
...Happy Reading...
...❤...
"Eh, ada apa ini? Kenapa, Kak Rara?" tanya Ayu, yang baru saja datang bersama Ezra.
"Ini, Kak. Aku mau ngajarin Alvin nyetir mobil sekarang, tapi Naura gak mau ditingal," jelas Keenan, dia sudah melihat wajah bingung dan takut Alvin.
Ayu tersenyum, dia kemudian mengajak Naura duduk di sofa dan berbicara.
"Ada apa, sayang? Kok Uncle sama Om Alvin gak boleh pergi?" tanya Ayu, dengan begitu lembut.
"Om Al, lagi bikin istana buat Rara, tapi, belum selesi. Rara mau, Om Al, buat istana dulu, baru nanti boleh pergi sama Uncle," jawab Naura, dengan suara lirih.
Ayu tersenyum, dia melihat sekilas ke tempat Naura bermain. Benar saja, di sana ternyata ada sebuah susunan lego setengah jadi.
Merangkul anaknya dan menuntun Naura untuk melihat ke arah matanya. Ayu kemudian melihat kepada Ezra sebentar, seperti meminta persetujuan dengan apa yang akan ia sarankan untuk anak pertamanya.
Ayu kemudian beralih kembali pada Naura dan bersiap untuk berbicara.
"Sayang, gimana kalau legonya disimpan dulu, nanti Om Alvin lanjutin lagi, setelah urusannya sama Uncle selesai. Bagaimana?" tanya Ayu.
"Tapi, aku mau sekarang," rajuk Naura, masih ingin kemuannya dituruti.
"Begini, sayang. Om Alvin, ke sini kan untuk bekerja, nanti kalau pekerjaan Om Alvin belum selesai, dia gak bisa pulang, gak bisa istirahat, bagaimana?" Ayu masih berusaha membujuk anak perempuannya.
Naura tampak terdiam, dia menatap Alvin dengan mata sendu.
"Eum, bagaimana kalau sisa legonya saya bawa ke rumah saja, nanti saya kerjakan sepulang dari sini," usul Alvin, akhirnya mencoba membuka suara.
Semua orang yang berada di sana beralih melihat asisten baru Ezra itu.
'Aduh, gimana ini? Masa aku harus dipecat, gara-gara bikin anak bos ngambek gini?'
Alvin menundukkan kepalnya, merasa canggung, ditatap intens oleh orang-orang yang sebenarnya adalah keluarga dari bosnya sendiri.
"Gimana? Apa, Kak Rara, mau legonya dibawa dulu sama Om Alvin untuk dirangkai jadi istana di ruamahnya?" tanya Ayu, yang membuat Alvin seakan mendapatkan oksigen baru.
Naura tampak berpikir, dia menatap kedua orang tuanya bergantian, lalu beralih pada Alvin, kemudian mengangguk pelan.
Semua orang yang berada di sana pun, akhirnya menghembuskan napas lega, bersamaan dengan anggukan dari putri kecil keluarga Ayu dan Ezra itu.
Keenan dan Alvin pun akhirnya pamit dan memisahkan diri, sedangkan Ezra memilih untuk bermain bersama Naura. Ayu dan Riska, memilih untuk ke dapur, untuk membantu menyiapkan makan malam.
.
.
Akhir pekan ini, Riska dan Keenan berencana untuk pergi ke suatu tempat untuk berlibur, sebelum mulai hari senin, Keenan akan bekerja di kantor sang ayah.
__ADS_1
Sore ini, setelah Riska pulang dari butik, mereka berdua pun bersiap untuk berangkat ke tempat itu.
"Abang, sebenarnya kita mau ke mana sih?" tanya Riska, sambil berjalan ke luar dari apartemen.
Keenan tersenyum, di tangannya sudah ada satu koper berisi baju mereka berdua, untuk kebutuhan selama di sana.
Keenan memang belum memberi tahu kemana mereka akan pergi kali ini, kepada Riska.
Padahal, dari jauh-jauh hari, dia sudah meminta izin pada Ayu dan Ezra, untuk memberinya waktu berlibur bersama istrinya itu.
"Ikut saja, nanti juga kamu tau," jawab santai Keenan, lalu pergi mendahului Riska masuk ke dalam lift.
"Ck! Abang, ngeselin banget sih!" Riska mencebikkan bibirnya, lalu mengikuti suaminya masuk ke dalam lift, dengan hentakkan kaki yang cukup keras.
Keenan terkekeh, kemudian menarik tubuh Riska untuk berdiri di dekatnya.
"Mau ke mana sih, jauh-jauh banget berdirinya?" goda Keenan.
"Lepas ih! Aku gak mau deket, Abang!" Kesal Riska, dia berusaha untuk melepaskan tangan Keenan.
"SShhh, jangan ngambek dong, sayang. Kita kan mau liburan, masa kamu malah cemberut begini," rayu Keenan.
Riska tak menjawab, dia memilih untuk menolehkan wajahnya ke lain arah, tak mau menatap Keenan.
Keenan tersenyum, dia pun memilih untuk membiarkan Riska merajuk terlebih dahulu.
'Biarkan dulu saja lah, kalau dia merajuk seperti ini, malah tambah ngegemesin' gumam hati Keenan,
Riska mengikuti keinginan suaminya, tanpa mau bertanya atau berkata sedikit pun. Walau di dalam hati ia merasa bingung, karena tak biasanya suaminya itu selalu menyetir sendiri.
'Kok, Abang, pakai sopir? memang kita mau ke mana sih?' gumam hati Riska, penuh tanya.
Keenan membukakan pintu mobil bagian belakang untuk Riska. Dia pun ikut masuk bersama Riska dan duduk di sampingnya.
Riska tak menghiraukan keberadaan suaminya itu, dia memilih untuk bersandar pada jendela, tanpa mau berdekatan dengan Keenan.
'Masa kita mau liburan, tapi dia gak kasih tau tempatnya sih! Dasar suami nyebelin!'
Riska terus bergumam, meracau mengumpat Keenan, yang hanya duduk bersadar, tanpa mau membujuk istrinya itu.
Beberapa saat kemudian, mobil sudah memasuki area bandara, kini rasa penasaran Riska semakin menjadi. Akan tetapi, dia bertahan dalam mode merajuknya.
'Bandara? Sebenarnya kita mau ke mana sih?' gumam Riska.
Dia pun melirik suaminya yang sedang berbincang dengan sopir di depan, entah masalah apa, dia juga tak tahu.
'Tanya gak ya? Kalau aku nanya lagi, terus Abang tetap gak mau jawab, gimana?'
Riska tampak berpikir, lumayan lama, mulutnya sudah gatal ingin bertanya pada suaminya, bahkan mungkin untuk memaksa, bila saja Keenan tak mau menjawab lagi.
Namun, egonya selalu melarang dan mencegah perkataan yang hampir saja keluar dari mulutnya.
__ADS_1
'Bagimana ini? Aku penasaan banget, tapi, masa aku yang harus membujuk Abang duluan sih?!' bingung Riska.
Keenan tersenyum dalam hati. Sejak tadi, dia memperhatikan istrinya dari ujung matanya, dia bisa melihat dengan jelas, keresahan di wajah istrinya itu.
'Sampai kapan kamu akan bertahan dalam mode merajuk itu, sayang? Aku tidak akan pernah memberi taumu ke mana kita akan pergi, sebelum kamu menegur aku duluan'
Keenan bergumam dalam hati, dia merasa yakin kalau Riska tidak akan tahan merajuk di dalam rasa ingin tahunya yang dalam.
Tak lama kemudian, mobil itu pun berhenti, Riska mengedarkan pandangannya ke luar mobil.
"Ayo, sayang."
Lamunan Riska terputus begitu saja, saat Keenan sudah membukakan pintu untuknya keluar.
Riska pun menurut, dia keluar dan berdiri di sisi mobil. Keenan meraih tangannya dan membawanya masuk ke dalam bandara.
Riska mengedarkan pandangannya, dia yang selama hidupnya belum pernah menginjakkan kaki di tempat itu, malah melupakan rasa ingin tahunya tentang tujuan kepergian mereka.
Perempuan itu, malah tertarik untuk melihat setiap keindahan arsitektur bandara, juga memperhatikan semua aktifitas yang ada di sana.
Dalam setiap langkah kakinya, dia tak henti untuk melihat ke setiap sudut area bandara yang sangat luas.
Keenan melihat istrinya yang sedang memperhatikan sekitarnya dengan seksama.
'Ada apa dengannya? Apa ini juga baru pertama kalinya dia datang ke bandara?' tebak Keenan dalam hati.
Dia pun akhirnya tak tahan juga, untuk menunggu Riska bertanya kepadanya lebih dulu.
"Sayang, ada apa?" tanyanya kemudian.
Riska menoleh sekilas pada Keenan, melihat wajah sang suami yang kini juga sedang menatapnya.
"Tidak apa-apa, aku hanya ingin melihat-lihat saja," jawab Riska, sambil kemudian kembali mengedarkan pandangannya.
Suasana bandara yang terasa asing untuknya, cukup menarik perhatiannya, dia bahkan terlihat seperti seorang anak yang baru saja datang ke tempat baru.
Tanpa sadar, Keenan tersenyum, dia pun mengeratkan genggaman tangan mereka, agar Riska tak menghilang dari pandangannya.
'Astaga istriku ini, lucu sekali sih ... aku bahkan seperti sedang membawa anak kecil sekarang' Keenan terkekeh di dalam hati.
'Aku yakin, kalau genggaman tanganku terlepas, dia pasti akan pergi kemanapun yang dia suka, tanpa ingat keberadaan aku di sini' imbuhnya lagi.
...🌿...
Mau Ke mana ya, Keenan membawa Riska?
...Komen👍...
...🌿...
...Bersambung...
__ADS_1