Berbagi Cinta : Antara Kita

Berbagi Cinta : Antara Kita
Bab.150 Mandi


__ADS_3


...Happy Reading...


...❤...


Keenan baru saja mendapatkan baju ganti dari salah seorang pelayan yang ada di rumah kedua orang tuanya.


"Terima kasih," ujar Keenan sambil menerima Peaper bag dari salah satu sopir yang bertugas di rumah orang tuanya.


"Sama-sama, Den Keenan," jawab lelaki paruh baya itu.


Keenan masuk lagi ke dalam rumah, berjalan sambil mengedarkan pandangan, mencari keberadaan Riska, untuk menanyakan letak kamar mandi.


"Cari Riska, Nak?" Ibu yang melihat Keenan kebingungan bertanya.


"Iya, Bu. Riska ke mana ya?" tanya Keenan sopan.


"Riska sedang mandi, kamu bisa tunggu dia di kamarnya saja ... itu di sana," tunjuk Ibu pada kamar yang berada di tengah antara ruangan lain.


Keenan mengikuti arah tangan Ibu dari Riska. "Baik, Bu. Terima kasih," ujar Keenan sebelum melangkah menuju ke kamar istrinya.


Keenan membuka pintu kayu yang terlihat sudah mulai lapuk, melangkahkan kaki menuju ke dalam dengan mata mengedar melihat suasana kamar dari gadis yang baru dinikahinya itu.


Kamar yang terlihat berukuran tidak mencapai setengah dari kamar miliknya itu, terlihat cukup rapi. Semua barang tertata di tempatnya hingga kamar kecil itu cukup terasa nyaman.


Kipas kecil yang tergantung di tembok untuk menyejukkan udara di ruangan itu, menjadi perhatiannya kini. Benda yang jarang sekali ia temui itu, terasa begitu aneh dan sedikit memprihatinkan untuknya.


Matanya beralih pada ranjang berukuran kecil di salah satu sisi ruangan, Keenan meringis membayangkan bagaimana dirinya bisa tidur di ranjang itu nanti malam.


Melangkah mendekati tempat tidur Riska selama ini, menaruh paper bag yang dibawanya d atas nakas kecil di samping tempat tudur. Lengannya menekan-nekan alas tidur itu yang terasa cukup keras bila dibandingkan dengan miliknya. Keenan menggaruk belakang kepalanya, merasa bingung dengan semua peralatan di kamar ini.


'Apa tidak sakit tidur dia atas kasur seperti ini?' gumamnya dalam hati, saat dia mencoba untuk duduk di sana.


Sesekali dia juga menggoyangkan baju bagian depannya karena merasa hawa panas di ruangan itu.


Terbiasa hidup dengan pasilitas mewah sejak kecil, membuat Keenan merasa cukup asing dan tidak terbiasa dengan semua kehidupan di rumah Riska, dia ingat terakhir kali hidup dengan seadanya adalah saat dirinya ikut kegiatan camping di masa sekolah menengah atas, itu pun hanya dua hari saja.


Huftth.


Hembusan napas lelah terdengar dari mulut Keenan, ia memilih untuk melangkah menuju salah satu jendela kecil yang menghadap bagian belakang rumah Riska, ternyata itu adalah sebuah lahan kecil yang berbatasan langsung dengan sebuah sungai.


Di sisi lain, Riska baru saja keluar dari kamar mandi dengan pakaian yang sudah lengkap, sebuah baju tidur lengan panjang berbahan kaos itu menjadi pilihannya untuk malam ini.

__ADS_1


"Suamimu tadi mencarimu, sepertinya dia mau mandi, tadi Ibu lihat dia bawa paper bag dari luar, mungkin itu baju ganti," ujar Ibu Riska yang sedang menyiapkan makan malam.


"Sekarang dia di mana, Bu?" tanya Riska, sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk.


"Ibu tadi suruh tunggu kamu di kamar, coba lihat saja di sana, ada gak," jawab Ibu.


"Kok Ibu suruh dia tunggu di kamar sih?" protes Riska.


"Memang kenapa, dia kan suami kamu, nanti malam juga dia tidur di sana sama kamu, lalu apa salahnya ibu nyuruh dia masuk sekarang?" Kening Ibu bertaut dalam melihat tingkah Riska yang seakan tidak suka.


"Eummh, bukan begitu, Bu. Kamar aku 'kan belum diberesin, aku malu kalau dia liat kamar aku berantakan," elak Riska.


"Itu salah kamu sendiri, kenapa gak diberesin kamarnya," ujar Ibu, dia terus melanjutkan memasak sambil berbicara dengan anaknya.


"Sudah, jangan malah diem di sini. Sana kamu samperin suami kamu," lanjut ibu lagi.


"Iya, Bu," jawab Riska lemas, sambil mulai melangkahkan kakinya menuju kamar.


'Kenapa juga aku yang harus nyamperin dia di kamar? Itu kan sangat memalukan," gerutu Riska.


Riska berdiri di depan pintu kamarnya, menghembuskn napas berulang kali, berusaha menenangkan detak jantung yang kini terasa berdetak lebih cepat.


Mengingat kalau di dalam kamarnya kini ada seorang lelaki yang sudah menjadi suaminya, membuat seluruh tubuhnya menegang, tangannya bahkan terasa bergetar saat dia memegang gagang pintu.


"Kak, ngapain berdiri di sana?" tanya Rio yang baru saja masuk ke rumah, entah dari mana.


Tangannya langsung membuka pintu dan masuk ke kamarnya dengan perlahan, dia bisa langsung melihat Keenan yang sedang menatap keluar jendela yang masih terbuka. Riska menelan salivanya dengan susah payah, rasanya begitu sulit untuk membuka mulut dan berbicara pada lelaki yang kini sudah berstatus sebagai suaminya itu.


"Kata Ibu, Kamu, mau mandi?" dengan susah payah Riska akhirnya bisa mengeluarkan suara, walau di dalam hati dia menggerutu kesal saat suaranya terdengar bergetar.


Kata panggilan yang baru saja kemarin berganti menjadi Abang, kini sudah buyar dan dilupakan Riska lagi karena rasa gugupnya.


Keenan berbalik menatap gadis yang kini berdiri kaku di depan pintu, bibirnya berkedut melihat Riska yang sangat terlihat gugup, ditambah dengan baju tidur berwaran biru bergambar karakter kartun kucing yang sudah tidak memiliki kuping itu.


Riska terlihat imut, bagaikan seorang gadis kecil yang baru menginjak pubertas dengan baju karakter kesukaannya. Itu sangat berbeda dengan apa yang sering dia lihat di luar, Riska yang tampak berpakaian tomboy dengan kaos dan celana denim yang terkadang dipadukan outer atau jaket agar terlihat lebih modis.


"Khem," Keenan berdehem terlebih dahulu, untuk menormalkan suaranya.


"Iya, bisa Kamu tunjukkan di mana letak kamar mandinya?" tanya Keenan.


Riska mengangguk, lalu berbalik keluar kembali dari kamar. Keenan langsung mengambil paper bag lalu menyusul langkah kaki Riska yang sudah keluar terlebih dahulu.


"Ini, kamar mandinya," ujar Riska, begitu dia sampai di depan pintu kamar mandi rumahnya yang bersebelahan dengan dapur.

__ADS_1


Keenan masuk perlahan sambil mengedarkan pandangannya melihat kamar mandi berukuran satu setengah meter persegi itu, alisnya bertaut melihat keadaan kamar mandi yang begitu asing untuknya.


'Gimana cara mandinya?' gumam hati Keenan, melihat di sana hanya ada bak air dan gayung, tanpa ada shower yang sudah biasa ia gunakan untuk mandi di rumahnya.


"Ris!" dia kembali memanggil Riska yang baru saja hendak pergi dari sana.


"Apa?" tanya Riska, sambil berbalik kembali.


Keenan mengedarkan pandangannya, memastikan tidak ada orang lain di sekitar mereka. "Cara madinya gimana?"


Riska membuka mulutnya lebar dengan ekspresi terkejut dengan Pertanyaan dari suaminya itu. "Kamu tidak tau cara mandi?"


"Eh, bukan begitu! Aku tidak terbiasa mandi menggunakan alat seperti ini," ujar Keenan.


Riska menepuk keningnya sendiri dengan gelengan kepala, dia lupa kalau Keenan bukan dari kalangan seperti dirinya, mana pernah lelaki itu merasakan kehidupan masyarakat kalangan bawah seperti dirinya.


"Maaf, aku lupa. Apa kamu tidak apa mandi di sini, tidak mau pulang aja gitu?" tanya Riska.


Keenan menata Riska dengan tatapan tidak suka, dia berada di sini karna rasa tanggungjawabnya pada gadis itu sebagai seorang suami, sekarang dia malah diusir oleh istrinya sendiri.


"Kamu mengusirku?" tanya Keenan dengan nada suara menekan.


"Bu–bukan begitu, aku hanya takut kamu tidak nyaman kalau ada di rumahku," jawab Riska, dia gelaggapan sendiri karena baru sadar sudah menyinggung Keenan.


"Benarkah? Bukan karena kamu tidak suka dengan pernikahan kita?" tanya Keenan dengan seringai di sebelah ujung bibirnya.


Riska menatap mata yang kini tengah menatapnya tajam, kedua manik mata itu bertaut dalam, berusaha membaca perasaan yang tersimpan di dalamnya.


"Ya, aku memang tidak suka dengan pernikahan ini. Wanita mana yang menyukai pernikahan paksa seperti ini, hah? Tapi, semua itu tak membuat pikiranku buta dan melakukan sesuatu yang dilarang dalam agama sebagai seorang istri!" jelas Riska yang kini mulai tersulut emosi. Pikirannya yang sudah lebih tenang kini kembali kacau saat melihat tatapan tajam Keenan.


"Kamu mau mandi, mau menginap atau apa pun mau pergi meninggalkanku, aku juga tak melarangnya, silakan saja! Aku sadar diri dengan keadaanku!" lanjut Riska.


"Ini air untuk kamu mandi," tunjuk Riska pada air di dalam bak.


"Ini gayung untuk mengambil air dan menumpahkannya di badamu." Riska berucap sambil mengambil air dengan gayung dan menumpahkannya di lengannya.


"Sudah jelas kan? Kalau gitu aku keluar dulu," ujar Riska berlalu dari kamar mandi tanpa menoleh lagi ke belakang.


Hatinya masih terasa sakit dengan semua kejadian mengejutkan hari ini dan sekarang semua itu harus kembali terasa begitu melihat Keenan yang tak menyukainya. Entah bagaimana kelanjutan kehidupannya setelah hari ini, apakah dia akan bertahan atau menyerah? Mungkin hanya waktu yang bisa menjawabnya.


"Ini baru awal, Riska," gumamnya berusaha menguatkan dirinya sendiri.


...🌿...

__ADS_1


...🌿...


...Bersambung...


__ADS_2