
...Happy Reading...
...❤...
Riska berdiam diri di kamar mandi, dia sama sekali belum melepas satu helai baju pun dari tubuhnya.
"Aduh, gimana ini? Mas aku harus pake baju kurang bahan seperti itu?" gumam Riska, lebih berbicara pada dirinya sendiri.
Melihat gaun pendek berwarna merah, di bagian pundaknya hanya terdapat tali spageti sebagai penahan.
"Mimipi apa aku semalam, sampe harus memakai baju haram seperti itu," gerutu Riska, masih melihat baju di depannya.
Dengan sedikit kasar, dia mengambil gosok gigi, lalu menggosok giginya terlebih dahulu, walaupun matanya tak pernah beralih dari gaun merah itu.
Matanya menatap tak suka dengan umpatan panjang di dalam hati.
Setelah selesai menggosok gigi, Riska kembali melihat gaun itu. Perlahan dia mendekat, tangannya meraba halus kain yang terlihat sedikit menerawang.
Terasa sangat halus dan lembut, ia tahu itu pasti kalau itu bukanlah bahan biasa, semuanya terbuat dari bahan premium.
Sebagai seorang yang bekerja di dalam dunia fashion, dia tahu berbagai kualitas bahan pakaian.
"Ini pasti mahal banget, bahannya aja bagus begini," gerutu Riska.
Mengambil gaun itu, lalu mencoba menempelkannya di depan tubuh, dia berkaca tanpa memakai baju itu.
"Apa pantas aku memakai baju seperti ini?" tanya Riska lagi melihat pantulan diirnya di dalam cermin.
Gaun dengan warna mencolok itu, terlihat begitu mewah dengan model yang akan semakin menonjolkan bentuk tubuh si pemakai.
.
.
Keenan, mulai resah, saat Riska tak juga terlihat keluar dari kamar mandi, setelah cukup lama berada di sana.
Dia yang tadi sempat sibuk dengan ponselnya, kini melihat kepada pintu kamar mandi yang masih tertutup rapat.
"Ngapain aja sih dia di kamar mandi? Lama banget," ujar Keenan.
Dia kemudian menaruh ponselnya di atas nakas, lalu beranjak dan berjalan menuju pintu kamar mandi.
"Sayang? Kamu gak apa-apa kan?" tanya Keenan, sambil mengetuk pelan pintu kamar mandi.
"Ya, sebentar!" jawab Riska dari dalam.
__ADS_1
Setelah mendengar jawaban dari Riska, Keenan tak lagi memberikan pertanyaan.
Tak lama kemudian, Riska membuka pintu, dengan perlahan. Dia melihat seisi kamar dari celah pintu yang hanya terbuka sedikit saja.
"Ke mana, Abang? Kok gak ada di kamar?" gumam Riska, sambil mengedarkan pandangannya masih dari dalam kamar mandi.
"Syukur deh kalau Abang gak ada di kamar, aku bisa ke luar tanpa harus malu sama dia," gumam Riska lagi, makin melebarkan celah pintu kamar mandi, agar dia dapat melewatinya.
Dengan langkah pelan, Riska mulai berjalan keluar dari kamar mandi, matanya menatap pada ranjang tempat dia akan bersembunyi di balik selimut dari pandangan suaminya.
Sesekali matanya juga mengedar melihat ke tempat lain, untuk memastikan keberadaan suaminya itu.
"Kenapa jalan mengendap-endap begitu? Seperti maling saja."
Deg.
Riska memutar tubuhnya perlahan dengan mata melebar. Perempuan itu meringis dengan senyum yang terlihat sangat canggung, melihat sang suami yang tengah berdiri bersandar di sebelah pintu kamar mandi, dengan tangan bersidekap dada.
'Ya ampun, kenapa dia ada di situ?' keluh Riska dalam hati.
"Heheh, Abang, aku kira gak ada orang," jawab Riska.
Keenan menatap seluruh tubuh istrinya yang sangat menggiurkan itu, gaun berwarna merah yang dipakai oleh Riska, seakan menambah kecantikannya di mata Keenan.
'Cantik sekali istriku malam ini' gumam Keenan di dalam hati, memuji kecantikan alami yang dimiliki sang istri.
Kulit yang apakah tidak terlalu putih, akan tetapi masih terlihat segar dan sehat. Di tambah sinar temaram dari lampu kamar dan lilin yang tersebar di setiap sudut ruangan, membuat kulit Riska semakin terlihat berkilau.
Riska yang mulai menyadari arah pandangan suaminya, kini sadar dengan keadaan itu. Refleks dia menyilangkan tangannya di depan dada, menghalangi mata penuh hasrat suaminya.
"A–apa yang, Abang, lihat?" tanya Riska.
Bukannya mnejawab, Keenan malah menggeleng samar dengan senyum di bibirnya. Melangkah maju menghampiri Riska yang kini malah melangkah semakin mundur, mencoba menjauhi suaminya.
Keenan tak bersuara, akan tetapi tatapan yang penuh damba dan gerak tubuhnya yang seakan mewakili semua perasaannya saat ini kepada Riska.
"A–abang mau ngapain?" tanya Riska lagi, jarak melangkah mundurnya dari awal dia berdiri, kini semakin jauh, akan tetapi, jarak dirinya dan Keenan malah semakin dekat.
"Hk!" napas Riska tercekat, saat tubuhnya hampir saja terjatuh, karena kakinya tersandung bangku rias.
Untung saja Keenan langsung menangkap tubuhnya, hingga kini dia berada di pelukan suaminya.
"Kamu ini, kenapa selalu saja ceroboh, hem?" tanya Keenan, dengan posisi yang sangat intim.
Riska bahkan bisa meraskan napas hangat Keenan, menerpa wajahnya, membuat perempuan itu meremang,
Jantung Riska bertalu, saat matanya bertemu pendang dengan mata Keenan. Tatapan panas, penuh damba dan cinta itu bercampur menjadi satu, seakan membakar tubuh Riska, untuk ikut hanyut dalam buaian rasa yang sama.
__ADS_1
Perlahan wajah itu semakin mendekar, dengan tatapan mata tak pernah terlepas, hingga akhirnya bibir keduanya menyatu sensasi yang luar biasa berbeda.
Gelora cinta yang baru saja diungkapkan, seakan menjadi suatu semangat dan sensasi lain, di dalam cuman kali ini.
Keenan mulai menggerakan bibirnya, saat tak menerima penolakan dari istrinya itu, dia mengecap dan mel*mat benda kenyal yang terasa begitu manis itu.
Riska mer*mas tangan Keenan, dia menutup matanya, menikmati sensasi nikmat yang tercipta dari setiap gerakan suaminya.
Lelaki itu baru melepaskan tautan bibir mereka setelah Riska sudah terlihat tak bisa lagi bernapas dengan benar.
Kening keduanya beradu dengan napas yang terengah. Keenan tersenyum, melihat wajah merah istrinya.
"Kamu masih saja terasa kaku dalam membalas gerakanku, sayang," ujar Keenan, menggoda istrinya.
Benar saja, semua itu berhasil membuat pipi Riska semakin memerah, ditambah dengan hadiah cubitan manja di perutnya.
"Ssshh, kamu senang sekali sih, nyubit aku," keluh Keenan, dengan kekehan kecil di mulutnya.
Salah satu tangannya, mengusap pipi halus Riska, dia pun kembali memberikan kecupan-kecupan kecil di bibir istrinya.
"Aku menginginkanmu, sayang," pinta Keenan, dengan bibir yang masih berjarak sangat dekat dengan bibir Riska.
Riska membuka matanya, menatap mata suaminya yang terlihat sudah berkabut. Perlahan, dia pun menganggukkan kepalanya menyetujui permintaan sang suami.
Keenan tersenyum lebar, dengan sekali gerakan, dia mengagkat tubuh istrinya dan membawanya menuju ke atas ranjang.
Keenan kembali menyatukan bibir keduanya, dengan tangan yang mulai aktif, memberikan rangsangan pada titik-titik sensitif istrinya.
Salah satu tali di pundak Riska sudah terbuka, entah sejak kapan. Suaminya itu, begitu pintar untuk mengalihkan perhatiannya, hingga dia tak bisa menahan segala perbuatan yang dilakukan Keenan pada tubuhnya sendiri.
Riska mulai mengeluarkan suara tertahan, saat bibir Keenan mulai bergerak turun, menyususri leher hingga tulang selangka, memberikan beberapa tanda di sana.
Hingga akhirnya dia mendaratkan bibirnya di puncak salah satu gunung kembar milik Riska, dia pun bermain di sana sebentar, seperti seorang bayi yang sedang menghilangkan rasa hausnya.
Tangannya tak tinggal diam, meraba, menijat dan merem*as, titik-titik sensitif Riska yang lain. Membuat tubuh istrinya merasakan sensasi yang begitu kuat.
Menggeliat, menahan rasa nikmat yang tiada tara, karena perbuatan sang suami yang sudah mengetahui semua titik kelemahannya.
Keenan tersenyum saat tubuh Riska yang bergetar hebat di bawah kungkungannya, menandakan bahwa istrinya sudah kalah terlebih dahulu.
Dia kemudian mengangkat tubuhnya, untuk membuka jubah mandi yang ia kenakan.
"Bersiaplah, karena saat ini giliranku," ujar Keenan, dengan suara parau dan seringai penuh hasrat di bibirnya.
Pertarungan sesungguhnya pun baru berlangsung, dengan jangka waktu entah sampai kapan? Hanya mereka beruda yang tahu.
...🌿...
__ADS_1
...🌿...
...Bersambung...