
...Happy Reading...
......................
Ezra, mengemudikan mobilnya dengan kecepatan yang lumayan tinggi. Kondisi jalanan yang lengang, membuat dirinya lebih leluasa menyetir.
Dalam perjalanan dia menghubungi salah satu anak buahnya yang ditugaskan untuk membawa Keenan dan Riska.
Dia meminta lokasi keberadaan mereka sekarang, agar lebih mudah untuknya menemukan alamat yang dimaksud, di tempat yang asing itu.
Tidak memakan waktu lama, dia sudah sampai di depan klinik tempat Keenan dan Riska berada. Dengan langkah cepat, dia masuk ke dalam.
"Pak," sapa anak buah Ezra, yang sudah menunggunya sejak tadi.
"Di mana mereka sekarang?" tanya Ezra.
"Pak Keenan dan Bu Riska, sedang berada di ruang dokter, sepertinya Bu Riska sedang diperiksa," jawab anak buah tadi.
"Mari, saya antar ke sana, Pak," sambungnya lagi, menunjuk arah keberadaan Keenan dan Riska.
Ezra mengangguk samar, dia kemudian melangkah menuju ruangan dokter itu berada.
Melihat pintu yang masih tertutup, keduanya pun memilih untuk duduk dan menunggu di depan ruangan dokter itu.
Hingga, setelah menunggu cukup lama, pintu itu pun akhirnya terbuka. Ezra langsung berdiri demi melihat kondisi sang adik ipar dan juga keberadaan adiknya sendiri.
Dia terkejut, saat melihat Riska dalam keadaan tidak sadarkan diri, juga perban yang cukup banyak di tangan juga kakinya. Dia kemudian menatap wajah resah adiknya.
Keenan ke luar dari ruang dokter dengan brankar Riska di dorong di sampingnya. Dia terkejut saat melihat Ezra yang sudah berada di sana.
"Kak," lirih Keenan, mungkin hanya terdengar untuk dirinya sendiri.
Seakan tahu, apa yang dirasakan oleh adikya, Ezra hanya tersenyum tipis, lalu menepuk pundak Keenan berulang.
"Tenanglah, semuanya akan baik-baik saja," ujarnya, mencoba menenangakan hati adiknya.
Mereka melangkah bersama, menuju ruang rawat inap Riska. Keenan melirik sekilas wajah kakaknya, dia merasakan ada kekuatan lain di dalam dirinya saat melihat anggukkan samar dan tatapan yakin dari Ezra.
Sampai di ruangan yang tampak sederhana. Keenan duduk di samping brankar Riska, sedangkan Ezra memilih duduk di atas kursi yang lainnya di sana.
Beberapa saat, Ezra dan Keenan hanya terdiam dengan pikiran mereka masing-masing. Tidak ada yang mau memulai membuka suara, mereka malah tenggelam di dalam kesunyian, hingga dering ponsel Ezra mengalihkan perhatian kedua kakak beradik itu.
__ADS_1
Ezra langsung menegakkan tubunya, lalu mengambil ponsel di saku celananya. Dia menoleh kilas pada Keenan, sesaat sesudah melihat nama yang tertera di layar.
"Aku ke luar dulu," ujarnya, yang langsung diangguki oleh Keenan.
Keenan kembali memilih fokus pada istrinya, tangannya menggenggam lembut tangan Riska, sesekali dia angkat tangan itu dan menciumnya berulang kali.
Hatinya masih belum tenang, sebelum pemeriksaan istrinya tuntas, dan memberikan hasil yang memuaskan.
"Sayang, maafkan aku. Aku tidak bisa menjaga kamu dengan baik, sampai kamu terluka seperti ini." Keenan menatap sekujur tubuh istrinya itu dengan tatapan sendu.
Beginikah rasanya melihat orang yang dicintai terluka? Rasanya sangat sakit ... kalau bisa digantikan, aku rela menanggung semua rasa sakit yang diderita olehnya. Itu sebabnya Kak Ezra terus menjaga keselamatan Kak Ayu dan anak-anaknya, dengan sangat ketat. Dia tidak mau kehilangan lagi, seperti dulu. batin Keenan, penuh penyesalan.
Dia baru sadar saat ini, apa itu arti keselamatan bagi seorang pebisnis seperti dirinya. Walaupun selama ini, dialah yang menjadi tameng bagi setiap perlindungan Ezra atas orang-orang yang disayanginya.
Namun, dia masih menganggap semua itu berlebihan, dan terlalu mengada-ada.
Dengan kejadian ini, dia belajar sesuatu yang selama ini dia anggap remeh, yaitu musuh tidak terlihat, dan bahaya yang akan datang secara tidak terduga.
Ya, selama ini, dia selalu menganggap remeh semua musuh yang datang silih berganti. Semua itu karena, dirinya dan sang kakak, selalu bisa menyelesaikan semuanya dengan waktu yang singkat, dan tanpa ada korban.
Namun, saat ini dia baru tau resiko dari semua kelalaian yang dia lakukan. Bukan hanya, anak buah yang akan terluka, akan tetapi, istri dan keluarga yang berada di dalam puncak bahaya itu sendiri.
Suara pintu yang terbuka dan tertutup kembali, menyadarkan Keenan dari lamunannya. Dia menoleh kilas, pada kedatangan sang kakak.
Ezra mengangguk sambil melangkah menghampiri adiknya.
"Ada apa, Kak? Apa laki-laki berengsek itu sudah tertangkap?" tanya Keenan.
Dia menatap penuh amarah, saat bayangan semua yang telah dilakukan oleh Toni terlintas diingatannya.
Ezra menepuk pundak Keenan, dia berdiri di samping adiknya itu.
"Tenanglah, Ken. Dia sudah berada di kantor polisi," jawab Ezra, tatapan matanya menatap prihatin kondisi adik iparnya.
"Aku juga sudah mengurus pelaku lainnya," imbuh Ezra, mengingat tentang Alana.
Keenan menatap cepat pada kakaknya dengan sorot mata penuh tanya.
"Pelaku lainnya? Maksudnya, laki-laki itu tidak bekerja sendiri?" tanya Keenan, yang langsung mendapatkan anggukkan samar dari kakaknya.
Keenan melebarkan matanya, tangannya kini mengepal kuat, saat dirinya bahkan tidak bisa menyadari itu semua. Dia menatap kakaknya dengan seklera mata sudah berubah merah.
__ADS_1
"Siapa, Kak? Apa aku mengenalnya?" tanya Keenan.
Ezra menatap wajah kacau adiknya, dia kemudian sedikit memiringkan tubuhnya, agar bisa saling berhadapan dengan adiknya itu.
"Ya, kamu mengenalnya, dam masa lalu lah yang sudah menghubungkan kalian berdua," jawab Ezra, tanpa menjelaskan siapa orangnya.
Keenan termenung, dia seakan sedang berpikir keras, mencari tau siapa lagi pelaku di dalam kejadian ini. HIngga, beberapa saat kemudian,matanya melebar dengan raut wajah penuh tanya.
"Apa–"
.
.
Sementara itu, Alvin sedang mengurus semua keperluan laporan polisi, di malam yang sudah beranjak dini hari. Kini dirinya masih berada di kantor polisi, setelah mengurus semua bukti yang berada di dalam tempat penyekapan Riska.
Sedangkan Toni dan para temannya sudah ditangkap dan ditahan sementara di, kantor polisi terdekat. Sebelum semua bukti cukup dan diproses hingga ke pengadilan.
Jam empat pagi, Alvin baru saja selesai melakukan pemeriksaan sebagai saksi sekaligus pelapor, di dalam kasus ini. Dia melihat ke arah ruang tahanan di mana Toni berada, sebelum ke luar dari kantor polisi.
Toni yang tengah duduk di balik jeruji besi, tampak menatap penuh permusuhan wajah Alvin. Dia segera berdiri dan menggebarak jeruji besi di depannya, hingga terdengar suara yang cukup untuk membuat semua orang di tempat itu, mengalihkan perhatiannya.
"Dasar, brengsek! Bajing*n!" teriaknya menunjuk wajah Alvin.
Alvin tersenyum miring melihat amarah Toni yang masih saja terlihat sangat besar, padahal seluruh tubuhnya sudah dipenuhi dengan luka.
"Dasar gila," geleng Alvin, sambil menatap tajam wajah Toni.
Dia kemudian berbalik dan melangkah ke luar dengan senyum penuh kemenangannya. Di belakangnya, Toni kembali menggebrak jeruji besi penghalangnya, sambil terus berteriak mengumpat Alvin.
Ya, walaupun ucapan Alvin tidak keras, bahkan mungkin hanya terdengar oleh telinganya sendiri. Akan tetapi, gerakan mulut yang jelas, tetap saja bisa terbaca dengan mudah oleh Toni.
Toni yang terbakar amarah, hanya bisa melampiaskannya pada jeruji besi dan teriakan. Dia tidak bisa mengejar atau bahkan menyentuh, orang-orang yang dirinya benci kali ini.
"Heh, diam kamu! Berisik sekali!" bentak salah satu petugas polisi yang ada di sana.
Toni terdiam, dia menatap melihat semua orang yang ada di sana penuh permusuhan. Sekali lagi, dia memukul jeruji besi tidak bersalah itu, sebelum berbalik dan memilih duduk bersandar pada dinding.
...🌿...
Gimana ya reaksi Keenan saat tau pelaku lainnya adalah Alana? komen👍
__ADS_1
...🌿...
...Bersambung...