
...Happy Reading...
...❤...
Flash back
Di puncak Ayu, Ezra dan Naura sedang berjalan pagi, menikmati udara dingin pegunungan. Suasana pagi hari yang masih sejuk dengan kabut menutupi sedikit pandangan, tak menutup keinginan dua perempuan kesayangan Ezra untuk menjelajah tempat itu.
Ya, setelah shalat subuh, Ayu dan Naura kompak meminta jalan-jalan di sekitar vila, menikmati suasana khas pedesaan. Hingga akhirnya di sinilah mereka sekarang, menikmati matahari terbit dari ketinggian.
Ayu duduk di bangku kayu sambil memeluk Naura, udara yang masih sangat dingin membuat mereka saling membagi kehangatan dengan cara berpelukan.
Ezra merangkul pinggang Ayu, pikirannya terus tertuju pada nasib sang adik saat ini. Walaupun dia tahu Riska tidak akan membiarkan Keenan tersiksa lebih lama, hanya saja sebagai seorang kakak dia tetap saja tidak bisa menghilangkan pikirannya dari sang adik.
"Mas, masih belum ada kabar dari Keenan?" tanya Ayu, dia menyandarkan kepalanya di dada Ezra.
"Belum, sepertinya mereka berdua masih tidur," jawab Ezra.
"Aku yakin mereka berdua baik-baik saja, bahkan mungkin lebih baik dari sebelumnya," ujar Ayu sambil terkekeh kecil.
Ezra menurunkan pandangannya, melihat wajah cantik istrinya, dia ikut tersenyum mendapati wajah berseri Ayu.
"Hayo, kamu mikirin apa, hem?" Ezra menoel ujung hidung Ayu.
Ayu melirik wajah suaminya, dia menggeleng dengan senyum yang tak pernah pudar. "Tidak, aku hanya sedang sangat bahagia, karena bisa menikmati semua ini dengan suami dan anakku."
"Benarkah, bukan yang lain?" goda Ezra.
"Enggak, memang apa lagi yang aku pikirkan?" Ayu malah bertanya kembali pada Ezra, matanya mengerling genit pada suaminya itu.
Ezra terkekeh, sekarang Ayu sudah terlihat lebih bisa bersikap manja bahkan menggoda dirinya lebih dulu seperti ini.
"Kamu menggodaku, hem?" bisik Ezra tepat di telinga Ayu yang tertutup oleh hijab.
"Tidak, aku hanya bertanya?" sangkal Ayu.
Ezra mengeratkan pelukanya, sambil memberikan ciuman di puncak kepala istrinya itu. Ayu mengusap pelan puncak kepala Naura yang sedang terpukau oleh indahnya pemandangan matahari terbit tepat di depannya.
"Mah, lihat ... mataharinya mulai muncul!" ujar penuh semangat Naura. Gadis kecil itu beranjak berdiri di depan kedua orang tuanya.
__ADS_1
"Iya, sayang," jawab Ayu.
Orang yang berada di sana untuk menikmati indahnya matahari terbit pun semakin banyak. Akan tetapi, banyak yang malah mengalihkan perhatiannya pada keluarga kecil yang tampak begitu saling menyayangi itu.
Sedangkan yang menjadi perhatian banyak orang, seakan tidak perduli dengan sekitarnya, mereka hanya fokus satu sama lain.
Ketiganya baru kembali ke vila setelah matahari sudah mulai tinggi. Di dalam perjalanan pulang, keluarga kecil itu sempat mampir untuk sarapan terlebih dulu, di kedai soto.
Ezra menyempatkan untuk menghubungi Keenan kembali, hingga di panggilan yang ke sekian kalinya, akhirnya panggilan itu di angkat juga.
"Ken, bagaimana kabarmu?" tanya Ezra, begitu mendengar suara adiknya.
"Aku baik, ada apa, Kak?"
Ezra menghembuskan napas kasar begitu mendengar jawaban adiknya itu. Dia bisa tau kalau Keenan tidak berbohong dari suaranya.
"Baguslah kalau begitu, aku hanya mau menanyakan itu padamu," jawab Ezra.
"Siapa yang berani bermain-main dengan keluarga kita, Ken?" tanya Ezra.
"Anak dari Tuan Satriyo, dia pernah satu sekolah denganku,dia juga pasti tau tentang aku dan Luna. Dia menukar minumanku dengan minuman yang sudah dicampur dengan obat," jelas Keenan.
"Kamu takut dia berbicara tentang perempuan itu di depan Riska?" tanya Ezra lagi.
"Tidak, Kak. Aku sudah melupakannya, aku yakin itu ... semenjak pernikahan aku dan Riska, aku sudah berusaha untuk melupakannya, Kak. Percaya padaku!" ujar Keenan.
"Lalu, untuk apa kamu takut?" tanya Ezra.
"Aku hanya belum siap menceritakan itu pada Riska, Kak. Beri aku waktu untuk berdamai dengan masa lalu dulu dan yakin akan perasaanku pada Riska. Aku akan menceritakannya, jika waktunya sudah tepat," jawab Kenan
Ezra memghembuskan napas kasar, sebelum berucap kembali. "Baiklah, aku tak akan memaksamu. Tapi ingat, jangan terlalu lama, jangan sampai dia tau dari orang lain lebih dulu."
"Iya, Kak," jawab Keenan.
"Aku percaya padamu, jaga dia baik-baik, dan jangan kecewakan dia, Ken," nasihat Ezra.
"Baiklah aku tutup dulu teleponnya, dan selamat untuk kalian berdua," imbuhnya lagi, dengan seringai tipis di wajahnya.
Ayu berbisik pada Ezra, saat melihat suaminya tersenyum, yang langsung diangguki oleh Ezra.
"Kak Nindi titip salam untuk Riska, sampaikan padanya kalau untuk hari ini dia tidak usah ke butik," ujar Ezra, menyampaikan pesan dari Ayu.
__ADS_1
Keenan yang masih memakai handuk sehabis mandi, tersenyum canggung sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal, mendengar godaan dari kakaknya.
"Iya, nanti aku sampaikan," lirih Keenan.
Flash back off
Siang ini Keenan sedang berkutat dengan laptop dan ponslenya di ruang kerja. Setelah dia menikmati makanan yang dimasak oleh Riska, dia langsung masuk ke ruang kerjanya, karena ada sesuatu yang harus dia kerjakan.
"Berani bermain-main dengan keluargaku, jangan harap kalian akan tenang setelah ini," gumamnya sambil terus menatap tajam layar di depanya.
Jarinya tampak mengetik dengan cepat, dengan sesekali menghentikannya saat dia menemukan sesuatu yang menarik.
Hingga menjelang sore hari, dia sudah selesai dengan urusannya. Menyandarkan tubuhnya di kursi dengan seringai penuh kemenangan di wajahnya.
Keenan mengambil ponselnya untuk menghubungi seseorang, tak menunggu lama setelah panggilan itu tersambung, dia bisa mendengar suara seseorang yang begitu familiar untuknya.
"Kamu sudah menerima bukti yang aku kirimkan? Hancurkan mereka hari ini juga, aku beri waktu sampai tengah malam," ujarnya memberi perintah.
Keenan langsung menutup sambungan teleponnya, setelah mendapat kesanggupan dari orang yang berada di seberang sana.
.
Di luar, Riska sudah merasa bosan setelah selesi mengerjakan pekerjaan rumah, dia sudah gelisah sejak tadi. Duduk di ruang televisi, dengan tangan yang terus menekan tombol remot untuk mencari acara yang cocok untuknya.
Namun, setelah hampir satu jam dia di sana, dia tak juga bisa menghilangkan rasa jenuhnya. Dia mengalihkan pandangannya pada pintu ruang kerja Keenan yang masih juga tertutup rapat.
Mengehembuskan napas kasar dengan bibir mengerucut, lalu memilih merebahkan tubuhnya di atas sofa.
"Apa sih yang dia kerjakan? Kenapa lama sekali di dalam, sampai hampir sore begini, belum juga keluar?" gerutu Riska.
"Kalau begini, mending aku ke butik saja. Setidaknya di sana ada teman mengobrol, tidak sepi begini," lemas Riska bergumam sendiri.
"Apa aku ketuk saja, ya? Pura-pura nawarin kopi, atau tanya mau masak apa buat makan malam nanti sebagai alasan, sepertinya itu tidak terlalu buruk," ujarnya lagi, dia duduk kembali sambil bersiap untuk berdiri.
"Ah, enggak. Nanti kalau dia malah berpikir yang macam-macam gimana? Atau dia jadi geer trus bilang kalau aku kangen sama dia sama tuduhan yang lainnya. Dia 'kan manusia paling menyebalkan di dunia." Riska bergumam sendiri.
"Aaakh! Aku bosan!" geramnya, kembali menjatuhkan dirinya di atas sofa dengan kasar.
...🌿...
...🌿...
__ADS_1
......Bersambung......