
...Happy Reading ...
......................
Semua pemandangan itu, tentu saja membuat Laura dan Gladis terlihat terbakar rasa kesal dan cemburu.
Ya, sudah sejak lama Gladis menyukai Keenan. Mereka berteman sejak kecil, karena dulu pernah bertentangan.
Hanya saja saat Gladis keluar dari sekolah menengah pertama, mereka sekeluarga pindah ke luar negeri sampai beberapa tahun.
Ketikan Laura pindah lagi ke Indonesia pun Gladis memilih tidak ikut lagi. Karena, dia ingin fokus sekolah dan meniti karir di luar negeri.
Hingga kini dia baru saja kembali, setelah sekian lama.
Selama ini, Gladis memang sering kali mencoba menghubungi Keenan, dengan cara mengirim email atau bahkan chat langsung. Akan tetapi, Keenan selalu membalasnya singkat, atau bahkan tak membalas selama berhari-hari.
Namun, walaupun begitu, Gladis tidak pernah menyerah. Dia selalu mencoba mendekati Keenan, dengan bantuan Laura sebagai ibunya.
Maka dari itu, dia merasa sangat terkejut saat mendengar tentang pernikahan Keenan dengan Riska.
.
Sementara itu, Keenan dan Riska baru saja sampai di kamar mereka. Keenan langsung memeluk istrinya dari belakang.
Rasanya sangat tidak nyaman saat dia bisa melihat istrinya, akan tetapi, tidak bisa menyentuhnya. Karena, tidak enak oleh para tamu yang hadir.
“Abang,” panggil Riska, dengan tangan ikut menangkup tangan Keenan yang berada di perutnya.
“Ya, sayang. Tunggu sebentar ... aku kangen banget sama kamu,” ujar Keenan sambil menelusupkan wajahnya pada ceruk leher istrinya.
Riska yang awalnya ingin berbicara lagi, kini mengatupkan bibirnya, membiarkan Keenan untuk menyalurkan rasa rindunya.
Beberapa saat mereka hanya terdiam dengan posisi yang sama, hingga akhirnya Keenan melepaskan tubuh istrinya.
“Aku mandi dulu ya,” ujar Riska, dia sudah merasa tidak nyaman karena seharian ini memang sangatlah sibuk.
Keenan tersenyum, dia kemudian mengangkat tubuh istrinya dalam sekali gerakan, hingga kini Riska berada di dalam gendongannya.
“Abang? Nanti waktu magribnya terlewat,” ujar Riska, dengan wajah yang terlihat gusar.
Refleks Riska mengalungkan tangannya pada tengkuk Keenan, sambil menatap wajah suaminya itu.
“Memang kita mau apa? Aku hanya mau membawa kamu ke kamar mandi,” ujar Keenan, dengan senyum jahilnya, sambil mulai melangkah menuju kamar mandi.
Riska yang awalnya mengira Keenan akan mengajaknya melakukan hubungan suami istri pun, tersipu malu. Semua itu terlihat jelas dengan pipinya yang merona.
Bukan tanpa alasan, Riska berpikir begitu. Karena, selama ini Keenan memang sering mengajaknya melakukan itu di waktu genting, seperti sekarang ini.
Hingga akhirnya semuanya terlambat karena Keenan tak bisa menahan keinginannya.
__ADS_1
“Tapi, sepertinya begitu juga bagus. Bagaimana kalau kita mandi bersama?” ujar Keenan kemudian, dengan alis yang dinaik turunkan.
Riska menatap wajah suaminya, dia memukul pelan pundak Keenan dengan bibir yang sengaja sedikit dimajukan, sebagai tanda kalau dia merajuk.
“Enggak mau! Nanti lama kalau mandi bareng sama, Abang,” tolak Riska langsung.
“Ish, tega banget sih sama suami sendiri. Masa cuman minta mandi bareng aja gak boleh?” melas Keenan.
Kini keduanya sudah berada di kamar mandi, Keenan langsung membawa Riska menuju ke tempat shower, dia sengaja menyenggol kran, hingga air pun langsung membasahinya.
“Yah, basah. Gimana dong?” ujarnya dengan senyum tipis dan kerlingan mata genitnya pada sang istri.
“Abang, sengaja kan?” cebik Riska, sambil berdecak kesal.
Dia tahu kalau semua ini hanya trik jahil dari suaminya itu. Walau begitu, dia pun tak berani untuk marah ataupun mencegah suaminya.
“Kalau iya, mau bagaimana?” Senyum di wajah Keenan semakin lebar, seiring dengan semakin basah baju yang dipakai keduanya.
Ya, posisi Keenan yang masih menggendong Riska, membuat wanita itu tak bisa berbuat banyak. Dia hanya bisa pasrah dengan kelakuan jahil suaminya.
“Ck, Abang, jahil banget sih!” ujar Riska, sambil menggelengkan kepala pelan.
“Abang, turunin aku dulu,” sambungnya lagi, saat dia merasakan gelagat tidak beres dari sesuatu di bawah sana.
“Kenapa? Aku lebih senang seperti ini,” tanya Keenan, pura-pura tidak mengerti.
“Aku tidak merasa berat sama sekali, sayang,” sangkal Keenan.
“Ck, sepertinya sudah waktunya, aku membuat kamu sedikit lebih berisi, setidaknya untuk sembilan bulan ke depan. Bagaimana?” tanya Keenan, sambil memperhatikan setiap jengkal tubuh istrinya.
Riska tak bisa lagi menahan senyum dan rona di pipinya, saatendengar godaan Keenan.
Tidak mampu menjawab, dia pun hanya menyusupkan wajahnya di dada bidang suaminya.
Keenan terkekeh kecil melihat semburat merah di wajah istrinya, dia pun tidak sanggup lagi menahan rindu, untuk segera merayu tubuh istrinya.
Ya, di waktu yang sempit dan di tengah acara yang masih berlangsung, Keenan menyempatkan diri untuk melakukan aktivitas intim berdua bersama istrinya.
Tidak peduli dengan apa yang sedang terjadi di luar kamar, keduanya kini terhanyut dalam keintiman yang sedang terjadi di antara keduanya.
.
Beberapa waktu kemudian, keduanya kembali ke bawah dengan wajah yang terlihat lebih segar.
Kini di sana hanya tinggal Nawang dan Garry yang menemani Laura dan Gladis yang belum pulang.
Mereka berdua memang menunggu Keenan turun, untuk berpamitan sebelum pulang. Tanpa tahu, kalau saat mereka melihat kembali kemesraan suami istri itu, malah semakin menambah sakit hati di antara ibu dan anak itu.
“Untuk apa sih, kita turun lagi? Tuh lihat, tamunya aja udah gak ada,” malas Keenan yang terus merangkul istrinya.
__ADS_1
Ya, sejak dari kamar Keenan memang malas untuk kembali turun ke bawah. Dia merasa semua itu bukan lagi kewajiban mereka berdua. Karena, mereka memang tamu dari kedua orang tuanya.
“Gak enak, Bang. Masa kita menghilang ,saat mereka semua belum pulang,” ujar Riska, sambil menatap wajah sang suami.
Cup.
Satu kecupan di kening mendarat begitu saja.
“Abang, masih ada orang di bawah,” ujar Riska, yang merasa malu atas perbuatan Keenan baru saja.
“Gak apa-apa, kita kan udah nikah. Jadi gak salah dong kalau kayak gini, daripada yang belum halal,” sanggah Keenan, tidak mau kalah.
Riska hanya menggeleng pelan sambil memberikan cubitan pelan di perut suaminya. Dia sangat malu saat melihat kini semua orang di bawah sedang memperhatikan mereka berdua.
“Sssh ... sakit, sayang,” ujar Keenan, sambil mengusap pelan perutnya.
“Abang, sudah. Malu ih,” ujar Riska, sambil menghindari wajah Keenan yang hendak mencuri ciuman lagi darinya
.
Di ruang tengah, Nawang yang melihat Keenan dan Riska mulai menuruni tangga pun tersenyum senang.
“Itu dia, mereka sudah turun,” ujar Nawang, pada semua orang yang berada di ruangan itu.
Laura dan Gladis pun mengalihkan pandangan mereka pada tangga, benar saja kini keduanya terlihat melebarkan mata saat melihat Keenan yang terus menempel pada istrinya itu.
Ya, keduanya menoleh saat Keenan mendaratkan ciuman pada kening Riska. Tentu saja semua itu, semakin membuat Gladis dan Laura merasa sakit hati.
“Eh, ternyata masih ada tamu? Maaf ya kita berdua lama,” ujar Keenan, begitu mereka sampai di ruang tengah.
Dengan senyum ramah, tanpa ada rasa bersalah, dia duduk di salah satu sofa bersama dengan Riska yang berada di sampingnya.
Nawang dan Garry hanya menggeleng pelan, melihat anak keduanya pun tak jauh berbeda dengan Ezra saat berada di depan istri mereka.
Tidak bisa dipungkiri, bahwa kedua adik kakak itu memang sama-sama memiliki sifat manja yang ditunjukkan hanya pada istrinya saja.
Tanpa orang lain tahu, Keenan tersenyum senang saat melihat wajah kecewa Gladis. Dia memang sengaja menunjukkan kemesraanya dengan Riska, untuk membuat Gladis sadar akan posisinya saat ini.
Berbeda dengan Keenan, Riska malah merasa risih dan tidak enak, saat melihat wajah sendu perempuan itu.
Tidak lama, setelah itu Gladis dan Laura pun pamit, dengan hati yang sama-sama memendam rasa kecewa. Karena, keinginannya untuk menjadi anggota keluarga Darmendra telah pupus, bahkan sebelum memulai untuk berperang.
...🌿...
Maaf kemarin ternyata aku up dua bab yang sama. Sepertinya karena di kampung memang susah sinyal.
...🌿...
...Bersambung...
__ADS_1