
...Happy Reading...
...❤...
Pagi menyambut dengan hangatnya sinar matahari, Riska mengerjapkan matanya, menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam indra penglihatannya itu. Tubuhnya terasa remuk redam dengan akibat perbutan Keenan tadi malam.
Mengingat itu, pipi Riska langsung merona, dia tak pernah menyangka akan melakukan itu karena hal yang genting kembali.
Sepertinya kehidupannya dan Keenan penuh dengan kejutan. Setelah pernikahan mereka yng terjadi karena di grebek warga, kini pelepasan masa lajang pun mereka lakukan karena obat terlarang yang dimaksudkan untuk menjebak Keenan.
Tersenyum samar sambil menangkup pipinya yang terasa panas, Riska sibuk dengan pemikirannya sendiri.
Cup.
Mata Riska membulat saat sesuatu yang kenyal kembali menempel di bibirnya.
"Morning kiss!"
Riska menatap horor wajah tersenyum seseorang yang kini berada di sampingnya.
Keenan tersenyum dengan wajah khas bangun tidur, rambut yang terlihat acak-acakan hingga sebagian ada yang menutup keningnya, tak melunturkan ketampanan yang dimiliki oleh suaminya itu.
Padahal ini bukanlah pagi pertama bagi keduanya, mereka sudah menikah dan tidur bersama selama satu bulan. Akan tetapi, kenapa pagi ini terasa begitu spesial.
Baik Riska maupun Keenan, mereka merasakan rasa yang berbeda di dalam hati masing-masing, walau belum ada yang bisa mengartikan rasa apa itu.
Riska tersenyum tipis, sambil melihat Keenan yang juga sedang menatapnya. Lelaki itu tampak berbaring miring dengan kepala bertumpu pada salah satu lengannya, agar posisi dia bisa lebih tinggi dari Riska.
'Kenapa pagi ini dia terlihat berbeda dari biasanya? Apa aku saja yang terlalu terbawa suasana?' gumam hati Riska.
Riska merasakan dirinya sedikit caggung, saat menyadari kalau dirinya tak memakai apa pun, di dalam sana. Keenan benar-benar tak membuatnya tentang sepanjang malaam tadi, dirinya terus terganggu dengan permintaan Keenan yang berkaali-kali.
Keduanya bahkan baru bisa tertidur dengan benar setelah menjelang pagi hari.
"S–selamat pagi, Bang," gugup Riska.
__ADS_1
Keenan terkekeh mendengar suara istrinya, dia mengelus lembut pipi merah itu.
"Terima kasih sudah mau menolongku tadi malam," ujar Keenan, matanya menelusuri setiap jengkal wajah cantik istrinya, hingga kini dia terpaku di bibir Riska yang terlihat begitu menggiurkaan.
Rasa manis saat dia merasakan bagian lembut wajah Riska itu, masih terasa, dia menginginkannya kembli.
'Sial!' geram hati Keenan, saat tubuhnya kembali bereaksi, hanya dengan membayangkan kelembutan dan manisnya bibir istrinya itu.
Keenan menutup matanya dengan menggeram pelan, merasakan bagian tubuhnya terasa mulai menagih untuk dipuaskan kembali.
"Sayang," bisik Keenaan tepat di depan cuping telinga Riskaa, dia bahkan menyapukan lidahnya di sana.
Riska meregang dengan jantung yang semakin bertalu, akibat perlakuan Keenan baru saja. Dia memandang wajah melas Keenan dengan kening bertaut.
"Aku mau lagi," lirih Keenan sambil mengambil tangan Riska daan menuntunya untuk menyentuh keperkasaan miliknya yang sudah berdiri tegak sejak tadi.
Riksa terejut, dia melebarkan matanya dan langsung menarik tangannya dari sesuatu yang terasa keras dan berotot di bawah sana.
"Abang?" kepalanya masih memperoses, benda apa yang baru saja dia sentuh itu.
"Aku mohon, satu kali lagi saja," melas Keenan, dia sekuat tenaga menahan tawanya, saat melihat wajah bingung Riska saat ini. Istrinya itu selalu bisa membuatnya tersenyum dengan tingkah polosnya.
Yang benar saja, badannya bahkan masih terasa remuk dan lemas, setelah hampir sepanjang malaam dibantai habis oleh suaminya itu, kini Keenan memintanya kembali.
"Jam berapa sekarang?" tanya Riska, mencoba untuk mengalihkan perhatikan Keenan.
"Sayang, kamu tega banget sih sama aku, aku gak bakal konsen kalau sambil nahan begini." Keenan masih mencoba untuk merayu istrinya itu. Tangannya kini sudah menyelinap di balik selimut, mencari sesuatu yang tadi malam sudah dia renggut kesucinnya.
Plak!
"Abang! Tangganya awasin, ih!" Riska memukul tangan Keenan yang asik bermain di segi tiga bermudanya.
"Sshhh, kamu galak banget sih, Ris. Aku 'kan cuma mau pegang aja," ujar Keenan, sekarang dia memindahkan tangannya di atas perut Riska, mengusapnya dengan gerakan menggoda.
"Siapa yang tega? Abang tuh yang tega sama aku! Badan aku masih sakit semua, abang udah mau minta lagi," gerutu Riska.
"Itu bukan Abang, sayang. Dia yang minta," santai Keenan sambil membawa lengan istrinya itu pada miliknya.
__ADS_1
"Ih, Abang! Apaan sih? Geli tau," Riska kembali menarik tangannya.
"Tapi, enak 'kan? Buktinya tadi malam kamu juga menikmatinya."
Riksa menatap tajam Keenan, dia malu sekali saat ini. Apa suaminya itu tidak tahu kalau dirinya tidak mau membahas hal itu lagi, itu terasa begitu memalukan untuknya.
"Ish, kenapa sih harus membahas itu lagi," Riska menutup wajahnya.
"Hei, memang kenapa? Aku senang kamu mau menyerahkan semua itu untukku."
"Abaaang! Stop! Jangan bahasa lagi." Riska menutup mulut Keenan dengan tangannya.
Keenan tersenyum, dia melepaskan tangan Riska, kini tanpa sadar, keduanya sudah saling menghadap dengan tubuh menempel satu sama lain.
Tubuh Riska bahkan tak sengaja menekan milik Keenan tepat di segitiga bermudanya. Lelaki itu berdesis begitu meraskan hasrat yang semakin besar.
"Kamu sengaja ingin menyiksaku, sayang," ujar Keenan dengan suara lirih hampir sama seperti de*ah*n.
Keenan menahan tubuh Riska di menggesekkan inti tubuhnya pada milik Riska.
Menunduk untuk menyatukan kembali bibir keduanya. Mengecap rasa manis itu, menghilangkan dahaga di dalam dirinya.
Riska menutup mata, dia yang tadinya mneolak, akhirnya memilih pasraah, mengikuti ritme permainan Keenan dan menikmati setiap sentuhan melenakan itu.
Keduanya kembali masuk ke dalam gerbang kenikmatan dunia, mengarungi rasa yang begitu indah, berlomba untuk saling memberikan kepuasan, dengan bulir keringat yang menjadi saksinya.
Pagi yaang haanagt itu, terasa berbeda dengan keadaan di dalam kamar mereka berdua, suara erangan dan d*s*han menyatu bersma gairah yang semekin menggebu, meminta dan memuja untuk saling mencapai kenikmatan, hingga akhirnya mencapai puncak bersama.
"Terima kasih, sayang," lirih Keenan, setelah mengakhiri perminannya, dia mengecup kening Riska lama, sebelum akhirnya menjatuhkan diri di samping tubuh istrinya itu.
Keduanya terdiam dengan pikiran masing-masing, mengatur napas dan detak jantung yang masih tak beraturan.
Keenan melirik sekilas wajah yang masih menyisakan rona merah itu. Dia tidak tahu apa yang diraskannya pada Riska saat ini. Akan tetapi, dia selalu merasa senang dan tenang bila berada di samping istrinya ini, setiap lelah dan gelisahnya selalu hilang hanya dengan tertidur sambil memeluk tubuh Riska.
Apakah ini yang disebut cinta? Entahlah, dia juga tidak tahu. Yang pasti tanpa Keenan sadari, dirinya sudah tergantung oleh keberadaan Riska di sampingnya.
...🌿...
__ADS_1
...🌿...
...Bersambung...