
Tiga hari sudah berlalu, Naura sudah diizinkan pulang siang ini, Ayu kini sedang bersiap, mengemas semua barang yang akan di bawa pulang, sambil menunggu Ezra mengurus administrasi.
“Mah, kok papa lama banget sih?” Naura yang sudah rapi dan siap untuk pulang itu, bertanya dengan tidak sabar.
“Sabar, sayang. Sebentar lagi pasti papa datang,” jawab Ayu. Duduk di samping Naura setelah menyelesaikan semua pekerjaannya.
Tangannya, mengusap pelan rambut Naura, dia tersenyum saat anak sambungnya itu, merebahkan kepala di atas pangkuan.
“Mah, dede bayi, kapan keluarnya?” Naura mengusap pelan perut Ayu.
Ayu terkekeh kecil, mendapati pertanyaan yang terdengar lucu di telinganya.
“Masih lama, sayang. Kalau sekarang dede bayinya masih sangat kecil dan belum boleh keluar. Dia harus tumbuh besar dulu di perut Mama, biar nanti kuat seperti Naura kalau sudah keluar,” jelas Ayu.
Naura melirik Ayu sekilas, lalu beralih kembali pada perut di depannya.
“Padahal, Rara sudah gak sabar mau main sama dede bayi.”
Helaan napas berat terdengar dari mulut mungil itu, membuat Ayu kembali tertawa kecil.
“Hem, benarkah? Naura, sayang sama dede bayi?” Ayu sedikit memiringkan kepalanya, melihat Naura yang sedang menciumi perutnya.
“Eum, Rara sayang banget sama dede bayi,” jawabnya.
Ayu tersenyum bahagia, tangannya mengusap rambut di kepala Naura lembut. Tak pernah menyangka kalau anak yang dia temui di butiknya, saat ingin mengambil gaun pesta ulang tahun yang ke enam, kini telah menjadi anak sambungnya.
.
Di tempat lain, Ezra tengah menatap tajam lelaki yang berada di depannya, dia baru saja menyelesaikan administrasi Naura, saat tiba-tiba Radit mengajaknya untuk berbicara.
Menghembuskan napas kasar, lalu menegakkan kembali tubuhnya. “Cepat katakan, kamu mau apa? Aku sudah ditunggu anak dan istriku, jadi ... jangan buang waktuku!” tajam Ezra.
Radit tampak gusar, matanya bergulir tak tentu arah, hembusan napas lelah terdengar sebelum ia mulai membuka mulutnya.
“Bolehkah aku bertemu dengan Ayu? A–,”
“Tidak! Untuk apa kamu mau menemui istriku lagi?!” Ezra langsung memotong perkataan Radit begitu saja.
“Aku hanya mau meminta maaf padanya, atas semua yang telah aku lakukan dulu,” lirih Radit, dia menatap Ezra penuh permohonan.
“Dia sudah tidak butuh lagi permintaan maaf, ataupun penyesalanmu. Kamu sendiri lihat kan, bagaimana dia bahagia sekarang?!” Ezra mengalihkan pandangannya, tak mau terlalu menatap wajah melas lelaki di depannya.
“Aku tahu, dia sudah tidak membutuhkan semua itu. Tapi, sekarang akulah yang membutuhkannya. Selama ini aku selalu dihantui rasa bersalah, karena sudah berbuat tidak adil padanya,” Radit menatap kembali wajah suami mantan istrinya itu.
“Aku mohon, berikan aku kesempatan sekali saja. Aku hanya akan meminta maaf, tidak untuk yang lain.” Menangkupkan kedua telapak tangannya di depan dada, dengan tatapan mata sendu.
__ADS_1
“Sekali aku bilang tidak, maka itulah keputusanku!” tekan Ezra, beranjak berdiri dari kursinya, hendak pergi dari obrolan yang tidak penting sama sekali, menurutnya.
“Setidaknya kamu hargai aku yang meminta izin darimu dulu sebelum menemui Ayu sendiri.”
Perkataan Radit, menghentikan langkahnya, Ezra menarik salah satu ujung bibirnya, hingga membentuk lengkungan tipis ke atas.
Berbalik, untuk melihat keseluruhan tampilan lelaki yang merupakan mantan suami dari istrinya itu.
‘Ck, benar-benar menyedihkan.’ Ezra berdecak dalam hati.
“Kata yang kau katakan barusan, membuatku semakin yakin kalau keputusanku, untuk tidak mempertemukanmu kembali dengan istriku, adalah sesuatu yang benar.” Ezra menekan kata istriku di dalam kalimatnya.
Radit tersenyum samar, menatap Ezra dengan pandangan tak kalah tajam.
“Baiklah kalau begitu, jangan salahkan aku kalau aku akan menemui Ayu di belakangmu!” desis Radit.
Ezra mengepalkan tangannya, menahan desakan amarah yang mendesak ingin dikeluarkan.
‘Sial, masih bisa sombong juga dia!’ Ezra menggeram dalam hati.
Matanya menatap tajam, ingin sekali dia menghajar lelaki di depannya. Akan tetapi, akal sehatnya masih bisa mengendalikan diri, mengingat ini adalah kantin rumah sakit.
“Coba saja kalau bisa. Jika sampai terjadi apa-apa dengan istri dan calon anakku, maka bersiaplah, karena aku tidak akan mengampunimu lagi ... ingat itu!” ancam Ezra. Dia langsung berbalik dan meninggalkan Radit dengan langkah lebarnya. Berjalan menyusuri koridor rumah sakit, dengan perasaan berkecamuk, dan amarah yang belum reda sama sekali.
“Ken, awasi keberadaan Radit, jangan sampai dia bertemu dengan istri dan anakku!” perintahnya.
Setelah itu dia kembali menutup teleponnya, tanpa menghiraukan kebingungan sang adik di seberang sana.
‘Ada apa lagi dia?’ gumam Keenan, melihat ponselnya dengan alis bertaut dalam.
Keluar dari lift, Ezra menghembuskan napas kasar, berusaha mengurangi amarah di dalam dirinya, melepaskan kembali wajahnya yang terasa menegang.
Dia tersenyum saat melihat Naura sedang merebahkan kepala di atas pangkuan Ayu sambil sesekali mencium perut istrinya, sedangkan tangan Ayu mengelus lembut rambut Naura.
“Kalian sudah siap?” tanya Ezra, sambil berjalan menghampiri kedua perempuan yang sangat dicintainya itu.
Ayu dan Naura mengalihkan pandangan mereka, keduanya tersenyum melihat kedatangan Ezra. Naura langsung beranjak dari pangkuan sang mama, lalu berjalan menghampiri papanya.
“Papa, kenapa lama sekali? Rara sudah tidak sabar mau pulang ke rumah,” sungut Naura, mengerucutkan wajahnya.
Ezra tersenyum kecil, lalu menggendong anaknya itu dan menciumnya dengan gemas.
“Papa, ada sedikit urusan tadi di bawah. Maaf ya, karena sudah membuat Naura dan Mama menunggu lama,” ujar Ezra.
Naura mengangguk, dia menggeliatkan tubuhnya meminta turun dari gendongan Ezra.
__ADS_1
“Ayo, Rara mau pulang sekarang!” ajak semangat gadis kecil itu, menggandeng tangan Ayu mengajaknya keluar dari ruangan.
“Ya, baiklah. Ayo, Mama juga sudah kangen sama rumah,” jawab ayu, sambil beranjak ke luar ruangan terlebih dahulu.
Ezra tersenyum, berada di tengah kedua perempuan itu, membuat hatinya terasa damai dan tenang, sejenak ia melupakan amarahnya kepada Radit, beberapa waktu lalu.
Mengambil tas berisi beberapa barang yang akan dibawa pulang, lalu menyusul langkah anak dan istrinya, yang terlihat sedang berpamitan dengan para suster di depan ruang rawat.
Kini ketiganya telah berjalan di lobi rumah sakit dengan lengan Ezra dan Ayu menggandeng tangan Naura di tengah-tengah mereka.
Ezra membuka pintu mobil untuk Naura di bagian belakang, lalu membuka pintu penumpang depan untuk Ayu.
Ezra melirik sekilas pada sepasang mata yang menatap dirinya sejak tadi, memberikan seringai sebelum duduk di balik kemudi.
Radit mengepalkan tangannya, ia mengumpat dalam hati melihat Ezra yang menurutnya terlalu sombong.
Lelaki itu langsung pergi menuju taman rumah sakit saat mobil Ezra tak terlihat lagi olehnya.
Bayangannya kembali pada dua bulan yang lalu, saat dirinya harus terbaring di rumah sakit karena kesalahannya sendiri.
Flash back
Radit mengalami cedera otak karena terjatuh di kamar mandi, saat itu dirinya sedang mabuk berat. Akan tetapi, mendengar pesta pernikahan Ayu, membuat dirinya semakin terpuruk, dia ingin menyegarkan diri dan menghilangkan bayangan wajah Ayu dan Mala di dalam dirinya, dua wanita yang mempunyai sifat berbanding terbalik, yang pernah mengisi sebagian hidupnya.
Namun, ketika dirinya sedang melangkah ke kamar mandi, dia malah terpeleset sesuatu dan membuat kepala bagian belakangnya terbentur sisi wastafel, sebelum akhirnya terjatuh di lantai, dan kegelapan pun merenggut kesadarannya.
Ayu yang meninggalkan banyak kenangan indah, tetapi, akhirnya menyerah dan meninggalkannya karena kesalahan yang ia buat. Mala, wanita sesaat yang hadir dan menjadi jalan kehancuran rumah tangganya, wanita itu seperti sebuah godaan yang datang, dan dengan bodohnya dia masuk hingga terjebak di sana.
Ia baru tahu kalau wanita itu sudah biasa menjajakan tubuhnya, pada lelaki di luar sana, untuk memberi kelancaran kariernya di dunia modeling, setelah dia mendapati, wanita itu tengah berjalan masuk ke dalam hotel, bersama salah seorang yang diyakini adalah kliennya, ia mengikutinya saat itu, hingga mendapati mereka masuk ke dalam salah satu kamar di sana.
Untung saja saat itu dia bukan lagi istrinya, tetapi, sebagai lelaki, tetap saja Radit merasa egonya terluka dengan kelakuan Mala selama ini.
Untung saja tidak terjadi apa-apa pada dirinya, hanya saja sekarang kepalanya sering terasa sakit bila sudah terlalu lelah. Dia hanya dirawat selama seminggu setelah sadar, setelahnya dia bisa beraktivitas seperti biasa lagi.
Namun, kejadian mengejutkan kembali datang satu minggu yang lalu, saat ayahnya pulang ke rumah dengan menggandeng seorang wanita. Dia memberikan surat perceraian yang bahkan sudah dijatuhi talak olehnya, sekaligus memperkenalkan wanita itu sebagai istrinya. Pram juga menjelaskan semuanya pada Radit, setelah dia mengejar ayahnya yang akan pergi kembali. Mereka memutuskan berbicara di salah satu kafe yang berada di dekat perumhannya.
“Selama ini Aku bertahan dalam rumah tangga ini, hanya karena dirimu, Nak. Sekarang aku sudah lelah, kau juga sudah banyak mengecewakanku. Maafkan aku jika kali ini harus menyerah. Aku sudah tua, sekarang yang aku mau hanyalah sebuah ketenangan, dan itu tak bisa aku dapatkan dari ibumu.”
Ucapan terakhir dari Pram setelah ia membongkar semua kenyataan yang membuat dirinya sendiri mematung tak percaya.
“Bagaimanapun, kamu tetap akan menjadi anakku, walau kita tidak ada hubungan darah. Bangkitlah dan rawat ibumu dengan baik.” Pram menepuk pundaknya sebelum pergi meninggalkannya yang bahkan belum bisa bereaksi setelah mendengar kenyataan pahit itu.
Ia baru kembali pada kenyataan saat dering ponsel menyadarkannya, kini jantungnya kembali berpacu saat ia mendengar kabar kalau ibunya tak sadarkan diri. Dengan langkah cepat, dia langsung berlari menuju rumahnya, tanpa menghiraukan orang yang melihatnya dengan tatapan bingung.
Flash back off
__ADS_1