan, sebelum Alvin menjawab pertanyaan dari Ezra.


Alvin menggeleng bingung, dia tidak tahu ke mana perginya para wanita itu. Karena, saat dia datang mereka semua sudah tidak ada di sana.


"Ck, jangan bohong. Kamu pasti tau kan ke mana mereka?" Ezra berdecak kesal.


"Aku benar-benar tidak tau, Pak. Saya datang mereka sudah tidak ada," jawab Alvin.


Ezra dan Keenan menatap Alvin kesal.


"Ck, dasar jomlo! Begitu saja tidak tau," ujar Ezra sambil berlalu pergi masuk ke dalam rumah, diikuti oleh Keenan.


Alvin menatap horor kedua kakak beradik itu, beginilah kalau bara bucin akut kehilangan pawangnya, siapa yang ada di dekatnya akan menjadi bahan pelampiasan kekesalan.


Dih, dari pada kalian, bucin akut. Mending aku, jomlo, jadi gak perlu bingung nyariin orang kayak gitu.


Alvin mengumpat di dalam hati. Dia merasa kesal pada bosnya yang selalu menjadikan dirinya pelampiasan, atau nyamuk berjalan, setiap kali mereka bersama pasangannya.


Andai saja dia yang jadi bosnya, sudah pasti semua kata-kata itu tidak hanya ke luar di dalam hati, melainkan langsung dia ucapkan di depan para bucin itu.


Sayang sekali, sekarang dia hanya bisa mengeluarkan kekesalannya pada dua laki-laki itu.


"Sabar, Vin. Nanti juga kamu pasti merasakannya." Garry yang melihat kekesalan di wajah Alvin, menepuk pundak laki muda itu.


Alvin terperanjat mendapati ayah dari bosnya itu, telah berdiri sejajar dengannya. Dia tersenyum canggung, sambil menggaruk kepala Bagian belakang, yang tidak terasa gatal.


"Aku, belum memikirkan untuk mempunyai pasangan, Pak," jawab Alvin, dengan sedikit menjatuhkan pundaknya ke depan, sebagai tanda hormat.

__ADS_1


Garry menatap wajah Alvin, dia tersenyum tipis, sambil kembali mengalihkan pandangannya ke depan, menapuk kembali pundak asisten dari anaknya itu, lalu berjalan mendahului Alvin, untuk menyusul para anak-anaknya ke dalam rumah.


Alvin menatap punggung laki-laki paruh baya itu, ada rasa hangat di dalam hatinya saat melihat senyum tulus dari Garry. Hatinya yang sudah llam merindu kasih sayang seorang ayah, sedikit terobati dengan perlakuan Garry padanya.


Alvin tersenyum tipis, lalu menyusul langkah Garry untuk masuk ke dalam rumah.


.


.


Sementara itu, Keenan yang baru saja sampai di ruang keluarga bernapas lega, begitu melihat sang istri ada di sana. Sedangkan Ezra yang belum melihat keberadaan Ayu, masih berusaha mencari istrinya.


"Kok, kamu ninggalin aku sih, sayang?" Keenan tampak duduk di samping Riska.


"Ngapain juga, nungguin laki-laki yang lagi cosplay jadi anak-anak," jawab Riska.


"Mah, istriku di mana?" Ezra akhirnya bertanya pada Nawang yang sedang menemani Naura bermain.


"Nindi di kamar. Tadi Zain udah rewel, kayaknya haus sama ngantuk," jawab Nawang.


"Terima kasih, Mah!" Ezra langsung pergi menyusul Ayu dan Zain ke kamar.


Sedangkan Keenan mengerutkan keningnya, mendengar jawaban dari istrinya.


"Siapa yang cosplay jadi anak-anak?" tanya Keenan lagi, sambil menatap penuh tanya pada istrinya.


"Eh!" Keenan sedikit memundurkan tubuhnya terkejut dengan jawaban sang istri.


Sedangkan Nawang yang mendengar ucapan dari menantu keduanya itu, terkekeh geli, mendapati kekesalan Riska.


"Bener banget tuh, Ris. Emang mereka pada gak inget umur, udah pada tua masih aja kayak anak kecil." Nawang langsung menimpali perkataan Riska, saat melihat kedatangan suaminya.


"Eh, ada apa ini?" tanya Garry, yang belum tau apa-apa.


"Gak apa-apa, Pah. Kayanya bumil satu ini lagi pengen sesuatu." Keenan terkekeh canggung sambil merangkul istrinya yang terlihat berwajah masam.


"Itu, Pah. Ada laki-laki yang udah tua, tapi kelakuannya masih sama kayak anak-anaknya," sindir Nawang, malah membahas lagi masalah itu.


Riska yang mendengar perkataan Nawang pun ikut terkejut, karena yang dia maksud adalah suaminya, bukan mertuanya.


"Mah, maksud aku bukan ke sana loh, ya." Riska langsung membantah perkataan Nawang.


"Iya, mama tau," jawab Nawang, melirik Riska sekilas.

__ADS_1


"Sayang, kamu kenapa? Apa sedang mau sesuatu, hem?" tanya Keenan yang melihat wajah masam istrinya itu.


"Dari tadi kan aku udah bilang lagi mau apa. Tuh kan udah lupa," cebik Riska.


Keenan menggaruk belakang kepalanya sambil meringis, mencoba mengingat permintaan dari istrinya itu.


"Maaf, sayang. Tapi, aku beneran lupa, coba kamu bilang lagi sama aku. Nanti pasti langsung aku kabulin deh," ujar Keenan menatap penuh penyesalan pada istrinya.


"Gak! Pikirin aja sendiri," geleng Riska sambil beranjak pergi menghampiri Naura yang sedang bermain sendiri.


Entah ke mana perginya Alvin, nawang, Garry, mereka juga tidak tahu.


"Sayang, jangan begini dong. Aku minta maaf banget. Tapi, jangan begini ya," Keenan menyusul istrinya lagi.


Riska tidak menjawab, dia malah asyik bermain dengan keponakan suaminya itu.


Keenan menghela napas frustrasi melihat, melihat istrinya yang masih dalam mode merajuk padanya.


Tadi pagi, Riska memang sudah sempat meminta sesuatu sewaktu mereka baru saja selesai mandi.


Namun, sepertinya Keenan kurang memperhatikan ucapan Riska, hingga sekarang dia melupakan semua itu.


Ternyata semua itu membuat masalah besar bagi Keenan sekarang, dia belum tau bagaimana seramnya orang hamil bila sedang merajuk seperti itu.


"Astaga, ini orang pada ke mana sih? Gak ada yang mau bantuin aku apa?" gumam Keenan merasa semakin frustrasi.


Dia pun berjalan ke luar berusaha mencari keberadaan orang yang bisa membantunya.


"Apa aku kasih dia makanan kesukaannya aja, ya? Atau rujak? Ya, dulu aku dengan Kak Ayu pernah beli rujak waktu hamil." Keenan tersenyum seakan mendapatkan sebuah jawaban dari masalahnya saat ini.


Dia kembali ke dalam vila untuk mengambil kunci mobil, lalu langsung pergi lagi, mencari rujak atau apa pun yang kira-kira diinginkan oleh istrinya.


Sekitar setengah jam kemudian Keenan sudah kembali lagi ke vila. Tangannya menenteng cukup banyak kantong plastik, berisi berbagai macam makanan untuk Riska.


"Sayang, aku datang!" ujarnya sambil mengangkat kantog plastik di kedua tangannya.


Riska yang sedang membantu Nawang menyiapkan makan siang pun mengalihkan perhatiannya pada kedatangan suaminya.


Dia menatap malas, wajah sumringah Keenan, yang sedang menaruh kantong plastik itu di atas meja.


...🌿...


Gimana nih reaksi Riska.

__ADS_1


...🌿...


...Bersambung...


__ADS_2