Berbagi Cinta : Antara Kita

Berbagi Cinta : Antara Kita
Bab.93 Berkunjung ke padepokan


__ADS_3


...Happy Reading ...


...❤...


Siang hari ini, Ayu dan Ezra sedang dalam perjalanan menuju padepokan.


Kali ini mereka hanya berdua, tanpa Naura. Gadis itu sedang antusias, untuk membantu neneknya menyiapkan pernikahan sang papa.


Beberapa saat kemudian, mobil yang di kendarai Ezra, sudah berhenti di depan pagar besi yang cukup tinggi.


Ayu membuka kaca di sebelahnya. Menyapa penjaga yang bertugas di sana.


“Eh, Neng Ayu! Saya kira siapa, tadi!” ucapnya dengan sigap langsung membukakan pintu gerbang padepokan.


Ayu tersenyum hangat, melihat reaksi lelaki paruh baya, yang sudah bekerja sangat lama di sana.


Sampai di dalam, Ezra menatap sekeliling, menelisik setiap sudut tempat yang baru ia kunjungi.


Lelaki itu tampak takjub melihat begitu indah pemandangan di dalam padepokan.


Suasana yang tampak sangat berbeda dengan yang ada di luar. Pohon besar yang terlihat rindang, dengan anak-anak yang sedang berteduh di bawahnya.


Di lapangan ia bisa melihat anak-anak yang lain tengah berlatih ilmu bela diri.


Beberapa bangunan pun terlihat menghiasi sisi tempat itu.


“Ternyata di sini kamu berlatih bela diri, bersama keluarga keduamu?” tanya Ezra setelah ia berhasil memarkirkan mobilnya.


Ayu mengangguk, sambil bersiap untuk turun.


“Tunggu, biar aku saja yang buka!” Seru Ezra, menahan gerakan tangan Ayu yang mau meraih handle pintu.


Ayu menggigit bibirnya bawahnya, menahan senyum yang sulit ia tahan.


Perlakuan kecil yang di lakukan oleh Ezra kepadanya, selalu saja membuatnya merasa di hargai dan lebih di sayangi.


“Silakan calon istriku,” ucap Ezra, membungkukkan sedikit tubuhnya.


“Apaan sih!”


Lelaki itu terkekeh kecil, melihat pipi Ayu yang kembali bersemu.


Beralih pada pintu bagian belakang, untuk mengambil sedikit oleh-oleh yang tadi mereka beli sebelum ke padepokan.


“Assalamualaikum ....”


“Pintunya kok gak di tutup sih?” tanya Ezra, saat melihat pintu utama di buka lebar, tanpa ada penghalang sama sekali.


“Ambu dan Abah memang terbiasa begitu, lagi pula di sini tidak ada siapa-siapa. Ini juga buat tanda kepada para murid di padepokan kalau Ambu atau Abah ada di rumah,” jelas Ayu, panjang lebar.

__ADS_1


Ezra mengangguk-anggukan kepalanya. Ternyata di sini suasananya lebih kekeluargaan dan ramah, walaupun di luar di lapisan oleh pagar tinggi, seperti keluarga kaya yang tertutup, atau padepokan yang tidak sembarangan orang bisa masuk. Tetapi di dalam, semuanya serba terbuka dan penuh keramahan.


Dari dalam rumah, terdengar sayup suara orang yang menjawab salam Ayu barusan.


Tidak lama kemudian, seorang wanita paruh baya, mungkin sedikit lebih tua dari Nawang, tampak berjalan dengan senyum mengembang di wajahnya.


“Ya Allah ... Ayu! Ke mana  aja kamu? Sudah lama sekali kamu gak main ke sini ... Ambu sama Abah udah kangen banget sama kamu!”


Sambil berjalan, mulutnya pun tak berhenti mengoceh, membuat senyum Ayu pun terbit begitu tulus, begitu pun Ezra.


Tampaknya calon istrinya itu memang sudah mendapatkan tempat tersendiri di hati orang-orang yang berada di sini.


‘Wah, kok seperti mau minta restu kepada calon mertua saja, ya. Ini lebih menegangkan di bandingkan berhadapan dengan om Larry dan Ansel,’ gumam Ezra dalam hati.


“Iya, maaf Ambu. Ayu baru sempat mampir lagi,” jawab Ayu dengan ekspresi wajah di buat sangat menyesal, walaupun senyum kecil masih menghiasi sudut bibirnya.


“Dasar budak geulisna, Ambu!”


(Dasar anak cantiknya, Ambu)


Kedua wanita itu saling memeluk, menyalurkan rasa rindu, seorang anak dan ibu yang sudah lama tidak bertemu.


Ya. Begitulah mereka, walaupun Ayu jarang berkomunikasi, apa lagi membagi masalahnya kepada keluarga keduanya itu. Tetapi, rasa kasih dan sayang antara mereka tidak akan bisa terkikis begitu saja.


Mereka semua menghargai apa yang Ayu lakukan dan tidak akan ikut campur, bila tidak di butuhkan.


Itulah yang membuat Ayu merasa nyaman, berada di tengah-tengah keluarga dari Andrea ini.


Tanpa di minta Ambu sudah menceritakan ke mana saja para anggota keluarganya.


“Hah, dua lalaki itu pasti seneng pisan, kalau tau kamu main ke sini!” ucapnya lagi, dengan bahasa bercampur sunda sambil merangkul Ayu dan akan membawanya untuk masuk ke dalam.


“Ambu tunggu sebentar, aku ke sini sama orang lain. Ini, kenalin ... Ezra,” Ayu menghentikan langkahnya, dan beralih pada lelaki yang masih berdiri di luar, menatapnya dengan senyum canggung. Kekehan kecil pun mengiringi ucapan wanita itu.


“Eh, ya ampun ... maaf Ambu enggak sadar kalau kamu bawa temen ke sini. Maklum ya, soalnya Ambu sudah lama sekali gak ketemu anak bungsu ini! Nak Ezra, ayo atuh masuk-masuk.”


“Iya, Ambu. Terima kasih,” Ezra berjalan di belakang keduanya wanita itu.


“Silahkan duduk,” ucap Ambu pada Ezra.


“Maaf Ambu, kita ke sini gak bawa apa-apa.” Ezra menaruh paper bag yang ia bawa.


“Eh, kalinya gak usah repot-repot begini, kalau mau maen ke sini, ya tinggal datang aja, gak usah pake bawa-bawa segala!”


Ezra tersenyum, mendengar ocehan dari mulut ibu angkat calon istrinya itu.


“Tidak merepotkan kok, Bu,” ucap Ezra.


“Iya, Ambu. Itu kan bisa di bagi-bagi buat anak-anak, setelah latihan nanti ... Ayo biar Ayu bantu.”


Wanita itu langsung mengambil sebagian dari paper bag yang ada di sana.

__ADS_1


Ya, memang bukan main oleh-oleh yang di bawa Ezra. Lelaki itu sampai hampir memborong semua isi toko kue untuk di bawa ke padepokan.


Ada sekiranya sepuluh paper bag berukuran besar berisi berbagai macam kue, dari yang ukuran kecil seperti macaron, cup cake, dan pai mini dan kue besar lainnya.


Ayu hanya bisa pasrah saja, ketika tapa sepengetahuannya, Ezra sudah memesan berbagai macam kue.


“Eh, gak usah. Kamu diam aja di sini, temenin Nak Ezra. Ini biar Ambu saja, sekalian bikin minum buat kalian berdua ya. Sebentar lagi Abah juga pasti datang,” tolak Ambu. Membawa dua paper bag yang tidak terlalu berat ke belakang.


Ezra mengulum senyumnya, setelah Ambu sudah tidak terlihat lagi.


“Kenapa?” tanya Ayu.


“Ambu kamu lucu ya?”


“Lucu apanya, gak ada yang lucu kok!”


Keningnya terlihat menimbulkan kerutan halus, tanda ia tidak terlalu setuju dengan ucapan calon suaminya itu.


“Eh, kok ngegas sih! Iya-iya aku minta maaf kalau salah, tapi gak usah ngambek gitu dong ... Ambu baik banget kok.”


Ah, ternyata sikap bucin Ezra memang tidak bisa di ragukan lagi. Ayu hanya mengerutkan kening saja, dia sudah ketakutan kalau calon istrinya itu akan marah.


Ayu mengangguk, dalam hati ia tersenyum melihat reaksi lelaki itu. Dia sebenarnya hanya pura-pura. Tapi ternyata menjahili Ezra lumayan menyenangkan juga, mungkin mulai saat ini itu akan menjadi hobi baru baginya.


“Hei, kamu ngerjain aku ya?” tanya Ezra, saat melihat Ayu terus saja mengulum senyum.


“Hah, enggak ... siapa juga yang ngerjain? Geer!” kilah Ayu, mengalihkan pandangannya ke arah luar.


“Tuh kan, kamu gak berani lihat aku, itu berarti kamu bohong,”


“Ayo jujur atau aku gelitiki  nih, hem?” ucap Ezra lagi, dengan tangan seperti siap menggelitiki calon istrinya itu.


“Eh, gak bisa ya. Kita kan belum mahrom!” ucap Ayu cepat, sambil menjauhkan tubuhnya dari lelaki di sampingnya.


“Oh, begitukah? Kalau begitu gelitikinya di tabung aja dulu, nanti kalau udah halal baru di lakuin, gimana?” tanya Ezra, dengan satu alis di naik turunkan.


“Ish, apaan sih. Mana ada kayak gitu? Aku gak mau!”


“Yeh, ada dong, ini kita baru mau lakuin, haha ....” ucap Ezr dengan tawa kecil mengiringi perkataannya.


“Eh, ada apa ini, kok kayaknya seru sekali?!”


Kedatangan Ambu dari dapur, menghentikan perbincangan tidak bermakna dari keduanya.


...🌿...


...🌿...


...Bersambung...


**Maaf ya semuanya dua hari kemarin aku hilang begitu aja, asam lambung tiba-tiba naik tanpa permisi, jadi aku gak bisa liat ponsel sama sekali. Langsung kliyengan, makannya gak bisa ngetik.

__ADS_1


Oh iya, terima kasih buat yang udah doain, Alhamdulillah sekarang kondisi aku udah lebih baik.🙏🥰🥰 Insya Allah ke depannya saya akan up seperti biasa lagi ya❤**


__ADS_2